Imam an-Nawawi rahimahullahu ta'ala membawakan sebuah hadits yang panjang dan penuh makna dalam Bab Sabar — sebuah kisah nyata yang Rasulullah ï·º ceritakan tentang umat-umat terdahulu. Kisah ini dibuka dengan seorang raja, seorang tukang sihir yang sudah tua, dan seorang anak muda yang diutus untuk belajar sihir. Namun di tengah perjalanannya, anak muda itu bertemu dengan seorang rahib — ahli ibadah yang mengubah seluruh arah hidupnya.
Sebelum kisah ini berkembang lebih jauh, ada pelajaran besar yang bisa kita petik bahkan dari pembukaan kisah ini: tentang anak muda, tentang ilmu, dan tentang betapa pentingnya siapa yang kita duduki bersamanya di masa tumbuh.
Mengapa Tukang Sihir Meminta Anak Muda?
Ketika tukang sihir yang sudah tua itu merasa waktunya hampir habis, ia meminta kepada sang raja untuk mengirimkan seorang anak muda agar bisa diajarkan ilmu sihirnya. Imam Muhammad al-Munawi rahimahullahu ta'ala menjelaskan alasan di balik permintaan itu: anak muda lebih potensial untuk belajar. Ilmu yang ditanamkan di masa muda lebih kokoh, lebih maksimal, dan lebih melekat dibandingkan jika diajarkan ketika seseorang sudah berusia lanjut.
Ini adalah prinsip yang diakui bahkan oleh mereka yang tidak mengenal kebaikan sekalipun. Tukang sihir dalam kisah ini paham benar bahwa masa depan ada di tangan anak muda. Maka ia tidak meminta orang tua — ia meminta anak muda.
Pertanyaannya kepada kita: jika orang yang mengajak kepada keburukan saja paham tentang pentingnya anak muda, bagaimana dengan kita yang ingin membawa mereka kepada kebaikan?
Lima Perkara Sebelum Lima Perkara
Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits yang dikeluarkan Imam al-Hakim:
"Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sempitmu, dan hidupmu sebelum matimu."
Masa muda disebut pertama. Dan ini bukan kebetulan. Masa muda adalah aset yang paling berharga yang bisa seseorang miliki — dan ia tidak akan kembali setelah pergi.
Rasulullah ï·º bahkan menegaskan dalam hadits Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa pada hari kiamat, kaki seorang anak Adam tidak akan beranjak dari hadapan Allah sampai ia ditanya tentang lima hal — dan dua di antaranya berkaitan langsung: tentang umurnya dihabiskan untuk apa, dan tentang masa mudanya dihabiskan dalam hal apa. Masa muda disebut tersendiri, terpisah dari umur secara keseluruhan, sebagai bentuk penekanan (takhsis) dalam ilmu balaghah — menunjukkan betapa istimewa dan beratnya pertanggungjawaban atas masa muda.
Anak Muda Berperan, Bukan Baperan
Islam sangat menekankan peran anak muda. Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu dipercaya memimpin pasukan di usia delapan belas tahun — sementara di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar. Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel di usia dua puluh satu tahun. Dan dalam kisah yang sedang kita pelajari ini pun, anak muda adalah tokoh sentral yang Allah gunakan untuk menampakkan keajaiban hidayah-Nya.
Anak muda bukan sekadar penerima estafet — mereka adalah yang menentukan ke mana estafet itu berlari. Namun untuk berperan, ada syaratnya: ilmu. Tanpa ilmu, anak muda hanya akan menjadi alat di tangan siapa pun yang pertama kali menjangkau mereka — entah untuk kebaikan atau kerusakan.
Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: "Belajarlah sebelum kalian menjadi tokoh." Bukan karena setelah menjadi tokoh tidak perlu belajar, tetapi karena masa sebelum sibuk adalah masa paling berharga untuk membangun pondasi ilmu yang kokoh.
Bahaya Ilmu yang Salah — dan Pentingnya Meminta Ilmu yang Bermanfaat
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa tidak semua ilmu itu bermanfaat. Anak muda dalam kisah ini dipersiapkan untuk belajar sihir — dan sihir dalam Islam adalah dosa besar yang disepakati keharamannya oleh seluruh ulama madzhab. Belajar, mengajarkan, dan mengamalkannya adalah hal yang dilarang.
Maka tidak heran jika Rasulullah ï·º mengajarkan doa yang sangat spesifik:
"Ya Allah, aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Dan dalam hadits Muslim, beliau berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah kenyang dari dunia, dan dari doa yang tidak dikabulkan."
Ilmu yang tidak bermanfaat disebut pertama. Karena ilmu yang salah adalah pangkal dari semua kerusakan berikutnya.
Maka sebelum kita memilih di mana akan belajar, doa dulu. Istikharah dulu. Minta kepada Allah agar diarahkan kepada ilmu yang benar-benar bermanfaat, kepada majelis yang benar-benar mengubah hati.
Ketika Allah Membalikkan Rencana
Anak muda dalam kisah ini diutus oleh raja untuk belajar sihir dari tukang sihir terbaik di negeri itu. Semua kondisi tampak tidak memungkinkan ia untuk selamat. Namun Allah berkehendak lain.
Di tengah perjalanannya, ia melewati tempat seorang rahib — ahli ibadah. Tanpa agenda sebelumnya, tanpa rencana apapun, ia mampir. Duduk. Mendengar. Dan hatinya tergerak — karena apa yang disampaikan sang rahib selaras dengan fitrahnya.
Ini adalah pelajaran tentang kekuasaan Allah yang melampaui semua perhitungan manusia. Sebuah anak muda yang diagendakan untuk menjadi tukang sihir justru menemukan jalan hidayah di tengah perjalanan yang dirancang untuk kerusakannya. Karena "apa yang kalian inginkan tidak akan terjadi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah."
Tumbuh Bersama Siapa?
Para ulama klasik sangat menekankan pentingnya lingkungan bagi tumbuh kembang seorang anak muda. Amr bin Qais al-Mula'i rahimahullahu ta'ala berkata: "Anak muda itu pasti akan tumbuh dan berkembang. Apabila pada saat ia tumbuh ia duduk bersama ahli ilmu, besar kemungkinan ia akan selamat di dunia dan akhirat. Namun jika tidak, kemungkinannya sebaliknya."
Ibnu Saud al-Lamps rahimahullahu ta'ala berkata: "Di antara nikmat Allah kepada seorang anak muda adalah jika ia tumbuh dan berkembang dekat dengan orang yang komit dengan sunnah Nabi ï·º, sehingga orang itu bisa membimbingnya untuk mengikuti tuntunan beliau."
Maka bagi para orang tua: arahkan anak-anak muda di sekitar kita kepada ilmu dan kepada orang-orang shalih. Jangan hanya memanjakan mereka dengan fasilitas dunia. Bahkan tukang sihir dalam kisah ini paham bahwa yang harus diberikan kepada anak muda adalah ilmu — meski ilmu yang salah. Masa kita yang ingin kebaikan justru lupa memberikan ilmu kepada generasi muda kita?
Anak muda adalah amanah terbesar yang ada di pundak setiap generasi. Mereka adalah yang akan menentukan wajah umat di masa depan. Dan satu-satunya cara agar mereka berperan dengan benar — bukan sekadar bereaksi secara emosional terhadap dunia — adalah dengan membekali mereka ilmu yang bermanfaat, mendekatkan mereka kepada orang-orang shalih, dan memohon kepada Allah agar Dia sendiri yang membimbing mereka ke jalan yang lurus.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: 82. ANAK MUDA BERPERAN, BUKAN BAPERAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar