RS 105. Satu Kalimat Penghapus Amarah

Di tengah sebuah majelis bersama Rasulullah ï·º, terjadilah sebuah adegan yang sangat manusiawi: dua orang saling mencela, dan salah satunya sudah tampak jelas tanda-tanda amarah memuncak — wajahnya memerah, urat lehernya menegang. Di saat itulah Rasulullah ï·º bersabda bahwa beliau mengetahui satu kalimat yang jika dibaca oleh orang itu, amarahnya akan lenyap seketika.

Hanya satu kalimat. Dan kalimat itu ternyata bukan sekadar mantra penenang. Di baliknya tersimpan lautan makna tentang tauhid, tentang penghambaan, tentang siapa kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mengenal Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu

Perawi hadits ini adalah Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia yang tinggal di Kufah. Nama aslinya adalah Yasar, namun Rasulullah ï·º menggantinya — sebab beliau memiliki kebiasaan mengganti nama yang kurang baik dengan nama yang lebih indah, sebagaimana tuntunan Islam yang memuliakan manusia bahkan sejak dari namanya.

Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai sosok yang memiliki agama yang kuat, ibadah yang kokoh, dan kedudukan yang tinggi di tengah kaumnya. Dan inilah bukti nyata dari firman Allah:

"...Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..."

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Kedudukan yang hakiki bukan dibangun di atas popularitas atau kekayaan, melainkan di atas iman dan ilmu. Jangan pernah merasa rendah selama iman masih bersemayam di dalam dada — karena Allah sendiri yang berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 139:

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."

(QS. Ali Imran: 139)

Satu Kalimat yang Menghapus Amarah

Dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku sedang duduk bersama Nabi ï·º, dan ada dua orang yang saling mencela. Salah seorang di antara keduanya sudah memerah wajahnya dan menegang urat lehernya." Maka Rasulullah ï·º bersabda:

"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila dibaca oleh orang itu, niscaya apa yang dirasakannya akan hilang: 'A'udzubillahi minasy-syaithanir rajim.'"

(HR. Bukhari dan Muslim)

A'udzubillahi minasy-syaithanir rajim. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Inilah resep langsung dari Nabi ï·º — bukan dari seorang pakar psikologi, bukan dari teori manajemen emosi modern, melainkan dari sumber terpercaya yang tidak berbicara dari hawa nafsu.

Selesaikan Amarah Sebelum Masalah

Salah satu kecerdasan yang terlihat dari cara Rasulullah ï·º menangani situasi ini sangat membekas: beliau tidak langsung masuk membahas siapa yang benar dan siapa yang salah. Beliau justru mengarahkan pada akar masalahnya terlebih dahulu — yaitu amarah itu sendiri.

Inilah prinsip yang sering kita balik dalam kehidupan sehari-hari. Kita terburu-buru ingin menyelesaikan masalah, sementara api amarah masih menyala. Hasilnya? Masalah tidak selesai, bahkan melahirkan masalah baru yang lebih pelik.

Rasulullah ï·º sendiri memberi teladan yang luar biasa dalam hal ini. Setelah kekalahan di Perang Uhud dengan gugurnya lebih dari tujuh puluh sahabat, beliau tidak marah-marah kepada pasukan pemanah yang meninggalkan pos mereka. Beliau menyikapinya dengan tenang. Ketika Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha difitnah dengan tuduhan keji, beliau tetap terkendali meski hatinya menanggung beban yang sangat berat. Bukan karena tidak merasakan apa-apa — beliau manusia biasa. Tapi beliau memahami bahwa masalah sebesar apapun, jika disikapi tanpa amarah, akan jauh lebih mudah diurai.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 155-157, bahwa mereka yang mendapatkan petunjuk dalam menghadapi musibah adalah orang-orang yang sabar, yang mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji'un, dan merekalah yang mendapat shalawat serta rahmat dari Allah. Artinya, petunjuk untuk menyelesaikan masalah itu datang kepada orang yang sabar — bukan kepada orang yang meledak-ledak dalam amarah.

Mengapa Ta'awudz Bisa Meredam Amarah?

Mungkin ada yang bertanya: sudah dicoba membaca a'udzubillah, tapi amarah tetap tidak mereda. Apakah resepnya yang salah?

Tidak. Resepnya tidak salah. Yang perlu diperiksa adalah racikannya.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala menyatakan bahwa amarah adalah bagian dari godaan dan serangan setan. Maka cara menghilangkannya adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah dari setan. Namun Ibnu Hajar rahimahullahu ta'ala menjelaskan lebih dalam: rahasia di balik perintah Nabi ï·º untuk membaca ta'awudz ini adalah karena kalimat itu bukan sekadar ucapan — ia adalah pernyataan tauhid yang hakiki.

Para ulama menerangkan bahwa akar terkuat untuk menolak dan menghilangkan amarah adalah tauhid yang sejati. Dan audzubillahi minasy-syaithanir rajim adalah pintu masuk menuju tauhid itu.

Renungkan ini: setiap kejadian yang membuat kita marah — setiap hal yang tidak berjalan sesuai keinginan kita — sesungguhnya adalah sesuatu yang telah Allah ketahui, Allah catat di Lauh Mahfuzh, Allah kehendaki, dan Allah ciptakan. Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari kuasa-Nya. Maka ketika kita marah dengan sesuatu yang terjadi, tanpa kita sadari, kita sedang marah terhadap takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan itu bertentangan dengan hakikat penghambaan kita kepada-Nya.

Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 20:

"...dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain..."

(QS. Al-Furqan: 20)

Artinya, pemicu-pemicu amarah kita — suami, istri, anak, tetangga, rekan kerja — semuanya adalah ujian yang Allah rancang untuk menguji ibadah dan kesabaran kita. Masalahnya bukan mereka. Masalahnya adalah: apakah kita lulus dalam ujian penghambaan ini atau tidak?

Orang yang marah tanpa kendali, tanpa sadar, sedang menentang konsep ibadah itu sendiri. Karena Allah menciptakan kita dengan satu tujuan yang sangat jelas dalam Surat Az-Zariyat ayat 56:

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."

(QS. Az-Zariyat: 56)

Maka setan bekerja keras bukan sekadar untuk membuat kita marah — melainkan untuk membuat kita lupa akan tujuan hidup kita. Lupa bahwa kita hamba. Lupa bahwa segala kejadian adalah ujian ibadah. Dan begitu kita lupa, kita pun terpancing — lalu melangkah salah, lalu menimbulkan masalah baru yang jauh lebih besar dari masalah awal.

Makna Meminta Perlindungan kepada Allah

Para ulama tafsir menjelaskan dua makna penting dari kata a'udzu — "aku berlindung."

Makna pertama: orang yang meminta perlindungan menjadikan pihak yang dimintai perlindungan sebagai penghalang antara dirinya dan ancaman. Maka orang yang sungguh-sungguh membaca a'udzubillah akan menjadikan batasan-batasan Allah sebagai pagar hidupnya. Ia selalu berada di belakang tuntunan Allah — tidak melanggar batasannya, tidak keluar dari aturannya.

Makna kedua: meminta perlindungan berarti selalu ingin dekat dan tidak mau menjauh. Seperti seorang anak yang ketakutan lalu bersembunyi di belakang ayahnya — ia tidak mau jauh-jauh. Maka orang yang benar-benar berlindung kepada Allah akan rajin beribadah, mendekat kepada-Nya, tidak membiarkan dirinya jauh dari tuntunan-Nya.

Di sinilah letak kuncinya: a'udzubillah bukan hanya diucapkan di bibir. Ia harus dihayati dengan menjaga kedekatan kepada Allah dalam seluruh sendi kehidupan. Karena hanya orang yang dekat kepada Allah — yang mengamalkan tauhid dengan sungguh-sungguh — yang bisa merasakan bahwa kalimat itu benar-benar bekerja meredam amarah.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu ta'ala pernah berpesan kepada salah seorang gubernurnya: "Jangan pernah menghukum seseorang ketika kamu sedang marah. Jika kamu marah kepada seseorang, tahan dia dulu. Dan ketika amarahmu sudah mereda, barulah hadapi dia dan hukumnya sesuai dengan kadar dosanya." Keadilan hanya bisa berdiri di atas jiwa yang tenang.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita tauhid yang sejati — tauhid yang meresap ke dalam hati, yang menjadi benteng dari amarah, yang membuat kita selalu ingat bahwa kita adalah hamba, dan bahwa setiap ujian dalam hidup ini adalah kesempatan untuk beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 105: Tips Meredam Marah — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar