RS 107. Jangan Marah: Dua Kata yang Menyimpan Seluruh Kebaikan

Ada orang yang mendatangi Rasulullah ï·º dengan permintaan yang sangat sederhana namun penuh makna: "Ya Rasulullah, ajarkan aku sesuatu — tapi jangan banyak-banyak. Sedikit saja, agar aku bisa memahami dan mengamalkannya." Nabi ï·º menjawab dengan dua kata: "Laa taghdob." Jangan marah.

Hanya dua kata. Namun para ulama menyebut hadits ini sebagai salah satu induk dari seluruh akhlak mulia dalam Islam. Dua kata yang menyimpan kedalaman luar biasa — dan kita akan menelusurinya bersama dalam kajian Bab Sabar dari Riyadhus Shalihin ini.

Semangat Para Sahabat dalam Menuntut Ilmu

Sebelum masuk ke inti hadits, ada pelajaran berharga yang terselip dari cara hadits ini diriwayatkan. Seorang sahabat mendatangi Nabi ï·º dan meminta wasiat. Di riwayat lain dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Tunjukkan aku sebuah amalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga." Di riwayat Tirmidzi, seorang sahabat meminta: "Ajarkan aku sesuatu yang singkat dan sederhana, semoga aku bisa memahaminya." Dan dalam riwayat Imam Ahmad, Abdullah bin Amr bin Auf radhiyallahu 'anhu bertanya: "Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah?"

Lihatlah apa yang mereka tanyakan. Bukan soal urusan dunia, bukan soal harta atau jabatan. Yang mereka angkat adalah surga, ridha Allah, amal yang menyelamatkan. Itulah isi hati mereka yang sesungguhnya.

Ini adalah cermin bagi kita. Ketika kita bertemu dengan orang yang lebih berilmu — seorang guru, seorang ustadz, seorang senior dalam dunia keilmuan — apakah yang kita tanyakan? Apakah kita memanfaatkan momen itu untuk meminta satu hadits, satu ayat, satu pelajaran yang bisa kita bawa pulang dan amalkan? Atau kita biarkan momen itu berlalu begitu saja dalam obrolan yang tidak memberi bekal apa pun?

Para sahabat menjadi generasi terbaik — khairul qurun — salah satunya karena isi hati dan lisan mereka dipenuhi oleh perkara akhirat, bukan dunia semata. Lisan itu menunjukkan apa yang tersimpan di dalam hati.

Dua Kata yang Mengandung Seluruh Akhlak Mulia

Rasulullah ï·º bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — hadits ke-48 dalam Riyadhus Shalihin:

"Jangan marah, jangan marah, jangan marah."

(HR. Bukhari)

Dan dalam riwayat lain:

"Jangan marah, dan bagimu surga."

(HR. Tirmidzi)

Seorang sahabat yang merenungkan nasehat ini kemudian berkata dalam riwayat Imam Ahmad: "Aku berfikir, dan kesimpulannya adalah: amarah itu menggabungkan seluruh keburukan." Dan Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullahu ta'ala dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam menyatakan bahwa menjaga diri dari amarah adalah induk dari seluruh kebaikan, sebagaimana amarah adalah kunci dari seluruh keburukan.

Maka larangan "jangan marah" bukan sekadar anjuran mengelola emosi. Ia adalah pintu masuk kepada seluruh akhlak mulia, dan benteng dari seluruh akhlak yang buruk.

Dua Makna Larangan "Jangan Marah"

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullahu ta'ala menjelaskan bahwa nasehat "jangan marah" mengandung dua makna yang saling melengkapi.

Makna pertama adalah tindakan preventif — membangun benteng sebelum amarah datang menyerang. Caranya adalah dengan menanamkan akhlak-akhlak mulia di dalam diri: kedermawanan, kelapangan hati, kedewasaan, rasa malu, tawadhu', kesabaran dalam menanggung beban, dan sikap pemaaf. Semua ini adalah tembok yang mencegah amarah menemukan celah masuk ke dalam hati.

Yang tidak kalah penting adalah memperkuat iman dan tauhid. Al-Imam Al-Mawardi rahimahullah menyatakan bahwa salah satu cara terkuat untuk menahan amarah adalah dengan meyakini sedalam-dalamnya bahwa segala sesuatu yang membuat kita marah — setiap kejadian yang tidak sesuai keinginan kita — sesungguhnya telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Di sinilah ada renungan yang sangat dalam. Ketika kita marah karena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan kita, tanpa sadar kita sedang menempatkan keinginan kita di atas keinginan Allah. Padahal tidak ada kejadian sekecil apapun yang luput dari ilmu, kehendak, dan kekuasaan-Nya. Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana — Dialah yang mentakdirkan kejadian itu terjadi. Dan Allah pasti telah memilihkan yang terbaik untuk kita.

Dengan tauhid yang kuat, hati menjadi penuh. Dan ketika hati sudah penuh dengan iman dan keyakinan kepada Allah, amarah tidak menemukan tempat untuk bersarang di dalamnya.

Makna kedua adalah perjuangan ketika amarah sudah terlanjur masuk. Sebab manusia diciptakan dalam kondisi lemah. Sesekali kita lalai menjaga pintu-pintu hati kita, dan amarah berhasil menembus masuk. Dalam kondisi inilah, yang harus dilakukan adalah berjihad melawan diri sendiri — tidak menurutinya, tidak mengeksekusi keinginan amarah itu.

Marah ingin kita meluapkan kata-kata kasar? Tahan. Marah ingin kita memukul? Tahan. Marah ingin kita mengucapkan kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali? Tahan. Ini bukan kelemahan — ini adalah kekuatan. Dan di sinilah terlihat kematangan seseorang yang sesungguhnya.

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Lihatlah kematangan dan kedewasaan seseorang di saat dia sedang marah." Anda tidak akan pernah benar-benar mengenal seseorang sampai Anda melihat bagaimana dia bersikap ketika marah. Kata apa yang dipilihnya? Apakah tangannya tetap terkendali? Apakah serangannya tetap fokus pada masalah atau melebar ke mana-mana? Semua itu adalah cerminan kualitas jiwa yang sebenarnya.

Obat Terbaik: Ingat Allah

Jika amarah sudah masuk dan melanda, apa solusinya? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

"...dan ingatlah Tuhanmu ketika kamu lupa..."

(QS. Al-A'raf: 200)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa salah satu makna "lupa" dalam ayat ini adalah ketika seseorang sedang marah. Maka solusinya adalah: ingat Allah. Dan Rasulullah ï·º mengajarkan secara praktis — ketika marah, bacalah:

"A'udzubillahi minasy-syaithanir rajim."

Ini bukan sekadar ritual. Ini adalah pernyataan tauhid — bahwa kita berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang mendorong amarah itu membara. Mengingat Allah di saat marah berarti mengembalikan hati kepada pemiliknya yang sejati.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Solusi amarah bukan mencari hiburan, bukan keluar rumah untuk "biar tenang", bukan melampiaskan agar cepat reda — tidak ada dalilnya. Solusinya adalah ingat Allah. Dan tidak ada solusi yang lebih baik dari itu.

Jangan Menghukum di Saat Marah

Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu ta'ala — khalifah yang dikenal sebagai salah satu pemimpin paling adil dalam sejarah Islam — pernah menulis surat kepada salah seorang gubernurnya dengan pesan yang sangat berharga: "Jangan pernah menghukum seseorang ketika kamu sedang marah. Jika kamu marah kepada seseorang, tahan dia dulu. Dan ketika amarahmu sudah mereda dan kamu sudah tenang, barulah hadapi dia dan hukumnya sesuai dengan kadar dosanya."

Inilah konsep Islam yang agung: keadilan hanya bisa ditegakkan oleh jiwa yang tenang. Amarah membuat penilaian menjadi tidak proporsional, hukuman menjadi tidak adil, dan keputusan menjadi sesuatu yang kelak kita sesali.

Sabar itu bukan berarti melepaskan amarah sedikit demi sedikit sampai reda. Sabar adalah menahan. Dan menahan itu memang berat, memang terasa panas, memang menyesak di dada. Rasulullah ï·º sendiri mengabarkan bahwa sabar itu seperti cahaya yang membakar — "wash-shabru dhiya'". Berat, tapi terang. Menyakitkan, tapi memuliakan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menahan amarah bukan karena lemah, melainkan karena kuat — kuat imannya, kuat tauhidnya, kuat keyakinannya bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar. Semoga Allah mengisi hati kita dengan keimanan yang kokoh sehingga tidak ada celah bagi amarah untuk menghancurkan apa yang sudah kita bangun — dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam hubungan kita dengan sesama.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 107: Jangan Marah — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar