Maafkan Pembantu Tujuh Puluh Kali Sehari
Imam Bukhari membuka bab ke-85 dengan judul yang sangat mengena: bab memaafkan pembantu. Ini bukan bab tentang budak semata, melainkan secara tidak langsung mencakup semua orang yang berada di bawah perintah kita — asisten rumah tangga, sopir, satpam, dan pegawai.
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah ï·º: "Berapa banyak kami harus memaafkan pembantu?" Nabi ï·º diam. Ia bertanya lagi — diam. Ia ulangi untuk ketiga kalinya, barulah Nabi ï·º menjawab: "Maafkan pembantumu setiap hari tujuh puluh kali."
Tujuh puluh kali dalam sehari. Bilangan yang luar biasa ini bukan sekadar angka — ia adalah gambaran betapa besar kadar pemaafan yang dituntut dari seorang majikan yang baik. Pembantu, sebagaimana manusia pada umumnya, pasti melakukan kesalahan. Sebagian di antara mereka memang memiliki keterbatasan dalam kemampuan berpikir, sehingga wajar jika mereka tidak selalu dapat memahami atau menjalankan perintah dengan sempurna. Mengetahui hal ini seharusnya memudahkan kita untuk memaafkan.
Ustadz Firanda menceritakan sebuah kisah nyata tentang pembantu yang diminta mengantar susu ke rumah nenek, namun di tengah jalan bertemu tetangga yang memintanya — dan ia pun memberikan susu itu begitu saja tanpa pikir panjang. Tidak ada niat buruk, tidak ada tipu daya — ia hanya tidak mampu mempertimbangkan akibat dari keputusannya. Inilah gambaran pembantu yang punya keterbatasan. Menghadapi kondisi seperti ini, memaafkan adalah pilihan yang paling bijak dan paling berpahala.
Rasulullah ï·º: Sepuluh Tahun Tanpa Sekalipun Mengomel
Hadis yang paling membekas dalam pembahasan ini adalah kisah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang menjadi pembantu Nabi ï·º selama kurang lebih sepuluh tahun. Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu, ayah tirinya, membawa Anas yang masih remaja ke hadapan Nabi ï·º dan berkata: "Wahai Nabi, Anas ini anak yang cerdas. Jadikanlah ia pembantumu."
Anas pun melayani Nabi ï·º dalam perjalanan maupun di Madinah. Dan selama sepuluh tahun itu, Anas bersaksi: "Rasulullah ï·º tidak pernah sekalipun mengomentari apa yang aku lakukan atau tidak lakukan." Tidak pernah bertanya, "Kenapa kau lakukan ini?" Tidak pernah berkata, "Sebaiknya kau melakukan begini."
Ini adalah mukjizat akhlak. Sebagaimana Rasulullah ï·º sepanjang hidupnya tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya, tidak pernah merendahkan orang yang ada di dekatnya, dan selalu hidup dalam kezuhudan yang tulus — semua itu adalah keajaiban yang tidak mungkin ada pada selain seorang Nabi. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri memuji akhlak beliau:
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Lihatlah pula bagaimana Ummu Sulaim dan Abu Thalhah berpikir tentang masa depan Anas: mereka tidak sekadar menyekolahkan atau membekali anaknya dengan keterampilan duniawi, tetapi mengorientasikan hidupnya untuk dekat dengan Nabi ï·º. Hasilnya, Anas menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, dan Nabi ï·º mendoakan keberkahan untuknya — yang terbukti dengan banyaknya harta dan keturunan yang Allah karuniakan padanya.
Berbuat Baik kepada Budak: Puncaknya adalah Memerdekakan
Hadis lain yang dibawakan Imam Bukhari mengisahkan Nabi ï·º yang membawa dua budak remaja. Salah satunya dihadiahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan pesan: "Jangan kau pukul dia, karena aku dilarang memukul orang yang salat. Dan sejak kami datang, aku melihat dia selalu mendirikan salat."
Ini adalah pelajaran yang dalam. Orang yang mendirikan salat memiliki kemuliaan di sisi Allah, dan itu harus dihormati oleh siapa pun yang berinteraksi dengannya — termasuk majikannya. Salat bukan sekadar ritual; ia adalah tanda bahwa seseorang tunduk kepada Allah, dan kemuliaan itu tidak boleh diinjak oleh siapa pun.
Budak satunya dihadiahkan kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu dengan wasiat: "Berbuat baiklah kepadanya." Abu Dzar merespons wasiat Nabi ï·º dengan cara yang terbaik — ia memerdekakan budak tersebut. Inilah karakter para sahabat: ketika diberi perintah berbuat baik, mereka tidak mencari yang minimal, melainkan yang terbaik yang bisa mereka lakukan.
Ada Saatnya Memaafkan, Ada Saatnya Memutus
Memaafkan pembantu adalah ibadah yang agung, namun Islam tidak mengajarkan kita untuk membiarkan mudarat terus berlangsung. Imam Bukhari membawakan hadis tentang budak yang mencuri — Nabi ï·º mengatakan: "Jual dia, meskipun dengan harga yang murah."
Pesannya jelas: ada kesalahan yang masih bisa ditoleransi dan dimaafkan, namun ada pula kesalahan yang menghasilkan mudarat besar dan berulang. Pembantu yang mencuri, yang menyebar aib keluarga kepada tetangga, atau yang mengadu domba antaranggota keluarga — ini adalah kondisi yang perlu penanganan tegas. Nasihat sekali, dua kali, tiga kali — jika tidak ada perubahan, maka lebih baik mengakhiri hubungan kerja itu daripada membiarkan mudarat terus berlanjut. Rasulullah ï·º bersabda: "Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh menimbulkan bahaya."
Wasiat kepada Tamu: Jangan Buat Tamu Merasa Tidak Nyaman
Di penghujung kajian, Ustadz Firanda menceritakan kisah ketika rombongan sahabat Laqith bin Shabrah radhiyallahu 'anhu tiba menemui Nabi ï·º. Kebetulan saat itu Nabi ï·º sedang menyembelih kambing karena jumlah ternak beliau sudah melebihi seratus ekor — kebiasaan beliau untuk tidak menyimpan lebih dari seratus kambing. Nabi ï·º dengan bijak menjelaskan kepada tamu: "Jangan kalian mengira kami menyembelih karena kedatangan kalian. Ini memang kebiasaan kami."
Pesan ini mengajarkan seni memuliakan tamu tanpa membuat mereka merasa tidak nyaman. Ketika menjamu tamu, jangan perlihatkan bahwa kita repot. Jangan buat tamu merasa bahwa kehadirannya menjadi beban. Sampaikan dengan halus bahwa ini memang sudah biasa dilakukan — dan biarkan tamu menikmati jamuan dengan lapang hati.
Kisah serupa datang dari sahabat yang tidak punya makanan kecuali untuk anak-anaknya sendiri, namun karena ingin menjamu tamu Nabi ï·º, ia dan istrinya memadamkan lampu sambil pura-pura makan, agar sang tamu bisa makan dengan nyaman tanpa merasa sungkan. Kemuliaan jiwa seperti inilah yang menghiasi kehidupan para sahabat.
Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan sesi ini, tersampaikan satu prinsip besar: kemuliaan seseorang bukan hanya tercermin dari ibadah ritualnya kepada Allah, tetapi juga dari cara ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya — terutama mereka yang berada di bawah kekuasaannya. Pembantu yang melayani kita setiap hari lebih berhak mendapatkan kebaikan kita daripada orang-orang jauh yang tidak kita kenal.
Maka jadikan setiap interaksi dengan pembantu, sopir, dan pegawai sebagai ladang pahala. Maafkan kesalahan mereka. Posisikan diri kita di tempat mereka. Dan ingatlah bahwa Nabi ï·º — yang paling mulia di antara seluruh manusia — selama sepuluh tahun tidak pernah sekalipun mengomel kepada pembantunya yang masih remaja.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar