Bayangkan seseorang yang menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam keadaan bersih — tidak membawa satu pun dosa, tidak ada satu pun kesalahan yang tertinggal. Bukan karena ia luput dari ujian dan cobaan, melainkan justru karena ia melewati begitu banyak ujian dengan sabar dan ihtisab. Itulah gambaran yang ditawarkan oleh sabda Nabi Muhammad ï·º dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sebuah kabar yang sekaligus menjadi penawar bagi setiap hati yang sedang lelah menanggung beban kehidupan.
"Senantiasa ujian itu mendatangi seorang mukmin dan mukminah — menimpa dirinya, menimpa anaknya — dan itu terus berlangsung sampai ia berjumpa dengan Allah, sementara ia tidak memiliki satu pun dosa." (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Hadits ini sederhana, namun sanggup mengangkat moril setiap orang yang sedang diterpa musibah. Ia bukan sekadar penghiburan, melainkan sebuah kabar pasti dari Rasulullah ï·º tentang hikmah agung di balik setiap kesulitan yang kita alami.
Hijrah Bukan Jalan Tol
Salah satu kesalahan paling umum yang banyak dialami adalah anggapan bahwa ketika seseorang berhijrah — kembali kepada Allah, banting setir dari kehidupan yang penuh kelalaian menuju ketaatan — maka jalan yang akan ia tempuh adalah jalan yang mulus, penuh sambutan, bagaikan parade dengan karpet merah yang digelar di hadapannya. Anggapan ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya, karena ia akan membuat seseorang terguncang saat kenyataan berbicara lain.
Kebenaran yang perlu diluruskan sejak awal adalah ini: ketika seseorang memutuskan untuk berhijrah dan menjadi mukmin yang taat, ia sejatinya sedang memilih untuk masuk ke dalam medan perjuangan. Bukan perjuangan yang berakhir setelah satu atau dua tahun, bukan perjuangan yang selesai ketika kalender berganti. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits di atas, ujian itu akan terus datang — kepada laki-laki maupun perempuan yang beriman — sampai saat kematian tiba.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ÙˆَÙ„َÙ†َبْÙ„ُÙˆَÙ†َّÙƒُÙ…ْ ØَتَّÙ‰ٰ Ù†َعْÙ„َÙ…َ الْÙ…ُجَاهِدِينَ Ù…ِنكُÙ…ْ Ùˆَالصَّابِرِينَ ÙˆَÙ†َبْÙ„ُÙˆَ Ø£َØ®ْبَارَÙƒُÙ…ْ
"Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan orang-orang yang sabar di antara kamu, dan Kami akan menguji perihal kamu." (QS. Muhammad: 31)
Ayat ini berbicara bukan tentang sebagian manusia, melainkan tentang seluruh orang yang beriman. Dan kata "pasti" dalam ayat ini bukan ancaman — ia adalah kepastian yang harus kita terima, siapkan, dan hadapi dengan bekal yang benar.
Dua Ujian Terberat dalam Kehidupan
Di antara sekian banyak bentuk ujian yang menghampiri seorang mukmin, hadits ini secara khusus menyebut dua: ujian yang menimpa diri sendiri, dan ujian yang menimpa anak. Para ulama menyebutkan bahwa keduanya termasuk di antara ujian-ujian terberat yang bisa dialami manusia, dan variasinya begitu luas.
Ujian pada diri sendiri mencakup sakit fisik, tekanan jiwa, perasaan kesepian yang mencekam di tengah keramaian, rasa takut yang menghantui, dan berbagai pergolakan batin lainnya. Diri kita adalah aset terbesar yang kita miliki. Ketika ujian mengincar langsung ke sana, rasanya tidaklah mudah — dan memang tidak seharusnya dianggap mudah.
Adapun ujian pada anak, ia hadir dalam wajah yang berbeda-beda. Ada anak yang lahir dengan keterbatasan fisik. Ada yang tumbuh dalam sakit berkepanjangan. Dan yang paling menyakitkan di antara semuanya — sebagaimana yang dirasakan oleh banyak orang tua — adalah ketika seorang anak berpaling dan durhaka kepada kedua orang tuanya. Cukuplah kisah Nabi Ya'qub 'alaihissalam yang harus menyaksikan anak-anaknya berkomplot untuk mencelakakan Yusuf 'alaihissalam, dan kisah Nabi Nuh 'alaihissalam yang anaknya menolak nasihat dengan angkuh, sebagai gambaran betapa beratnya ujian yang satu ini. Itulah mengapa hadits ini secara khusus menyebutkan ujian pada anak — karena bobotnya memang luar biasa.
Musibah Sebagai Penggugur Dosa
Inilah inti dari kabar gembira yang terkandung dalam hadits ini: ujian yang terus-menerus mendatangi seorang mukmin — selama ia dihadapi dengan sabar — berfungsi sebagai penggugur dosa-dosanya. Satu demi satu. Sampai ketika ajal menjemput, ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dari dosa.
Subhanallah. Bayangkan betapa agungnya akhir perjalanan itu.
Namun ada syarat yang tidak bisa diabaikan: sabar. Bukan sekadar diam menahan diri, tetapi sabar dalam pengertian yang sesungguhnya — menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, tidak menggerutu, tidak protes kepada Allah, apalagi sampai murka dan menolak takdir-Nya. Rasulullah ï·º mengingatkan dengan tegas: barangsiapa yang ridha terhadap ketetapan Allah, ia akan mendapatkan keridhaan Allah. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak terima dan marah, ia akan mendapatkan murka-Nya.
Ini bukan berarti kita tidak boleh merasakan sakit. Musibah memang menyakitkan, dan wajar jika hati kita perih. Tetapi ada perbedaan besar antara merasakan sakit dan menolak ketetapan Allah. Yang pertama adalah sifat manusiawi, yang kedua adalah bahaya yang harus dihindari.
Kacamata Akhirat: Cara Melihat Musibah dengan Benar
Salah satu sebab mengapa musibah terasa begitu berat adalah karena kita terlalu sering menggunakannya kacamata jangka pendek. Seluruh konsentrasi tertumpu pada hari ini: kepedihan hari ini, kehilangan hari ini, tekanan hari ini. Ketika semua fokus tertuju pada satu titik kecil itu, beban terasa tak tertanggungkan.
Solusinya bukan dengan menyangkal rasa sakit, melainkan dengan memperpanjang jarak pandang. Gunakan kacamata akhirat. Ketika seseorang yang di-PHK hari ini hanya memikirkan hari ini, ia bisa terjatuh dalam keputusasaan. Tetapi ketika ia mampu menatap jauh ke depan — ke hari-hari esok yang penuh kemungkinan, dan bahkan lebih jauh lagi ke yaumul akhir — maka perspektifnya berubah. Masih ada begitu banyak kesempatan. Masih ada pertolongan Allah yang belum datang. Dan setiap kesulitan yang ia tanggung dengan sabar hari ini sedang menggugurkan dosa-dosanya satu per satu.
Para sahabat Nabi ï·º memberikan teladan yang nyata soal ini. Bilal radhiyallahu 'anhu disiksa di bawah terik matahari Makkah. Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu dan keluarganya menanggung hari-hari yang gelap di tangan kaum musyrikin. Mengapa mereka mampu bertahan? Karena iman mereka kepada Allah dan kepada hari akhir begitu kuat sehingga pandangan mereka menembus jauh melampaui penderitaan yang sedang mereka rasakan saat itu.
Imam Syafi'i rahimahullahu ta'ala pernah berkata dengan kalimat yang membekas:
"Berjuanglah dengan segenap tenagamu, karena sesungguhnya kenikmatan hidup itu ada pada perjuangan yang melelahkan."
Ini bukan seruan untuk mencari kesulitan atau bersikap seperti pahlawan kesiangan. Ini adalah pengakuan jujur seorang alim besar bahwa kehidupan yang bermakna memang tidak pernah hadir tanpa perjuangan. Dan di balik setiap perjuangan yang dijalani dengan benar, ada kenikmatan yang jauh melampaui kenyamanan semu yang ditawarkan oleh jalan yang mudah.
Motivasi Tertinggi: Berjumpa dengan Allah Tanpa Membawa Dosa
Ada satu titik dalam hadits ini yang seharusnya menjadi kompas kita dalam menjalani setiap hari: pertemuan dengan Allah. Ujian itu akan terus datang "sampai ia berjumpa dengan Allah, sementara ia tidak memiliki satu pun dosa."
Renungkanlah. Kita sering merasa tidak nyaman ketika akan bertemu atasan dalam keadaan ada kesalahan yang belum terselesaikan. Kita tidak tenang ketika akan bertemu guru, orang tua, atau pasangan kita sementara ada kekhilafan yang mengganjal. Bagaimana dengan pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala — Penguasa langit dan bumi, Pemilik surga dan neraka, Hakim yang Maha Adil pada hari yang paling menentukan dalam seluruh perjalanan keberadaan kita?
Itulah fungsi sesungguhnya dari setiap musibah dan ujian yang kita alami di dunia ini. Bukan untuk menyiksa kita. Bukan karena Allah tidak peduli. Melainkan karena Allah ingin kita tiba di hadapan-Nya dalam keadaan bersih — tanpa beban dosa yang menghalangi kita dari rahmat dan surga-Nya. Dan caranya adalah melalui ujian-ujian yang kita hadapi dengan sabar dan ihtisab di dunia ini.
Obat paling manjur untuk menghadapi semua ini, sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama, adalah tauhid — iman yang kokoh kepada Allah. Iman yang tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dihayati dalam hati dan dijawantahkan dalam setiap sikap kita menghadapi takdir-Nya.
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk terus bersabar menghadapi setiap ujian, mengampuni dosa-dosa kita dan dosa-dosa seluruh kaum muslimin di mana pun berada, dan mempertemukan kita dengan-Nya kelak dalam keadaan bersih dari segala kekhilafan.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 108. MENINGGAL TANPA MENYISAKAN DOSA | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar