AM 20. Anak adalah Penyejuk Hati: Kasih Sayang, Doa, dan Rahmat yang Berbuah Surga

Seri Al-Adab Al-Mufrad – Sesi 20 Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.


Ada pemandangan yang sangat indah tergambar dalam hadis pembuka sesi ini: Rasulullah ï·º menggendong Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhu di atas pundaknya, lalu berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia." Dalam satu gerakan sederhana — menggendong cucu di pundak — dan satu kalimat doa yang tulus, Rasulullah ï·º mengajarkan kepada kita tentang hakikat kasih sayang orang tua dan cara terbaik mengekspresikannya: dengan mendekatkan sang anak kepada Allah.

Sesi ini merangkai empat pembahasan yang semuanya bermuara pada satu tema besar: anak adalah penyejuk hati, dan kasih sayang kepada mereka — bila dilandasi niat yang benar — adalah jalan menuju rahmat Allah ï·».


Al-Hasan bin Ali: Cucu yang Dicintai Nabi dan Allah

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma adalah cucu Rasulullah ï·º yang mendapat keistimewaan luar biasa. Nabi ï·º tidak hanya mencintainya dalam hati, tetapi juga mengungkapkannya langsung kepada Allah dalam sebuah doa. Ketika seseorang yang dicintai Rasulullah ï·º kemudian didoakan agar dicintai Allah, maka kedudukan orang itu di sisi Allah sungguh sangat mulia.

Kemuliaan Al-Hasan bukan hanya terletak pada nasabnya sebagai cucu Nabi ï·º, tetapi juga pada keluhuran sikapnya di penghujung hidupnya. Ketika Ali radhiyallahu 'anhu terbunuh oleh kaum Khawarij, Al-Hasan mewarisi kepemimpinan dengan puluhan ribu pasukan di belakangnya. Di sisi lain, Muawiyah radhiyallahu 'anhu juga memimpin kekuatan yang setara. Daripada membiarkan pertumpahan darah di antara kaum mukminin, Al-Hasan memilih untuk melepaskan kepemimpinan dan menyerahkannya kepada Muawiyah. Tahun itu dikenal dalam sejarah sebagai 'Amul Jama'ah — tahun persatuan umat Islam.

Pengorbanan itu bukan tanda kelemahan; itu adalah puncak kebesaran jiwa. Para ulama menyebutkan bahwa kemuliaan sikap Al-Hasan ini kelak akan "dibalas" kepada keturunannya — bahwa Al-Imam Al-Mahdi yang akan muncul di akhir zaman adalah dari keturunan Al-Hasan, sebagai orang yang akan memimpin setelah kakeknya dahulu rela melepaskan kepemimpinan karena Allah.

Al-Hasan wafat karena diracun. Ia mengetahui siapa yang meracuninya, namun tidak mau memberitahukan kepada siapapun — termasuk adiknya Al-Husain yang mendesak untuk tahu — karena khawatir hal itu akan memicu pertumpahan darah baru. Ia pergi dalam diam, sebagaimana ia hidup dalam kemuliaan.


Jangan Berangan-angan Hidup di Zaman Nabi

Imam Bukhari kemudian membawakan hadis tentang Al-Miqdad bin Aswad radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia yang pernah ikut dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah ï·º. Suatu hari, seorang tabi'i yang duduk bersamanya berkata dengan nada kagum: "Sungguh beruntung kedua matamu yang telah melihat Rasulullah ï·º! Kami berangan-angan seandainya bisa melihat beliau dan ikut berjihad bersamanya."

Alih-alih menjawab dengan senyum dan rasa bangga, Al-Miqdad justru marah. Ia lalu menjelaskan: "Mengapa engkau berangan-angan tentang sesuatu yang Allah tidak takdirkan untukmu? Sementara kau tidak tahu bagaimana kondisimu seandainya memang kau hadir di sana."

Ini adalah teguran yang dalam. Banyak orang yang melihat Rasulullah ï·º secara langsung justru berakhir dalam neraka: Abu Jahal, Abu Lahab, orang-orang Yahudi di Madinah yang bertetangga dengan Nabi ï·º, bahkan kaum munafik yang shalat di belakang Nabi ï·º, mendengar ceramah-ceramah beliau, dan menyaksikan turunnya wahyu — namun hati mereka tetap tertutup.

Al-Miqdad kemudian menggambarkan betapa beratnya hidup di zaman itu. Beriman kepada Nabi ï·º pada masa awal Islam berarti siap dimusuhi oleh ayah, anak, dan saudara sendiri. Bilal disiksa, keluarga Yasir dibunuh, kaum muslimin diusir dari kampung halaman mereka. Di Perang Ahzab, sepuluh ribu pasukan gabungan mengepung Madinah yang hanya dipertahankan sekitar dua ribu orang. Ketika Rasulullah ï·º bertanya siapa yang mau menyusup ke kamp musuh di tengah malam yang dingin mencekam — dengan imbalan bersama beliau di hari kiamat — tidak satu pun sahabat yang angkat tangan. Al-Miqdad sendiri akhirnya pergi hanya karena dipanggil namanya secara langsung oleh Rasulullah ï·º — bukan karena sukarela.

Maka jangan mudah berkata: "Seandainya saya hidup di zaman Nabi, saya pasti akan menjadi pembela beliau." Belum tentu. Kondisi yang tampak heroik dari kejauhan sangat mungkin jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Sebaliknya, bersyukurlah karena kita terlahir dalam Islam, tidak perlu melewati ujian keimanan yang begitu berat seperti yang dihadapi para sahabat. Kita hanya perlu menjaga dan mengamalkan apa yang telah sampai kepada kita.

Yang menjadi relevansi hadis ini dalam bab tentang anak adalah ungkapan yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an sebagai doa orang-orang beriman:

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami." (QS. Al-Furqan: 74)

Al-Miqdad menyebutkan bahwa salah satu kepedihan terberat yang dihadapi para sahabat adalah menyaksikan orang-orang yang mereka cintai — ayah, anak, saudara — tetap kafir dan mereka tahu orang-orang itu akan masuk neraka. Tidak ada ketenangan bagi seseorang yang tahu bahwa orang yang paling ia cintai akan celaka di akhirat. Maka anak yang shalih adalah penyejuk hati yang sesungguhnya. Dan anak yang durhaka atau kafir adalah ujian yang tidak kalah beratnya dari ujian fisik.


Doa Nabi untuk Anas: Harta, Anak, dan Keberkahan

Imam Bukhari membuka bab berikutnya tentang bolehnya mendoakan kawan agar diperbanyak harta dan anaknya — tentu disertai keberkahan. Dalilnya adalah doa Rasulullah ï·º untuk Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu saat singgah di rumahnya dan mengimami shalat bersama Anas dan ibunya.

Di akhir doanya, Rasulullah ï·º bersabda: "Ya Allah, perbanyaklah hartanya, perbanyaklah anaknya, dan berkahilah semua yang Engkau berikan kepadanya."

Doa itu dikabulkan secara luar biasa. Anas menjadi sahabat Anshar yang paling banyak hartanya. Kebun kurma miliknya berbuah dua kali dalam setahun, sementara milik orang lain hanya sekali. Dan ia dikuruniai anak yang sangat banyak — dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ia sempat menguburkan lebih dari seratus anak dan cucunya sendiri, karena umurnya yang panjang dan dikaruniai keturunan yang berlimpah.

Dari sini Imam Bukhari mengambil pelajaran: mendoakan kawan agar diberi banyak harta dan anak adalah sunnah, selama disertai doa keberkahan. Karena harta yang banyak tanpa berkah bisa menjadi bencana, dan anak yang banyak tanpa berkah bisa menjadi beban. Yang paling penting bukan kuantitasnya, melainkan keberkahannya.


Ibu: Rahmat yang Mengalahkan Segala Kekhawatiran

Bab terakhir yang dibahas Imam Bukhari dalam sesi ini adalah tentang kasih sayang para ibu kepada anak-anaknya. Dikisahkan bahwa suatu hari seorang wanita miskin datang kepada Aisyah radhiyallahu 'anha bersama dua putri kecilnya meminta makanan. Aisyah mencari-cari apa yang ada di rumahnya — dan hanya menemukan tiga butir kurma. Ia berikan semuanya.

Sang ibu memberikan masing-masing satu butir kepada kedua putrinya. Ketika kurma itu habis dan anak-anaknya masih menatap dengan mata meminta, sang ibu membelah satu-satunya kurma yang tersisa untuk dirinya — lalu memberikan separuh kepada satu anak dan separuh lagi kepada yang lain. Ia sendiri tidak makan sama sekali.

Ketika Rasulullah ï·º datang dan Aisyah menceritakan kejadian itu, beliau bersabda: "Allah merahmatinya karena ia telah merahmati kedua putrinya." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa wanita itu dijamin masuk surga karena perbuatannya tersebut.

Kisah ini adalah gambaran paling nyata dari prinsip yang Rasulullah ï·º ajarkan: "Rahmatilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan merahmatimu." Seorang ibu yang merahmati anaknya — bahkan dalam kondisi paling lapar sekalipun — sedang mengundang rahmat Allah ï·» untuk dirinya sendiri.

Imam Bukhari ingin menegaskan: kasih sayang ibu kepada anaknya memang fitrah. Namun ketika fitrah itu diniatkan karena Allah, ia berubah menjadi ibadah dan sebab turunnya rahmat. Maka jangan anggap remeh momen-momen kecil bersama anak — menyuapi mereka, menemani mereka bermain, menelepon mereka ketika jauh, mendengar cerita mereka di penghujung hari. Semua itu, bila diniatkan karena Allah dan sebagai wujud tanggung jawab terhadap amanah-Nya, adalah ladang pahala yang tidak kita sadari.


Kesimpulan

Empat pembahasan dalam sesi ini berbicara tentang satu hal yang sama: anak adalah amanah sekaligus anugerah yang bila dijaga dengan benar, akan menjadi penyejuk hati di dunia dan syafaat di akhirat. Rasulullah ï·º yang menggendong cucunya sambil berdoa kepada Allah mengajarkan kita cara terbaik mencintai anak — bukan hanya dengan materi dan perhatian, tetapi dengan doa yang tulus dan harapan agar mereka dicintai oleh Allah.

Maka luangkan waktu untuk bersama anak-anak kita. Doakan mereka di setiap sujud. Tunjukkan kasih sayang secara nyata. Dan ingatlah: semakin besar rahmat kita kepada mereka, semakin besar pula rahmat Allah yang akan turun kepada kita.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kitab Al-Adab Al-Mufrad #20 – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.



Posting Komentar

0 Komentar