RS 117. Jujur Adalah Kekuatan

Ada sebuah kesalahpahaman yang sudah terlanjur mengakar dalam pikiran banyak orang: bahwa jujur itu membuat kita lemah dan rentan, sementara bohong adalah tameng yang menyelamatkan. Inilah salah satu bisikan setan yang paling halus — dan paling merusak. Karena kenyataannya, dalam bahasa Al-Qur'an sendiri, kata shidq — kejujuran — berakar dari makna yang justru berlawanan total dari kelemahan.

Shidq berasal dari kata dasar yang berarti kekuatan (quwwah) — kekuatan dalam ucapan maupun dalam hal-hal lainnya. Artinya, ketika seseorang jujur, ia sedang membangun kekuatan. Dan ketika ia berbohong, ia sedang menggerogoti kekuatannya sendiri dari dalam.

Ketika Jujur Mengalahkan Marah-marah

Coba perhatikan dua orang suami. Yang pertama sering marah-marah, suaranya tinggi, kadang mencaci istrinya, melontarkan ancaman yang tidak pernah ditepati. Yang kedua jarang marah, bicaranya tenang, tapi apa yang ia katakan selalu ia lakukan — tidak pernah ingkar janji, tidak pernah berbohong kepada istrinya.

Siapa yang lebih dihormati? Siapa yang lebih didengar ketika bicara? Siapa yang ucapannya lebih dipegang?

Yang kedua. Selalu yang kedua.

Inilah yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ï·º ketika Allah memerintahkan beliau untuk menawarkan pilihan kepada istri-istrinya. Allah berfirman:

"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah, aku akan berikan kepada kalian dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Namun jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kalian." (QS. Al-Ahzab: 28-29)

Tidak ada suara tinggi. Tidak ada ancaman. Tidak ada manipulasi. Hanya dua pilihan yang disampaikan dengan jelas, jujur, dan elegan — dan Nabi ï·º siap menunaikan keduanya. Dan seluruh istri beliau memilih Allah dan Rasul-Nya tanpa ragu.

Itulah kekuatan sejati. Ketika kata-kata seseorang dipegang karena ia memang selalu menepatinya. Ketika ucapannya memiliki bobot karena tidak pernah kosong. Itulah shidq — kejujuran yang menjadi sumber kekuatan.

Sebaliknya, seorang pembohong yang tanpa sadar sedang melemahkan dirinya sendiri. Kata para ulama: salah satu hukuman moral bagi pembohong adalah ketika ia jujur pun tidak ada yang mempercayainya. Ia sudah menggerogoti kepercayaan orang kepadanya sampai ke akar-akarnya.

Jujur di Setiap Lini Kehidupan

Kejujuran bukan hanya soal tidak berbohong dalam percakapan. Ia adalah prinsip yang mengalir ke seluruh aspek kehidupan.

Seorang pegawai yang jujur — meskipun jabatannya rendah, meskipun gajinya kecil — akan memiliki wibawa yang tidak bisa dibeli dengan posisi apapun. Ketika ia berbicara, orang mendengarkan. Ketika ia memberi masukan kepada atasannya, masukan itu ditimbang dengan serius. Kejujurannya memberinya sebuah otoritas moral yang tidak dimiliki oleh mereka yang pandai menjilat. Karena orang-orang besar, orang-orang yang benar-benar ingin maju, selalu membutuhkan masukan yang jujur — bukan tepuk tangan palsu.

Dan yang sering terlupakan: jujur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah puncak dari seluruhnya. Ini adalah kejujuran yang paling menentukan kualitas seorang hamba. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala dalam Madarijus Salikin menyatakan:

"Jujur adalah ruh dari seluruh amal ibadah."

Tanpa kejujuran, ibadah menjadi kulit tanpa isi. Shalat yang dikerjakan tapi hati tidak sungguh-sungguh menghadap Allah — itu ibadah tanpa ruh. Sedekah yang diberikan tapi untuk dilihat manusia — itu ibadah tanpa ruh. Ruh itu adalah shidq — kejujuran kepada Allah dalam setiap amalan.

Hakikat Kejujuran

Para ulama mendefinisikan shidq secara istilah sebagai kesesuaian antara zahir dan batin, antara ucapan dan perbuatan, antara apa yang disampaikan dan kenyataan yang sebenarnya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala menyebutnya sebagai: "kesesuaian antara kondisi ketika sendirian dan ketika di hadapan orang banyak." Yang di dalam sama dengan yang di luar. Yang di depan sama dengan yang di belakang. Yang diucapkan sama dengan yang dilakukan.

Ini adalah standar yang tinggi. Dan justru karena itu, ia adalah sumber kekuatan yang tinggi pula.

Para ulama juga menegaskan: seluruh kebaikan — baik yang zahir maupun yang batin — kembali kepada kejujuran seorang hamba. Bab kejujuran bukan bab kecil dalam perjalanan seorang muslim. Ia setara bobotnya dengan bab kesabaran, bab taubat, dan bab ikhlas. Ia adalah pondasi.

Penutup Bab Sabar: Kembalikan Kepada Allah

Sebelum melangkah sepenuhnya ke bab kejujuran, ada satu kunci terakhir dari bab sabar yang perlu diresapi: kembalikan segalanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala — bukan sekadar secara lisan, tetapi dengan benar-benar memahami bahwa pola Allah berbeda dari pola makhluk.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala mengingatkan: seandainya Allah tidak mengobati hamba-hamba-Nya dengan ujian dan musibah, niscaya mereka akan terserang penyakit yang jauh lebih berbahaya — tughyan (melampaui batas) dan istikbar (kesombongan). Maka musibah itu bukan hanya ujian — ia adalah obat. Obat dari penyakit-penyakit hati yang lebih mematikan dari sakit fisik manapun.

Dan cara Allah mencintai hamba-Nya berbeda dengan cara manusia mencintai sesamanya. Kalau manusia mencintai seseorang, ia akan memanjakan, memberikan kenyamanan, menjauhkan dari kesulitan. Tapi Allah — innallaha idzaa ahabba qauman ibtalahum — sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.

Bukan karena Allah tidak peduli. Justru karena Allah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kenyamanan duniawi. Dan untuk bisa mengembalikan semua ini kepada Allah dengan benar, kita membutuhkan tauhid yang hidup — mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, memahami cara Allah bekerja dalam kehidupan hamba-hamba-Nya, dan meyakini bahwa wasa'antakrahu syai'an wahuwa khairun lakum — bisa jadi yang kamu benci itu justru yang terbaik bagimu (QS. Al-Baqarah: 216).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba yang jujur kepada-Nya, menguatkan tauhid kita, dan memperkenankan kita untuk menapaki bab kejujuran dengan hati yang bersih dan tekad yang sungguh-sungguh.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: Sesi 117. ARTI DARI SEBUAH KEJUJURAN | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar