Di bawah naungan Ka'bah, Rasulullah ï·º sedang berbaring beristirahat, berbantalkan kain burdah milik beliau. Saat itulah beberapa sahabat datang menghampiri dengan keluhan yang sangat manusiawi. Mereka sedang dalam tekanan besar — dihina, disiksa, diperlakukan tidak selayaknya manusia. Dan mereka memohon: "Ya Rasulullah, tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?"
Pertanyaan itu bukan keluhan biasa. Itu adalah jeritan dari jiwa-jiwa yang menanggung beban luar biasa. Dan jawaban Rasulullah ï·º — yang disampaikan dengan begitu tenang dari posisi berbaring — mengandung pelajaran yang relevan bagi setiap muslim di setiap zaman.
Mengenal Khabbab bin Al-Art radhiyallahu 'anhu
Perawi hadits ini adalah Khabbab bin Al-Art radhiyallahu 'anhu, salah seorang yang pertama masuk Islam dan pertama pula merasakan siksaan di jalan Allah. Sebelum Islam, beliau adalah seorang pandai besi — profesi orang lemah yang tidak memiliki pelindung di tengah masyarakat Quraisy yang hierarkis.
Ketika beliau masuk Islam, orang-orang Quraisy menyiksanya agar kembali kepada agama mereka. Punggung beliau dibakar dengan api dan batu yang membara di bawah terik matahari, hingga kulitnya hangus. Ketika suatu hari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu meminta beliau memperlihatkan punggungnya, Umar yang sudah terbiasa dengan peperangan dan perjuangan pun terkejut — tidak pernah ia melihat punggung seorang laki-laki seperti itu.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu merangkumkan kehidupan Khabbab dengan kalimat yang sangat indah: "Semoga Allah merahmati Khabbab. Beliau masuk Islam karena cinta, berhijrah karena ketaatan, dan hidupnya adalah hidup seorang pejuang." Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah menyia-nyiakan ganjaran orang yang beramal dengan sebaik-baiknya.
Jawaban yang Mengubah Cara Pandang
Ketika para sahabat mengadukan penderitaan mereka, Rasulullah ï·º bangkit dan bersabda:
"Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, ada yang ditangkap lalu digali lubang untuknya dan ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian dibawakan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya, lalu tubuhnya digergaji menjadi dua. Ada pula yang disisir dengan sisir besi yang memisahkan daging dari tulangnya. Namun semua itu tidak mampu menghalangi mereka dari agama mereka. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini, hingga seorang musafir dari Shan'a ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala yang memangsa kambingnya. Tapi kalian terburu-buru."
(HR. Bukhari)
Kalimat terakhir itu sangat menohok: "walakinnakum tasta'jilun" — tapi kalian terburu-buru. Inilah diagnosis dari Rasulullah ï·º untuk kondisi yang sering kita alami: kita ingin kemenangan sekarang, pertolongan sekarang, keadaan berubah sekarang. Padahal ada proses yang harus dijalani, ada perjalanan yang harus ditempuh.
Ujian adalah Sunatullah bagi Orang Beriman
Salah satu pelajaran terbesar dari hadits ini adalah bahwa ujian dan cobaan bukanlah sesuatu yang asing atau tidak wajar bagi orang-orang beriman. Ia adalah sunatullah — ketetapan Allah yang berlaku dari zaman ke zaman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 214:
"Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Kapan datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."
(QS. Al-Baqarah: 214)
Perhatikan: bahkan Rasulullah ï·º dan para sahabat yang mulia pernah bertanya "kapan pertolongan Allah?" Artinya, merasakan beratnya ujian dan menginginkan keadaan segera berubah adalah sesuatu yang sangat manusiawi, bahkan dialami oleh orang-orang terbaik. Yang membedakan adalah apa yang mereka lakukan dengan perasaan itu — mereka bertanya, lalu Allah menjawab: "ketahuilah, pertolongan Allah itu amat dekat."
Ujian ada untuk satu tujuan yang sangat jelas, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Ankabut ayat 2-3: untuk melihat siapa yang jujur dan siapa yang berdusta. Jujur dalam keimanannya, jujur dalam hijrahnya, jujur dalam niatnya untuk mengejar surga. Ujian adalah alat seleksi — bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membuktikan.
Kekuatan Para Sahabat: Bertahan di Jalur yang Benar
Yang paling memukau dari kisah para sahabat terdahulu bukan sekadar bahwa mereka menanggung penderitaan yang luar biasa. Yang memukau adalah bahwa semua itu tidak mampu menggeser mereka dari agama mereka. Digergaji menjadi dua — tidak mundur. Daging dipisahkan dari tulang — tidak goyah. Punggung dibakar hingga hangus — tetap bersabar.
Bagaimana bisa? Karena mereka tahu bahwa mereka sedang berada di jalur yang benar. Seperti seseorang yang sedang mendaki gunung menuju puncak yang indah — ia tahu medannya berat, ia tahu kakinya akan pegal, ia tahu napasnya akan tersengal. Tapi ia tahu juga bahwa yang sebelumnya pernah mendaki jalan yang sama — bahkan dengan beban yang lebih berat — berhasil sampai di puncak. Maka ia melanjutkan.
"Mesabatan abad" — barang siapa yang konsisten bertahan, ia yang akan tumbuh. Inilah yang dibuktikan oleh para sahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in.
Ketenangan Nabi ï·º: Tanda Keyakinan, Bukan Ketidakpedulian
Satu detail yang menarik dalam hadits ini adalah kondisi Rasulullah ï·º saat menerima keluhan para sahabat: beliau sedang berbaring, berbantalkan kain burdah di bawah naungan Ka'bah. Mungkin ada yang bertanya: bagaimana bisa beliau beristirahat sementara sahabat-sahabatnya sedang disiksa?
Jawabannya adalah: ketenangan itu bukan ketidakpedulian. Rasulullah ï·º adalah manusia yang paling besar rasa sayangnya kepada orang-orang beriman. Allah sendiri mengabadikannya dalam Surat At-Taubah ayat 128:
"...berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (kebaikan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
(QS. At-Taubah: 128)
Ketenangan Rasulullah ï·º adalah buah dari keyakinan yang sempurna. Beliau tahu bahwa pertolongan Allah pasti datang. Beliau tahu bahwa proses ini memiliki ujungnya. Maka tidak ada kepanikan, tidak ada kegalauan — hanya ketenangan yang lahir dari kejujuran kepada Allah dan keyakinan penuh kepada janji-Nya.
Inilah yang dimaksud bahwa kejujuran menghasilkan ketenangan, sementara kebohongan — termasuk bohong kepada Allah tentang keimanan kita — menghasilkan kegalauan yang tidak berkesudahan. Kalau hati kita jujur kepada Allah, maka ada tuma'ninah di sana, ada kedamaian yang tidak bisa digoyahkan oleh kondisi luar sekalipun.
Jangan Terburu-buru
Pesan terakhir dan paling kuat dari hadits ini adalah: jangan terburu-buru. Jangan terburu-buru menghakimi keadaan. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah telah melupakan kita. Jangan terburu-buru memilih jalan pintas yang justru menjauhkan dari tujuan.
Ada proses yang harus dijalani. Ada kesabaran yang harus dipupuk. Ada kejujuran kepada Allah yang harus dibuktikan bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan keteguhan di saat ujian paling berat sekalipun.
Dan jika kita merasa sudah sangat lelah, ingatlah: orang-orang sebelum kita melewati jalan yang sama — bahkan lebih berat dari jalan kita — dan mereka tidak mundur. Pertolongan Allah pasti datang. Ia tidak terlambat, tidak terlupa, dan tidak pernah meleset dari janjinya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meneguhkan hati kita di atas kejujuran, menganugerahkan kepada kita ketenangan yang lahir dari keyakinan kepada-Nya, dan mempertemukan kita dengan pertolongan-Nya di saat yang paling tepat menurut hikmah-Nya yang sempurna.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 98: Kalian Suka Terburu-buru — Riyadhus Shalihin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar