Semua pembahasan ini berada dalam satu bingkai besar yang ingin disampaikan Imam Bukhari melalui kitab Al-Adab Al-Mufrad: bahwa Islam mengangkat derajat perempuan, menjadikan pengabdian kepada mereka sebagai ladang pahala, dan menghapus setiap sisa tradisi jahiliah yang merendahkan mereka.
Surga di Balik Pengabdian kepada Saudari Perempuan
Rasulullah ï·º bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu 'anhu:
"Tidaklah seseorang memiliki tiga putri atau tiga saudari perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, kecuali ia akan masuk surga."
Hadis ini memperluas cakupan dari sesi sebelumnya. Bukan hanya anak perempuan kandung, saudari-saudari perempuan pun termasuk ladang pahala yang besar. Bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan cukup dua saudari perempuan — siapa yang memiliki dua saudari lalu mengayomi dan memperhatikan mereka, pintu surga pun terbuka baginya.
Contoh nyata dari pengabdian semacam ini adalah kisah Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma. Ketika ayahnya, Abdullah bin Haram, syahid di medan perang, beliau berwasiat kepada Jabir untuk memperhatikan saudari-saudari perempuannya. Jabir mewarisi enam saudari perempuan. Ketika tiba waktunya menikah, Jabir memilih menikahi seorang janda — bukan gadis — meskipun Rasulullah ï·º sendiri bertanya kepadanya dengan nada mendorong, "Kenapa kau tidak menikahi gadis yang bisa kau ajak bermain-main?"
Jawaban Jabir mengungkap kedalaman pengorbanannya. Ia berkata: "Aku memiliki saudari-saudari perempuan. Aku ingin menikahi wanita yang bisa mengumpulkan mereka, menyisir rambut mereka, dan mengurusi mereka." Dalam riwayat lain ia menambahkan bahwa ia khawatir jika menikahi gadis, akan timbul kecemburuan yang merusak hubungannya dengan adik-adiknya. Inilah kelas pengorbanan seorang Salaf — melepaskan kesenangan pribadi demi menunaikan tanggung jawab terhadap saudari-saudarinya.
Bahkan saudari susuan pun mendapatkan perlakuan mulia dari Rasulullah ï·º. Dalam peristiwa Perang Hunain, seorang wanita bernama Syaima' binti Harit — saudari susuan Nabi ï·º — ikut tertawan bersama kabilah Hawazin yang kalah. Ketika ia digiring dengan kasar, sebagian sahabat mengingatkan: "Ia adalah saudari susuan Rasulullah ï·º!" Begitu hal ini sampai kepada Nabi ï·º, beliau langsung membuktikan identitas Syaima' dari tanda bekas gigitan di punggungnya saat masih kecil. Seketika itu pula beliau membentangkan selendangnya untuk tempat duduk Syaima', memuliakannya, dan mempersilakannya memilih: tinggal bersamanya dengan penghormatan penuh, atau menerima pemberian dan kembali ke kaumnya. Syaima' memilih yang kedua, dan Nabi ï·º memenuhinya dengan sepenuh hati.
Jika saudari susuan saja diperlakukan sedemikian mulia, bagaimana dengan saudari kandung? Maka sungguh beruntung siapa pun yang memiliki saudari-saudari perempuan dan menjadikan mereka sebagai ladang pahala — bukan sebagai beban. Memberikan bantuan finansial, perhatian, nasihat, bahkan melunaskan utang saudari yang telah wafat pun berpahala besar. Rasulullah ï·º pernah ditanya oleh seorang wanita yang saudarinya meninggal dengan meninggalkan hutang puasa dua bulan berturut-turut. Nabi ï·º menjawab dengan bertanya balik: "Seandainya saudarimu punya hutang kepada manusia, apakah kau akan melunasinya?" Wanita itu menjawab: "Tentu, ya Rasulullah." Maka sabda Nabi ï·º: "Kalau begitu, hutang kepada Allah lebih utama untuk dilunasi."
Ketika Putri Dikembalikan: Ladang Pahala yang Tersembunyi
Imam Bukhari kemudian membuka bab tentang keutamaan mengayomi putri yang mardudah — dikembalikan, yakni putri yang diceraikan suaminya dan kembali ke rumah orang tua. Ini adalah kondisi yang menyedihkan, dan Nabi ï·º tidak membiarkannya tanpa panduan.
Rasulullah ï·º bersabda kepada Suraqah bin Ju'syum radhiyallahu 'anhu: "Maukah aku tunjukkan kepadamu sedekah yang paling utama?" Ketika Suraqah menyatakan keinginannya, Nabi ï·º bersabda: "Putrimu yang dikembalikan kepadamu — tidak ada yang mengayuminya kecuali engkau."
Sedekah terbaik bukan selalu kepada orang jauh. Justru putrinya sendiri yang pulang dengan hati hancur, yang tidak punya pelabuhan lain selain rumah orang tuanya, itulah ladang sedekah yang paling agung. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk kebutuhannya adalah sedekah. Setiap waktu yang dicurahkan untuk menenangkannya adalah ibadah. Setiap kata nasihat yang disampaikan dengan lembut adalah amal saleh.
Yang perlu diwaspadai adalah respons yang justru memperparah luka. Sebagian orang tua, ketika mendengar putrinya dicerai, malah memarahinya, menyalahkannya, bahkan meremehkannya. Ini bukan hanya tidak bijak — ini bertentangan dengan semangat Islam yang justru menjadikan momen ini sebagai peluang pahala. Kalaupun ada kesalahan dari sang putri, bisa jadi itu cerminan dari didikan yang kurang, dari perhatian orang tua yang dulu tidak cukup hadir. Maka sambut, peluk, dan rawat — karena itu semua bernilai di sisi Allah ï·».
Rasulullah ï·º bahkan mengatakan bahwa mengayomi janda — dan janda yang merupakan putri kita sendiri tentu lebih utama lagi — pahalanya seperti berjihad di jalan Allah ï·». Ibnu Battal rahimahullah menyebutkan: siapa yang ingin mendapat pahala jihad tanpa mengangkat pedang, maka urusilah para janda.
Haram Berangan-angan Agar Putri Mati
Imam Bukhari membuka bab berikutnya dengan tema yang terasa keras namun penting: haramnya berangan-angan agar anak perempuan mati. Kata makruh yang digunakan di sini mengikuti tradisi sebagian ulama yang memakai istilah tersebut untuk makna haram, sebagaimana dalam banyak ayat Al-Qur'an.
Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah mendengar seorang lelaki yang berkata: "Seandainya putri-putriku mati semuanya." Ibnu Umar pun marah dan menegurnya: "Apakah kau yang menanggung rezeki mereka? Yang memberikan rezeki kepada putri-putrimu adalah Allah ï·»."
Ini adalah teguran yang tepat sasaran. Keengganan terhadap anak perempuan sering kali berakar dari kekhawatiran ekonomi — merasa anak perempuan hanya menanggung beban tanpa bisa memberi kontribusi. Ibnu Umar membongkar akar kekeliruan ini: rezeki bukan urusan manusia, itu adalah jaminan Allah ï·». Bahkan kenyataan hidup sering menunjukkan bahwa bertambahnya anak justru membuka pintu rezeki yang tidak terduga.
Al-Qur'an menyebutkan anak perempuan sebagai anugerah (QS. Asy-Syura: 49-50). Allah ï·» menganugerahkan kepada sebagian hamba hanya anak-anak perempuan — dan itu bukan kutukan, itu adalah pilihan Allah yang mengandung hikmah. Nabi Muhammad ï·º sendiri adalah Abul Banat — ayah dari anak-anak perempuan. Keempat putri beliau yang hidup adalah perempuan semua. Demikian pula Nabi Luth 'alaihissalam yang memiliki putri-putri. Imam Ahmad rahimahullah ketika dikabarkan mendapat anak perempuan, beliau bersukacita dan berkata: "Para nabi adalah para ayah dari anak-anak perempuan."
Maka sisa-sisa jahiliah yang masih mengendap — rasa kecewa ketika tahu bayi yang lahir adalah perempuan, atau membeda-bedakan kasih sayang antara anak laki-laki dan perempuan — semua itu harus dikikis habis. Dalam hal kasih sayang dan perhatian, tidak ada diskriminasi. Anak perempuan bukan aib; ia adalah amanah dan jalan menuju surga.
Anak: Buah Hati yang Bisa Membuat Pelit dan Penakut
Imam Bukhari menutup rangkaian bab ini dengan tema yang terasa lebih personal: anak-anak adalah sebab seseorang bisa menjadi pelit dan penakut. Ini bukan celaan terhadap anak, melainkan pengingat tentang dinamika hati manusia yang perlu dikelola dengan syariat.
Imam Bukhari membawakan perkataan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu kepada putrinya Aisyah radhiyallahu 'anha. Abu Bakar berkata: "Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih aku cintai daripada Umar." Lalu beliau keluar dan kembali, meminta Aisyah mengulangi sumpahnya. Setelah Aisyah mengulanginya, Abu Bakar menimpali: "Umar memang paling aku cintai, namun anak lebih lengket, lebih dekat di hatiku."
Imam Bukhari menggunakan pernyataan ini sebagai pendalilan: betapa eratnya anak di hati orang tua. Kecintaan yang begitu dalam inilah yang bila tidak dikendalikan oleh syariat, bisa membuat seseorang enggan bersedekah karena selalu merasa uangnya harus disimpan untuk anak-anaknya, atau enggan berjihad karena takut anak-anaknya terlantar.
Rasulullah ï·º sendiri pun menunjukkan betapa besar kecintaan beliau kepada Hasan dan Husain — cucunya yang beliau sebut sebagai raihanah, bunga yang wangi harum. Beliau pernah memanjangkan sujudnya karena Hasan atau Husain sedang bermain menunggangi punggungnya. Beliau tidak segera bangkit sampai sang cucu puas. Bahkan pernah beliau hentikan khutbah Jumat demi memungut cucunya yang tersandung.
Namun para sahabat — Abu Bakar, Umar, para mujahidin — mereka tetap bisa bersedekah, berjihad, dan berkorban meskipun hati mereka dipenuhi cinta kepada anak-anaknya. Sebabnya satu: mereka menegakkan syariat di atas perasaan. Mereka tahu bahwa jika mereka bersedekah dan berjuang di jalan Allah, maka Allah-lah yang akan menjaga anak-anak mereka. Keyakinan itulah yang menjadikan cinta kepada anak bukan penghalang, melainkan pendorong untuk semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah dan amal.
Kesimpulan
Kajian sesi ini mengajarkan kita bahwa Islam menempatkan perempuan — baik saudari, putri, maupun janda — dalam posisi yang sangat mulia. Mengayomi mereka adalah ibadah. Memperhatikan mereka adalah sedekah. Bersabar dalam mendidik dan merawat mereka adalah tiket surga yang nyata.
Di sisi lain, cinta kepada anak adalah fitrah yang indah — tetapi fitrah yang bila tidak diarahkan oleh syariat, bisa menjadikan seseorang kikir dan pengecut. Maka kuncinya adalah menegakkan syariat di atas perasaan: cintai anak-anak kita, namun jangan biarkan cinta itu menghalangi kita dari sedekah dan perjuangan di jalan Allah ï·».
Semoga Allah ï·» menjadikan kita sebagai orang tua dan saudara yang benar-benar hadir bagi perempuan-perempuan dalam kehidupan kita, dan menjadikan setiap pengorbanan kita untuk mereka sebagai sebab masuk surga-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Kitab Al-Adab Al-Mufrad #19 – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
0 Komentar