Ada sebuah hadis Nabi ï·º yang sederhana namun menghubungkan dua hal yang sering kita pisahkan dalam kehidupan sehari-hari: "Tidak berterima kasih kepada Allah orang yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia." Hadis ini seakan-akan menjadi rangkuman dari seluruh kajian dalam Sesi 38 ini — tentang tanggung jawab seorang istri di rumah suaminya, tentang kewajiban membalas kebaikan orang lain, dan tentang betapa syukur kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari penghargaan kita kepada sesama manusia yang menjadi perantara nikmat-Nya.
Istri pun Penanggung Jawab
Bab ini melanjutkan pembahasan hadis "Kullu kum ra'in" — setiap kalian adalah penanggung jawab — dengan memfokuskan pada tanggung jawab seorang istri. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º bersabda: "Seorang wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya, dan dia akan ditanya tentang pertanggungjawabannya."
Mungkin ada yang menyangka bahwa yang akan dihisab di hadapan Allah terkait urusan rumah tangga hanyalah sang suami sebagai kepala keluarga. Ternyata tidak demikian. Seorang istri pun akan berdiri di hadapan Allah dan ditanya, paling tidak tentang empat hal besar.
Pertama, tentang hak-hak suaminya. Rasulullah ï·º bersabda: "Seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sampai ia menunaikan hak suaminya." Ini bukan berarti suami lebih penting dari Allah — melainkan bahwa kewajiban seorang istri kepada suaminya adalah bagian dari kewajiban kepada Allah itu sendiri. Wanita salehah yang ingin meraih pahala sebanyak-banyaknya perlu mengenali satu per satu hak suaminya dan menunaikannya semaksimal mungkin.
Kedua, tentang harta suaminya. Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan di antara ciri wanita salehah bahwa ia "menjaga diri dan harta suaminya di kala suami tidak ada." Uang dapur, perabot rumah, amanah yang dititipkan suami — semua ini akan ditanya. Apakah dikelola dengan amanah atau dihamburkan tanpa perhitungan?
Ketiga, tentang anak-anaknya. Sudahkah ia mendidik anak-anak dengan baik? Sudahkah ia memberi teladan yang benar dalam keseharian? Seorang ibu yang mengisi hari-harinya dengan hiburan tanpa batas, lalu tanpa sadar mencontohkan gaya hidup itu kepada anak-anaknya, sedang membangun generasi yang jauh dari Allah — dan ia akan ditanya tentang itu.
Keempat, tentang siapa yang diizinkan masuk ke rumahnya. Para ulama menegaskan bahwa seorang istri tidak boleh memasukkan siapa pun ke rumah suaminya tanpa izin — bahkan kerabatnya sendiri pun harus meminta izin terlebih dahulu, karena itu adalah rumah suami. Termasuk dalam hal ini adalah pembantu rumah tangga: bagaimana ia diatur, dibimbing, dan dipastikan tidak membawa pengaruh buruk bagi anak-anak di rumah.
Ini bukan untuk menambah beban wanita, melainkan untuk mengingatkan bahwa peran seorang istri dan ibu adalah amanah yang besar dan akan dipertanggungjawabkan. Seorang wanita yang sadar akan hisab ini akan menjalani hari-harinya dengan kesungguhan yang berbeda.
Balaslah Kebaikan dengan Kebaikan yang Setimpal
Bab berikutnya membahas adab yang sangat manusiawi namun sering terabaikan: bagaimana menyikapi kebaikan orang lain kepada kita. Rasulullah ï·º bersabda: "Siapa yang dilakukan kebaikan kepadanya, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak mendapati balasan yang setimpal, hendaknya dia memuji orang tersebut dan mendoakannya. Sungguh jika dia memuji dan mendoakannya, dia telah bersyukur kepadanya. Dan jika dia menyembunyikannya, dia telah kufur terhadap kebaikan itu."
Hukum asalnya jelas: balas dengan yang setimpal. Bukan harus barang yang sama, tetapi nilainya kira-kira sepadan. Seseorang pernah memberi cokelat seharga seratus ribu — kapan-kapan kita kirimkan makanan dengan nilai yang kira-kira sama. Dengan cara ini, kita tidak punya hutang budi kepadanya, dan hati kita tetap merdeka untuk hanya bergantung kepada Allah.
Prinsip ini penting karena — sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah — ketika kita berhutang budi kepada seseorang, hati kita sedikit banyak tertawan kepadanya. Semakin banyak hutang budi yang tidak terbalas, semakin hati kita terikat kepada manusia dan semakin lemah kemerdekaan kita di hadapan Allah. Itulah mengapa para sahabat Nabi ï·º bahkan enggan meminta tolong kepada orang lain dalam urusan kecil sekalipun — bukan karena sombong, tetapi karena mereka tidak ingin hati mereka terikat kepada siapapun selain Allah.
Namun jika memang tidak mampu membalas secara materi, syariat memberi jalan: doakan dan puji. Ucapkan "jazakallahu khairan" dengan tulus. Sebutkan kebaikannya kepada orang lain. Doakan dalam salat malam. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha memiliki kebiasaan yang indah: ketika seseorang yang menerimanya mendoakannya, ia pun mendoakan balik dengan doa yang sama. Alasannya: "Agar pahala sedekahku sempurna dan agar doa yang ditujukan kepadaku terbalaskan."
Yang juga perlu diperhatikan adalah larangan mengingkari kebaikan orang lain. Ketika seseorang bertanya dari mana kita mendapat sesuatu, lalu kita menyembunyikan bahwa itu pemberian Si Fulan — itu adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat, yang asalnya nikmat dari Allah melalui perantaraan manusia. Sebaliknya, boleh dan bahkan dianjurkan menyebut kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita, kecuali jika ia meminta agar tidak disebarkan.
Ada satu adab penting bagi yang memberi: jangan berharap pujian, ucapan terima kasih, atau balasan apa pun dari yang diberi. Allah subhanahu wa ta'ala memuji orang-orang yang memberi seraya berkata dalam hati: "Kami tidak mengharapkan balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih." Semakin kita melepaskan harapan balasan dari manusia, semakin besar pahala yang Allah siapkan di akhirat. Berbeda dengan yang menerima: ia punya kewajiban untuk ingat, bersyukur, dan membalas semampunya.
Jika Tidak Mampu Membalas, Perbanyak Doa
Bab selanjutnya bercerita tentang kaum Muhajirin yang mengadu kepada Rasulullah ï·º: "Ya Rasulullah, kaum Ansar telah membawa seluruh pahala. Kami dapat apa?" Mereka bukan mengadu tentang harta, melainkan tentang pahala — karena orientasi para sahabat adalah akhirat, bukan dunia.
Rasulullah ï·º menjawab: "Tidak, selama kalian mendoakan mereka dan memuji mereka, kalian pun mendapat pahala."
Ini adalah jawaban yang memerdekakan: ketika kita tidak mampu membalas kebaikan seseorang secara materi — karena pemberiannya terlalu besar, karena kita tidak punya cukup, atau karena ia sudah meninggal dunia — maka doa yang tulus dan pengakuan yang terbuka atas kebaikannya adalah balasan yang sah dan bernilai di sisi Allah.
Para sahabat Ansar telah memberi segalanya kepada Muhajirin: tempat tinggal, harta, bahkan kadang membagi dua rumah dan ladang mereka. Kaum Muhajirin tidak punya materi yang setimpal untuk membalas. Maka Rasulullah ï·º memberi mereka jalan: doakan mereka, sebutkan kebaikan mereka. Dan itu sudah cukup di hadapan Allah.
Tidak Bersyukur kepada Manusia Berarti Tidak Bersyukur kepada Allah
Bab terakhir dalam kajian ini membawa hadis yang paling menghujam: Rasulullah ï·º bersabda: "Tidak berterima kasih kepada Allah orang yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia."
Para ulama menjelaskan hadis ini dalam dua tafsiran yang saling melengkapi. Pertama, orang yang berbuat baik kepada kita adalah perantara dari Allah — Allah-lah yang menggerakkan hatinya untuk berbuat baik. Jika kita tidak menghargai perantara itu, berarti kita tidak benar-benar menghargai Allah yang mengutusnya. Kedua, orang yang tidak mampu berterima kasih kepada manusia yang bantunya terlihat langsung di depan mata — apalagi mau bersyukur kepada Allah yang nikmat-Nya tidak selalu tampak secara kasat mata?
Hadis ini memiliki implikasi yang sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Seorang anak yang tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang tuanya atas semua yang mereka korbankan — apakah ia akan mudah bersyukur kepada Allah? Seorang murid yang melupakan jasa gurunya begitu ia sudah berhasil — apakah ia akan ingat kepada Allah yang memberinya kemampuan itu? Seorang istri yang tidak pernah mengakui kebaikan suaminya, tidak pernah mengucapkan "jazakallahu khairan" meski suami banting tulang setiap hari — Rasulullah ï·º menyebutkan bahwa Allah tidak akan memandang wanita seperti ini.
Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. menutup kajian ini dengan pesan yang sangat konkret: ingat-ingatlah siapa saja yang pernah berbuat baik kepada kita. Guru TK yang mengajari kita huruf. Teman yang hadir di saat kita terpuruk. Kerabat yang membantu di saat genting. Balaskan kalau mampu. Doakan kalau tidak mampu. Dan jangan pernah menghapus kebaikan mereka dari ingatan hanya karena kita sudah bertemu dengan orang-orang baru yang lebih berpengaruh. Melupakan kebaikan orang lain adalah tidak tahu bersyukur kepada Allah.
Penutup
Tiga tema besar dalam kajian ini — tanggung jawab istri, kewajiban membalas kebaikan, dan syukur kepada manusia sebagai syarat syukur kepada Allah — semuanya bermuara pada satu kesadaran: hubungan kita dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari kualitas hubungan kita dengan sesama manusia. Tanggung jawab yang tidak ditunaikan kepada keluarga akan ditanya Allah. Kebaikan yang tidak dibalas atau tidak disyukuri adalah tanda lemahnya syukur kepada Allah. Dan hati yang tidak pernah tergerak untuk menghargai sesama tidak akan mudah tergerak untuk menghargai nikmat Allah yang tak terhitung.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita hamba-hamba yang menunaikan amanah dengan baik, yang membalas kebaikan dengan kebaikan, yang tidak pernah melupakan jasa sesama, dan yang hatinya senantiasa dipenuhi rasa syukur kepada-Nya. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar