Ada sebuah janji yang seharusnya membuat setiap Muslim menghela nafas panjang setiap kali kemarahan hendak meledak dari dadanya. Bukan sekadar nasihat moral yang terasa berat dan membebani, melainkan sebuah kabar gembira yang teramat indah — bahwa di balik setiap amarah yang berhasil diredam, tersimpan sebuah kehormatan yang tiada tara di hari kiamat kelak.
Kajian hari ini hadir di hari yang istimewa. Hari Sabtu yang bertepatan dengan Yaumul Qarr — hari ke-11 Dzulhijjah — di mana para jemaah haji sedang menetap dan beristirahat di Mina setelah kesibukan besar Idul Adha. Rasulullah ï·º telah mengabarkan bahwa hari-hari ini adalah hari-hari paling agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan mengisinya dengan menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah yang sesungguhnya.
Kita melanjutkan perjalanan menelusuri Bab Kesabaran dalam Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala. Dan hari ini, kita bertemu dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang luar biasa.
Mengenal Mu'adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu 'anhu
Perawi hadits ini adalah Mu'adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu 'anhu. Beliau bukan sahabat biasa — baik ia sendiri maupun ayahnya sama-sama adalah sahabat Nabi ï·º. Beliau pernah menetap di Mesir, dan termasuk dalam golongan orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.
Yang membuat sosok beliau begitu membekas adalah bahwa semangatnya untuk meninggikan kalimat Allah tidak padam bersama wafatnya Rasulullah ï·º. Setelah Nabi ï·º wafat, beliau tetap bersemangat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya iman. Inilah gambaran para sahabat yang sejati — pejuang yang tidak mengenal kata berhenti dalam memperjuangkan ketakwaan dan kebenaran.
Hadits: Menahan Amarah yang Membara
Rasulullah ï·º bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Mu'adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu 'anhu:
"Barang siapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, dan mempersilakannya untuk memilih bidadari mana yang ia kehendaki."
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Hadits ini memiliki kedalaman yang luar biasa. Perhatikan redaksinya: padahal ia mampu meluapkannya. Artinya, ini bukan bicara tentang amarah kecil yang mudah diredam. Ini adalah amarah yang besar, yang memuncak, yang benar-benar membara di dalam dada — dan seseorang memiliki kemampuan penuh untuk meledakkannya — namun ia memilih untuk menahannya. Di situlah letak keistimewaannya.
Dan ganjarannya? Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memanggilnya secara khusus di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu mempersilakannya memilih sendiri bidadari yang ia inginkan. Ini bukan sekadar ganjaran biasa — ini adalah kehormatan yang luar biasa, sebuah panggilan di panggung terbesar yang pernah ada dalam sejarah seluruh alam semesta.
Sifat Orang Bertakwa: Menahan di Saat Paling Mampu Meluapkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 133-134:
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali Imran: 133-134)
Ayat ini mengurai ciri-ciri orang bertakwa dengan sangat jelas. Dan salah satu yang paling menonjol adalah al-kazhiminal ghaizh — orang-orang yang mampu menahan amarah. Bukan sekadar tidak marah karena memang tidak ada yang memancing, melainkan marah yang sesungguhnya, yang bisa diluapkan, namun tetap ditahan demi Allah.
Inilah salah satu puncak ketakwaan yang diperjuangkan oleh para ulama besar kita. Dikisahkan bahwa Ibnu Al-Mubarak rahimahullahu ta'ala — salah seorang ulama besar — tidak pernah meluapkan amarahnya meski dalam kondisi yang sangat memprovokasi. Ketika dicela, difitnah, atau disakiti, beliau hanya berkata dengan tenang: "Barakallahu fiik" — semoga Allah memberkahimu. Itulah respons orang yang hatinya telah terisi penuh dengan keyakinan akan janji Allah.
Kisah Ibnu Al-Mubarak dan Kuda Kesayangannya
Ada satu kisah yang sangat membekas dari kehidupan Ibnu Al-Mubarak rahimahullahu ta'ala. Beliau memiliki seekor kuda yang sangat disayanginya — kuda yang ia gunakan untuk berjihad di jalan Allah dan untuk menunaikan ibadah haji. Kuda ini benar-benar dicintai dengan sepenuh hati.
Suatu hari, beliau meminta seorang pembantunya untuk memberi minum kuda tersebut. Namun tanpa sengaja, si pembantu memukul kuda itu tepat di bagian mukanya. Kuda yang sangat disayangi itu pun kesakitan, dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
Di saat itulah amarah bisa saja berkobar dengan wajar dan penuh alasan. Ini bukan sekadar barang yang rusak — ini adalah kuda kesayangannya yang sedang menangis. Namun apa yang dilakukan Ibnu Al-Mubarak? Beliau berkata kepada si pembantu: "Pergilah kamu dari sisiku, kamu bebas." Beliau membebaskannya — semata-mata karena tidak ingin amarahnya meluap kepada orang yang berada di bawah kekuasaannya.
Kisah Ali bin Al-Husain dan Budak Perempuan
Kisah berikut tidak kalah menakjubkan. Suatu hari, seorang budak perempuan sedang menimba air untuk Ali bin Al-Husain rahimahullah. Tiba-tiba, wadah air itu terlepas dari tangannya dan jatuh — menumpahkan isinya ke wajah beliau.
Bayangkan situasinya. Wajah beliau basah terkena air, mungkin panas, mungkin dingin. Kemarahan adalah respons yang paling manusiawi. Kepala beliau sudah terangkat, pandangan sudah mengarah ke si budak perempuan itu.
Namun di saat yang genting itulah, budak perempuan tersebut membaca penggalan ayat dari Surat Ali Imran:
"...dan orang-orang yang menahan amarahnya..."
(QS. Ali Imran: 134)
Ali bin Al-Husain rahimahullah yang tadinya sudah hampir marah, langsung mereda. Beliau berkata: "Amarahku telah aku tahan."
Belum selesai di situ. Si budak perempuan melanjutkan ayat berikutnya:
"...dan memaafkan (kesalahan) orang lain..."
Beliau menjawab: "Aku telah memaafkan dirimu."
Dan si budak perempuan melanjutkan penggalan terakhir:
"...Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Maka Ali bin Al-Husain rahimahullah berkata: "Pergilah, kamu bebas. Aku membebaskanmu semata-mata mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Satu ayat Al-Qur'an yang dibacakan pada momen yang tepat, oleh seseorang yang tepat, kepada orang yang hatinya hidup — dan hasilnya adalah kebebasan seorang manusia dari perbudakan. Itulah kekuatan taqwa yang nyata.
Mengapa Para Ulama Bisa Demikian?
Pertanyaan yang wajar muncul dalam benak kita: bagaimana bisa para ulama itu begitu tegar menahan amarah di saat-saat yang paling menyulut? Jawabannya satu: mereka benar-benar yakin dengan apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya ï·º.
Mereka membayangkan — dengan sungguh-sungguh — bahwa ada sebuah hari di mana nama mereka akan dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di hadapan seluruh makhluk. Bukan panggilan hina, bukan panggilan pengadilan — melainkan panggilan kehormatan. Lalu dipersilakan memilih sendiri bidadari yang mereka inginkan.
Ketika gambaran itu sudah tertancap kuat dalam hati, amarah pun menjadi lebih mudah untuk ditaklukkan. Bukan karena mereka tidak merasakan amarah itu — mereka merasakannya dengan sangat nyata. Tapi mereka memiliki sesuatu yang lebih besar dari amarah itu sendiri: iman yang kokoh dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Kita, sering kali, terlalu mudah terpancing amarah justru karena keyakinan kita kepada janji Allah masih perlu terus diperkuat dan diperdalam. Maka mempelajari ilmu seperti ini — mengetahui janji Allah bagi orang yang mampu menahan amarah — adalah ikhtiar kita untuk membangun keyakinan itu, sedikit demi sedikit.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk golongan al-kazhiminal ghaizh — orang-orang yang mampu menahan amarah di saat paling mampu meluapkannya. Semoga kita termasuk di antara hamba-hamba yang pada hari kiamat dipanggil dengan mulia, dan dipersilakan memilih apa yang Allah janjikan bagi mereka. Dan semoga Allah menjadikan hari-hari kita — terlebih di hari-hari yang penuh berkah ini — sebagai hari-hari yang terisi dengan dzikir, ilmu, dan amal shalih.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 106: Bebas Memilih Bidadari — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar