Niujie: Menemukan Beijing yang Berbeda

Sore itu saya tiba di kawasan Niujie dengan taksi. Begitu turun, suasananya langsung terasa berbeda dari bagian Beijing mana pun yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Tidak ada tembok kekaisaran, tidak ada lapangan raksasa, tidak ada kerumunan wisatawan dengan kamera di tangan. Yang ada adalah jalan yang hidup dengan ritme keseharian — warung-warung kecil, lalu lalang warga, dan di seberang jalan sebuah bangunan berlabel tiga bahasa: 牛街清真超市 — Niujie Muslim Supermarket — dalam aksara Mandarin, Arab, dan Inggris sekaligus.

Saya tahu saya sudah berada di tempat yang tepat.

Masjid Niujie: Ketika Dua Dunia Bertemu dalam Satu Bangunan

Tujuan pertama adalah Masjid Niujie — Niujie Libai Si — yang terletak tepat di jantung kawasan ini.

Dari luar, kesan pertama yang muncul adalah: ini bukan masjid yang lazim. Tidak ada kubah, tidak ada menara ramping bergaya Timur Tengah. Yang berdiri di hadapan saya adalah bangunan dengan atap glazur hijau-merah yang sangat kaya akan ornamen, pagar besi tempa berwarna hijau tua dengan motif yang rumit, dan gerbang-gerbang yang lebih mirip pintu masuk kompleks kekaisaran daripada masjid. Hanya ketika mata mulai membaca detail-detailnya barulah identitasnya terungkap: di panel-panel atap yang penuh ukiran itu, tersisip kaligrafi Arab berwarna emas — لا إله إلا الله محمد رسول الله.

Syahadat, tertulis di atap bergaya dinasti China.

Masjid Niujie adalah masjid tertua di Beijing, yang dibangun pertama kali pada tahun 996 Masehi di masa Dinasti Liao — lebih dari seribu tahun yang lalu. Selama berabad-abad ia direnovasi dan diperluas, tapi karakternya yang memadukan arsitektur Islam dengan estetika bangunan China klasik tetap dipertahankan. Di halaman dalam berdiri Wangyue Lou — Menara Mengamati Bulan — bangunan bertingkat dua dengan dinding salmon merah muda dan ornamen biru-hijau-emas yang luar biasa detail di setiap tepinya. Fungsinya untuk mengamati hilal dalam penentuan awal Ramadan dan hari-hari penting kalender Hijriah — dan bangunan ini sudah melakukan tugunya itu sejak ratusan tahun lalu.

Di halaman dalam, beberapa pria Muslim Hui duduk santai di bangku-bangku — berpakaian putih bersih dengan peci putih di kepala, mengobrol pelan atau sekadar diam menikmati sore. Salah satu dari mereka membawa mushaf di pangkuannya. Suasananya sangat tenang, jauh dari kesan turis yang ramai.

Di Dalam Ruang Shalat

Waktu shalat Ashar hampir tiba, dan saya memutuskan untuk menunggu dan ikut shalat di sini.

Begitu melangkah masuk ke ruang shalat utama, kesan yang datang adalah campuran antara kagum dan haru. Karpet hijau bergaris membentang di seluruh lantai ruangan. Tiang-tiang kayu besar berwarna merah tua berdiri kokoh dengan kaligrafi emas melingkarinya. Lengkungan-lengkungan di bagian atas ruangan mengikuti gaya arsitektur China, tapi di dinding kiblat terpampang panel kaligrafi Arab yang sangat megah — latar biru tua dengan tulisan emas yang padat, mengelilingi sebuah mihrab berbentuk lengkung. Ukiran kayu di bagian atas panel itu hitam pekat, halus dan sangat detail.


Sebelum azan berkumandang, beberapa jamaah sudah lebih dulu hadir. Dua orang duduk bersila membaca Al-Quran — mushaf bersampul kuning terbuka di hadapan mereka. Di pojok belakang, seseorang sedang sujud sendirian. Tidak ada yang bicara. Suara yang terdengar hanya gemerisik halaman mushaf dan suara langkah kaki di atas karpet hijau.


Shalat Ashar berjamaah di Masjid Niujie, di Beijing, di negara yang mayoritas penduduknya tidak mengenal Islam — adalah pengalaman yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata, tapi sangat mudah dirasakan.

Makan Siang di Restoran Halal Niujie

Selesai shalat, saya keluar dan mulai menyusuri kawasan Niujie Street. Salah satu agenda yang tidak boleh terlewat: makan.


Di salah satu restoran halal di kawasan ini — ruangannya cukup luas dengan meja-meja panjang berlapis taplak biru tua dan kursi kayu berukir — saya memilih tempat duduk dan memesan. Restorannya tidak mewah, tapi bersih dan tertata rapi. Pelayan muda dalam seragam putih-hitam bergerak cekatan melayani tamu yang mulai berdatangan sore itu. Di dinding tergantung ornamen khas merah bertuliskan karakter Cina — nuansa yang sepenuhnya China, tapi makanan yang tersaji sepenuhnya halal.

Pilihan menu di kawasan Niujie didominasi masakan khas Muslim Hui: olahan daging sapi dan domba, mi kuah, berbagai jenis roti dan kue dari tepung. Ini bukan sekadar urusan sertifikasi halal — ini adalah tradisi kuliner yang sudah berlangsung ratusan tahun, diwariskan dari generasi ke generasi dalam komunitas yang memang membangun identitasnya di atas nilai-nilai Islam.

Niujie Muslim Supermarket dan Kehidupan Sehari-hari

Sebelum meninggalkan kawasan, saya sempatkan berjalan ke arah Niujie Muslim Supermarket yang sudah saya lihat dari taksi tadi — bangunan berlantai beberapa dengan sentuhan arsitektur China pada bagian atapnya, dan papan nama dalam tiga bahasa yang sangat mencolok dari seberang jalan.

Supermarket halal, di tengah Beijing. Bukan hal yang saya bayangkan akan saya temukan di kota ini.

Di depan supermarket, beberapa penjual kaki lima menggelar dagangan di bawah payung merah-putih. Orang-orang berlalu-lalang dengan santai — sebagian besar warga lokal, bukan wisatawan. Di sinilah saya mulai memahami bahwa Niujie bukan sebuah atraksi wisata yang dikemas untuk dikunjungi. Ia adalah kawasan yang hidup sungguhan — komunitas Muslim yang sudah berakar lebih dari seribu tahun di jantung Beijing, masih shalat di masjid yang sama, masih belanja di toko yang sama, masih memasak dengan tradisi yang sama.

Kalau Anda ke Beijing, sisihkan satu sore untuk ke Niujie. Datanglah menjelang waktu shalat, masuk ke masjidnya, dan habiskan waktu di kawasan ini sampai matahari mulai condong. Pengalaman yang Anda bawa pulang tidak akan bisa Anda dapatkan di Tiananmen, di Forbidden City, atau di atas Great Wall sekalipun.

Posting Komentar

0 Komentar