Ada momen-momen dalam hidup yang terasa berat bukan karena ujiannya sendiri, tetapi karena kita merasa diperlakukan tidak adil — hak kita tidak diberikan, jerih payah kita tidak dihargai, dan orang yang seharusnya bertanggung jawab justru asyik dengan kepentingan dirinya sendiri. Di sinilah banyak dari kita terjebak dalam lingkaran kemarahan, kecewa, dan tuntutan yang tak berujung.
Namun Nabi Muhammad ï·º telah jauh-jauh hari memberikan panduan yang jernih dan melegakan untuk situasi seperti ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyimpan hikmah yang — jika benar-benar dipahami dan diamalkan — mampu mengubah cara kita memandang kehidupan secara mendasar.
Sabda yang Tak Pernah Meleset
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini, Rasulullah ï·º bersabda bahwa setelah beliau, akan ada pemimpin-pemimpin yang sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri, melupakan hak orang lain, dan membiarkan kemungkaran terjadi di sekitar mereka. Para sahabat yang mendengar sabda ini langsung bertanya: "Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami jika kami menghadapi mereka?"
Perhatikan betapa indahnya sikap para sahabat radhiyallahu 'anhum. Mereka tidak langsung bereaksi dengan emosi. Mereka tidak mengandalkan pikiran dan pengalaman mereka sendiri — meskipun mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas dan berpengalaman. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu 'anhum — siapa yang bisa meragukan kecerdasan mereka? Namun ketika dihadapkan dengan situasi baru, posisi mereka selalu sama: "Ya Rasulullah, apa perintahmu?" Inilah akhlak seorang mukmin sejati — selalu kembali kepada dalil sebelum bertindak, selalu mendahulukan petunjuk Al-Qur'an dan sunnah di atas segalanya.
Dan nubuatan Nabi ï·º dalam hadits ini sendiri adalah bukti yang tak terbantahkan. Sejarah umat Islam mencatat dengan panjang bagaimana sabda beliau itu terjadi persis sebagaimana yang disampaikan. Tidak ada yang meleset. Inilah yang seharusnya semakin meneguhkan keyakinan kita — bahwa apa yang datang dari Nabi ï·º adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan sekadar pendapat manusia.
ÙˆَÙ…َا ÙŠَنطِÙ‚ُ عَÙ†ِ الْÙ‡َÙˆَÙ‰ٰ Ø¥ِÙ†ْ Ù‡ُÙˆَ Ø¥ِÙ„َّا ÙˆَØْÙŠٌ ÙŠُÙˆØَÙ‰ٰ
"Dan tidaklah dia berucap menurut kemauan hawa nafsunya. Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An-Najm: 3-4)
Panduan Nabi ï·º: Dua Langkah yang Mengubah Segalanya
Jawaban Nabi ï·º atas pertanyaan para sahabat itu singkat namun sangat dalam: tunaikan hak mereka yang menjadi kewajibanmu, dan mintalah hakmu kepada Allah.
Dua kalimat ini bukan sekadar nasihat praktis. Ini adalah pandangan dunia (worldview) seorang mukmin yang lengkap. Ia mengandung akhlak, fikih, dan tauhid sekaligus dalam satu tarikan napas.
Tunaikan kewajibanmu — meskipun hakmu tidak diberikan. Tetap laksanakan tanggung jawabmu sebagai bawahan, sebagai rakyat, sebagai anggota — selama tidak menyangkut perintah untuk bermaksiat kepada Allah. Jangan biarkan kezaliman orang lain menjadi alasan bagi kita untuk ikut-ikutan lalai dalam kewajiban. Dan ketika hak kita tidak dipenuhi, jangan menggantungkan harapan kepada tangan manusia — angkat do'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Yang Mahakaya, Yang Maha Pemurah, Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah lalai.
Mental Mukmin: Memberi, Bukan Menuntut
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara cara berpikir seorang mukmin sejati dengan cara berpikir yang hanya berorientasi pada hak dan untung-rugi. Seorang mukmin hidupnya berputar pada satu pertanyaan: "Kewajiban apa yang harus saya tunaikan?" — bukan "Hak apa yang harus saya dapatkan?"
Ini bukan berarti menuntut hak itu dilarang. Dalam Islam, memperjuangkan hak itu halal dan ada tempatnya. Namun menjadikan tuntutan hak sebagai pusat pikiran dan perasaan adalah sumber kesengsaraan yang nyata. Seseorang yang seluruh waktunya dihabiskan untuk memikirkan apa yang belum ia dapatkan, untuk memendam kecewa kepada mereka yang tidak memenuhi haknya, untuk terus menggerutu dan menuntut — ia tidak akan pernah benar-benar tenang. Kemarahan, kepahitan, dan rasa tidak puas akan mengisi hari-harinya.
Teladan paling agung dalam hal ini adalah Nabi Muhammad ï·º sendiri. Selama tiga belas tahun di Makkah, beliau dizalimi, diusir, dilecehkan, bahkan diboikot bersama seluruh keluarganya. Beliau punya banyak sekali alasan untuk menuntut hak. Namun yang kita lihat dari sirah beliau adalah fokus yang tak tergoyahkan pada satu hal: menunaikan kewajiban sebagai utusan Allah. Selebihnya beliau serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Begitu pula Nabi Yusuf 'alaihissalam — dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, dipenjara bertahun-tahun tanpa kesalahan. Namun tidak ada dalam sirah beliau kisah tentang dendam atau tuntutan yang menyita energinya. Beliau terus menunaikan apa yang bisa beliau lakukan, dan menyerahkan sisanya kepada Allah.
Tauhid: Fondasi yang Mengubah Cara Kita Menghadapi Kezaliman
Inilah inti dari seluruh panduan ini — dan inilah mengapa para ulama selalu menekankan pentingnya tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar tauhid yang tersimpan di buku-buku akidah, melainkan tauhid yang benar-benar mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, dan menghadapi masalah.
Ketika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah adalah Al-Ghani (Mahakaya), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Al-Karim (Maha Dermawan) — maka ia akan memahami bahwa manusia yang menahan haknya hanyalah perantara, bukan sumber. Rezeki itu milik Allah. Hak itu ada di tangan Allah. Seseorang yang tidak membayar utangnya kepada kita, pemimpin yang tidak memberikan apa yang menjadi hak kita — mereka hanya kurir yang Allah ganti dengan cara lain jika Dia menghendaki.
Bayangkan seseorang yang punya piutang besar kepada orang yang bandel dan tidak mau membayar. Lalu tiba-tiba staf dari orang paling kaya di kota itu datang dan berkata: "Sudahlah, lupakan dia. Minta saja langsung kepada bos saya, berapa pun yang kamu butuhkan." Kira-kira apakah kita masih akan menghabiskan waktu mengejar-ngejar si penghutang? Tentu tidak. Nah, Allah Subhanahu wa Ta'ala jauh lebih kaya dari siapapun yang pernah kita bayangkan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menegaskan dalam firman-Nya:
"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim." (QS. Ibrahim: 42)
Ketika orang yang menzalimi kita tampak hidupnya biasa-biasa saja, lancar-lancar saja, seolah tidak ada yang terjadi — jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah. Allah tidak lalai. Allah tahu bahkan sebelum kita sendiri menyadari bahwa kita sedang dizalimi. Dan Allah Maha Bijak dalam menentukan waktu dan cara perhitungan-Nya.
Nabi ï·º pun pernah bersabda yang maknanya: seandainya seluruh manusia bersepakat untuk memberikan manfaat kepada kita, mereka tidak akan bisa kecuali apa yang telah Allah tetapkan. Dan seandainya seluruh manusia bersepakat untuk menjatuhkan kita, mereka tidak akan mampu merugikan kita kecuali apa yang telah Allah izinkan. Dengan keyakinan seperti ini, untuk apa kita menghabiskan energi terbaik kita hanya untuk terus-menerus meratapi hak yang belum diberikan?
Ujian Kesabaran yang Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?" (QS. Al-Furqan: 20)
Orang yang tidak memberikan hak kita itu adalah ujian dari Allah — ujian untuk melihat apakah kita mampu bersabar, mampu tetap menunaikan kewajiban, dan mampu mengangkat do'a kepada-Nya. Fokus kita seharusnya bukan pada orang tersebut, melainkan pada diri kita sendiri: bagaimana sikap kita di hadapan ujian ini?
Dan ketika kita memilih untuk bersabar, menunaikan kewajiban, dan meminta kepada Allah — itulah saat di mana kita sedang menjalani inti dari tujuan penciptaan kita:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Do'a yang terpanjat di saat terzalimi, air mata yang jatuh di hadapan Allah ketika hak kita tidak diberikan, kepasrahan yang tulus kepada Rabb Yang Mahakaya — itulah ibadah. Itulah inti dari kehidupan yang kita jalani.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menguatkan kita untuk terus menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya, memudahkan hak-hak kita melalui jalan yang Dia kehendaki, dan menjadikan setiap ujian yang kita hadapi sebagai sebab semakin dekatnya kita kepada-Nya.
Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Sumber: Sesi 110. MENGHADAPI ORANG ZHALIM | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri
0 Komentar