Kali ini pembicaraan kami memasuki wilayah yang lebih serius dari biasanya: rencana kuliah Uqi. Duduk di kelas 11, ia mengaku masih kabur soal arah. Ada ketertarikan ke dunia desain grafis, tapi belum yakin betul. Saya menyarankan agar ia berani mencari kampus di luar Makassar — merantau ke Jawa, atau kalau memungkinkan, ke luar negeri sekalian. "Andaikan waktu bisa diputar," saya bilang jujur, "Abi mau kuliah di luar negeri."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Tapi setelah video call itu selesai, saya justru terdiam — tiba-tiba terhanyut ke 23 tahun silam.
Antara Banyak Pilihan dan Tidak Ada Arah
Saya mencoba mengingat: apakah almarhum Abba pernah membahas soal di mana saya harus kuliah? Saya tidak menemukan satu pun kenangan yang jelas tentang itu. Yang teringat hanya Mama — beliau berharap saya masuk Kedokteran, maka pilihan pertama UMPTN saya pun ke sana. Tapi, Abba, seingat saya, tidak pernah mengarahkan ke jurusan mana pun. Dan saya sendiri, jujur saja, belum punya cita-cita yang cukup terang untuk dijadikan kompas.
Setelah ujian SMA, saya justru berlari ke segala penjuru sekaligus. Saya mengambil kursus bahasa Jepang — ada mimpi menjadi pekerja migran di sana, mengikuti jejak beberapa keluarga yang saat itu punya penghasilan lumayan dari Jepang. Di saat yang sama, saya ikut seleksi beasiswa ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Saya juga mendaftar di STMIK Handayani Makassar karena merasa punya bakat ngoprek komputer. Ditambah lagi pendaftaran di IAIN Alauddin jurusan Syariah — dengan harapan bisa menjadi hakim agama, seperti Abba.
Semua itu saya lakukan sebagai jaring pengaman. Bukan karena punya visi yang jelas, melainkan justru karena tidak punya.
Untuk UMPTN sendiri, di pilihan kedua saya tulis Hubungan Internasional UNHAS. Bukan karena saya tahu apa itu HI. Saya memilihnya karena "diprovokasi" oleh senior dari pesantren bernama Abul A'la Maududi yang kuliah di sana. Pilihan ketiga? Psikologi UNM — diisi asal-asalan supaya genap tiga prodi, karena saya mengambil jalur IPC.
Begitulah cara saya memilih masa depan di usia tujuh belas tahun.
Jurusan yang Tidak Dipilih dengan Sadar, Karir yang Tidak Terbayangkan
Saya lulus UMPTN di pilihan kedua. Empat tahun kemudian, saya memegang ijazah HI UNHAS. Setahun setelah lulus kuliah, 2006, saya diterima sebagai PNS di Kementerian Riset dan Teknologi — dan karier itu terus berjalan hingga hari ini, delapan belas tahun kemudian, membawa saya ke posisi JPT Pratama.
Tidak satu pun dari itu yang bisa saya bayangkan saat duduk mengisi formulir pendaftaran kuliah dulu.
Tentu ceritanya akan berbeda kalau saya memilih terbang ke Jepang, menetap di Mesir, atau mengambil jurusan komputer dan syariah di Makassar. Mungkin ada versi lain dari diri saya yang lebih baik, atau mungkin juga tidak. Saya tidak bisa tahu. Yang saya tahu hanya ini: jalan yang saya tempuh — meski dimulai dengan kebingungan yang hampir sama persis dengan Uqi hari ini — ternyata membawa saya ke tempat yang tidak pernah saya minta, tapi rupanya memang sudah disiapkan untuk saya.
Satu hal yang semakin saya yakini seiring bertambahnya usia: Allah tidak pernah salah mengatur. Tugas kita hanya satu — berikhtiar sebaik mungkin di setiap persimpangan, dan menyerahkan sisanya kepada-Nya dengan lapang dada.
Mungkin itulah yang ingin saya titipkan kepada Uqi — bukan jurusan mana yang terbaik, tapi keberanian untuk memilih dengan sungguh-sungguh, dan kepercayaan bahwa pilihan yang dilandasi usaha yang tulus tidak akan pernah benar-benar salah.
0 Komentar