AM 21. Ciuman Orang Tua: Sunnah Kecil yang Membangun Peradaban Keluarga

Seri Al-Adab Al-Mufrad – Sesi 21 Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.


Bayangkan seorang ayah dari kalangan Arab Badui yang datang menemui Rasulullah ï·º dengan penuh keyakinan — lalu berkata bahwa ia tidak pernah sekalipun mencium anak-anaknya. Baginya, itu adalah sikap yang wajar, bahkan mungkin dianggap sebagai ketegasan seorang ayah. Namun Rasulullah ï·º menjawab dengan pernyataan yang menohok: "Apakah aku mampu mencegah jika Allah mencabut rahmat dari hatimu?"

Satu bab dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad ini membahas sesuatu yang tampak sederhana — mencium anak-anak — namun ternyata menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Ia bukan sekadar ekspresi kasih sayang biasa, melainkan tanda selamat atau tidaknya rahmat dalam hati seorang manusia.


Mencium Anak: Bukan Kelemahan, Tapi Rahmat

Ada persepsi yang keliru dan telah lama mengendap di sebagian budaya — bahwa mendidik anak harus dengan ketegasan, bahkan kekasaran. Mencium anak dianggap melemahkan wibawa, seolah-olah kelembutan adalah lawan dari kewibawaan. Maka ada ayah-ayah yang merasa tidak perlu memeluk atau mencium anak-anaknya, karena baginya itu bukan gaya seorang lelaki sejati.

Rasulullah ï·º hadir membongkar persepsi itu dari akarnya. Ketika orang Arab Badui tadi menyatakan bahwa ia tidak pernah mencium anak-anaknya, beliau tidak menghukumnya — namun memberikan peringatan yang jauh lebih berat: bisa jadi Allah telah mencabut rahmat dari hatinya, dan tidak ada seorang pun, bahkan Rasulullah ï·º sendiri, yang mampu mengembalikannya.

Ini bukan ancaman yang dibuat-buat. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang hidup bersama Rasulullah ï·º sebagai pelayan bersaksi: "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih penuh kasih sayang kepada anak-anak melebihi Rasulullah ï·º." Beliau adalah manusia dengan derajat tertinggi, pemimpin para nabi — dan beliau mencium cucu-cucunya, menggendong mereka, bahkan memanjangkan sujudnya agar Al-Hasan atau Al-Husain yang sedang bermain di punggungnya tidak terganggu.

Mencium anak bukan tanda kelemahan. Itu adalah tanda bahwa rahmat masih hidup dalam hati seorang orang tua.


Dampak Nyata Sebuah Ciuman

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kebiasaan mencium anak memiliki dampak yang jauh melampaui momen itu sendiri. Ketika seorang anak merasakan bahwa orang tuanya menyayanginya secara nyata — bukan hanya dengan materi, tetapi dengan sentuhan, pelukan, dan ciuman — maka tumbuh dalam dirinya ikatan batin yang kokoh. Ia tidak perlu mencari perhatian di luar rumah. Ia tidak mudah tergoda oleh lingkungan yang buruk, karena kebutuhannya akan kasih sayang telah terpenuhi di rumah.

Lebih jauh, anak yang merasakan kasih sayang orang tuanya akan memiliki rem alami dari dalam dirinya sendiri. Ketika ada ajakan kepada kenakalan, ada suara kecil dalam hatinya yang berkata: "Nanti orang tuaku sedih." Bukan karena takut hukuman, melainkan karena ia tidak ingin melukai orang yang ia cintai dan yang mencintainya. Inilah fondasi pendidikan karakter yang sesungguhnya — bukan peraturan, melainkan hubungan.

Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa ekspresi kasih sayang dari orang tuanya — tidak pernah dipeluk, tidak pernah dicium, tidak pernah mendengar kata-kata lembut — rentan menyimpan kerenggangan dalam hatinya. Kerenggangan itu bisa muncul sebagai pemberontakan, kedurhakaan, atau sekadar ketidakpedulian terhadap orang tua di masa tua mereka.

Budaya mencium anak ini perlu dijaga bahkan ketika anak sudah besar. Remaja SMP, SMA, bahkan dewasa — ketika pulang dari perjalanan, ketika hendak bepergian, momen-momen itu adalah kesempatan untuk memperbarui ikatan. Ciuman anak kepada orang tua adalah bakti. Ciuman orang tua kepada anak adalah kasih sayang. Keduanya berpahala.


Adil dalam Mencium: Pelajaran yang Lebih Dalam

Rasulullah ï·º bahkan tidak membiarkan soal mencium anak menjadi urusan sepele yang boleh dilakukan sembarangan. Dalam satu riwayat, beliau menyaksikan seorang ayah yang mencium anak laki-lakinya dan memangkunya, lalu ketika anak perempuannya datang, ia hanya memangkunya tanpa mencium. Rasulullah ï·º langsung menegur: "Tidakkah engkau berlaku adil di antara keduanya?"

Ini bukan soal sentimentil. Ini adalah pengajaran tentang keadilan yang dimulai dari hal paling kecil. Anak-anak, bahkan yang masih sangat kecil, merekam setiap perbedaan perlakuan. Kecemburuan tumbuh diam-diam, kadang tidak diungkapkan, namun mengendap dan bisa meledak bertahun-tahun kemudian. Pertikaian antar saudara yang bermula dari rasa "orang tua lebih sayang yang itu daripada aku" adalah luka yang sering kali berasal dari perbedaan-perbedaan kecil di masa kanak-kanak yang tidak disadari orang tua.

Prinsip keadilan ini berlaku lebih jauh dalam pemberian hadiah. Rasulullah ï·º menolak menjadi saksi ketika seorang sahabat bernama Basyir datang ingin memberikan hadiah istimewa kepada putranya Nu'man — sementara anak-anaknya yang lain tidak mendapat hal yang sama. Beliau bersabda: "Aku tidak mau menjadi saksi atas kezaliman." Lalu beliau bertanya: "Bukankah engkau suka jika semua anak-anakmu sama dalam berbakti kepadamu?" Ketika Basyir menjawab ya, Rasulullah ï·º menegaskan: "Kalau begitu, janganlah engkau beda-bedakan mereka."

Keadilan dalam mendidik anak adalah hak mereka, bukan kemurahan hati orang tua. Dan ketidakadilan — sekecil apapun — bisa menjadi benih permusuhan yang tumbuh perlahan namun pasti.

Para ulama hanya mengecualikan satu kondisi: bila seorang anak memiliki kebutuhan khusus yang mengharuskan perhatian lebih — sakit, kondisi ekonomi yang jauh berbeda, atau situasi tertentu lainnya — maka orang tua boleh memberikan lebih kepadanya. Namun idealnya, kondisi ini dijelaskan kepada anak-anak yang lain, agar tidak menimbulkan salah paham. Transparansi adalah bagian dari keadilan.


Orang Tua Berbuat Baik kepada Anak: Kewajiban Dua Arah

Imam Bukhari kemudian membuka bab yang sangat penting: orang tua pun wajib berbuat baik kepada anak-anaknya. Sering kali kita hanya membicarakan kewajiban anak kepada orang tua, seolah-olah arus tanggung jawab hanya berjalan satu arah. Padahal Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menafsirkan mengapa orang-orang yang berbuat kebajikan (al-abrar) disebut demikian oleh Allah: "Karena mereka berbuat baik kepada orang tua dan juga kepada anak-anak mereka. Sebagaimana orang tuamu punya hak atasmu, demikian pula anakmu punya hak atasmu."

Ini bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik — memberi makan, menyekolahkan, menyediakan tempat tinggal. Kebutuhan rohani anak pun adalah tanggung jawab orang tua. Memperhatikan perubahan akhlak anak, meluangkan waktu untuk berdialog, mendengarkan curhat mereka, menegur dengan lembut ketika ada yang menyimpang, mendoakan mereka setiap malam — semua ini adalah bagian dari menunaikan hak anak.

Allah ï·» berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Dan perintah untuk memerintahkan keluarga mendirikan shalat disertai dengan perintah bersabar — karena mendidik anak memang pekerjaan panjang yang membutuhkan kesabaran berlapis-lapis. Orang tua yang mengatakan "saya sudah berusaha tapi anak saya tetap nakal" perlu bertanya: sudahkah usaha itu disertai kesabaran? Sudahkah ia ditemani doa yang tulus di sepertiga malam?

Pada akhirnya, kesalehan seorang anak adalah hak prerogatif Allah ï·». Nabi Muhammad ï·º sendiri tidak mampu memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib yang sangat beliau cintai. Yang ada di tangan kita adalah ikhtiar dan doa — bukan hasil. Namun ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh adalah pertanggungjawaban yang akan ditanya Allah kepada setiap orang tua di hari kiamat.


Rahmat yang Mengundang Rahmat

Bab ini ditutup Imam Bukhari dengan prinsip agung yang menjadi ruh dari seluruh pembahasan: siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Rasulullah ï·º bersabda: "Rahmatilah yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan merahmatimu."

Kasih sayang kepada anak, kepada keluarga, kepada pembantu, bahkan kepada hewan — semua itu bukan sekadar kebaikan sosial biasa. Itu adalah jalan untuk mengundang rahmat Allah. Semakin besar kasih sayang yang kita curahkan kepada makhluk-makhluk di sekitar kita, semakin besar pula pintu rahmat Allah yang terbuka untuk kita.

Rasulullah ï·º adalah rahmatan lil 'alamin — rahmat bagi seluruh alam semesta (QS. Al-Anbiya: 107). Dan syariat yang beliau bawa adalah syariat yang membangun rahmat di setiap lapisan kehidupan: antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara majikan dan pembantu, bahkan antara manusia dan hewan. Ketika kita mencium anak-anak kita, kita sedang mengamalkan sedikit dari rahmat yang Rasulullah ï·º ajarkan. Dan rahmat itu — insya Allah — akan kembali kepada kita berlipat ganda dari sisi Allah ï·».


Kesimpulan

Sebuah ciuman kepada anak bukan hal kecil. Ia adalah tanda rahmat yang masih hidup dalam hati, fondasi ikatan batin yang kokoh, dan salah satu cara orang tua menunaikan kewajibannya. Imam Bukhari memilih untuk menempatkan bab ini dalam Al-Adab Al-Mufrad bukan tanpa alasan — karena adab bukan hanya tentang bagaimana kita bersikap kepada orang yang lebih tua, melainkan juga tentang bagaimana kita memanusiakan orang-orang yang lebih muda dan lebih kecil dari kita.

Maka sisihkan waktu hari ini — dan setiap hari — untuk mencium anak-anak kita. Tunjukkan kasih sayang secara nyata, bukan hanya lewat materi. Berlaku adillah di antara mereka. Dan doakan mereka dengan sepenuh hati, karena doa orang tua adalah salah satu dari tiga doa yang tidak akan tertolak.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.


Sumber: Kitab Al-Adab Al-Mufrad #21 – Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.



Posting Komentar

0 Komentar