Mengapa Setiap Muslim Harus Menyambut Muharram dengan Serius


Setiap kali pergantian tahun tiba, jutaan orang di seluruh dunia larut dalam refleksi: menoleh ke belakang, menyesali kemalasan, memetakan kekurangan diri, dan menyusun resolusi baru. Namun bagi seorang Muslim, ada momen yang jauh lebih bermakna daripada sekadar malam pergantian 31 Desember — yaitu tibanya bulan Muharram, awal dari tahun Hijriah.

Muharram bukan sekadar penanda kalender. Ia adalah pengingat akan sebuah peristiwa yang mengubah sejarah umat manusia: Hijrah — perpindahan Rasulullah ï·º dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Sebuah perjalanan penuh bahaya, pengorbanan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Dan dalam perjalanan itulah tersimpan pelajaran-pelajaran yang sangat relevan bagi kita hari ini.

Pertanyaannya adalah: sudahkah kita sungguh-sungguh mengambil momen Muharram ini sebagai kesempatan muhasabah dan perubahan nyata?


Satu Setengah Jam yang Bisa Mengubah Satu Tahun

Hisham Abu Yusuf mengajak setiap Muslim untuk melakukan sesuatu yang sederhana namun sangat bermakna: luangkan setengah jam untuk berefleksi sebelum Muharram datang. Bukan sekadar membuat daftar resolusi, tapi duduk dengan diri sendiri secara jujur.

Tanyakan kepada diri sendiri: Di mana kelemahan saya? Di mana saya telah lalai? Apa yang bisa saya perbaiki dalam setahun ke depan — dalam ibadah pribadi saya, dalam pelayanan kepada keluarga, dalam kepedulian kepada yang membutuhkan, dalam kontribusi kepada institusi-institusi Islam?

Bagi kita sebagai Muslim, kalender Hijriah bukan sekadar sistem penanggalan. Ia adalah kalender yang berdetak seiring kehidupan Rasulullah ï·º. Dan ketika kita menyelaraskan hati kita dengan kalender ini, kita tidak hanya mencatat waktu — kita menghidupkan kembali semangat zaman yang melahirkan peradaban Islam.


Gua Tsur: Ketika Seluruh Sejarah Islam Bergantung pada Satu Momen

Di tengah perjalanan Hijrah, terjadi sebuah peristiwa yang rasanya mustahil untuk dilupakan siapa pun yang mengetahuinya.

Rasulullah ï·º dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bersembunyi di dalam Gua Tsur — sebuah gua kecil di antara Makkah dan Madinah — selama beberapa hari. Sementara itu, rombongan pencari bayaran dari Quraisy mengikuti jejak langkah kaki mereka. Semakin dekat. Semakin dekat. Hingga akhirnya mereka naik ke mulut gua.

Dalam detik-detik yang mencekam itu, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berbisik dengan penuh kekhawatiran: "Wahai Rasulullah, jika salah satu dari mereka menunduk dan melihat ke bawah, kita tamat."

Di sinilah Rasulullah ï·º mengucapkan kalimat yang kemudian dikenang sepanjang masa:

"Ya Aba Bakr, laa tahzan. Innallaha ma'ana." "Wahai Abu Bakar, jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita."

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabadikan momen ini dalam Al-Qur'an:

"…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada temannya, 'Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'" (QS. At-Taubah: 40)

Dalam kondisi tanpa pasukan, tanpa senjata, tanpa bantuan yang terlihat — Allah mengirimkan tentara-tentara tak kasat mata. Seekor laba-laba yang merajut sarangnya di mulut gua. Sepasang merpati yang bersarang di sana seolah tak ada yang baru masuk. Dan para pencari itu pun berlalu tanpa menunduk.

Pesan dari momen ini sangat jelas: ketika kamu melangkah di jalan Allah, jangan pernah menyangka Allah akan meninggalkanmu. Ia memiliki cara-cara melindungi hamba-Nya yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun.


Dua Golongan Manusia: Yang Bangkit dan Yang Berdiam

Hisham Abu Yusuf menyampaikan sebuah pembagian yang sangat menohok. Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam konteks Hijrah, membagi manusia hanya menjadi dua golongan — tidak ada yang ketiga.

Pertama, mereka yang bangkit untuk bergerak demi Allah — membangun institusi, menolong sesama, mendirikan masjid, sekolah, dan program-program yang memberi manfaat kepada umat. Mereka yang rela mengorbankan kenyamanan demi tujuan yang lebih besar.

Kedua, mereka yang memilih untuk tetap diam — yang terlalu nyaman dengan kehidupan mereka, terlalu lekat dengan zona aman, terlalu enggan untuk berkorban.

Faktanya, banyak sahabat Nabi ï·º yang pada awalnya enggan berhijrah. Bukan karena tidak beriman — tetapi karena mereka terlalu nyaman. Mereka sudah punya rumah, punya komunitas, punya posisi sosial di Makkah. Meninggalkan semua itu untuk tanah yang asing terasa tidak masuk akal.

Namun Allah tegur mereka dengan keras:

"Mengapa kamu (wahai orang-orang yang beriman) tidak mau berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah…?" (QS. An-Nisa': 75)

Pesan ini juga berbicara kepada kita hari ini. Di tengah ketidakpastian ekonomi, konflik global, dan berbagai kekhawatiran tentang masa depan — banyak dari kita yang masuk ke dalam mode bertahan hidup: bekerja, pulang, tidur, bekerja, pulang, tidur. Hidup seperti robot tanpa tujuan yang lebih besar.

Muharram adalah undangan untuk keluar dari mode itu.


Tiba di Madinah: Tiga Fondasi Peradaban yang Dibangun Nabi ï·º

Ketika Rasulullah ï·º akhirnya tiba di Madinah setelah perjalanan panjang dan penuh bahaya, hal pertama yang beliau lakukan bukanlah membangun rumah untuk dirinya sendiri.

Pertama, beliau membangun masjid — pusat spiritual, sosial, dan intelektual komunitas Muslim. Masjid bukan hanya tempat shalat; ia adalah jantung peradaban.

Kedua, beliau membangun persaudaraan (ukhuwwah) antara kaum Muhajirin (para pendatang dari Makkah) dan kaum Anshar (penduduk Madinah). Setiap pendatang dipasangkan dengan seorang saudara dari Madinah yang siap berbagi — harta, rumah, bahkan kehidupan. "Jadilah satu tubuh yang saling menopang," begitu spirit yang beliau tanamkan.

Ketiga, beliau menyusun Piagam Madinah — konstitusi pertama dalam sejarah umat manusia yang mengatur kehidupan bersama lintas agama: Muslim, Yahudi, Nasrani, dan kaum pagan Madinah. Sebuah dokumen yang menegaskan bahwa Islam hadir untuk membangun peradaban yang inklusif, adil, dan bermartabat.

Di atas tiga fondasi itu, Rasulullah ï·º juga mendirikan pasar — agar kaum Muslim bisa berdagang dengan adab dan prinsip yang benar. Peradaban Islam dibangun bukan hanya dengan doa, tapi juga dengan kerja nyata, institusi yang kokoh, dan tata kelola yang baik.


Satu Orang Pun Bisa Mengubah Segalanya

Sebelum Hijrah, Rasulullah ï·º bertemu dengan para pemimpin Yatsrib (Madinah) di musim haji. Beliau berkata kepada mereka: "Saya akan mengutus satu orang untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Madinah."

Hanya satu orang.

Dan orang itu adalah Mush'ab ibn Umayr radhiyallahu 'anhu — seorang pemuda dari keluarga bangsawan Quraisy yang meninggalkan kemewahan hidupnya demi Islam. Dalam waktu satu tahun, hampir seluruh penduduk Madinah menyatakan keislamannya. Satu orang. Satu tahun. Satu kota terubah seluruhnya.

Hisham Abu Yusuf menyampaikan pesan yang sangat keras di sini: jangan pernah berpikir bahwa "sudah ada orang lain yang akan melakukannya." Itulah racun paling berbahaya yang menggerogoti potensi umat Islam dari dalam.

"Nanti ada orang lain yang akan bangun masjidnya." "Nanti ada orang lain yang akan urus sekolah Islamnya." "Nanti ada orang lain yang akan luruskan citra Muslim di mata publik."

Pemikiran inilah — someone else will do it — yang membuat umat diam sementara dunia terus bergerak.


Panggilan untuk Bergerak

Di ujung ceramahnya, Hisham Abu Yusuf menyampaikan ajakan yang langsung menghunjam hati:

Siapa di antara kita yang siap menjadi bagian dari gerakan membangun institusi-institusi Islam yang akan membuat Islam terus bersinar?

Program pemuda. Pusat kesehatan mental berbasis nilai Islam. Sekolah Islam yang berkualitas. Aplikasi digital yang bermanfaat. Lembaga sosial yang melayani.

Allah tidak membutuhkan jumlah yang banyak. Ia membutuhkan orang-orang yang mau mengangkat lengan baju dan bekerja. Dalam ayat-Nya, Allah menegaskan:

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah." (QS. At-Taubah: 41)

Tidak penting apakah kamu merasa memiliki banyak kemampuan atau sedikit. Yang penting: langkah pertama diambil, niat diluruskan, dan kepercayaan diserahkan kepada Allah.


Kesimpulan

Muharram bukan sekadar pergantian angka di kalender Hijriah. Ia adalah momen sakral yang menyimpan pelajaran paling dahsyat dalam sejarah Islam — tentang keberanian untuk berpindah, tentang keyakinan bahwa Allah selalu bersama orang yang berjalan di jalan-Nya, dan tentang tanggung jawab untuk membangun, bukan hanya bertahan.

Dari gua yang gelap di antara Makkah dan Madinah, dari bisikan Rasulullah ï·º kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu — "Jangan bersedih, Allah bersama kita" — mengalir sebuah warisan yang tak ternilai: bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari keyakinan kecil yang kokoh, dan dari segelintir orang yang berani bergerak.

Pertanyaannya kini kembali kepada kita: apakah kita mau menjadi bagian dari orang-orang yang bergerak itu?

Muharram adalah waktunya untuk menjawab.


Artikel ini disarikan dari ceramah Hisham Abu Yusuf berjudul "Why Every Muslim Needs To Take Muharram Seriously". Tonton video selengkapnya di: https://youtu.be/ncVK0G6eMZ4



Posting Komentar

0 Komentar