RS 97. Hidup adalah Ladang, Jangan Minta Dipulangkan Sebelum Panen

Ada saat-saat dalam hidup ketika beban terasa begitu berat hingga pikiran mulai bermain-main dengan satu keinginan: sudah cukup. Sudah cukup berjuang, sudah cukup menanggung, sudah cukup hidup. Keinginan itu bisa datang perlahan, tapi bisa juga datang tiba-tiba — ketika musibah bertubi-tubi, ketika sakit tidak kunjung reda, ketika masalah seolah tidak ada ujungnya.

Islam berbicara tentang kondisi ini dengan sangat jelas. Bukan dengan menghakimi, tapi dengan memberikan petunjuk — bahwa ada cara yang lebih baik untuk menghadapinya, dan ada alasan yang sangat kuat mengapa hidup ini terlalu berharga untuk diinginkan segera berakhir.

Kita masih bersama Bab Sabar dalam Riyadhus Shalihin karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala, hadits ke-40 dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Larangan yang Tegas dari Rasulullah ï·º

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ï·º bersabda:

"Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika ia benar-benar tidak tahan, hendaklah ia berdoa: 'Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku.'"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan ini tegas dan jelas. Rasulullah ï·º melarang kita mengharapkan kematian karena rasa sakit, musibah, ujian, atau masalah yang menimpa kita. Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu ta'ala menjelaskan bahwa berharap mati karena tidak tahan terhadap musibah menunjukkan ketidaksabaran, tidak menerima takdir, dan tidak ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Namun Rasulullah ï·º tidak hanya melarang — beliau memberikan solusi yang indah. Jika memang kondisi sudah terasa sangat berat dan tidak tertahankan, maka serahkan semuanya kepada Allah dengan doa di atas. Doa itu sendiri mengandung penyerahan diri yang penuh: "aku tidak tahu mana yang terbaik, Engkau yang Maha Tahu."

Mengapa Hidup Terlalu Berharga

Rasulullah ï·º juga bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

"Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengharapkan kematian... karena jika salah seorang dari kalian wafat, maka amalnya akan terputus. Dan sesungguhnya bagi seorang mukmin, umurnya tidaklah menambah kecuali kebaikan."

Ini adalah perspektif yang luar biasa. Setiap hari yang kita jalani sebagai seorang mukmin adalah hari yang potensial — potensial untuk shalat subuh yang ditunaikan, potensial untuk satu ayat Al-Qur'an yang dibaca, potensial untuk satu kebaikan yang diberikan kepada orang lain, potensial untuk satu istighfar yang diucapkan dengan tulus. Semua itu terputus begitu kita wafat.

Makna "umurnya tidaklah menambah kecuali kebaikan" adalah bahwa selama seseorang beriman, setiap detik tambahan umur yang Allah berikan adalah kesempatan kebaikan yang tidak ternilai. Bahkan Rasulullah ï·º menyebutkan salah satu ciri orang-orang terbaik dalam hadits riwayat Tirmidzi: "sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya."

Maka umur yang panjang bagi seorang mukmin bukan beban — ia adalah karunia.

Pahala yang Terus Mengalir di Balik Rasa Sakit

Ada dua alasan kuat yang seharusnya membuat kita bertahan:

Pertama, setiap rasa sakit, setiap kesedihan, setiap beban yang kita tanggung dengan sabar adalah penggugur dosa dan penambah pahala — sebagaimana telah kita pelajari dari hadits-hadits sebelumnya. Jika kita meminta kematian karena tidak tahan, kita sedang meminta dihentikannya aliran pahala yang sedang deras mengalir untuk kita. Seperti seseorang yang baru saja menemukan ladang emas, lalu meminta untuk segera dipulangkan sebelum sempat memungut sebutir pun.

Kedua, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 286:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..."

(QS. Al-Baqarah: 286)

Artinya, ujian yang kita rasakan — seberat apapun menurut penilaian kita — sesungguhnya sudah diukur oleh Allah sesuai dengan kemampuan kita. Jika Allah membebankannya kepada kita, itu berarti Allah tahu kita sanggup. Kita mungkin tidak merasa sanggup, tapi Allah yang Maha Mengetahui menetapkannya demikian. Maka kepercayaan kepada Allah di sini bukan sekadar kata-kata — ia adalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menilai kemampuan hamba-Nya.

Berpindah dari Masalah ke Masalah yang Lebih Berat

Ada satu argumen yang disampaikan dengan sangat kuat: orang yang mengharapkan kematian karena tidak tahan terhadap masalahnya — apalagi yang sampai berbuat bunuh diri — sebenarnya hanya sedang memindahkan dirinya dari satu masalah ke masalah yang jauh lebih berat.

Rasulullah ï·º menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa orang yang bunuh diri akan mengalami siksa di akhirat sesuai dengan cara ia mengakhiri hidupnya — secara berulang di neraka. Maka seseorang yang mengira bahwa dengan mengakhiri hidupnya ia akan terbebas dari rasa sakit, ia justru sedang melangkah menuju siksaan yang jauh lebih pedih dan jauh lebih abadi.

Ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyelamatkan. Solusi yang kita cari bukan dengan keluar dari kehidupan, melainkan dengan bertahan di dalamnya — dengan sabar, dengan doa, dengan mendekat kepada Allah.

Meluruskan Pemahaman tentang Maryam 'alaihissalam

Sebagian orang mungkin bertanya: bukankah Maryam 'alaihissalam juga pernah berkata dalam Al-Qur'an, "Andai saja aku meninggal sebelum ini semua terjadi dan aku dilupakan orang" (QS. Maryam: 23)? Bukankah itu juga mengharapkan kematian?

Para ulama, di antaranya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala, menjelaskan bahwa konteksnya berbeda sama sekali. Maryam 'alaihissalam tidak mengharapkan kematian karena tidak tahan terhadap rasa sakit atau musibah. Beliau khawatir akan fitnah — khawatir tidak bisa mempertahankan keimanannya, khawatir terjerumus ke dalam kekufuran, khawatir terfitnah dengan tuduhan keji yang pasti akan ditujukan kepadanya sebagai seorang wanita yang hamil tanpa suami. Inilah kekhawatiran seorang yang sangat mencintai imannya.

Ini serupa dengan doa Nabi Yusuf 'alaihissalam dalam Surat Yusuf: "Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shaleh." Permintaan itu bukan meminta dipercepat kematiannya karena tidak sabar, melainkan meminta wafat dalam keadaan husnul khatimah — sebuah permohonan yang sangat mulia.

Serahkan kepada Allah yang Maha Mengetahui

Inti dari doa yang diajarkan Rasulullah ï·º adalah penyerahan diri yang sempurna. "Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu yang terbaik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu yang terbaik bagiku." Kita mengakui dengan jujur bahwa kita tidak tahu mana yang terbaik. Allah yang tahu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu padahal ia baik bagi kita. Dan dalam Surat Luqman ayat 34, Allah menegaskan bahwa tidak ada satu jiwa pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, dan tidak ada yang tahu di mana ia akan meninggal dunia.

Maka yang paling tepat adalah menyerahkan semuanya kepada Allah — bukan dengan pasrah yang menghilangkan ikhtiar, melainkan dengan tawakal yang meneruskan perjuangan sambil yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala pasti memilihkan yang terbaik untuk kita.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menguatkan hati kita di setiap momen ketika beban terasa terlalu berat. Semoga Ia mengingatkan kita bahwa setiap detik kehidupan yang kita jalani dengan sabar adalah ladang pahala yang tidak akan pernah sia-sia. Dan semoga Ia wafatkan kita kelak dalam keadaan husnul khatimah — dalam keadaan beriman, bersabar, dan ridha kepada-Nya.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Catatan: Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang berjuang dengan pikiran untuk mengakhiri hidup, tolong segera hubungi orang yang dipercaya atau tenaga profesional kesehatan jiwa. Anda tidak harus menanggung beban ini sendirian.

Sumber: Sesi 97: Jangan Mengharapkan Kematian — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar