Kita semua hafal kalimat itu. Begitu mendengar kabar duka, kita hampir refleks mengucapkannya: innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Namun ada sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan dengan jujur — apakah kalimat itu benar-benar telah masuk ke dalam hati kita, atau sekadar berhenti di ujung lisan?
Inilah yang menjadi inti pembahasan dalam kelanjutan Bab Sabar dari Riyadhus Shalihin. Setelah sebelumnya kita memahami bahwa ujian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari, kini kita diajak untuk mengenal lebih dalam: siapakah sebenarnya orang-orang yang bersabar itu?
Kabar Gembira, Bukan Kabar Duka
Allah Subhanahu wa Ta'ala menutup ayat tentang ujian dalam Surah Al-Baqarah dengan sesuatu yang tidak terduga:
"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar — yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.'" (QS. Al-Baqarah: 155-156)
Perhatikan pilihan kata Allah: kabar gembira (busyrā), bukan ucapan duka. Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, manusia di sekitarnya berkata, "Turut berduka cita." Itu wajar, itu manusiawi. Namun Allah — yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan dan apa yang akan datang — justru mengumumkan kabar gembira bagi mereka yang sabar.
Ini bukan berarti orang yang sabar tidak boleh menangis. Para ulama menjelaskan bahwa dalam menghadapi musibah, seorang mukmin seringkali dituntut untuk mengamalkan lebih dari satu amalan sekaligus: air mata yang mengalir sebagai ungkapan rasa sayang yang tulus, dan hati yang tetap kokoh dalam kesabaran. Keduanya tidak saling bertentangan. Rasulullah ﷺ pun pernah menangis — dan beliau adalah manusia paling sabar yang pernah ada.
Yang membedakan orang yang sabar bukan ketiadaan air mata, melainkan ke mana hatinya berlabuh di tengah kepedihan itu.
Ciri Orang yang Sabar: Lisannya dan Hatinya Bersama
Allah menyebutkan dengan jelas ciri orang-orang yang berhak mendapatkan kabar gembira itu: mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Namun di sinilah banyak di antara kita terganjal. Kita sudah mengucapkannya — namun mengapa hati masih terasa hancur? Mengapa masih sulit menerima kenyataan? Mengapa tetap terpuruk seolah tidak ada jalan untuk bangkit?
Imam Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullahu ta'ala memberikan jawaban yang sangat tepat: kalimat ini harus diucapkan dengan lisan sekaligus dengan hati. Bukan hanya bunyi yang keluar dari mulut, melainkan keyakinan yang sungguh-sungguh tertanam di dalam dada.
Dan ketika kalimat itu benar-benar meresap ke dalam hati, ada dua konsep besar yang secara otomatis akan menguatkan kita dalam menghadapi setiap ujian.
Dua Konsep yang Menopang Kesabaran
Konsep pertama: Kita tidak memiliki apa-apa.
Inna lillah — sesungguhnya kita ini milik Allah. Kita adalah hamba yang tidak memiliki apa pun. Harta, kesehatan, keluarga, pekerjaan — semuanya adalah titipan. Allah yang memilikinya, dan Ia berhak mengambil kapan pun Ia kehendaki.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menegaskan bahwa tidak ada obat yang lebih mujarab untuk mengatasi musibah selain tauhid. Dan innalillahi wa inna ilaihi raji'un adalah kalimat tauhid yang paling murni: pengakuan bahwa kita bukan pemilik, kita hanya pemegang amanah.
Ada perumpamaan yang menggambarkan ini dengan indah. Bayangkan sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah kita selama satu jam, lalu tiba-tiba mobil itu raib. Kita tenang saja karena kita tahu itu bukan milik kita — itu milik tamu yang singgah. Kita tidak panik, tidak menangis, tidak merasa kehilangan. Sebab tidak ada yang perlu "hilang" dari perspektif kita.
Nah, begitulah seharusnya kita memandang seluruh isi kehidupan ini. Ketika kita gagal panik ketika harta diambil, ketika kita terpukul habis-habisan ketika jabatan dicabut — itu menandakan bahwa di dalam hati kita masih ada rasa "memiliki" yang belum sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Dan itu, kata para ulama, adalah masalah dalam tauhid kita.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu meninggalkan seluruh kekayaannya di Mekah ketika berhijrah bersama Rasulullah ﷺ — dan beliau melakukannya dengan ringan. Karena iman dan tauhidnya yang kuat telah mengajarkan bahwa semua itu bukan miliknya. Gimana mau galau, wong bukan punya saya.
Konsep kedua: Kita akan kembali kepada Allah.
Wa inna ilaihi raji'un — dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Ini bukan sekadar penghibur diri. Ini adalah keyakinan bahwa perpisahan di dunia bukanlah akhir dari segalanya. Ada pertemuan kembali di sisi Allah — di tempat yang jauh lebih baik, lebih indah, dan lebih abadi dari apa pun yang pernah kita rasakan di dunia.
Dua konsep inilah yang menjadi fondasi kesabaran yang sejati. Bukan sekadar menahan emosi, tetapi memiliki keyakinan yang kokoh tentang siapa kita, milik siapa kita, dan ke mana kita akan kembali.
Sabar Bukan Berarti Pasif
Salah satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa sabar identik dengan diam, menerima begitu saja, dan tidak berbuat apa-apa. Justru sebaliknya.
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling sabar — namun beliau juga manusia yang paling gigih berjuang. Beliau berdakwah tanpa henti, berhijrah, memimpin peperangan, kembali ke Mekah untuk menaklukkannya. Kesabaran beliau tidak pernah membuat beliau berhenti bergerak.
Ketika seseorang bertanya: "Saya tertekan di tempat kerja, sering disalahkan, apakah harus terus bersabar atau boleh berhenti?" Jawabannya: sabar bukan berarti harus bertahan di sana, dan berhenti dari pekerjaan itu pun bisa menjadi bentuk kesabaran — jika keputusan itu diambil dengan tenang, dengan pertimbangan yang matang, di atas jalan yang benar. Bahkan bertahan demi rasa takut, demi zona nyaman, tanpa keberanian untuk berubah — itu pun bisa menjadi bukan kesabaran, melainkan kepengecutan yang dibalut nama sabar.
Sabar adalah menahan diri agar tetap di atas ketaatan, tidak berdosa, dan tidak bereaksi negatif terhadap takdir Allah. Bukan diam. Bukan menyerah. Bukan pasrah tanpa perjuangan.
Bangkit Berkali-kali adalah Bagian dari Sabar
Pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana dengan orang yang berkali-kali jatuh ke dalam kesalahan, berkali-kali terjatuh dalam lubang yang sama? Apakah ia masih bisa disebut orang yang sabar?
Jawabannya: ya — selama ia terus bangkit, terus beristighfar, terus bertaubat, dan tidak pernah menyerah untuk kembali ke jalan yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah yang banyak bertaubat. Istighfar adalah ketaatan. Taubat adalah ketaatan. Optimisme dan semangat untuk bangkit adalah ketaatan. Dan menahan diri untuk terus melakukannya, tidak menyerah walaupun terjatuh berkali-kali — itulah kesabaran.
Perjalanan menuju Allah bukan garis lurus tanpa hambatan. Ia adalah jalan yang penuh tanjakan dan kerikil — namun selama kita terus melangkah, terus bangkit setiap kali jatuh, kita sedang dalam jalur kesabaran yang sesungguhnya.
Maka, di atas segala ujian yang datang silih berganti — rasa takut, rasa lapar, kehilangan harta, sakit, atau duka — satu hal yang membedakan orang yang beruntung dari yang tidak adalah ini: apakah innalillahi wa inna ilaihi raji'un itu hanya bunyi di lidah, atau keyakinan yang mengakar di hati?
Jika ia sudah sungguh-sungguh masuk ke dalam hati, maka kabar gembira dari Allah itu bukan sekadar janji di masa depan — ia sudah mulai terasa hari ini, dalam ketenangan hati yang tidak bergantung pada kondisi dunia.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 66. CIRI ORANG YANG SABAR | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar