Ada yang lebih berat dari sekadar dikritik — yaitu dikritik secara tidak adil, oleh orang yang tidak mengenal kita dengan sebenarnya, dengan cara yang tidak menghargai kita sama sekali. Dan ironisnya, tidak ada jaminan bahwa kebaikan yang kita lakukan akan menghindarkan kita dari pengalaman itu. Bahkan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu — sosok yang dikenal sebagai pemimpin paling adil, yang firasatnya begitu tajam hingga Nabi ﷺ bersabda bahwa seandainya ada nabi setelah beliau, itu adalah Umar — pun pernah menghadapinya.
Kisah yang disampaikan oleh Imam Nawawi rahimahullahu ta'ala dalam bab kesabaran ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin bagi kita semua — tentang bagaimana orang-orang terbaik merespons keburukan, dan apa yang membuat mereka tetap tegak di atas kemuliaan akhlak mereka.
Majelis Umar: Ilmu dan Amal Berjalan Berdampingan
Kisah ini bermula dari kebiasaan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dalam membangun lingkaran terdekatnya. Di sekitar Amirul Mukminin ini, duduk para qurra' — mereka yang tidak hanya fasih membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga memiliki ilmu yang dalam dan ibadah yang kuat. Tidak ada batasan usia: yang tua dan yang muda diperlakukan setara, selama mereka memenuhi dua syarat itu — berilmu dan rajin beramal.
Di antara mereka adalah Al-Hurr bin Qays radhiyallahu 'anhu, keponakan dari seorang bernama Uyainah bin Hishn. Suatu hari Uyainah meminta keponakannya untuk memintakan waktu pertemuan dengan Umar. Karena Al-Hurr punya kedudukan di sisi Amirul Mukminin, permintaan itu dikabulkan. Dan di sinilah pelajaran pertama yang bisa kita ambil: untuk bisa mengakses seseorang yang penting dan sibuk, kita perlu tahu dari mana pintunya. Para ulama menyebutnya dengan ungkapan "wa'tul buyuta min abwabiha" — masuklah ke dalam rumah melalui pintunya. Bukan dengan melompati pagar, bukan dengan jalan pintas yang memotong adab.
Ketika Kebaikan Tetap Mendapat Komentar Buruk
Yang terjadi kemudian di luar dugaan. Setelah mendapat waktu dan izin bertemu, Uyainah bukannya menyampaikan keperluan yang penting — ia justru langsung berkata kepada Umar: "Wahai anaknya Al-Khattab, demi Allah engkau tidak memberikan kami hak dengan cukup, dan engkau tidak memutuskan hukum di antara kami dengan adil."
Umar sempat marah. Wajar — cara bicara Uyainah tidak beradab, tidak hormat, dan tuduhan itu tidak berdasar. Umar yang dikenal adil, yang seluruh hidupnya ia persembahkan untuk tegaknya kebenaran, tiba-tiba dituduh tidak adil oleh seseorang yang baru saja ia terima dengan baik.
Dan di sinilah Imam Nawawi rahimahullahu ta'ala menyisipkan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua: mau sebaik apapun kita, pasti akan ada sebagian pihak yang tidak suka. Pasti akan ada yang berkomentar negatif. Pasti akan ada yang memvonis kita salah tanpa tahu duduk persoalannya. Ini bukan pengecualian — ini adalah pola yang sudah sangat lama ada, dan orang-orang yang jauh lebih mulia dari kita pun telah mengalaminya.
Pelajaran dari Al-Hurr: Cara Menasihati yang Benar
Melihat Umar yang mulai terpancing emosi, Al-Hurr dengan tenang berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ..." — lalu ia membacakan firman Allah:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
Dan apa yang terjadi pada Umar setelah mendengar ayat itu? Beliau berhenti. Diam. Al-Hurr bin Qays meriwayatkan bahwa Umar tidak pernah melewati ayat ini begitu saja ketika dibacakan — beliau selalu berhenti di hadapan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Inilah yang membuat Umar luar biasa: seorang khalifah, sosok paling berilmu di masanya, yang bisa saja berargumen bahwa ia lebih tahu ayat itu daripada siapapun yang mengingatkannya — justru berhenti dan tunduk begitu dalil dihadirkan. Tidak ada ego yang menghalangi. Tidak ada gengsi yang menghalangi beliau untuk menerima kebenaran meski datang dari yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.
Cara Al-Hurr menyampaikan nasihat pun patut kita perhatikan. Ia tidak menggurui. Ia tidak merendahkan. Ia memulai dengan sapaan penuh hormat — "Wahai Amirul Mukminin" — lalu membawakan firman Allah, bukan pendapat pribadinya. Berbeda jauh dengan cara Uyainah yang langsung menyerang. Inilah buah dari ilmu yang disertai amal — cara bicaranya berbeda, alurnya berbeda, dampaknya pun berbeda.
Tidak Setiap Perkataan Perlu Dijawab
Pelajaran terbesar dari kisah ini mungkin adalah ini: berpalinglah dari orang yang bersikap bodoh. Bukan berarti kita sombong atau meremehkan mereka sebagai manusia — melainkan kita memilih untuk tidak larut dalam permainan yang merugikan diri sendiri dan tidak menghasilkan kebaikan apapun.
Abu Faraj Al-Hamadani rahimahullah pernah mengungkapkan sebuah kalimat yang sangat dalam:
"Tidak setiap pernyataan itu perlu saya siapkan jawabannya. Tidak setiap komentar itu perlu saya balas."
Dan ini bukan kelemahan. Ini adalah kekuatan. Karena untuk diam ketika hawa nafsu kita ingin menjawab, untuk berpaling ketika ego kita ingin membela diri — itu membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan hamba-hamba-Nya yang sejati dalam firman-Nya:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik." (QS. Al-Furqan: 63)
Mereka tidak mengotori lisan mereka. Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan. Mereka merespons dengan salam — bukan karena mereka tidak mampu membalas, tetapi karena mereka tahu bahwa kemuliaan mereka tidak ditentukan oleh komentar orang lain.
Tentu, ada pengecualiannya. Ketika yang diserang bukan harga diri pribadi, melainkan hak Allah atau hak Rasul-Nya ﷺ, ketika agama yang difitnah — maka meluruskan adalah kewajiban. Tidak semua diam adalah kebijaksanaan. Tetapi dalam urusan diri sendiri, dalam urusan citra dan nama baik pribadi — bersabar untuk tidak merespons seringkali jauh lebih mulia daripada membalas.
Berhentilah di Hadapan Dalil
Ada satu hal lagi yang perlu kita bawa pulang dari kisah ini: latih diri untuk berhenti di hadapan firman Allah. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang paling berilmu, paling berpengalaman, paling berhak untuk berargumen — justru adalah orang yang paling cepat tunduk ketika dalil dihadirkan. Itu bukan kelemahan karakter. Itu adalah puncak dari tawadhu' kepada Allah.
Dan nasihat terakhir yang relevan bagi kita semua datang dari sebuah ungkapan yang sering dikutip para ulama: "Nasihatilah manusia dengan amalanmu, jangan hanya dengan ucapanmu." Retorika yang indah mungkin efektif di awal. Tetapi berjalannya waktu, manusia akan melihat apakah ucapan dan perbuatan kita berjalan searah. Umar radhiyallahu 'anhu dicintai bukan hanya karena kata-katanya, tetapi karena seluruh hidupnya adalah bukti dari apa yang ia ucapkan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufiq kepada kita untuk bersabar menghadapi komentar yang tidak menyenangkan, untuk berpaling dari yang tidak bermanfaat, dan untuk selalu berhenti dan tunduk ketika firman Allah dan sunnah Nabi ﷺ dihadirkan kepada kita.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 109. MENYIKAPI SIKAP BODOH | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar