RS 115. Mengagungkan Allah: Kunci Kesabaran yang Sesungguhnya

Ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jujur: mengapa kita bisa begitu sabar, sopan, dan menahan diri di hadapan orang-orang tertentu — atasan, tamu terhormat, orang yang kita hormati — namun di saat yang sama begitu mudah meledak, kasar, dan kehilangan kontrol di hadapan orang-orang terdekat kita? Jawabannya sederhana namun menghunjam: karena kita mengagungkan mereka, tapi kita lupa mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Inilah inti dari kiat terpenting dalam memperkuat iman agar kita bisa bersabar — sebuah kunci yang jika dipegang dengan benar, akan membuka pintu kesabaran dalam setiap situasi kehidupan.

Sabar Dimulai dari Mengagungkan Allah

Setelah kita memahami bahwa sabar adalah pertempuran antara kekuatan iman melawan kekuatan hawa nafsu — dan bahwa strategi besarnya adalah memperkuat iman sambil melemahkan nafsu — maka pertanyaannya: apa yang paling pertama dan paling mendasar dalam memperkuat iman?

Jawabannya, menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala dan para ulama yang lain, adalah: ta'zhimullahmengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tanpa pengagungan yang benar kepada Allah, tidak ada kesabaran yang bisa berdiri kokoh. Seseorang bisa saja mencoba berbagai teknik pengendalian diri, tapi selama hatinya tidak sungguh-sungguh mengagungkan Allah, ia akan terus goyah. Ini bukan sekadar teori — ini tercermin nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pegawai di Depan Bos: Cermin Kita Semua

Bayangkan seorang pegawai yang hadir dalam acara family gathering di rumah bosnya. Anaknya rewel, berulah, malu-maluin. Di rumah, barangkali tangan pegawai itu sudah terangkat. Tapi di depan bosnya? Ia menahan diri sepenuhnya. Suaranya lembut. Sabarnya minta ampun. "Nak, sudah ya nak, jangan begitu nak."

Mengapa bisa demikian? Karena ia mengagungkan bosnya. Ia tahu bosnya melihat. Ia tidak ingin terlihat buruk di mata orang yang ia hormati.

Maka timbul pertanyaan yang Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah lontarkan dengan penuh keheranan:

"Mengapa kalian tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya pengagungan?"

Allah Al-Bashir — Maha Melihat. Allah As-Sami' — Maha Mendengar. Allah Al-'Alim — Maha Mengetahui, bahkan sampai bisikan terdalam hati kita. Jika kita benar-benar mengagungkan Allah, tidak mungkin kita berani meledak, mencaci, berbuat zalim — karena kita tahu Allah menyaksikan semuanya, setiap saat, tanpa pengecualian.

Perjanjian dengan Allah yang Dilupakan

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab ulama klasik — tentang seorang anak kecil yang ditawari sesuatu yang dilarang orang tuanya, saat orang tuanya tidak ada. Ketika ditawari dan diiming-imingi, anak itu menjawab dengan tenang:

"Terima kasih, tapi aku punya perjanjian dengan Allah dan aku tidak mau melanggar perjanjian itu."

Kalimat dari mulut seorang anak kecil. Namun betapa dalamnya. Ia tidak hanya berkata "Mama tidak boleh" atau "Papa melarang" — ia berkata: "Aku punya perjanjian dengan Allah."

Bukankah kita semua memiliki perjanjian itu? Kalimat sayyidul istighfar yang kita baca setiap pagi dan sore mengandung pernyataan: "Allahumma Anta Rabbi... wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu" — Ya Allah, Engkau adalah Rabbku... dan aku terikat pada perjanjian dan janji kepada-Mu sesuai kemampuanku. Perjanjian untuk taat, untuk patuh, untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Anak kecil itu mengingat perjanjiannya. Sementara kita yang dewasa — yang sudah bertahun-tahun membaca kalimat itu — seringkali lupa bahwa perjanjian itu nyata dan mengikat.

Ammar bin Yasir: Bertahan karena Allah Melihat

Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu disiksa dengan siksaan yang luar biasa berat di Makkah. Dalam riwayat disebutkan bahwa karena beratnya penyiksaan, kata-kata yang keluar dari mulutnya pun sudah tidak jelas. Namun ia tetap bertahan.

Mengapa? Bukan karena ada sahabat lain yang menguatkannya. Bukan karena Nabi ï·º hadir di sisinya setiap saat. Ia bertahan karena satu keyakinan: Rabbku melihat. Rabbku mendengar. Walaupun tidak ada satu pun manusia yang menyaksikan, Allah ada.

Itulah kekuatan ta'zhimullah — pengagungan kepada Allah — yang membuat seseorang bisa bersabar dalam kondisi yang paling menyiksa sekalipun.

Ummu Sulaim: Teladan Kesabaran yang Berakar pada Tauhid

Kisah Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha adalah salah satu kisah paling menggetarkan dalam sejarah Islam. Putranya wafat ketika suaminya, Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu, sedang tidak ada di rumah. Bukannya langsung memberitahu suaminya, Ummu Sulaim terlebih dahulu menyiapkan makan malam, berhias, dan melayani suaminya dengan penuh kasih sayang. Setelah suaminya tenang, barulah ia menyampaikan kabar itu — dengan sebuah pertanyaan retoris yang mendalam:

"Wahai suamiku, bagaimana menurut engkau jika seseorang menitipkan sesuatu kepada kita, lalu setelah beberapa waktu pemiliknya mengambilnya kembali — apakah kita berhak menolak atau marah?"

Suaminya menjawab: "Tentu tidak, itu adalah hak pemiliknya."

Ummu Sulaim berkata: "Maka anakmu adalah titipan Allah, dan Allah telah mengambil kembali titipan-Nya."

Inilah ta'zhimullah yang sesungguhnya. Bukan pengagungan yang hanya di lisan, tetapi pengagungan yang meresap ke dalam cara berpikir dan cara menerima kenyataan. Ia meyakini bahwa Allah Al-Muhsin — Maha Baik. Bahwa Allah Ar-Rahman Ar-Rahim — Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bahwa Allah Ahkamul Hakimin — Maha Bijak dalam setiap keputusan-Nya. Dengan keyakinan itu, tidak ada ruang untuk protes.

Mengeluh kepada Siapa?

Para ulama menyampaikan sebuah kalimat yang sangat membekas: "Engkau mengeluhkan Robbmu yang sayang padamu kepada manusia yang tidak sayang padamu."

Renungkan ini. Ketika kita di-PHK, ketika bisnis hancur, ketika sakit, ketika kehilangan — kepada siapa kita pertama kali mengadu? Kepada teman? Kepada saudara? Kepada media sosial? Sementara Allah — yang mentakdirkan semua itu, yang Maha Sayang, yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita — justru sering menjadi yang terakhir kita datangi?

Dan seorang ulama menambahkan: tidak ada seorang pun yang tidak terima terhadap musibah, yang kesal dan marah ketika dikasih ujian oleh Allah, kecuali dalam dirinya ada unsur — walaupun halus — menuduh Rabbnya sendiri. Menuduh Rabbnya tidak bijak. Menuduh Rabbnya tidak adil. Menuduh Rabbnya tidak sayang.

Sedangkan jika seseorang benar-benar mengagungkan Allah — meyakini bahwa Allah Al-Hakim, Al-Karim, Al-Muhsin — maka hatinya akan berkata: "Pasti ada hikmah di balik ini. Pasti ada kebaikan yang Allah rencanakan." Dan dari sana, kesabaran menjadi lebih mudah bukan karena ujiannya ringan, melainkan karena pengagungannya kepada Allah lebih besar dari beratnya ujian.

Hajar: Satu Pertanyaan yang Mengubah Segalanya

Ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam meninggalkan Hajar 'alaihassalam di lembah Makkah yang gersang — tanpa tumbuhan, tanpa air, tanpa manusia lain, hanya bersama bayi Ismail 'alaihissalam yang masih sangat kecil — Hajar bertanya: "Apakah Allah yang memerintahkan ini?"

Ketika mendapat jawaban ya, Hajar berkata dengan tenang: "Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

Selesai. Tidak ada tangisan protes. Tidak ada kemarahan. Tidak ada tuntutan. Satu keyakinan tentang siapa Allah — bahwa Dia tidak pernah menyia-nyiakan — cukup untuk menenangkan jiwa di tengah situasi yang secara duniawi tampak mustahil untuk diterima.

Itulah puncak ta'zhimullah. Dan itulah yang perlu kita bangun dalam diri kita — bukan hanya di saat lapang, tetapi terutama di saat sempit.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menanamkan pengagungan yang benar kepada-Nya dalam hati kita, menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersabar, dan mempertemukan kita dengan-Nya kelak dalam keadaan yang Dia ridhai.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 115. KIAT-KIAT SABAR #2 | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar