Alhamdulillah — pukul enam pagi lebih sedikit, pesawat Lufthansa yang saya tumpangi akhirnya mendarat di Frankfurt.
Empat belas jam di udara tanpa henti. Baru kali ini saya merasakan penerbangan sepanjang itu, dan jujur — cukup melelahkan. Yang memperparah: Lufthansa tidak menyediakan layar hiburan personal untuk setiap penumpang. Kalau tahu begini, pikir saya, mending memilih Singapore Airlines yang konten in-flight entertainmentnya bisa menghibur sepanjang perjalanan.
Selamat Datang di Frankfurt — dan Dinginnya Musim Dingin
Di bandara, kami sudah ditunggu oleh Bapak Bambang Priya Hutama, Konsul Ekonomi KJRI Frankfurt. Begitu melangkah keluar, udara langsung menyergap — 7 derajat Celsius di tengah musim dingin.
Dan saya tidak punya jaket tebal yang bisa segera dipakai. Jaket besar ada di koper yang masuk bagasi, dan jaket tipis yang biasanya saya bawa ke kabin — tertinggal di taksi saat berangkat ke bandara di Jakarta. Apes betul.
Melaju di Autobahn
Bersama Bu Selly dan Pak Donald Tambunan, kami diantar menuju Bonn menggunakan kendaraan KJRI. Pak supir — yang rupanya sudah menetap di Jerman sejak 1983 — membawa kami dengan gaya yang sangat... percaya diri.
Jarak Frankfurt–Bonn sekitar 160 kilometer, dan beliau menempuhnya dalam waktu kurang dari satu jam — padahal itu dalam kondisi hujan. Dari kursi penumpang di sebelahnya, saya sempat mengintip speedometer: jarum sudah menyentuh 180 km/jam. Tapi yang mengagumkan, mobil VW Minivan itu melaju dengan sangat stabil, tanpa guncangan berarti. Itulah manfaat jalan raya Jerman yang benar-benar mulus dan terawat.
Satu hal yang sedikit mengecewakan: meski sudah pukul 8 pagi, langit di luar masih gelap seperti dini hari. Saya tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
Hotel Bristol dan Kejutan Harga Air Mineral
Sesampainya di Hotel Bristol Bonn, saya disambut oleh kejutan kecil yang cukup membuat saya tertawa pahit: hotel ini tidak menyediakan air mineral gratis. Sebotol kecil seperempat liter dari minibar dibanderol 3 euro — sekitar 45 ribu rupiah.
Tidak mau tekor hanya karena air putih, saya memutuskan untuk menyusuri jalan di sekitar hotel dan mencari toko yang menjual air mineral.
Ternyata berjalan kaki menjadi keputusan yang sangat tepat.
Kota Bonn terasa seperti berjalan di dalam kartu pos. Bangunan-bangunannya indah, jalanannya bersih dan tertata, dan setiap sudut menawarkan sesuatu yang menarik untuk dipandang. Tanpa terasa, kaki ini sudah melangkah beberapa kilometer. Rasa haus nyaris terlupakan.
Satu tempat yang sangat ingin saya datangi adalah patung Beethoven — sang maestro memang lahir di Bonn, dan patungnya berdiri hanya 500 meter dari hotel. Sayangnya, tidak ada teman yang menemani jalan-jalan hari itu, sehingga rencana foto di sana pun urung terlaksana. Padahal sudah terlanjur pengen narsis.
Makan Siang dan Bertahan Hidup
Karena kesulitan menemukan restoran Muslim, saya memilih solusi yang sudah sangat familiar di mana pun di dunia: McDonald's. Chicken burger menjadi pengganjal perut sambil menunggu makan malam yang akan dijamu oleh PT-DLR.
Tidak lupa memborong air mineral — sebotol 1,5 liter seharga 1,5 euro, jauh lebih masuk akal dibanding harga minibar hotel.
Satu penemuan menarik lagi di dekat McD: sebuah warnet dengan tarif 1 euro per jam. Sangat terjangkau dibanding fasilitas internet hotel yang mematok harga 40 euro per jam — sebuah angka yang, kalau dipikir-pikir, lebih mahal dari tiket pesawat domestik.
Maka dari warnet murah itulah tulisan ini lahir.
Eropa — setidaknya sebagian kecilnya — sudah saya jejak hari ini. Dingin, indah, mahal di beberapa hal, dan penuh dengan hal-hal yang membuat mata tidak mau berhenti memandang. Perjalanan baru saja dimulai.
3 Komentar
tawwa
BalasHapushebabna Awie bisa menaklukkan eropa tawwa
asyik nya jalan-jalan ke eropa.
BalasHapussalam kenal ya..
weits...jauh bener ke eropa :D
BalasHapusbtw, bareng pak donald tambunan itu orang ASEAN Secretariat bukan?