Siapa yang paling kuat? Di benak kebanyakan orang, jawabannya mudah: yang jago berkelahi, yang punya sabuk hitam, yang menguasai gelar-gelar juara. Kekuatan identik dengan otot, dengan kemampuan fisik, dengan siapa yang bisa mengalahkan lawan dalam pertarungan. Pemahaman ini begitu mengakar, begitu tersebar luas, hingga terasa seperti kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan.
Namun Rasulullah ï·º datang dengan jawaban yang sama sekali berbeda. Dan jawaban itu bukan sekadar perspektif alternatif — ia adalah pelurusan hakiki dari sebuah pemahaman yang kurang sempurna.
Kita berada dalam Bab Sabar Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala, pada hadits yang ke-45. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ï·º bersabda:
"Orang yang kuat itu bukan orang yang jago bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika sedang marah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Meluruskan Pemahaman yang Tersebar di Masyarakat
Salah satu tugas agung Rasulullah ï·º adalah tashil mafahim — meluruskan pemahaman yang keliru yang telah tersebar luas di tengah masyarakat. Dan hadits ini adalah contoh nyata dari tugas tersebut. Orang Arab kala itu memahami sura' — orang yang kuat — sebagai orang yang banyak mengalahkan lawan dalam duel dan pergulatan. Itu pemahaman yang populer, yang diterima tanpa pertanyaan.
Rasulullah ï·º tidak mencela mereka yang memiliki kekuatan fisik. Beliau bahkan mengatakan bahwa menggabungkan keduanya — kekuatan fisik yang baik dan kemampuan menguasai emosi — adalah yang paling sempurna. Namun beliau meluruskan: jika hanya kekuatan fisik tanpa mampu menahan amarah, maka belum sempurna predikat "kuat" itu disandang.
Ini adalah prinsip yang harus kita pegang dalam perjalanan menuju kebaikan: bukan sekadar mengikuti apa yang populer, apa yang sedang hits, apa yang diterima mayoritas — melainkan selalu mengembalikan segala sesuatu kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ï·º yang shahih. Di situlah parameter yang sesungguhnya.
Menahan Amarah adalah Pertarungan Terberat
Ada sebuah riwayat yang maknanya sangat kuat. Para ulama menyebutkan sebuah ungkapan — walaupun sanadnya lemah namun maknanya benar dan diamini oleh banyak ulama muhaqqiq — yang menyatakan bahwa pertarungan paling berat bukanlah di gelanggang, melainkan ketika seseorang sedang marah memuncak, wajahnya sudah memerah, bulu kuduknya sudah berdiri, seluruh dirinya sudah terbakar — namun pada saat itulah ia berjuang melawan dirinya sendiri.
"Fa yajrahu nafsah" — ia bergulat melawan nafsunya sendiri.
Itulah pertarungan yang sesungguhnya. Bukan melawan lawan di luar, melainkan melawan musuh yang ada di dalam diri. Dan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala menegaskan bahwa menahan jiwa di saat amarah membara adalah sifat yang mulia dan terpuji, namun sedikit sekali orang yang benar-benar menguasainya.
Renungkanlah: berapa banyak orang yang memiliki kekuatan fisik, menguasai berbagai cabang beladiri, memegang sabuk tertinggi — dibandingkan orang-orang yang benar-benar bisa menahan amarah di saat paling terprovokasi? Jauh lebih sedikit yang kedua. Dan sesuatu yang langka selalu memiliki nilai yang lebih tinggi.
Amarah: Akar dari Berbagai Musibah
Para ulama menyatakan bahwa amarah adalah salah satu kunci dari berbagai macam masalah dan musibah. Betapa banyak perkara kecil yang membesar bukan karena kasusnya berat, melainkan karena emosi yang tidak terkendali. Betapa banyak keputusan yang seharusnya bijak menjadi zalim karena diambil dalam kondisi marah.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu ta'ala dalam Shahih-nya menulis sebuah bab khusus: apakah seorang hakim boleh memutuskan perkara dalam kondisi marah? Dan jawabannya tegas: tidak boleh. Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu pernah menulis surat kepada anaknya: "Janganlah engkau memutuskan perkara antara dua pihak sedangkan engkau dalam kondisi marah." Ini mengikuti sabda Nabi ï·º:
"Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara antara dua orang dalam kondisi marah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan: seorang hakim syar'i yang diangkat harus memiliki ilmu yang sangat tinggi dan ketakwaan yang luar biasa. Orang sekaliber itu pun tidak diperbolehkan mengambil keputusan di saat marah. Lantas bagaimana dengan kita yang ilmu dan taqwa-nya masih dalam proses? Betapa lebih berhati-hati kita seharusnya.
Marah bisa membuat orang menyakiti saudaranya, bahkan hingga membunuh. Marah bisa membuat seorang anak membentak orang tuanya. Marah bisa membuat seorang ayah memukul anaknya bukan karena kesalahan besar, melainkan karena beban di kantor yang terbawa pulang ke rumah. Marah membuat keputusan tidak proporsional, tidak objektif, tidak adil.
Kekuatan Sejati Adalah Kekuatan Maknawi
Al-Imam Muhammad bin Su'ud rahimahullah menjelaskan bahwa kekuatan hakiki adalah kekuatan maknawi — kekuatan dari dalam diri — yang dengannya seseorang bisa mengalahkan setan yang terus berusaha menyulut dan membesarkan api amarah di dalam hatinya.
Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala abadikan dalam Surat Ali Imran ayat 133-134, ketika menggambarkan orang-orang bertakwa yang dipersiapkan surga bagi mereka:
"...dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali Imran: 133-134)
Menahan amarah bukan sekadar kebajikan sosial. Ia adalah salah satu ciri orang bertakwa, salah satu tiket menuju surga, salah satu tanda bahwa seseorang telah melampaui level kekuatan fisik menuju kekuatan yang jauh lebih tinggi nilainya.
Cara Mendapatkan Kekuatan Ini
Mungkin ada yang bertanya: sudah dicoba, tapi tetap saja marah. Sudah berusaha menahan, tapi tetap jebol. Di mana letak permasalahannya?
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab dalam Surat An-Nahl ayat 127-128:
"...dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah. Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. An-Nahl: 127-128)
"Wasbbir wa ma shabruka illa billah" — bersabarlah, dan kesabaranmu itu hanya mungkin dengan pertolongan Allah. Ini kunci besarnya. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri, karena Allah sendiri berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 28 bahwa manusia diciptakan dalam kondisi lemah. Maka mengandalkan kekuatan sendiri untuk menahan amarah adalah kesalahan awal yang harus diperbaiki.
Solusinya adalah mendekat kepada Allah. Mengandalkan Allah, bukan makhluk. Bukan mencari teman yang menemani saat kesal, bukan mencari hiburan untuk mengalihkan, bukan melampiaskan ke tempat lain — karena semua itu hanya mengeser masalah, bukan menyelesaikannya.
Ibadurrahman — hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih — yang digambarkan dalam Surat Al-Furqan ayat 63, mampu bersikap manis bahkan di hadapan orang-orang yang bersikap bodoh dan menyakiti mereka, karena mereka mengandalkan kekuatan Allah sepenuhnya. Mereka tidak bergantung kepada makhluk. Hati mereka tersambung kepada Allah Rabbul 'Alamin.
Maka pertanyaan yang paling jujur untuk kita renungkan ketika sedang dalam situasi yang memancing amarah adalah: bagaimana shalat kita hari ini? Bagaimana sujud dan ruku' kita kepada Allah? Bagaimana tilawah Al-Qur'an kita? Bagaimana dzikir pagi dan petang kita? Karena kekuatan menahan amarah berbanding lurus dengan kekuatan hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Marah yang Diperbolehkan
Perlu dicatat pula bahwa tidak semua marah adalah tercela. Ada marah yang diperbolehkan, bahkan terpuji: yaitu marah karena Allah — maghdhab lillah. Marah karena seseorang bermaksiat kepada Allah, bukan semata-mata karena perlakuannya kepada kita secara pribadi. Ciri marah yang lillah adalah proporsionalitasnya: jika pelanggarannya kecil, marahnya pun terjaga di level yang sesuai. Tidak meledak berlebihan. Tidak menggabungkan berbagai kesalahan lama. Tidak menyerang di luar perkara yang menjadi sebab.
Sedangkan marah yang berakar dari ego dan harga diri pribadi cenderung tidak proporsional — dosanya sedikit, marahnya berlipat ganda — karena yang terluka bukan lillah, melainkan perasaan diri sendiri.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita kekuatan yang sejati — bukan hanya kekuatan fisik yang fana, melainkan kekuatan hati yang mampu menahan amarah di saat paling terprovokasi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan Ibadurrahman yang berjalan di bumi dengan penuh kerendahan hati, dan yang ketika disikapi dengan kebodohan, mereka hanya membalas dengan salam. Dan semoga Allah memudahkan kita semua untuk terus kembali kepada-Nya dalam setiap kelemahan dan keterbatasan yang kita miliki.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 104: Kekuatan Sejati — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar