Great Wall: Mengunjungi Salah Satu Keajaiban Dunia

Kunjungan ke Great Wall di Badaling bukan perjalanan yang saya rencanakan sendiri. Sebagai bagian dari rangkaian agenda training yang saya ikuti di Beijing, panitia sudah menyiapkan segalanya — termasuk bus yang membawa seluruh rombongan peserta dari hotel menuju Badaling. Jadilah siang itu saya berangkat bersama sekitar dua puluh orang dari berbagai negara, campuran wajah-wajah Asia, Eropa, dan Timur Tengah, semua dengan semangat yang kurang lebih sama: ingin melihat langsung tembok yang selama ini hanya ada di buku dan layar televisi.

Perjalanan dari pusat kota memakan waktu sekitar satu jam ke arah barat laut. Pemandangan dari jendela bus berubah perlahan — gedung-gedung bertingkat menyusut, digantikan permukiman yang lebih jarang, lalu pegunungan Yanshan yang mulai menghijau di cakrawala. Tidak ada yang banyak bicara di bus. Semua seperti sudah menyimpan energi untuk yang ada di depan.

Foto Bersama Dulu Sebelum Naik

Begitu turun dari bus dan memasuki area Badaling, hal pertama yang langsung mencolok bukan tembok-nya — melainkan papan besar putih bertuliskan "One World One Dream" dengan logo Olimpiade Beijing 2008 di sebelahnya. Beijing waktu itu memang sedang dalam persiapan besar-besaran menyambut Olimpiade yang tinggal setahun lagi. Spanduk dan dekorasi bernuansa Olimpiade ada di mana-mana di seluruh kota, dan Badaling tidak terkecuali.


Sebelum naik, rombongan kami berkumpul dulu di area bawah untuk foto bersama — dengan latar papan "One World One Dream" dan bendera merah China yang berkibar di tiang, sementara tembok berliku di bukit di belakang kami. Pemandu wisata kami — seorang pria yang tampak sudah sangat hafal medan ini — mengatur posisi kami dengan cekatan. Setelah foto selesai, barulah semua berpencar untuk mulai mendaki.

Naik: Lebih Berat dari yang Kelihatan

Dari area bawah, tembok sudah terlihat menanjak tajam ke atas bukit. Kelihatannya tidak terlalu jauh. Tapi begitu kaki mulai melangkah di atas anak-anak tangga batu yang tidak rata itu, perkiraan awal langsung terkoreksi.


Tangganya curam — di beberapa titik kemiringannya terasa hampir 45 derajat — dan pengunjung yang naik bercampur dengan yang turun dalam satu jalur yang sama. Siang itu Badaling sangat ramai. Dari atas tembok terlihat arus manusia memadati jalur naik dan turun sepanjang yang mata bisa jangkau, seperti semut yang bergerak dalam dua arah berlawanan di atas punggung bukit. Langit biru cerah dan matahari tepat di atas kepala — tidak ada angin yang cukup untuk mengimbangi teriknya.


Di sisi kanan jalur naik, papan "One World One Dream" masih terlihat dari atas, kali ini dari sudut yang berbeda. Di baliknya, hamparan bukit hijau pegunungan Yanshan membentang ke segala arah.

Di Atas Tembok

Sesampainya di menara pengawas pertama, saya berhenti dan membalikkan badan.

Pemandangan yang terbuka dari sini tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Tembok berliku mengikuti punggung bukit ke kiri dan ke kanan — naik, turun, membelok, menghilang di balik puncak, muncul lagi di sisi lain. Dari titik ini terlihat jelas betapa tembok ini bukan sekadar bangunan lurus — ia mengikuti kontur pegunungan dengan sangat presisi, seolah memang tumbuh dari bukit itu sendiri. Di kejauhan, lapisan demi lapisan pegunungan berlapis-lapis dengan kabut tipis di cakrawala, dan tembok terus meliuk di antaranya sampai tidak bisa lagi dibedakan dari garis bukit.

Saya melanjutkan naik ke titik yang lebih tinggi untuk mendapat sudut pandang yang lebih leluasa. Dari sana, untuk pertama kalinya, saya bisa melihat tembok ini dalam perspektif yang sesungguhnya — bukan sekadar jalur yang saya injak, tapi sebuah struktur yang membentang melewati pegunungan sejauh mata memandang, dengan pengunjung-pengunjung kecil yang berjalan di atasnya seperti titik-titik yang bergerak.


Great Wall di Badaling adalah bagian yang dibangun dan direstorasi pada masa Dinasti Ming, sekitar abad ke-15 hingga 17. Lebarnya cukup untuk lima orang berjalan bersamaan, dengan menara-menara pengawas yang muncul setiap beberapa ratus meter. Total panjang keseluruhan Great Wall, bila semua seksi dari berbagai dinasti dihitung, mencapai lebih dari 21.000 kilometer.

Turun: Bagian yang Lebih Menguras Lutut

Kalau naik menguras napas, turun menguras lutut.

Tangga-tangga yang tadi terasa curam dari bawah, kini terasa jauh lebih curam dilihat dari atas. Beberapa pengunjung turun dengan berpegangan pada rel besi yang dipasang di tengah jalur — dan saya termasuk di antara mereka. Dari titik tertinggi, area parkir dan fasilitas di bawah terlihat sangat jauh, dengan tembok yang terus meliuk turun di antara pepohonan hijau.

Setibanya kembali di bawah, rombongan kami berkumpul lagi di area yang sama dengan waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Muka semua orang merah kena matahari, dan tidak ada yang banyak bicara — tapi ekspresinya seragam: campuran antara kelelahan dan kepuasan.

Satu Detail yang Tidak Terduga

Di atas tembok, saya berjalan berdampingan dengan orang-orang dari puluhan negara berbeda — terdengar berbagai bahasa di kiri-kanan, dari Inggris, Prancis, Arab, hingga bahasa-bahasa yang tidak saya kenali sama sekali. Badaling memang sudah lama menjadi seksi Great Wall yang paling banyak dikunjungi di dunia, dan berdiri di sana di tengah keramaian yang sangat internasional itu, dengan papan Olimpiade di kejauhan, rasanya seperti berada di titik pertemuan dunia yang sesungguhnya.

Untuk yang berencana ke sini: datanglah sepagi mungkin jika ingin menghindari keramaian puncak. Siang hari di musim panas bisa sangat ramai dan panas. Pakai sepatu dengan sol yang grip karena permukaan batu bisa licin, dan bawa air minum yang cukup karena tidak banyak titik istirahat di atas tembok.

Posting Komentar

0 Komentar