RS 116. Cinta, Syukur, dan Keyakinan: Tiga Pilar Kesabaran

Memahami bahwa sabar adalah pertempuran antara iman dan hawa nafsu adalah satu hal. Memenangkan pertempuran itu adalah hal yang lain. Dan untuk memenangkannya, kita tidak cukup hanya berkata "saya harus sabar" — kita perlu benar-benar memperkuat sisi iman dalam diri kita, sehingga ia punya kekuatan lebih besar dari dorongan hawa nafsu yang terus-menerus mencari celah. Inilah lanjutan dari kiat-kiat yang diwariskan para ulama kepada kita, bersumber dari keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala dan para ulama yang lain.

Cintailah Allah, Maka Kamu Akan Sabar

Kiat kedua dalam memperkuat iman adalah mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman:

"Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 165)

Imam Syafi'i rahimahullahu ta'ala dan Imam Ibnu Mubarak rahimahullahu ta'ala pernah menyampaikan sebuah bait syair yang sangat berkesan:

"Kalau cintamu itu tulus dan jujur, kamu akan nurut sama dia. Karena semua pencinta akan mentaati yang ia cintai."

Ini adalah kebenaran yang universal. Orang yang benar-benar mencintai sesuatu atau seseorang akan rela menahan egonya, mengorbankan kenyamanannya, dan melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan — demi yang ia cintai.

Bayangkan seorang ayah yang mencintai bayinya. Ia rela terbangun tengah malam berulang kali. Ia rela mengganti popok tanpa mengeluh. Ia rela membatalkan semua rencananya hanya karena si bayi rewel. Padahal yang ia layani adalah makhluk yang lemah, tidak bisa membalas, tidak bisa menghadiahi. Tapi cinta membuat semua itu terasa ringan — bahkan membahagiakan. Itu kekuatan cinta.

Lalu bagaimana dengan Allah — Ar-Rahman Ar-Rahim, Al-Qaawi, Al-'Aziiz, Al-Muhsin, Al-Mannan, Al-Wahhaab? Apakah tidak ada sisa ruang dalam hati kita untuk mencintai-Nya?

Maka ketika kita tidak sabar menghadapi musibah, ketika kita marah dan mengeluh, pertanyaannya adalah: seberapa dalam cinta kita kepada Allah? Karena kalau cinta kita tulus, kita akan nurut ketika Allah perintahkan sabar. Kita akan bertahan ketika Allah inginkan kita bertahan. Seperti seorang atlet yang mencintai bidangnya — ia rela menolak kehidupan malam, rela menjalankan diet ketat, rela berlatih dalam kondisi apapun — karena cintanya lebih besar dari godaan sesaat. Tanamkan cinta kepada Allah. Pelihara cinta itu. Karena cinta adalah bahan bakar kesabaran yang paling kuat.

Hitung Nikmat Allah, Bukan Hanya Masalahmu

Kiat ketiga adalah merenungi nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman:

"Dan Dia telah memberikan kepada kalian segala apa yang kalian minta kepada-Nya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim lagi kufur." (QS. Ibrahim: 34)

Perhatikan: ayat ini tidak berkata "nikmat Allah banyak ketika kamu sehat" atau "nikmat Allah banyak ketika hidupmu lancar." Ayat ini berlaku di setiap kondisi — termasuk saat kita di-PHK, saat bisnis hancur, saat sakit, saat di ruang isolasi. Pada hari terburuk sekalipun, jika kita ingin menghitung nikmat Allah, kita tidak akan bisa.

Kita tidak sabar karena kita fokus pada satu masalah dan melupakan jutaan nikmat yang sedang kita terima di saat yang sama. Dalam satu menit, paru-paru kita menghirup sekitar delapan liter udara. Siapa di antara kita yang bersyukur atas delapan liter udara itu? Jantung kita berdetak tanpa henti — bayangkan jika Allah hanya mempercepat detaknya sedikit saja. Tubuh kita bisa merasakan sakit artinya sistem sarafnya bekerja. Mata kita masih bisa membaca Al-Qur'an. Keluarga kita masih ada di sisi kita.

Sementara ada pasangan yang bertahun-tahun berjuang mendapatkan anak dan belum juga dikabulkan. Ada anak yatim yang menangis kerinduan kepada orang tua yang sudah tiada. Ada orang yang sendirian di rumah sakit tanpa satu pun yang menjenguknya.

Orang yang tidak sabar hanyalah orang yang terpancing oleh satu kendala di tengah ribuan anugerah yang sedang mengelilinginya. Maka hitunglah nikmat Allah setiap hari. Bukan sebagai ritual, tetapi sebagai latihan melihat realitas dengan lebih jujur. Karena semakin kita melihat betapa banyaknya nikmat Allah, semakin cinta kita kepada-Nya — dan semakin mudah kita bersabar.

Dunia Ini Sebentar — Tahan Sedikit Lagi

Kiat keempat adalah meyakini bahwa dunia ini akan cepat berlalu. Nabi ï·º bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:

"Tidaklah aku dengan dunia ini kecuali seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia beranjak dan meninggalkannya."

Senikmat-nikmatnya berteduh di bawah pohon yang rindang di terik matahari — kita tidak mungkin tinggal di sana selamanya. Pasti kita beranjak dan melanjutkan perjalanan. Begitulah dunia ini. Begitulah seluruh penderitaan kita di dunia ini — ia akan berlalu.

Ada sesuatu yang sangat khas dalam kesaksian orang-orang yang telah melewati masa sulit. Hampir selalu, ketika mereka menoleh ke belakang, mereka berkata: "Kayaknya baru kemarin." Masa-masa paling berat dalam hidupnya, yang terasa tidak tertanggungkan saat itu, kini terasa seperti baru kemarin. Karena memang waktu di dunia itu singkat.

Dan inilah yang perlu dikuatkan dalam akal sehat kita: pahala orang yang bersabar tidak terbatas — innamaa yuwaffas-shabiruuna ajrahum bighayri hisab — diberikan tanpa batas, tanpa hisab. Sementara durasinya hanya sebentar. Maka tidak ada alasan untuk tidak bersabar. Tahan sedikit lagi. Cuman sebentar. Cuman sebentar.

Kembalikan Semuanya kepada Allah

Kiat kelima adalah mengembalikan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menjelaskan: ketika kita mengembalikan urusan kepada diri sendiri dan menggunakan logika makhluk, kita akan selalu merasa dirugikan, merasa tidak adil, merasa tidak masuk akal. Karena pola Allah berbeda dari pola siapapun.

Dengan logika makhluk: orang yang menolak uang haram 10 miliar tampak bodoh. Yang mengambil tampak cerdas. Tapi kembalikan kepada Allah — laisa kamitslihi. Lihat orang yang makan harta haram: ibadahnya berantakan, jiwanya gelisah, hidupnya tidak tenang. Sementara yang menahan diri, yang mencukupkan diri dengan yang halal — lihat ketenangan dalam ibadahnya, lihat panjangnya sujudnya, lihat kecukupan yang Allah tuangkan ke dalam hatinya.

Para ulama menyebutkan: "Tidaklah Allah menghalangi sesuatu dari hamba-Nya kecuali karena Allah ingin memberikan sesuatu yang lain." Dan sebaliknya — ada orang yang Allah kayakan justru untuk memfakirkan jiwanya. Ada orang yang Allah miskinkan justru untuk mengayakan rohaninya. Imam Nawawi rahimahullahu ta'ala dan Imam Ahmad rahimahullahu ta'ala bukan orang yang kaya secara materi — namun kekayaan jiwa dan warisan ilmu mereka tidak tertandingi hingga hari ini.

Allah juga berfirman:

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak pernah ia duga." (QS. At-Talaq: 2-3)

Ketika kita menyerahkan semua kepada Allah, kita menyerahkan kepada Dzat yang perbuatan-Nya berbeda dari semua makhluk, yang janji-Nya pasti, yang pertolongan-Nya datang dari arah yang tidak pernah kita bayangkan. Maka bersabarlah — karena apa yang Allah siapkan di ujung kesabaran itu berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan.

Ilmu Saja Tidak Cukup: Harus Diperjuangkan

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menutup keterangan tentang kiat-kiat sabar dengan peringatan yang sangat penting: jangan tertipu dengan sekadar belajar. Jangan berpikir bahwa hanya karena kita sudah mengkaji bab sabar, sudah membaca ayat-ayat dan hadits tentang kesabaran, kita otomatis akan menjadi orang yang sabar. Tidak ada jalan sesingkat itu.

Yang dibutuhkan — setelah ilmu — adalah batrul juhud: berjuang habis-habisan dalam mengamalkan ilmu tersebut. Totalitas dalam perjuangan. Nyebur, bukan hanya berdiri di tepi kolam sambil menghafalkan teori renang.

Kita semua bisa berjalan hari ini bukan karena kita pernah duduk di kelas teori tentang cara berjalan. Kita bisa berjalan karena kita pernah jatuh berkali-kali, bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi — sampai akhirnya kaki kita hafal sendiri caranya. Begitu pula dengan sabar. Ia diasah dalam ujian, bukan dalam ketenangan. Ia diperkuat dalam peperangan, bukan dalam ceramah.

Maka hadapilah setiap ujian sebagai kesempatan mengasah kesabaran. Mintalah pertolongan Allah di setiap langkahnya. Dan ingatlah selalu kaidah agung yang diwariskan oleh para ulama:

"Dengan kesabaran dan keyakinan, seseorang akan meraih kedudukan tinggi dalam agamanya."

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menanamkan cinta kepada-Nya dalam hati kita, membuka mata kita untuk melihat nikmat-nikmat-Nya, menguatkan keyakinan kita bahwa dunia ini sebentar, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengembalikan segalanya kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan kesabaran.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 116. KIAT-KIAT SABAR #3 | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar