November 25, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 4)

Alhamdulillah meeting hari kedua selesai lebih cepat. Setelah makan siang, tuan rumah telah menyiapkan sightseeing tour buat kami yang tidak terlibat dalam Steering Committee Meeting. Tidak seperti biasanya, cuaca saat itu cukup cerah walaupun tetep dingin, sangat sempurna untuk jalan-jalan. Tujuan kami hanya beberapa lokasi di sekitar istana, beberapa lokasi wisata tersebut bahkan bersebelahan dengan hotel dan tempat meeting.
Photobucket
berkumpul sebelum memulai tour

Pukul dua siang tepat kami berkumpul di depan Collegium Budapest, tempat kami meeting. Tour guide kami pertama kali menjelaskan bahwa gedung yang kami gunakan untuk meeting tersebut dibangun tahun 1873, merupakan salah satu gedung bersejarah di Budapest dan termasuk UNESCO a World Heritage Preservation Site. Dari situ kami melanjutkan perjalanan ke Fisherman’s Bastion yang berjarak sekitar 50 meter dari Collegium Budapest. Fisherman’s bastion ini persis di belakang hotel Hilton tempatku menginap. Masuk ke Fisherman’s bastion di musim dingin gratis, tapi kalo musim panas katanya harus bayar, karena puncak turis datang ke Budapest saat musim panas.

Photobucket
di fisherman's bastion

Fisherman’s bastion yang didirikan awal abad 19 ini merupakan salah satu landmark di Budapest. Dari sini kita bisa melihat pemandangan indah ke Sungai Danube dan hamparan gedung-gedung tua di bagian timur kota Budapest. Gedung Parlemen yang terletak di seberang Sungai Danube terlihat sangat jelas dari tempat ini. Dari Fisherman’s Bastion kami pindah ke Matthias Church yang letaknya di samping kiri Hotel Hilton. Gereja Neo-Ghotic Coronation yang cukup besar ini pertama kali dibangun oleh Raja Bela IV pada abad pertengahan (sekitar tahun 1225) dan dibangun kembali pada tahun 1896. Nama gereja ini terinspirasi dari Matthias Corvinus, seorang raja Hungaria di zaman Renaisans yang cukup terkenal. Saat ini beberapa bagian luar gereja nampak sedang direnovasi. Menurut sang tour guide, renovasi yang dilakukan terhadap bangunan-bangunan tua di Budapest tidak boleh merubah struktur atau bentuk yang asli, paling cuma menggati  cat atau ganti atap saja,  jadi masih terjaga keasliannya...

Photobucket
Gereja Matthias

Dari Gereja Mathhias, kami menyusuri jalan menuju Royal Palace, pemandangan tidak kalah indahnya. Royal Palace yang dibangun abad ke-15 silam awalnya merupakan Istana Raja Hongaria, namun saat ini sudah beralih fungsi menjadi museum nasional yang menyimpan koleksi peninggalan sejarah terbanyak di Hongaria. Di samping Royal Palace terdapat Istana Alexander yang pada zaman kerajaan menjadi tempat tinggal perdana menteri Hongaria. Gedung yang dibangun pada awal tahun 1800 tersebut saat ini menjadi Kantor Presiden Hongaria. Nyaris ga percaya kalo tuh kantornya presiden, karena saya tidak melihat ada penjagaan ketat sama sekali.

Photobucket
Royal Palace tampak belakang

Photobucket
Royal Palace tampak depan
Sayangnya Royal Palace merupakan tempat berakhirnya tour hari itu. Karena jam baru menunjukkan pukul 3 sore, saya mengajak pak Ahmad MD dari Malaysia tuk berpetualang sendiri... gayung bersambut, pak Ahmad juga tertarik untuk menjelejahi kota yang very beautiful ini. Dari Royal Palace kami memandang ke bawah bukit sambil menentukan rute jalan kaki yang akan kami tempuh. Kami memutuskan akan jalan turun ke Chain Bridge, lalu ke Gedung Parlemen dan terakhir ke Basilica. Ketiga lokasi wisata tersebut dapat terlihat jelas dari Royal Palace.

Photobucket
Chain Bridge dan Basilica tampak dari Royal Palace

Kami pun menyusuri anak tangga menuruni bukit menuju Chain Bridge atau orang di sini menyebutnya Szechenyi Lanchid. Sebenarnya dari area istana menuju Chain Bridge dan sebaliknya ada angkutan bus. Atau bisa juga naik funicular, semacam lift jadul. Tapi sepertinya lebih asyik jalan kaki karena setiap saat bisa mampir mengambil gambar dari angle yang kita mau.

Photobucket
funicular

Setelah jalan menuruni bukit sekitar 10 menit, akhirnya sampai juga di Chain Bridge. Jembatan ini merupakan jembatan pertama di Budapest yang dibangun pada tahun 1839-1849 dan menjadi simbol penggabungan kota Buda dan Pest menjadi Budapest pada tahun 1885. Jembatan bergaya klasik ini panjangnya 380 meter. Di ujung jembatan di wilayah Buda ada terowongan yang membelah bukit dan menghubungkan wilayah Buda dan Pest, jadi ga musti ikutan naik ke bukit. Sedangkan di ujung jembatan wilayah Pest ada Istana Gresham yang dibangun pada tahun 1907 dan saat ini berfungsi sebagai hotel Four Season. Jembatan ini pernah hancur pada tahun 1940-an saat kota Budapest dilanda perang.

Dari Chain Bridge berjalan sekitar 15 menit menuju Gedung Parlemen yang letaknya di tepi sungai Danube. Gedung Parlemen yang dibangun selama 19 tahun (1855-1904) merupakan bangunan termegah di Hongaria. Bangunan yang bergaya Ghotic tersrebut berukuran 268x118 meter dengan kubah setinggi 96 meter dan luas seluruhnya 17.775 m2. Gedung Parlemen merupakan pusat aktivitas pemerintahan Hongaria, dimana terdapat kantor Perdana Menteri dan ruang-ruang untuk sidang Parlemen Hongaria. Lapangan di depan gedung Parlemen dihias oleh dua patung pahlawan Hongaria yaitu patung berkuda Pangeran Ferenc Rakoczi II (1676-1735) yang dibuat oleh arsitek Janos Pasztor pada tahun 1937 dan patung Lajos Kossuth, tokoh revolusi rakyat Hongaria tahun 1848-1849. Sayangnya ada larangan untuk melintas di depan gedung parlemen, sehingga saya dan pak Ahmad hanya bisa menikmati gedung Parlemen dari sisi samping dan belakangnya saja. Namun tak mengapa, toh setiap pagi kami sarapan di Hilton selalu disuguhi pemandangan sisi depan gedung parlemen yang sangat eksotis ini...

Photobucket
Gedung Parlemen saya ambil dari Fisherman's Bastion

Dari Gedung Parlemen, kami balik arah kembali ke Chain Bridge namun akan mampir terlebih dahulu ke St.Stephen Basilica, gereja terbesar di Budapest. Gereja tersebut luasnya 4000 meter persegi dan dibangun pada tahun 1851. Namun karena sudah gelap walaupun baru jam 4 sore lewat, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. kami hanya mengambil beberapa gambar dari depan Basilica dan tidak jadi mengitari gereja megah tersebut.

Photobucket
Gerja Basilika

Dari dekat Basilica sebenarnya ada halte bus 16 dan 16A yang menuju ke Hotel. Namun sepertinya pak Ahmad tidak senang menunggu bus yang tak kunjung tiba. Dia mengajak untuk kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Dia bilang masih ‘boleh’ jalan kaki.. maksudnya dia masih kuat. Terbayang bakal capek banget jalan menyeberang Chain Bridge dan kembali menaiki ratusan anak tangga ke Castle area di mana hotel Hilton berada. Namun saya gengsi dong, masa pak Ahmad yang usianya mungkin sudah 40-an masih kuat, saya 30 aja belum udah nyerah.. akhirnya saya terima tantangan pak Ahmad.

Ternyata keputusan pak Ahmad untuk berjalan kaki sangat tepat, karena kami masih bisa mampir menikmati indahnya pemandangan Chain Bridge dan Royal Castle di malam hari. Keduanya tampak semakin cantik karena bermandikan cahaya lampu. Saya turun ke tepi sungai di sisi kanan dan kiri Chain Bridge mengambil sudut gambar yang terbaik. Saya merasa beruntung... tidak banyak fotografer yang memiliki kesempatan mengabadikan langsung pemandangan indah ini walaupun sekali dalam hidupnya.

Photobucket
Royal Palace tampak dari bawah, tepi sungai

Photobucket
Chain bridge yang cantik di malam hari

Begitu tiba di Royal Castle, napas ngos-ngosan dan kaki rasanya keram setelah 10 menit menapaki tangga menyusuri bukit. Tapi semuanya terbayar ketika saya memandang kembali ke bawah... tampak di kejauhan Chain Bridge, Gedung Parlemen dan Basilica yang tadi kudatangi. Semuanya indah dengan pencahayaan yang sempurna di gelap malam kota Budapest.

Photobucket
Chain Bridge dan Basilika tampak dari Royal Palace saat malam

Dengan sisa tenaga yang ada saya dan pak Ahmad kembali ke Hotel Hilton, namun sebelumnya mampir dulu ke mini market untuk nyetok air minum. Ternyata air mineral yang ada di kamar bukan gratisan tapi harus ditebus dengan harga 1900 forint. Hiks, hari pertama saya sempat minum sebotol... kirain gratis...

Pukul 6 tepat saya tiba di hotel, sudah terbayang nikmatnya berendam air panas di bathtub. Selepas mandi dan sholat, bukannya istirahat.. saya malah semangat untuk jalan lagi... hehehehe... dan akhirnya, malam itu petualanganku di kota Budapest pun berlanjut... (to be continued)

November 23, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 3)

Sepertinya tubuh ini belum bisa beradaptasi dengan waktu Budapest. Sudah dua malam berturut-turut, saya selalu terbangun pukul dua pagi. Saya coba untuk kembali tidur tapi mata ga bisa merem lagi. Saya pun memilih bangun untuk mandi lalu berbagi cerita lagi di blog ini.

Cuaca di Budapest kurang bersahabat kali ini, dinginnya minta ampun, hujan gerimis pula. Rekan saya Tanfer dari Turki memperkirakan hari Rabu akan turun salju, namun Renata dari Polandia menampik dengan alasan, cuaca saat ini terlalu hangat untuk turun salju. Entah siapa yang benar, tapi di dalam hati saya berharap turun salju dong. Udah tiga kali musim dingin saya jumpai di Eropa tapi sekalipun belum pernah ngerasain ketiban salju dari langit, hehehe.

Aktivitas kemarin cukup padat, setelah sarapan selesai, kami berkumpul lagi di Collegium Budapest untuk memulai General Assembly Meeting yang sudah menjadi agenda rutin tahunan di konsorsium SEA-EU-NET. Yang menarik dari pertemuan kali ini, ada beberapa rekan yang baru bergabung dengan tim kami, mereka berasal dari Euresearch Switzerland, STI Thailand, NTU Singapura, DOST Filipina, NAST Laos dan AIT yang berbasis di Thailand. Ada juga wajah-wajah baru namun dari institusi yang sudah lama bergabung dengan konsorsium, seperti Rapela Zaman dari The Royal Society UK. Dia menggantikan Natalie Day dan Laura Dawson yang sepertinya sedang mengerjakan project lain. Saya sempat salah tebak. Dari wajahnya saya menebak Ms. Rapela Zaman ini berasal dari India dan beragama Hindu, tapi ternyata dia keturunan Bangladesh, dan seorang Muslimah. Selama makan siang, saya bersama Rapela menghabiskan waktu mengobrol tentang kondisi Islam di negara masing-masing. Hal ini sering saya lakukan bila bertemu sesama muslim dari negara lain.

Suasana Rapat
Suasana meeting hari pertama

Satu hal yang bikin bete selama di Eropa adalah makanan. Saya harus cukup selektif memilih makanan yang disajikan. Untungnya ada rekan dari Malaysia dan Turki yang sama-sama concern dengan halal tidaknya makanan yang kita santap. Sebelum mengambil makanan biasanya kami saling bertanya satu sama lain, apakah makanan itu aman atau tidak. Bila salah satu di antara kami mengambil satu jenis makanan, maka yang lain akan ikutan. Ikutan ngambil dan ikutan yakin bahwa makanan tersebut halal. Tapi tidak semuanya pilihan kami aman. Nyatanya pada malam pertama kami tiba di sini, kami merasa aman dengan hanya mengambil salad. Untungnya beberapa detik sebelum kali mulai menyantap salad itu, rekan kami dari Hongaria yang menjadi tuan rumah segera memberi tahu bahwa dalam salad itu ada potongan-potongan kecil daging babi... OMG...

Makanya, saat sarapan kemarin pagi saya puas-puasin makan telur rebus, roti, scramble egg, aneka kue, buah-buahan, sereal, dan lain-lainya yang menurutku aman. Pokoknya breakfast like a king... takutnya lunch dan dinner di tempat meeting nanti tidak banyak pilihan makanan, makanya saya nyetok pas sarapan... hehehehe.. tapi ternyata tuan rumah sudah mengantisipasi kejadian kemaren malam dan menyediakan menu vegetarian buat kami yang muslim, alhamdulillah akhirnya lunch and dinner like a king lagi nih...

mcd
Ini bukan museum bro... ini McD... hehehehe

Selepas dinner tadi malam, pengennya sih jalan-jalan di sekitar hotel, namun hujan masih turun. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan langsung tidur walaupun jam masih menunjukkan pukul 19 lewat 10 menit. Begitu sampai di hotel, telepon di kamar berdering dan langsung saya angkat. Saya sempat bingung karena lawan bicara saya ngomong pake bahasa Indonesia dan logatnya tidak asing di telinga. Setelah memastikan saya adalah Munawir Razak, beliau memperkenalkan diri sebagai Anis Kadir. Saya langsung teringat dengan cerita pak Joko, bahwa ada pegawai KBRI Hongaria yang juga berasal dari Makassar dan pernah kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo bernama Anis Kadir. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau Anis Kadir yang dimaksud pak Joko adalah senior saya di Pesantren IMMIM. Kanda Anis Kadir alumni tahun 1989, sehingga saya tidak sempat bertemu di kampus dan jarang ada moment seperti reuni yang mempertemukan kami karena setelah selesai kuliah di Kairo, beliau langsung merantau ke Budapest ini sudah lebih dari 16 tahun. Beliau langsung mengenali saya sebagai adik alumni dari IMMIM begitu melihat nama saya di berkas perjalanan dinas yang disampaikan pak Joko. Kata Kanda Anis Kadir, beliau tidak asing dengan nama saya karena pernah mampir di blog ini. Hehehehe....

Benar kata ustaz Taufan, walaupun belum pernah bertemu, namun bila sama-sama pernah mondok di Pesantren IMMIM, rasanya kami sudah kenal lama. Insya Allah sebelum saya pulang ke tanah air saya akan bertemu dengan Kanda Anis Kadir. Bertemu dengan senior di Indonesia saja senangnya bukan main, apalagi bisa bertemu dengan senior di belahan lain bumi Allah ini... subhanallah... (to be continued)

November 22, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 2)

Ahirnya setelah hampir tiga jam transit di Schipol Amsterdam, pesawat KLM dengan nomor penerbangan KL 1975 bertolak menuju Bandara Ferihegy Budapest. Perjalanan dari Amsterdam ke Budapest kurang lebih sama seperti dari Jakarta ke Makassar. Pemandangan dari atas pesawat ternyata sangat memukau. ketika pesawat baru take-off, di darat nampak ratusan kincir angin berjajar rapi. Pemandangan di atas awan tidak kalah cantiknya. Hamparan awan putih bersih yang menggumpal bagai kapas berpadu dengan birunya langit.

Tepat pukul 12 siang, pesawat pun mendarat dengan mulus di Budapest. Di pintu keluar sudah menunggu
Pak Joko dari KBRI Hongaria yang akan mengantar saya ke hotel. Sepanjang perjalanan selama 30 menit Pak Joko bercerita banyak tentang kota Budapest. Kondisi jalanan di kota Budapest mirip-mirip sama di Serpong deh, banyak tambalan aspal di sana sini, kata pak Joko jalanan yang bagus nan mulus adanya di highway yang menghubungkan antara negara-negara Schengen.

Saya menginap di Hotel Hilton karena sangat dekat dengan kantor Collegium Budapest yang menjadi lokasi konferensi. Hotel Hilton lokasinya sangat strategis karena berada di lingkungan Castle Area yang merupakan wilayah sekeliling istana raja dengan berbagai peninggalan bangunan tua seperti Gereja St. Matyas yang dibangun oleh Raja Bela IV pada tahun 1225, Benteng Nelayan (Fisherman Bastion), Maria Magdalena Tower dan tentu saja istana raja alias Royal Palace. Royal Palace adalah komplek bangunan istana raja Hongaria yang mulai dibangun sejak abad ke-15 dan selesai dibangun dengan kondisi saat ini pada tahun 1910. Saat ini istana tersebut merupakan national gallery yang memiliki koleksi peninggalan sejarah terbanyak di Hongaria. Di samping kanan Royal Palace terdapat istana Alexander yang pada jaman kerajaan menjadi tempat tinggal perdana menteri Hongaria. Gedung yang dibangun pada tahun 1803-1806 tersebut saat ini menjadi Kantor Presiden Hongaria. Ga kebayang kalo di Indonesia kantor presiden seperti ini, ramai dikunjungi turis-turis... pasti Paspampresnya sibuk minta ampun, hehehe...

Royal Palace
Royal Palace, Budapest

Satu lagi yang menarik dari kawasan ini adalah lokasinya yang terletak di atas bukit. Dari Hotel Hilton, dengan jelas kita bisa melihat Gedung Parlemen (Orszaghaz) yang terletak di seberang sungai, begitu juga dengan St. Stephen’s Basilica yang merupakan gereja terbesar di Budapest dengan luar sekitar 4000 meter persegi dan dibangun pada tahun 1851. Pemandangan yang tak kalah menarik dari atas sini adalah Chain Bridge yang merupakan jembatan pertama di Budapest pada tahun 1839-1849. Jembatan nan eksotis ini menjadi simbol penggabungan kota Buda dan Pest menjadi Budapest pada tahun 1885.

Bridge
Chain Bridge dan St. Stephen’s Basilica dilihat dari jalan menuju Hotel Hilton

Baru nyampai tapi keknya udah banyak tau ya... hehe thanks to Pak Joko yang udah share banyak hal tentang Budapest. Pak Joko dengan baik hatinya pula menawarkan bantuan untuk mengantar cari makanan , tentu saja makanan yang halal. Ternyata ga susah nyari restoran kebab Turki,  alhamdulillah... Turki ternyata pernah menjajah Hongaria lebih dari 150 tahun, tapi ga keliatan lagi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Turki di sini. 

Karena pelayan restoran Turki tersebut tidak mengerti bahasa Inggris, Pak Joko memesan makanan dalam bahasa Hongaria. Hehe ternyata pak Joko udah lama tinggal di sini, istrinya asli orang Hongaria,dan anaknya pun sudah menjadi warga negara Hongaria. 

Sesampainya kembali di hotel, jam sudah menunjukkan pukul 15.00, ngantuk banget rasanya, efek jetlag. Saya berusaha untuk tidak tidur, takut kebablasan, karena pukul 18.00 saya sudah harus ikut pertemuan dengan teman-teman dari SEA-EU-NET. Saya pun memutuskan untuk jalan-jalan motret suasana di sekitar hotel setelah mandi dan beres-beres di kamar terlebih dahulu. Namun rencana itu urung saya lakukan karena Pukul 16.00 ternyata di luar sudah gelap, ternyata matahari cepat tenggelam di musim dingin...

Akhirnya kuputuskan untuk tinggal di kamar dan internetan. sayangnya internet tidak gratis di Hilton. Padahal dah bayar 80 euro per malam tapi kudu bayar lagi untuk internet, untuk 30 menit tarifnya 1.350 forint, sejam tarifnya 3.100 forint, 24 jam tarifnya 7.800 forint dan untuk seminggu musti bayar 19.500 forint. Forint itu mata uang Hongaria yang kalo dikonversi ke rupiah kita kita 1 forint = 50 rupiah. Ternyata Hongaria belum mengadopsi mata uang tunggal Euro. Jadi transaksi di toko, restoran, bus, tram semuanya pakai forint. Tidak banyak tempat seperti Hotel Hilton yang menerima Euro.

Pukul 18.00 saya turun ke lobby, ternyata teman-teman saya sudah pada ngumpul duluan, ada Tanfer dan Elif dari Turki, ada Christoph, Gerold dan Margot dari Jerman, Ahmad dari Malaysia, Simon dari Kanada, dan Alex dari Austria. Dari hotel kami jalan ke Collegium Budapest yang lokasinya cuman 100 dari hotel. Disana kami disambut rekan kami Mr. Bela, ex diplomat Hungaria yang menjadi tuan rumah acara tahun ini. Senang bisa bertemu dengan mereka sekali setahun, memperluas wawasan dengan diskusi tentang kondisi di negara masing-masing. Untungnya kuliah dulu sempat belajar tentang Eropa, jadi masih nyambung dengan obrolan teman-teman. Hehehe... (to be continued)

November 21, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 1)

Alhamdulillah pesawat KLM yang kutumpangi mendarat dengan selamat pagi ini di Bandara Schipol Amsterdam. Udara dingin dengan suhu sekitar 5 derajat celsius sudah mulai terasa ketika keluar dari pesawat menuju ruang tunggu. Karena sedang musim dingin, walaupun sudah pagi matahari belum juga menyapa. Empat kali ke sini, baru sekali ngerasain musim panas.

Perjalanan ke Eropa ditempuh sekira 13-15 jam. Untungnya program in flight entertainment di bisa mengusir rasa jenuh di udara. Tadi saya sempat nonton tiga film dan beberapa program TV on demand, sisa waktu saya habiskan dengan tidur, mengobrol dan berdoa, sempat ga bisa tidur juga tadi karena pesawat mengalami banyak turbulensi di atas wilayah India dan Laut Bengal selama kurang lebih dua jam.

Begitu tiba di Schipol, antrian panjang untuk pemeriksaan imigrasi menunggu. Dari imigrasi mesti jalan jauh lagi ke gate C10 tempatku menunggu pesawat KLM lainnya yang akan mengantarku ke Budapest. Untungya di sisi kanan dan kiri banyak toko dutyfree dengan aneka macam jualan yang menarik. Tiga jam transit di Schipol tidak terasa karena sibuk menjelajahi toko dutyfree ini. lumayan buat cuci mata, ga mesti belanja kan.

Berbeda dengan waktu transit di Kuala Lumpur tadi, di Schipol agak susah nyari akses internet gratisan. Banyak channel wifi yang saya coba namun beberapa harus bayar dan beberapa lagi gagal connect. Untuk mengontak Thia di Makassar, saya coba nelpon walau roaming. Untuk ngobrol 1 menit 16 detik aja, pulsa udah kesedot 48 ribu rupiah. Ga lama kemudian saya menerima telepon dari Jakarta, selama 2 menit 11 detik, pulsaku kesedot lagi 61500 rupiah. bangkrut deh... 

November 11, 2010

Menristek Dampingi Presiden Austria Selama Kunjungan Kenegaraan Di Indonesia.

Presiden Republik Austria, Y.M. Heinz Fischer,  melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada tanggal 9-10 November 2010. Selain membawa Ibu Negara Austria dan beberapa angggota kabinetnya, Presiden Fischer juga membawa sekitar 50 orang pengusaha Austria. Selama kunjungannya tersebut, Presiden Austria didampingi oleh Menristek Suharna Surapranata yang bertindak sebagai Minister in-attendance.

Pada hari pertama kunjungan, Setelah upacara penyambutan kenegaraan di Istana Negara, Presiden Austria dan Menristek melakukan peninjauan ke Istana Bogor.  Pada kesempatan tersebut, Presiden Austria beserta rombongan turut berkunjung melihat ratusan koleksi anggrek di Taman Anggrek, Kebun Raya Bogor.

Pada hari kedua kunjungannya di Indonesia, Presiden Austria berkesempatan mengunjungi Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang letaknya bersebelahan. Di Masjid Istiqlal, Presiden Austria yang disambut Imam Masjid Ali Mustafa Yaqub, bahkan diberi kesempatan untuk menabuh bedug yang terletak di pelataran masjid. Dari masjid Istiqlal, Presiden Austria kemudian melanjutkan perjalanan menuju lokasi pembangunan gedung Kedutaan Besar Austria yang baru di Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat.

Sementara itu, di kesempatan yang terpisah, Ibu Negara Austria Margit Fischer didampingi ibu Menristek, Elidiah Widyawati mengunjungi pameran tekstil di Wisma Negara. Pada kunjungan tersebut Ibu Negara Ani Yudhoyono memperkenalkan berbagai jenis koleksi kain dan kerajinan dari seluruh pelosok nusantara kepada Ibu Negara Austria.                  

Rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Austria tersebut, ditutup dengan Indonesia-Austria Economic Forum yang dihadiri lebih dari 200 orang pengusaha dari Indonesia dan Austria. Secara spesifik, Presiden Austria menyampaikan tawaran kerjasama untuk membangun pembangkit listrik tenaga air atau hydropower di Indonesia. "Energi alternatif salah satunya hydropower adalah keunggulan Austria dan kami menawarkan kerjasama di bidang ini dengan Indonesia," ujar Heinz.

Selain kerjasama di bidang hydropower tersebut, Austria juga menawarkan beberapa kerjasama di bidang transportasi perkeretaapian, pengembangan rumah sakit dan pelayanan kesehatan, pengolahan air limbah serta penyediaan sistem komunikasi dan informasi di bidang perhubungan udara. (munawir)