Ada satu keyakinan yang seharusnya menahan tangan kita sebelum berbuat zalim, menahan lisan kita sebelum mencela, dan menahan hati kita sebelum merendahkan sesama: bahwa tidak ada satu pun kezaliman yang luput dari catatan Allah, dan tidak ada satu pun hak yang tidak akan dikembalikan kepada pemiliknya — meski harus menunggu hingga hari kiamat. Itulah inti dari rangkaian bab yang dibahas dalam kajian Sesi 34 ini, melanjutkan bab qisas al-'abd dan bergerak ke bab tentang memberi makan, memberi pakaian, dan larangan mencaci orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita.
Salman Al-Farisi dan Nabi ï·º: Takut kepada Qisas Meski Punya Alasan untuk Menghukum
Kajian dibuka dengan melanjutkan bab qisas al-'abd — bahwa budak yang dizalimi berhak menuntut qisas kepada majikannya pada hari kiamat. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah atsar yang sangat mengesankan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu.
Suatu hari Salman keluar dari rumahnya dan mendapati makanan hewan tunggangannya terbuang-buang akibat kelalaian budaknya. Sudah jelas sang budak bersalah — lalai mengurusi hewan tunggangan, dan mungkin bukan pertama kalinya. Maka Salman pun berniat menghukum. Namun yang keluar dari lisannya justru kalimat yang menggetarkan: "Kalau bukan karena aku khawatir diqisas olehmu pada hari kiamat kelak, tentu aku akan memukulmu."
Ia tidak jadi memukul. Bukan karena budaknya tidak bersalah, tetapi karena Salman takut pukulannya melebihi kadar yang seharusnya — dan kelebihan itu akan menjadi kezaliman yang dituntut di hari kiamat.
Kisah serupa datang dari Rasulullah ï·º sendiri. Dalam sebuah riwayat, Nabi ï·º memanggil budak wanita milik Ummu Salamah radhiyallahu 'anha yang tidak kunjung datang meski sudah dipanggil berulang kali — ternyata ia sedang bermain dan tidak mendengar panggilan Nabi ï·º. Kelihatan jelas raut tidak suka di wajah beliau ï·º. Namun ketika Ummu Salamah membawa budak itu menghadap, Nabi ï·º hanya bersabda: "Kalau bukan karena aku khawatir diqisas, tentu aku akan menghukummu dengan kayu siwak ini." Siwak — sepotong kayu kecil yang biasa dipakai untuk membersihkan gigi. Bukan cambuk, bukan rotan. Dan itu pun tidak beliau lakukan. Secara sanad, hadis ini memang dinilai dha'if karena ada perawi yang majhul, namun semangatnya sejalan dengan hadis-hadis sahih lainnya tentang qisas.
Dua kisah ini menyampaikan pelajaran yang sangat dalam: kewaspadaan terhadap kezaliman bukan hanya berlaku ketika seseorang tidak punya alasan untuk menghukum, tetapi justru ketika ia merasa punya alasan pun ia harus waspada — karena amarah mudah membuat tangan bergerak melebihi yang seharusnya.
Hak-Hak Akan Dikembalikan: Peringatan Sekaligus Kabar Gembira
Rasulullah ï·º bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — dan juga tercantum dalam Sahih Muslim:
"Sungguh hak-hak itu akan dikembalikan kepada pemiliknya, sampai kambing yang tidak bertanduk pun akan mengambil haknya dari kambing yang bertanduk."
Ini adalah sabda yang mengandung dua pesan sekaligus.
Pertama, peringatan bagi yang gemar mengambil hak orang lain. Di dunia ini, kezaliman sering kali tidak mendapat balasan — tanah diambil, harta dicaplok, gaji tidak dibayar, hak dilanggar begitu saja tanpa konsekuensi yang terasa. Namun Rasulullah ï·º mengingatkan: jangan terlena. Hak-hak itu akan dikembalikan. Pembayarannya adalah pahala yang kita miliki — dan jika pahala sudah habis, dosa orang yang kita zalimi yang akan ditimpakan kepada kita.
Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. menyebutkan kisah nyata yang menggambarkan betapa berbahayanya emosi yang tidak terkendali. Seorang kawan mendapati pegawai kepercayaannya yang sudah bekerja tujuh tahun ternyata mencuri lebih dari empat miliar rupiah. Ketika dikonfrontasi dan akhirnya mengaku, ia dipukul habis-habisan di depan orang tuanya. Setelahnya, sang kawan menyesal. Ia kirimkan perantara untuk meminta maaf, memberikan uang agar tidak dituntut di hari kiamat. Pelajarannya: amarah yang meledak tanpa kendali justru bisa menjadikan kita yang terzalimi berubah menjadi zalim — dan keadilan hari kiamat tidak peduli siapa yang memulai.
Kedua, kabar gembira bagi yang haknya diambil. Allah subhanahu wa ta'ala tidak lupa. Mungkin di dunia hak kita tidak kembali — utang tidak dibayar, tanah tidak dikembalikan, perlakuan buruk tidak mendapat pembalasan. Namun di hari kiamat, di saat kita paling membutuhkan pahala, Allah akan kembalikan hak itu dalam bentuk yang jauh lebih berharga. Rasulullah ï·º bahkan menegaskan ini sampai pada level dua ekor kambing yang bertanduk dan tidak bertanduk — Allah subhanahu wa ta'ala akan menyidang mereka dan menegakkan qisas di antara keduanya, sebelum kemudian memerintahkan mereka menjadi tanah.
Justru di sinilah perbedaan hewan dan manusia terlihat jelas: setelah diqisas, hewan selesai urusannya — mereka kembali menjadi tanah. Sementara manusia, setelah diqisas, masih ada kelanjutannya: surga atau neraka. Maka ketika orang kafir menyaksikan hewan diqisas lalu menjadi tanah, sebagian dari mereka berseru: "Andai saya menjadi tanah saja!" — karena mereka tahu apa yang menanti mereka setelah qisas.
Berilah Mereka Makan dari Apa yang Kamu Makan
Bab ke-95 membawa kita pada sebuah wasiat Nabi ï·º yang terasa berat namun sangat mulia: "Berilah kepada mereka makanan dari apa yang kalian makan, dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai."
Ubadah bin Al-Walid bin Ubadah menceritakan bahwa suatu hari ia berjalan bersama ayahnya mencari sahabat Nabi ï·º yang masih hidup di perkampungan kaum Ansar — ingin menuntut ilmu langsung dari generasi yang menyaksikan Rasulullah ï·º. Yang pertama mereka jumpai adalah Abul Yasar, atau nama aslinya Ka'ab bin 'Amr As-Salami radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Ansar yang mulia.
Yang menarik perhatian sang pemuda adalah penampilan Abul Yasar: ia mengenakan burdah dan ma'afiri — dua jenis kain yang berbeda — dan budaknya pun mengenakan pakaian yang sama persis. Maka sang pemuda bertanya: "Wahai Paman, kenapa tidak kau ambil salah satu dari pakaianmu dan berikan kepada budakmu sehingga kamu bisa pakai yang sepasang?" Abul Yasar mengusap kepala sang pemuda dan mendoakannya, lalu berkata: "Aku pernah melihat dan mendengar langsung Rasulullah ï·º menyampaikan sabdanya — berilah mereka makan dari apa yang kalian makan dan berilah pakaian dari yang kalian pakai. Dan aku lebih suka memberikan kesenangan dunia kepada budakku daripada nanti ia mengambil kebaikanku pada hari kiamat."
Inilah Abul Yasar — sahabat yang pernah tersandung dalam kisah yang masyhur: mencium seorang wanita yang bukan mahramnya, kemudian hatinya terbakar penyesalan hingga ia datang kepada Nabi ï·º meminta ditegakkan hukum had atas dirinya, hingga Allah turunkan ayat yang menerima tobatnya. Dari pengalaman itulah ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat takut kepada qisas Allah — sampai ia tidak mau membeda-bedakan pakaiannya dengan pakaian budaknya.
Sunah ini diterapkan pula oleh Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu. Ketika seorang tabiin bernama Al-Ma'rur bin Suwaid melihat Abu Dzar dan budaknya sama-sama mengenakan hullah — dua kain satu model — ia bertanya heran. Abu Dzar pun menceritakan sebabnya: ia pernah mencela seorang lelaki dengan memanggil "Ibnu Sauda" — wahai putra wanita berkulit hitam. Nabi ï·º langsung menegurnya: "Apakah kau mencela ibunya?" Dan sejak teguran itu, Abu Dzar tidak berani lagi merendahkan siapa pun yang ada di bawahnya.
Jangan Siksa dan Jangan Cela Ciptaan Allah
Bab terakhir dalam kajian ini menutup dengan larangan yang tegas: jangan mencaci maki budak, pembantu, atau siapa pun yang berada di bawah kita.
Rasulullah ï·º berwasiat dalam hadis yang diriwayatkan Jabir radhiyallahu 'anhu: "Berilah mereka makan dari yang kalian makan, berilah mereka pakaian dari yang kalian pakai, dan jangan siksa ciptaan Allah."
Mereka — budak, pembantu, pegawai, sopir — adalah makhluk Allah. Mereka juga manusia. Mereka juga sesama Muslim. Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan kita bukan sebagai izin untuk merendahkan mereka, tetapi sebagai amanah yang akan ditanya.
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sebagian kalian mencela sebagian yang lain. Bisa jadi yang dicela lebih baik daripada yang mencela." (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini mengandung peringatan yang dalam. Orang yang gemar mencela dan mengejek biasanya didorong oleh kesombongan — dan kesombongan adalah penyakit yang paling menjauhkan seseorang dari surga. Rasulullah ï·º bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan meskipun sebesar zarah." Maka ketika seseorang merendahkan pembantunya, bisa jadi sang pembantu jauh lebih mulia di mata Allah daripada dirinya.
Ustadz Firanda mengingatkan hal yang sering kita lupakan: ada pembantu yang seluruh gajinya dikirimkan kepada ibunya atau suaminya tanpa sisa — sebuah keikhlasan dan pengorbanan yang mungkin tidak dilakukan oleh sang majikan yang merasa lebih tinggi darinya. Di hari kiamat, khafadat rafi'ah — yang disangka tinggi akan direndahkan, dan yang disangka rendah akan diangkat.
Dan Rasulullah ï·º mengingatkan pula: "Sesungguhnya kalian akan ditolong oleh orang-orang lemah di antara kalian — karena doa mereka dan keikhlasan mereka." Orang-orang yang tidak punya sandaran duniawi, yang hanya menggantungkan harapan kepada Allah — doa mereka sangat mudah dikabulkan. Maka memperlakukan mereka dengan baik bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga kebijaksanaan yang mengundang pertolongan Allah kepada kita.
Penutup
Dari bab qisas hingga bab larangan mencela, kajian ini menyampaikan satu benang merah yang kuat: siapa pun yang ada di bawah kita — budak, pembantu, pegawai, anak, siapa saja — mereka bukan sasaran empuk kezaliman kita. Mereka adalah amanah yang akan ditanya, dan hak mereka atas kita adalah hak yang akan dikembalikan oleh Allah dengan penuh keadilan, meski harus menunggu hingga hari kiamat.
Salman Al-Farisi tidak jadi memukul budaknya yang bersalah karena takut qisas. Abu Dzar memakaikan pakaian yang sama kepada budaknya karena takut diqisas. Abul Yasar memberi makan budaknya dari makanannya sendiri karena lebih memilih memberikan kesenangan dunia daripada kebaikannya diambil di akhirat. Itulah standar yang para sahabat terapkan kepada orang-orang yang mereka miliki sepenuhnya — maka bagaimana seharusnya kita memperlakukan pembantu, pegawai, dan bawahan kita yang bukan milik kita?
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjaga kita dari segala bentuk kezaliman, memberi kita kebijaksanaan dalam memperlakukan orang-orang di sekitar kita, dan menjadikan kita termasuk yang datang di hari kiamat dengan hak-hak yang bersih — tidak ada yang menuntut, tidak ada yang menagih. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar