AM 37. Adab di Hadapan Allah: Tentang Panggilan, Pujian, dan Tanggung Jawab

Syarh Kitab Al-Adab Al-Mufrad — Sesi 37 | Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Kajian seri Al-Adab Al-Mufrad kali ini bergerak dari adab yang sangat konkret — cara memanggil pembantu, cara pembantu menyapa majikannya — menuju sesuatu yang jauh lebih dalam: bagaimana seorang hamba menjaga adab lisannya di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala, dan bagaimana setiap orang yang memegang tanggung jawab akan berdiri di hadapan Allah untuk ditanya. Tiga bab dalam Sesi 37 ini — tentang seseorang yang ingin menjadi budak, larangan memanggil "hambaku", larangan budak memanggil majikan "Tuhanku", dan tanggung jawab seorang lelaki di keluarganya — semuanya bermuara pada satu kesadaran: kita adalah hamba Allah, dan sebagai hamba kita memiliki tanggung jawab yang tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun.

Ketika Abu Hurairah Ingin Menjadi Budak

Bab ini dibuka dengan hadis yang mengejutkan. Rasulullah ï·º bersabda: "Seorang budak Muslim, jika dia menunaikan hak Allah dalam ibadahnya dan menunaikan hak tuannya dalam pekerjaannya, maka baginya dua pahala."

Setelah menyampaikan hadis ini, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengomentari dengan pernyataan yang terasa tidak lazim: "Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, kalau bukan karena jihad di jalan Allah, haji, dan bakti kepada ibuku — sungguh aku ingin meninggal dalam keadaan budak."

Ini bukan ungkapan yang berlebihan. Abu Hurairah menghitung secara serius: budak mendapat pahala berlipat karena menggabungkan dua ketaatan sekaligus — ketaatan kepada Allah dalam ibadah dan ketaatan kepada majikan dalam pekerjaan. Bonus pahala itu sangat besar. Maka andai tidak ada amal-amal lain yang lebih besar pahalanya dan tidak bisa dikerjakan sebagai budak — jihad yang membutuhkan izin majikan, haji yang tidak bisa dilakukan tanpa izin, bakti kepada ibu yang terkendala karena melayani majikan — ia akan memilih status budak demi mengejar pahala dua kali lipat itu.

Di sini tersimpan pelajaran tentang cara seorang Muslim menimbang amal. Bukan sekadar mana yang terasa nyaman atau mudah, tetapi mana yang lebih besar pahalanya dan mana yang lebih diprioritaskan. Ketika dua amal baik saling bertabrakan dan tidak bisa dikerjakan bersamaan, seorang yang berilmu tahu mana yang harus didahulukan. Abu Hurairah tahu bahwa jihad, haji, dan bakti kepada ibu adalah amal yang lebih ia butuhkan saat itu — maka ia tidak memilih menjadi budak meskipun pahalanya besar.

Pelajaran ini juga mengingatkan kita bahwa Allah subhanahu wa ta'ala Maha Adil kepada seluruh hamba-Nya dalam berbagai status dan kondisi. Yang kaya punya ujian dan pahala dari kekayaannya. Yang miskin punya ujian dan pahala dari kesabarannya. Yang menjadi pegawai tidak perlu iri kepada bos, dan bos tidak perlu merasa lebih baik dari pegawainya — karena masing-masing membawa tanggung jawab dan pintu pahala yang berbeda.

Jangan Panggil "Hambaku": Adab Lisan di Hadapan Allah

Bab ke-106 memuat larangan yang mungkin terasa asing namun memiliki kedalaman tauhid yang luar biasa. Rasulullah ï·º bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian berkata: hambaku ('abdi*) atau hamba perempuanku (amati). Kalian semua adalah hamba-hamba Allah, dan seluruh wanita-wanita kalian adalah hamba-hamba perempuan Allah. Tetapi ucapkanlah: pembantuku (fataya), pembantu perempuanku (fatati), dan anakku (ghulami)."*

Kenapa dilarang? Karena kata 'abdi — hambaku — sejatinya hanya pantas diucapkan oleh Allah kepada seluruh makhluk-Nya. Seluruh yang ada di langit dan bumi akan datang menemui Allah sebagai hamba. Kita semua adalah 'abd — hamba Allah. Ketika seorang majikan menyebut budaknya "hambaku", ia seakan-akan menempatkan dirinya pada posisi Allah yang berkata kepada hamba-hamba-Nya. Ini bukan kesombongan yang disengaja, tetapi syariat mengajarkan kita untuk menjaga adab lisan bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele.

Prinsip ini berulang dalam syariat. Seseorang yang baru sembuh dari sakit tidak boleh berkata: "Kalau bukan karena dokter, mungkin saya sudah meninggal" — karena kalimat itu menisbahkan kesembuhan langsung kepada dokter, sementara yang menyembuhkan adalah Allah. Yang benar adalah: "Kalau bukan karena Allah, kemudian dengan perantaraan dokter, mungkin saya sudah meninggal."

Demikian pula ketika seorang sahabat memuji Nabi ï·º dengan: "Masyaallah wa syi'ta" — atas kehendak Allah dan kehendakmu — Rasulullah ï·º langsung menegur: "Apakah kau ingin menjadikan aku tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: masyaallah wahdah." Meski sahabat itu tidak bermaksud menyamakan Nabi ï·º dengan Allah, penggunaan kata "dan" yang menggabungkan keduanya dalam satu tarikan nafas sudah cukup untuk mendapat teguran.

Ini adalah keindahan syariat: ia mendidik lisan kita untuk mencerminkan keimanan yang benar, bahkan dalam ucapan-ucapan yang tampak biasa dan tidak berbahaya.

Jangan Panggil Majikan "Tuhanku": Larangan yang Sama dari Sisi Sebaliknya

Bab berikutnya melengkapi dari sisi sebaliknya. Jika majikan dilarang memanggil budaknya "hambaku", maka budak pun dilarang memanggil majikannya "tuhanku" (rabbi). Rasulullah ï·º bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian berkata: rabbiku, rabbati. Dan hendaknya sang budak berkata: sayidi (tuanku), sayidati (nyonyaku). Karena semua kalian adalah milik Allah, dan Rabb adalah Allah Azza wa Jalla."

Rabb dalam bahasa Arab mengandung makna yang sangat luas — Pemelihara, Pemilik, Pengatur — dan ia secara khusus merujuk kepada Allah ketika diucapkan secara mutlak. Ketika seorang budak berkata kepada majikannya "ya rabbi" secara langsung, seakan-akan ia sedang memanggil Tuhannya. Ini yang dilarang.

Namun larangan ini spesifik: ketika berbicara langsung kepada majikannya. Adapun ketika mengabarkan kepada orang ketiga, seperti: "majikanku berkata begini" atau "tuanku memerintahkan ini", maka tidak mengapa. Nabi Yusuf 'alaihissalam pun menggunakan kata rabbi ketika menyampaikan pesan kepada utusan raja — "Kembalilah kepada tuanmu" — dan itu diperbolehkan karena bukan dalam konteks panggilan langsung.

Yang diperbolehkan bagi seorang budak atau pembantu ketika berbicara langsung kepada majikannya adalah sayidi (tuanku) atau sayidati (nyonyaku) — karena sayid secara bahasa berarti pemimpin atau orang yang mulia, dan ini lebih umum maknanya dibanding rabb yang secara eksklusif identik dengan Allah.

Dalam konteks inilah Imam Bukhari membawakan hadis tentang ketika para sahabat memuji Nabi ï·º: "Engkau adalah tuan kami (sayyiduna) dan putra dari tuan kami." Rasulullah ï·º menegur: "Assayyidu Allah" — yang benar-benar Sayid itu adalah Allah. Teguran ini bukan berarti larangan mutlak menyebut siapa pun dengan sayyid, karena Rasulullah ï·º sendiri pernah menyebut Hasan dan Husain sebagai "sayyida syababi ahlil jannah" — pemimpin para pemuda penghuni surga. Teguran itu adalah saddu dzari'ah — menutup celah — agar para sahabat yang baru masuk Islam tidak tergelincir memuji Nabi ï·º secara berlebihan hingga mengangkat beliau ke derajat yang tidak semestinya.

Dan ini pelajaran yang sangat relevan hingga hari ini. Berlebihan dalam memuji adalah pintu menuju kesalahan aqidah yang serius. Mengklaim bahwa seorang wali bisa memadamkan api neraka, bahwa kuburan seorang habib menjaga suatu kota, bahwa seorang guru mengetahui ilmu ghaib — semua ini adalah bentuk pengagungan yang melampaui batas dan bertentangan dengan tauhid. Nabi ï·º yang merupakan manusia terbaik sepanjang zaman pun tidak ingin diangkat melebihi kedudukan yang Allah tetapkan baginya. Beliau ï·º dipuji oleh Allah justru sebagai hamba — 'abd — bukan hanya sebagai rasul. Menghilangkan sifat kehambaannya dari nabi adalah celaan, bukan pujian.

Setiap Orang Adalah Penanggung Jawab

Kajian ini ditutup dengan hadis yang paling menyeluruh tentang tanggung jawab, diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: "Setiap kalian adalah penanggung jawab, dan setiap kalian akan ditanya tentang pertanggungjawabannya."

Rasulullah ï·º merinci: pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang laki-laki bertanggung jawab atas keluarganya. Seorang istri bertanggung jawab atas rumah suaminya. Seorang pembantu bertanggung jawab atas harta yang diamanahkan majikannya.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memahami ini dengan sangat serius. Beliau pernah berkata: "Seandainya ada seekor baghal tersungkur di jalanan Irak karena jalannya tidak rata, menurutku Allah akan bertanya kepadaku: wahai Umar, mengapa kau tidak meratakan jalan itu?" Bukan manusia yang tersandung — seekor hewan tunggangan di wilayah yang jauh dari pusat kekuasaannya. Namun Umar merasakan bobot tanggung jawabnya sedemikian dalam.

Imam Bukhari menutup bab ini dengan kisah Malik bin Huwairits radhiyallahu 'anhu dan kawan-kawannya, para pemuda yang datang belajar kepada Nabi ï·º selama dua puluh hari. Ketika Rasulullah ï·º melihat mereka sudah rindu keluarga, beliau ï·º berkata dengan penuh kasih: "Pulanglah ke keluarga kalian, ajarkanlah mereka, dan perintahkanlah mereka kepada kebaikan. Dan hendaklah yang paling tua di antara kalian yang menjadi imam salat."

Wasiat ini bukan sekadar teknis tentang salat berjamaah. Ia adalah pengingat bahwa setelah menimba ilmu, tanggung jawab utama seorang laki-laki adalah kembali kepada keluarganya dan menjadi pemimpin yang mendidik. Sekolah dan pesantren hanyalah mitra — penanggung jawab utama pendidikan anak tetaplah orang tua. Ketika seorang ayah menitipkan anaknya ke sekolah lalu merasa tugasnya selesai, ia keliru. Yang akan ditanya oleh Allah bukan gurunya, bukan kepala sekolahnya — tetapi dia, sang kepala rumah tangga.

Penutup

Tiga bab dalam kajian ini mengajarkan sesuatu yang tampak berbeda di permukaan namun berakar pada satu prinsip: tauhid yang benar melahirkan adab yang benar, dan adab yang benar melahirkan tanggung jawab yang benar. Kita tidak boleh memanggil pembantu dengan "hambaku" karena hanya Allah yang berhak mengatakan itu. Kita tidak boleh memanggil majikan dengan "tuhanku" karena hanya Allah yang berhak atas panggilan itu. Kita tidak boleh memuji siapa pun secara berlebihan karena keagungan sejati hanya milik Allah. Dan kita tidak boleh lari dari tanggung jawab yang Allah bebankan kepada kita — karena semuanya akan ditanya.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjaga lisan kita agar selalu beradab di hadapan-Nya, menjaga hati kita dari segala bentuk pengagungan yang melampaui batas, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang amanah dalam setiap tanggung jawab yang Dia titipkan. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.




Posting Komentar

0 Komentar