RS 111. Tiket Menuju Telaga Nabi

Di antara sekian banyak motivasi untuk bersabar, ada satu yang melampaui segalanya — bukan janji harta, bukan janji kedudukan, bukan sekadar janji ketenangan hidup. Ia adalah janji pertemuan dengan sosok yang paling berjasa dalam kehidupan kita, di hari yang paling mengerikan yang pernah ada. Itulah inti dari hadits yang disampaikan oleh Abu Yahya Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu — sebuah hadits singkat yang menyimpan kekuatan luar biasa bagi hati yang mau merenungkannya.

Seorang dari kaum Anshar datang kepada Nabi ï·º dan bertanya: "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak mempekerjakan aku sebagaimana engkau mempekerjakan si Fulan dan si Fulan?" Jawaban Nabi ï·º tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Beliau justru bersabda:

"Sesungguhnya kalian akan bertemu dengan pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri mereka sendiri setelahku. Maka bersabarlah, hingga kalian berjumpa denganku di Telaga." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang Sahabat yang Sering Terlupakan

Sebelum menyelami hikmah hadits ini, ada baiknya kita berkenalan dengan sosok perawinya. Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu mungkin tidak sepopuler Abdullah bin Umar atau Abdullah bin Abbas, tetapi beliau adalah tokoh yang sangat besar di kalangan kaum Anshar. Beliau berasal dari kabilah Aus — salah satu dari dua kabilah besar Madinah — dan memiliki kedudukan yang sangat dihormati, baik di masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam.

Yang menarik, beliau dikenal sebagai sahabat yang humoris dan suka bercanda — namun akhlaknya tetap mulia dan beliau tidak pernah kebablasan. Beliau juga dikaruniai suara yang sangat indah ketika membaca Al-Qur'an, hingga dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ketika beliau membaca Al-Qur'an di malam hari, cahaya seperti lampu-lampu turun dari langit — yang ternyata adalah malaikat yang mendekat karena keindahan bacaannya. Beliau ikut serta dalam Bai'at Aqabah yang kedua, dan di Perang Uhud beliau termasuk di antara sahabat yang tetap bertahan bersama Nabi ï·º di saat barisan kaum muslimin terpecah — menanggung tujuh luka tanpa bergeming. Nabi ï·º sendiri memuji beliau dalam hadits Tirmidzi: "Sebaik-baik orang adalah Usaid bin Hudhair."

Tentang Meminta Jabatan

Pertanyaan sahabat dalam hadits ini — mengapa ia tidak diberi posisi sebagaimana Fulan dan Fulan — membuka diskusi penting tentang hukum meminta jabatan. Para ulama menjelaskan bahwa pada dasarnya meminta posisi atau kekuasaan itu makruh. Rasulullah ï·º bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu 'anhu:

"Janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena jika engkau mendapatkannya karena permintaanmu sendiri, engkau akan dibiarkan mengurusinya seorang diri. Namun jika engkau mendapatkannya tanpa meminta, Allah akan menolongmu dalam menjalankannya."

Imam Al-Qurthubi rahimahullahu ta'ala menjelaskan sebabnya: ambisi untuk mendapatkan posisi tertentu, padahal ia tahu tanggung jawabnya berat dan tantangannya luar biasa, adalah tanda bahwa ia mencarinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Orang seperti ini dikhawatirkan akan dikalahkan oleh hawa nafsunya sendiri, sehingga ia akan hancur bersama posisi yang ia kejar.

Sebaliknya, seseorang yang berusaha menghindar dari jabatan karena takut tidak mampu menunaikan amanat — namun ternyata tetap diamanati — justru berpeluang mendapat pertolongan Allah. Karena ia merasa lemah dan bertawakal, ia akan berdoa lebih kencang, bergantung lebih tulus kepada Allah, dan itulah yang mengundang pertolongan-Nya.

Namun ada pengecualian penting: jika tidak ada orang lain yang layak dan mampu untuk posisi tersebut, maka tidak mengapa seseorang menawarkan diri — bahkan bisa menjadi wajib. Inilah yang dilakukan Nabi Yusuf 'alaihissalam ketika berkata kepada raja:

"Jadikanlah aku penanggung jawab perbendaharaan negeri ini. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf: 55)

Beliau menawarkan diri bukan karena ambisi, melainkan karena tidak ada yang lebih layak dan situasi menuntut itu. Kejujuran kepada diri sendiri dan kepada Allah adalah kuncinya.

Hikmah Nabi ï·º dalam Menjawab

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam hadits ini adalah cara Nabi ï·º merespons pertanyaan sahabat tersebut. Beliau tidak menjawab pertanyaannya secara langsung. Beliau justru berbicara tentang hal lain — tentang pemimpin-pemimpin zalim yang akan datang dan anjuran untuk bersabar.

Para ulama menyebut ini sebagai hikmah dalam menjawab — yaitu menjawab dengan hal yang lebih penting dan lebih bermanfaat bagi penanya, meskipun tampak tidak nyambung dengan pertanyaan awalnya. Bukan karena tidak mengerti pertanyaannya, melainkan karena beliau melihat apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh orang tersebut. Ini adalah pelajaran berharga: tidak setiap pertanyaan harus dijawab persis sesuai apa yang ditanyakan. Adakalanya jawaban terbaik adalah mengarahkan penanya kepada sesuatu yang lebih ia butuhkan.

Al-Haudh: Telaga yang Menanti

Inti dari hadits ini adalah motivasi yang Nabi ï·º tanamkan: "Bersabarlah, hingga kalian berjumpa denganku di Telaga."

Telaga Nabi ï·º (al-haudh) adalah perkara yang ditetapkan kebenarannya oleh Al-Qur'an dan Sunnah, diriwayatkan oleh lebih dari lima puluh sahabat, termasuk para Khulafaur Rasyidin. Para ulama seperti Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah menegaskan bahwa beriman kepada Telaga ini adalah bagian dari akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Telaga itu luar biasa: ukurannya sangat besar, airnya berasal dari surga — dari sungai Al-Kautsar — lebih putih dari susu, lebih dingin dari salju, lebih manis dari madu, dan lebih wangi dari kasturi. Di saat hari kiamat yang mencekam, di saat manusia bersimbah keringat, dilanda ketakutan dan ketidakpastian yang luar biasa, Nabi ï·º akan menyambut umatnya di sana dan menyuguhkan minuman dari Telaga tersebut. Barangsiapa meminum darinya, ia tidak akan pernah dahaga selamanya.

Lalu Nabi ï·º berkata: bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku di sana.

Motivasi Terbesar untuk Bersabar

Coba bayangkan seorang penggemar sepakbola yang sangat fanatik mencintai idolanya. Lalu dikatakan kepadanya: "Kalau kamu bisa sabar satu tahun, tahun depan kamu bisa bertemu langsung dengan idolamu." Tentu ia akan berusaha sekuat tenaga untuk bersabar. Rela menanggung apa pun demi pertemuan itu.

Maka bagaimana dengan kita — umat yang mengaku mencintai Rasulullah ï·º? Beliau adalah sosok yang paling berjasa dalam kehidupan kita. Karena tuntunannya, rumah tangga kita membaik. Karena akhlaknya yang kita ikuti, hubungan kita dengan sesama menjadi lebih baik. Karena ibadah yang beliau ajarkan, hati kita menemukan ketenangan. Berapa banyak dari kita yang hidupnya berubah total karena mengikuti sunnah beliau ï·º?

Dan kini Nabi ï·º berjanji: bersabarlah menghadapi pemimpin yang zalim, bersabarlah ketika hakmu tidak diberikan, bersabarlah ketika engkau dizalimi — sampai engkau berjumpa denganku di Telaga.

Jika janji pertemuan dengan sosok semulia dan seberjasa beliau ï·º masih tidak cukup untuk membuat kita menahan emosi, menahan amarah, menahan lisan dari cercaan — masihkah kita bisa mengaku mencintainya? Masihkah pantas kita mengaku merindukannya?

Hadits ini bukan hanya panduan menghadapi kezaliman. Ia adalah undangan cinta — dari Nabi ï·º kepada seluruh umatnya. Bersabarlah. Tunaikan kewajibanmu. Jaga imanmu. Dan nanti, di hari yang paling menakutkan itu, beliau ï·º sudah menunggumu di tepi Telaga yang airnya lebih wangi dari kasturi.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita kekuatan untuk bersabar, mempertemukan kita dengan Nabi ï·º di Telaga yang penuh keberkahan itu, dan menjadikan kita termasuk umatnya yang beliau kenal dan beliau sambut.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 111. SABAR SAMPAI BERJUMPA DI TELAGA | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar