Agenda dinas di Beijing membawa saya ke berbagai pertemuan dan acara resmi — tapi di akhir pekan, waktunya untuk bersantai dan mengunjungi beberapa lokasi menarik di Kota Beijing. Pagi-pagi sekali, saya sudah keluar dari hotel dan berjalan menuju Tiananmen Square. Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah delapan, dan udara Beijing pagi itu masih terasa dingin dan sedikit berkabut — langit putih keabu-abuan yang khas kota ini di musim panas.
Saya datang sepagi ini bukan tanpa alasan. Tiananmen di siang hari bisa sangat ramai. Di pagi hari, setidaknya ada ruang untuk berjalan dan melihat dengan tenang.
Tiananmen Square: Lebih Luas dari yang Dibayangkan
Hal pertama yang langsung terasa begitu memasuki lapangan adalah ukurannya.
Foto-foto dan video tidak bisa menyampaikan seberapa luas Tiananmen Square secara akurat. Luasnya 440.000 meter persegi — dan itu bukan sekadar angka statistik, itu sesuatu yang terasa di kaki ketika Anda berjalan dari satu ujung ke ujung lainnya. Di pagi hari yang masih sepi, lapangan ini terasa bahkan lebih luas dari biasanya. Suara langkah kaki sendiri terdengar jelas di atas batu granit yang luas.
Di tengah lapangan berdiri Monument to the People's Heroes — obelisk granit setinggi sekitar 38 meter dengan tulisan aksara Mandarin berwarna emas di keempat sisinya. Saya berhenti di sini cukup lama. Monumen ini dibangun untuk menghormati para pejuang revolusi China, dan reliefnya yang mengelilingi bagian bawah menggambarkan berbagai babak perjuangan sejak perang Candu hingga berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Di pagi hari dengan cahaya yang masih lembut dan lapangan yang belum ramai, monumen ini terasa lebih berkesan daripada yang mungkin terasa di siang hari yang penuh kerumunan.
Dari sini saya berjalan ke arah utara, menuju Gerbang Tiananmen. Semakin dekat, semakin jelas detail gerbangnya: tembok merah tebal dengan lima lengkungan pintu masuk, balustrade marmer putih di sepanjang terasnya, dan di tengah-tengah fasad — potret besar Mao Zedong menatap ke selatan dengan ekspresi yang sudah sangat familiar dari berbagai foto dan film. Di kiri kanannya, dua tulisan berhuruf emas di latar merah: "中华人民共和国万岁" — Hidup Republik Rakyat Tiongkok — dan "世界人民大团结万岁" — Hidup Persatuan Rakyat Dunia.
Di kiri dan kanan jalan menuju gerbang berdiri pilar-pilar Huabiao — tiang batu marmer putih berukir yang meliuk-liuk dengan motif naga dan awan. Tingginya mencapai sekitar sepuluh meter, dan ukiran di permukaannya sangat halus dan detail. Ini adalah elemen arsitektur khas istana kekaisaran China yang sudah berusia ratusan tahun — dan yang menarik, kalau tidak sengaja berhenti dan memperhatikan, mudah sekali terlewat di antara semua kemegahan di sekitarnya.
Masuk ke Forbidden City
Dari Gerbang Tiananmen, perjalanan berlanjut ke utara — melewati halaman tengah yang luas, menyeberangi parit berair kehijauan melalui jembatan-jembatan batu, hingga akhirnya sampai di Wumen, Gerbang Meridian, pintu masuk resmi Forbidden City.
Matahari sudah mulai naik dan cuacanya semakin terik. Langit yang tadi masih keabu-abuan berubah menjadi biru cerah, dan cahaya matahari jatuh langsung di atas kompleks ini dengan cara yang membuat segalanya tampak sangat tajam dan kontras. Atap-atap glazur keemasan itu — yang dalam foto sering tampak seperti warna cat biasa — ternyata benar-benar berkilau di bawah sinar matahari langsung. Merah temboknya juga berbeda dari yang bisa ditangkap kamera: lebih dalam, lebih kaya, lebih nyata.
Gu Gong — Istana Kuno — dibangun antara 1406 dan 1420 atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Kompleks seluas 72 hektar ini menjadi pusat kekuasaan kekaisaran China selama hampir 500 tahun, rumah bagi 24 kaisar, dengan lebih dari 980 bangunan dan sekitar 8.700 ruangan yang tersusun dalam simetri sempurna menghadap selatan.
Saya berjalan mengikuti sumbu utama dari selatan ke utara — jalur yang memang dirancang sebagai rute utama. Melewati Taihedian, Aula Supremasi Harmoni, yang berdiri di atas tiga teras marmer putih bertingkat. Di salah satu teras inilah saya berhenti untuk berfoto — bersandar di pagar balustrade marmer berukir dengan latar bangunan berpilar merah dan atap keemasan di belakang.
Yang membuat betah berlama-lama bukan hanya bangunan-bangunan utamanya. Detail-detail kecil di mana-mana sama menariknya: ukiran naga di kepala tiang, motif geometris pada kisi-kisi jendela kayu, patung perunggu berbentuk kura-kura dan burung bangau di sudut halaman, sistem drainase kuno berbentuk kepala naga yang — menurut seorang pemandu wisata berbahasa Inggris yang kebetulan melintas — masih berfungsi sampai sekarang saat hujan deras turun.
Saya menghabiskan hampir tiga jam di dalam Forbidden City. Dan itu pun masih belum cukup untuk menjelajahi semuanya — banyak sayap dan paviliun di sisi timur dan barat yang terpaksa saya lewati karena kaki sudah mulai protes.
Keluar dari Pintu Utara: Jingshan di Depan Mata
Keluar dari Shenwumen — pintu utara Forbidden City — pemandangan yang menyambut adalah lapangan luas yang di siang hari sudah jauh lebih ramai dari pagi tadi. Ratusan pengunjung bergerak ke berbagai arah, sebagian besar memakai payung putih untuk melindungi diri dari terik matahari yang kini sudah benar-benar menyengat. Pemandu-pemandu wisata mengangkat bendera kecil tinggi-tinggi agar rombongannya tidak terpecah.
Di seberang jalan, tepat di depan pintu utara Forbidden City, Jingshan Park berdiri dengan bukit hijaunya yang rindang. Di puncak bukit itu, paviliun Wanchun terlihat jelas — bertingkat, beratap glazur hijau dan kuning, berdiri persis di titik tertinggi yang konon menjadi pusat geografis Beijing kuno. Dari sana, kata orang, seluruh atap keemasan Forbidden City bisa terlihat sekaligus dalam satu pandangan.
Saya tidak sempat naik ke Jingshan hari itu — waktu sudah menunjukkan siang dan ada agenda yang harus dikejar. Tapi pemandangan bukit itu dari bawah, dengan latar langit biru Beijing yang cerah dan kerumunan di bawahnya yang ramai, sudah cukup menjadi penutup yang berkesan bagi satu pagi yang sangat padat.
Pelajaran praktis untuk yang berencana ke sini: datanglah sepagi mungkin. Tiananmen dan Forbidden City di pagi hari adalah pengalaman yang sangat berbeda dari versi siang harinya — lebih sepi, lebih tenang, dan cahayanya jauh lebih baik untuk berfoto. Pakai sepatu yang nyaman, bawa air minum yang cukup, dan sisihkan minimal tiga hingga empat jam khusus untuk Forbidden City saja.
0 Komentar