Putra Pertamaku Lahir

Senin, 3 Maret 2008. Sekitar pukul satu siang, handphone saya berdering.

Thia.

Sebelum mengangkat telepon itu, saya sudah menebak apa yang akan disampaikannya. Dan dugaan saya benar — dari seberang, Thia mengabarkan bahwa air ketubannya sudah pecah. Waktu melahirkan sepertinya sudah sangat dekat.

Saya menarik napas.

Terus terang, saya belum siap untuk kembali ke Makassar hari itu. Tanggal 5 dan 6 Maret, saya harus membantu Ibu Selly menyelenggarakan joint workshop tentang Geothermal bersama mitra dari Jerman. Saya berharap si kecil bisa menunggu setidaknya hingga setelah tanggal 6.

Tapi Allah berkehendak lain.


Berlomba dengan Waktu

Setengah berlari, saya keluar ke depan kantor dan menyetop taksi. Langsung ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan, lalu meluncur ke Bandara Soekarno-Hatta tanpa tiket di tangan.

Di perjalanan, saya menghubungi bagian tiket Lion Air — memesan kursi untuk penerbangan pukul 16.05 ke Makassar. Alhamdulillah, masih ada. Saya tiba di bandara beberapa menit sebelum boarding.

Karena perbedaan waktu satu jam, saya mendarat di Makassar sekitar pukul 19.00. Dari bandara, saya dan Kak Bashar langsung meluncur ke RSB Pertiwi di Jalan Sudirman. Thia sudah ada di ruang bersalin.

Suster menyodorkan lembar persetujuan operasi kepada saya. Posisi bayi masih sungsang dan air ketuban sudah hampir habis — Thia harus menjalani sesar. Tepat pukul dua belas malam, Thia masuk ke ruang operasi. Lima belas menit kemudian, tangisan pertama si kecil memecah kesunyian.


Azan Pertama

Karena Thia masih lemah dan harus masuk ICU, proses Inisiasi Menyusui Dini belum bisa dilakukan. Tapi saya bersyukur luar biasa — baik Thia maupun si kecil selamat.

Saya melantunkan azan di telinga kanannya. Mulut saya tidak henti-hentinya bertasbih dan bertahmid. Di situ, di ruangan yang temaram itu, saya benar-benar merasakan betapa besar karunia Allah.

Keesokan harinya, setelah kondisi Thia membaik, keduanya dipindahkan ke kamar perawatan Anggrek IV. Dan di situlah saya dan Thia berembuk — memberikan nama kepada putra kami.



Ahmad Syauqi Arrabbani

Nama itu kami pilih dengan penuh pertimbangan, dan setiap katanya menyimpan makna yang dalam.

Ahmad berarti terpuji — orang yang layak mendapatkan pujian. Asal katanya, hamada, sama dengan asal kata Muhammad. Ahmad juga adalah nama kakek saya dari pihak Abba, yang telah wafat jauh sebelum saya lahir. Ada kerinduan yang tersembunyi dalam nama itu.

Syauqi berarti rindu, kehangatan, atau cinta. Ini pilihan Thia — katanya enak didengar, dan maknanya indah. Saya setuju sepenuhnya.

Arrabbani — inilah bagian yang paling panjang ceritanya. Beberapa minggu sebelum kelahiran Syauqi, ustaz di tempat saya talaqqi menjelaskan Surah Ali Imran ayat 79 yang di dalamnya terdapat kata Rabbaniyyun. Kata itu tidak lepas dari benak saya. Dalam Lisanul Arab, Ar-Rabbani berarti hamba yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya mengartikannya sebagai seorang ulama ahli agama yang mengamalkan ilmunya di jalan Allah. Sementara Abu Hamid al-Ghazali memaknainya sebagai orang yang dekat dengan Allah.

Itulah doa terbesar yang kami titipkan dalam namanya: semoga Syauqi kelak menjadi manusia yang rabbani.


Pulang ke Rumah

Jumat pagi, dokter membolehkan Syauqi dan Thia pulang. Satu tantangan kecil menyambut kami di awal: Syauqi sudah terlanjur terbiasa dengan susu formula S26 sejak hari pertama, sehingga proses adaptasi ke ASI sempat membuat kami berdua cukup stres. Tapi alhamdulillah, begitu tiba di rumah, Syauqi sudah mau menyusu langsung kepada ibunya — dan kuat sekali, seperti kata orang-orang tentang bayi laki-laki.

Malam-malam pun berubah. Syauqi rewel kalau haus, dan teriakannya cukup untuk membangunkan seluruh isi rumah. Tidur nyenyak menjadi kemewahan yang harus ditunda dulu untuk sementara waktu. Tapi tidak apa-apa — saya tidak menukarnya dengan apapun.

Aqiqah yang semula direncanakan Senin tanggal 10 Maret terpaksa diundur — saya harus kembali ke Jakarta, dan kedua orang tua sedang berada di Bali. Insya Allah akan digelar minggu depan, sekaligus dibarengkan dengan aqiqah sepupu Syauqi yang lahir tadi subuh, Selasa 11 Maret. Jarak kelahiran mereka memang tidak jauh — tanggal pernikahan orang tua mereka saja hanya selisih sehari.


Belum genap 25 tahun usia saya, dan kini saya sudah diamanahi seorang putra.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi inilah kenyataannya — dan saya menerimanya dengan penuh rasa syukur dan rasa takut sekaligus. Amanah ini akan saya jaga, saya didik dengan nilai-nilai agama, agar kelak ia benar-benar bisa menjadi manusia yang rabbani — seperti nama yang sudah kami doakan untuknya sejak hari pertama.

Selamat datang ke dunia, Ahmad Syauqi Arrabbani. 




Posting Komentar

7 Komentar

  1. asalamualaikum...
    Sebelumnya selamat atas kelahiran putra pertamanya.semoga senantiasa jadi anak yang sholeh.Saya andi, site anda udah saya link di http://andifirmansah-education.blogspot.com.
    Boleh juga dong site saya ditempat anda thanks

    BalasHapus
  2. wooooooooow.............. selamat untuk anugrah terindahnya. insya Allah menjadi anak yang mulia semulia namanya Ahmad Syauqi Arrabbani.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah,, selamat ya kak,, dah jadi AYAH (Abi) atau apakah panggilannya?? :)

    moga Syauqi jadi ank sholeh, pintar, kebanggaan orangtua yaa kak.. Amin...

    salam buat Istrinya kk juga,, sun tuk si kecil yg ganteng "Syauqi" :)

    BalasHapus
  4. adekku, selamat yahhh!!!!! cakepnya anakmu...:) kapan yah bisa sun pipinya syauqi????

    BalasHapus
  5. Selamat atas kelahiran putranya Daeng... Semoga menjadi anak yang shaleh, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Serta berbakti pada kedua orang tuanya... Amin.

    BalasHapus
  6. Slamat ya Wi.. dah jadi bapak, smoga Syauqi jadi anak yang soleh dan sehat, amin... salam buat new mommy... :)

    BalasHapus
  7. Assalamu'alaikum,

    Salama ki Daeng si keluarga.

    Selamat atas kelahiran putra pertamanya.. ^^

    BalasHapus