Summer Palace: Ketika Hujan Justru Menambah Cerita

Dari semua destinasi selama di Beijing, Summer Palace adalah yang paling tidak bisa saya prediksi — bukan karena tempatnya, tapi karena cuacanya.

Pagi itu langit sudah mendung sejak saya keluar dari penginapan. Tapi begitu taksi menurunkan saya di depan pintu masuk Yíhéyuán, mendung itu berubah menjadi hujan yang benar-benar turun. Bukan sekadar gerimis — melainkan hujan yang cukup deras, yang membuat jalanan batu langsung mengkilap dan payung-payung warna-warni bermunculan dari segala arah.

Di depan pintu masuk berdiri papan nama resmi Summer Palace — 颐和园 dalam aksara Mandarin dengan ilustrasi paviliun merah yang ikonik — dikelilingi taman bunga yang sedang bermekaran penuh: ungu, oranye, merah, semuanya basah oleh hujan, tapi warnanya justru terasa lebih pekat. Saya berhenti sejenak untuk foto di sana, lalu memutuskan untuk tetap masuk. Jaket tebal sudah dipakai, ransel sudah rapat di punggung. Tidak ada alasan untuk mundur.

Danau Kunming dalam Kabut Hujan

Begitu melewati gerbang masuk dan berjalan ke arah danau, pemandangan pertama yang menyambut adalah Danau Kunming yang terbentang luas dalam kabut hujan — airnya berwarna abu-abu kehijauan, permukaannya beriak kecil ditimpa hujan, dan di seberangnya siluet bukit dan pepohonan tampak samar di balik kabut tebal.


Tidak jauh dari tepi danau, sebuah gerbang dekoratif besar berdiri — paifang berlapis tiga dengan panel merah dan biru yang sangat detail, atap glazur kuning-hijau yang mencolok, dan di panel tengahnya tertulis "云辉玉宇" — Yunhui Yuyu, yang kira-kira berarti "Cahaya Awan Menyinari Istana Batu Giok." Jalanan di bawahnya basah mengilap, pengunjung dengan payung warna-warni bergerak ke berbagai arah. Saya berfoto di sini sambil sedikit menyipitkan mata menahan cipratan air.

Dari gerbang ini, saya berjalan menyusuri tepi danau ke arah timur. Di salah satu sudut tepi danau berdiri paviliun oktagonal berlapis dua dengan pilar-pilar merah — Kuanting, salah satu gazebo tepi danau yang dikelilingi taman bunga merah yang ditata rapi. Di bawah hujan, warna merah pilar dan warna-warni bunga di sekelilingnya justru terlihat sangat hidup.


Jembatan 17 Lengkung

Salah satu objek yang paling ingin saya lihat langsung adalah Shiqikong Qiao — Jembatan 17 Lengkung — dan dalam cuaca hujan seperti itu, pemandangannya ternyata memiliki keindahan tersendiri.

Jembatan batu sepanjang sekitar 150 meter ini menghubungkan tepi danau dengan Pulau Nanhu di tengah Danau Kunming. Tujuh belas lengkungan melengkung rapi di sepanjang jembatan, dan pada kondisi normal jembatan ini bisa sangat ramai oleh pengunjung. Tapi pagi itu, di bawah hujan yang cukup deras, pengunjung yang menyeberang tidak terlalu banyak — dan jembatan itu tampak lebih dramatis dari biasanya: siluetnya memanjang di atas air yang berkabut, dengan pulau berhutan di ujungnya yang nyaris menghilang ke dalam kabut.

Saya berfoto di tepi danau dengan latar jembatan itu. Di tangan saya masih ada tiket masuk yang mulai basah karena hujan.

Perahu Naga di Danau

Di dermaga dekat tepi danau, beberapa perahu wisata berbentuk naga berlabuh — badannya berwarna merah dan emas, atapnya berglasur kuning khas arsitektur kekaisaran China, dengan kepala dan ekor naga di ujung depan dan belakang. Satu perahu terlihat sedang bergerak membelah danau dalam kabut, mengangkut pengunjung yang memilih menikmati danau dari atas air. Dari tepi danau, perahu itu tampak seperti naga yang berenang perlahan dalam kabut — pemandangan yang cukup unik untuk diabadikan.


Long Corridor: Berlindung dari Hujan Sambil Melihat Lukisan

Ketika hujan semakin deras, Chang Lang — Long Corridor — menjadi tempat yang paling masuk akal untuk dituju. Dan ternyata bukan hanya saya yang berpikir demikian.

Koridor beratap sepanjang 728 meter ini dipenuhi pengunjung yang berlindung dari hujan. Tiang-tiang merah besar menjadi pembatas antara koridor yang kering dan jalanan basah di luar, sementara di langit-langit koridor — panel demi panel lukisan tersusun rapat dari ujung ke ujung. Lebih dari 14.000 lukisan berbeda menghiasi langit-langit ini: pemandangan alam, adegan dari kisah klasik Tiongkok, tokoh mitologi, serta bunga dan burung. Saya berjalan sambil sesekali mendongak, meski leher mulai protes setelah beberapa menit.

Di luar koridor, deretan pohon cemara besar berdiri di sepanjang jalur, daun-daunnya menetes. Suara hujan di luar dan langkah kaki di dalam koridor bercampur menjadi semacam latar yang tidak nyaman untuk dinikmati.

Marble Boat dan Taman Bunga

Di tepi barat danau, saya menemukan Qingyanfang — Marble Boat — yang ternyata bisa dilihat langsung dari dermaga perahu naga di dekatnya.

Dari dekat, kapal marmer ini jauh lebih besar daripada yang terbayang. Badannya dari marmer putih dengan ukiran di lambung kapal, dua lantai bangunan di atasnya dengan jendela-jendela bergaya Eropa yang tidak biasa — perpaduan arsitektur China dan Barat yang terasa agak janggal tapi justru menarik. Kepala kapal di ujung depan terbuat dari batu dengan ukiran yang detail. Di bawah langit hujan yang abu-abu, marmer putih kapal ini tampak kontras dengan warna air danau di sekelilingnya.

Tidak jauh dari sana, di salah satu sudut kompleks, ada hamparan taman bunga yang membuat saya berhenti cukup lama. Bunga-bunga dalam berbagai warna — kuning, merah, pink, ungu, oranye — ditanam dalam susunan bertingkat di atas rak-rak kayu, membentuk semacam dinding bunga yang sangat berwarna-warni. Di tengah cuaca hujan dan langit abu-abu, taman bunga ini terasa seperti satu-satunya tempat di Summer Palace yang tetap bersikeras menjadi ceria.

Naik ke Lereng Bukit Longevity

Sebelum meninggalkan kompleks, saya sempatkan berjalan ke arah Bukit Longevity di belakang deretan bangunan utama. Di lereng bukit, di antara pohon-pohon besar yang daun-daunnya basah, berdiri beberapa bangunan kecil dengan pintu merah dan lentera merah yang tergantung di atasnya — basah oleh hujan tapi tetap menyala warnanya.

Saat berjalan melewati salah satu gerbang kecil di lereng bukit, hujan tiba-tiba turun lebih deras. Pengunjung di sekitar saya berlarian mencari atap. Saya hanya bisa merapatkan jaket dan mempercepat langkah — sandal jepit yang saya pakai hari itu jelas bukan pilihan terbaik untuk medan basah seperti ini.

Itu menjadi semacam sinyal untuk pulang.

Catatan Praktis

Summer Palace bisa dicapai dengan taksi dari pusat kota Beijing dalam waktu sekitar 30–45 menit tergantung lalu lintas. Kompleksnya sangat luas — untuk menjelajahi bagian-bagian utamanya dibutuhkan setidaknya tiga hingga empat jam. Bawa payung atau jas hujan, terutama di musim gugur ketika cuaca bisa berubah cepat. Dan kalau ke sana dalam kondisi hujan seperti pengalaman saya — jangan khawatir, Long Corridor adalah tempat berteduh yang sangat layak sambil menunggu hujan mereda.

Posting Komentar

0 Komentar