AM 39. Kebaikan Apapun adalah Sedekah: Membuka Seluas-luasnya Pintu Pahala

Syarh Kitab Al-Adab Al-Mufrad — Sesi 39 | Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan para sahabat kepada Rasulullah ï·º, dan jawaban beliau ï·º membuka cakrawala yang sangat luas: "Ya Rasulullah, orang-orang kaya sudah membawa pahala yang banyak — mereka salat kami juga salat, mereka puasa kami juga puasa, tapi mereka bersedekah sementara kami tidak bisa." Yang mereka cemburukan bukan harta orang kaya, melainkan kemampuan mereka untuk bersedekah. Dan jawaban Nabi ï·º: "Sungguh Allah telah menjadikan bagi kalian yang bisa kalian sedekahkan" — kemudian beliau menyebutkan tasbih, tahlil, tahmid, hingga menemani istri dengan halal, hingga sekadar tidak mengganggu orang lain sebagai sedekah. Inilah inti kajian Sesi 39: sedekah jauh lebih luas dari yang kita bayangkan, dan pintu pahala tidak pernah benar-benar tertutup bagi siapapun.

Amal Terbaik: Antara Hati, Fisik, dan Sesama

Imam Bukhari membuka kajian ini dengan hadis dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu yang bertanya kepada Rasulullah ï·º tentang amal terbaik. Nabi ï·º menjawab: "Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya." Dua hal yang sangat berbeda dimensinya — yang pertama adalah amal hati, yang kedua adalah amal fisik paling berat.

Penempatan iman kepada Allah sebagai jawaban pertama bukan kebetulan. Ibnu Jauzi rahimahullah dalam Talbis Iblis mengingatkan bahwa sebagian orang malas menuntut ilmu dengan alasan: "Percuma belajar kalau amal tidak bagus." Padahal amal itu ada dua: amal fisik seperti salat dan sedekah, dan amal hati seperti iman, keyakinan, dan tawakal. Amal hati ini hanya bisa diperoleh melalui ilmu. Al-Qur'an dipenuhi dengan kisah-kisah, deskripsi hari kiamat, sifat-sifat Allah — semua itu bukan untuk diamalkan secara fisik, melainkan untuk memperdalam keyakinan. Itulah amal hati, dan ia adalah amal terbaik.

Adapun jihad fisabilillah disebutkan karena seorang yang berjihad mengorbankan dua hal yang paling dicintai manusia: nyawa dan harta. Dan pengorbanan itu harus dilandasi keikhlasan. Rasulullah ï·º pernah bersabda: "Betapa banyak orang yang terbunuh di antara dua barisan, Allah lebih tahu tentang niat-niat mereka." Sebutan "fisabilillah" dalam hadis ini adalah isyarat bahwa jihad hanya bernilai ketika benar-benar karena Allah.

Pertanyaan dilanjutkan: budak mana yang paling afdal untuk dimerdekakan? Jawaban Nabi ï·º: yang paling mahal dan yang paling bernilai di sisi pemiliknya. Ini pelajaran tentang kualitas dalam sedekah. Kalau kita mau berkorban, korbankan yang terbaik — bukan yang paling murah, bukan yang sudah tidak terpakai. Para sahabat dahulu mewakafkan yang paling mereka cintai: Umar mewakafkan kebunnya di Khaibar, Khalid bin Walid mewakafkan senjata perangnya.

Tingkatan Membantu: dari Meringankan Beban hingga Sekadar Tidak Mengganggu

Pertanyaan berikutnya dari sahabat semakin dalam: "Bagaimana jika aku tidak mampu melakukan sebagian amal itu, ya Rasulullah?" Nabi ï·º membuka satu per satu pintu yang lebih rendah — namun semua tetap bernilai di sisi Allah.

Pertama, bantu orang yang sudah bekerja namun penghasilannya tidak mencukupi. Ini golongan yang sering terlupakan. Kita lebih mudah memperhatikan yang tidak punya pekerjaan sama sekali, namun di sekitar kita banyak yang sudah berusaha keras tetapi hasilnya tetap tidak cukup — pedagang kecil yang sepi pembeli, tukang sol sepatu yang kerjanya ada tapi bayarannya sedikit. Merekalah yang Nabi ï·º sebut pertama kali, karena mereka tidak minta-minta, mereka berjuang dalam diam.

Kedua, bantu orang yang sama sekali tidak punya pekerjaan. Ini yang lebih tampak dan lebih mudah kita kenali.

Ketiga, jika tidak mampu membantu siapapun secara materi atau tenaga, maka tinggalkan keburukan terhadap orang lain. Rasulullah ï·º bersabda: "Biarkanlah manusia dari keburukanmu, karena sesungguhnya itu adalah sedekah yang kau bersedekahkan atas dirimu."

Ini bukan ajaran rendah — ini ajaran yang sangat dalam. Sebelum berbuat sesuatu, kita bertanya: apakah ini mengganggu orang lain? Sebelum menulis sesuatu di media sosial, sebelum membuang sesuatu sembarangan, sebelum berkata sesuatu yang menyakitkan — tahan diri. Menahan diri dari keburukan adalah sedekah kepada diri sendiri, dan itu adalah amal yang bisa dilakukan oleh siapapun dalam kondisi apapun.

Pelaku Kebaikan di Dunia adalah Pelaku Kebaikan di Akhirat

Bab berikutnya memuat hadis yang sangat indah: "Ahlu al-ma'ruf fid dunya, hum ahlu al-ma'ruf fil akhirah. Wa ahlu al-munkar fid dunya, hum ahlu al-munkar fil akhirah." Pelaku kebaikan di dunia, merekalah pelaku kebaikan di akhirat. Dan pelaku kemungkaran di dunia, merekalah pelaku kemungkaran di akhirat.

Para ulama menafsirkan hadis ini dalam dua makna yang saling melengkapi.

Makna pertama: Allah akan membalas kebaikan seorang hamba dengan kebaikan yang berlipat-lipat di akhirat. Orang yang di dunia sering bersedekah akan berada di bawah naungan sedekahnya di padang mahsyar — saat manusia lain kepanasan di bawah terik matahari yang sangat dekat, mereka berteduh. Semakin banyak dan berkualitas sedekah mereka, semakin nyaman teduhan yang mereka rasakan. Bahkan sebelum akhirat, Rasulullah ï·º bersabda: "Shalul ma'ufi su'al azab" — perbuatan-perbuatan baik kepada orang lain akan mencegah kematian yang buruk. Orang yang sering berbuat baik dimudahkan oleh Allah untuk meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Makna kedua, yang dinilai lebih kuat oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.: orang yang di dunia sering berbuat baik kepada orang lain, di akhirat diberi kesempatan untuk berbuat baik lagi — yaitu diberi izin oleh Allah untuk memberi syafaat. Kecintaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi tidak berhenti di dunia. Di surga, orang-orang saleh memohon kepada Allah agar diizinkan memberi syafaat untuk teman-teman mereka yang masih berada di neraka: "Ya Rabb, mereka dulu salat bersama kami, puasa bersama kami, haji bersama kami!" Allah pun mengizinkan mereka memberi syafaat kepada siapa yang Allah kehendaki.

Sebaliknya, Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya orang-orang tukang melaknat di dunia tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafaat pada hari kiamat." Mereka terbiasa menyakiti orang di dunia, maka di akhirat mereka tidak diberi kesempatan untuk berbuat baik kepada orang lain.

Secara sanad, hadis utama bab ini dinilai dha'if karena ada beberapa perawi yang majhul. Namun maknanya dikuatkan oleh banyak syawahid — hadis-hadis lain dari sahabat berbeda yang maknanya sejalan, sehingga hadis ini naik derajatnya menjadi sahih li ghairihi.

Lakukan Kebaikan, Tinggalkan Kemungkaran: Sesederhana Itu

Kisah Harmalah bin Abdillah yang datang kepada Nabi ï·º memberikan pelajaran tentang kesungguhan mencari ilmu. Ia sudah belajar dari Nabi ï·º, sudah mendapat jawaban, namun rasa penasarannya mendorongnya untuk kembali lagi dan bertanya hal yang sama. Dan Rasulullah ï·º tidak marah — beliau menjawab dengan jawaban yang sama, namun kali ini dengan tambahan yang sangat berharga.

Pertama: "Lakukan kebaikan, tinggalkan kemungkaran." Ini wasiat yang mencakup segalanya. Tidak ada kebaikan sekecil apapun yang boleh diremehkan — ada orang yang masuk surga karena memindahkan gangguan dari jalan, ada wanita yang masuk surga karena memberi minum anjing kehausan. Dan tidak ada kemungkaran sekecil apapun yang boleh dianggap sepele — Allah tidak akan melewatkan keburukan sebesar zarah sekalipun.

Tambahan kedua: "Lihatlah apa yang kau sukai telingamu mendengarnya ketika kau meninggalkan suatu kaum. Jika itu yang kau sukai, lakukanlah. Dan jika yang kau tinggalkan adalah sesuatu yang tidak ingin kau dengar orang-orang bicarakan tentangmu, maka tinggalkanlah."

Ini bukan ajaran untuk mencari pujian atau takut cercaan. Ini adalah standar untuk mengukur kebaikan dan keburukan. Makruf itu artinya yang baik menurut orang-orang — dan memang demikianlah makruf secara bahasa: yang diakui dan dikenal sebagai baik oleh masyarakat. Kemungkaran adalah yang diingkari secara fitrah maupun syariat. Harmalah pun merenung setelah pulang dan menyadari: ternyata "jangan marah" mencakup semua kemungkaran, karena kemarahan adalah akar dari begitu banyak kerusakan.

Setiap Kebaikan adalah Sedekah

Bab terakhir merumuskan prinsip terluas yang menjadi penutup yang sempurna: "Kullu ma'rufin sadaqah" — setiap kebaikan adalah sedekah. Rasulullah ï·º bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu.

Sedekah bukan monopoli orang kaya. Sedekah bukan hanya uang yang kita masukkan ke kotak amal. Sedekah adalah setiap kebaikan — senyum kepada saudara, kata-kata yang baik, bantuan tenaga, pikiran yang kita sumbangkan, tasbih yang kita ucapkan, ibadah yang kita kerjakan untuk diri sendiri, bahkan menyalurkan kebutuhan biologis pada jalur yang halal dengan pasangan yang sah. Semua itu sedekah.

Dan jika seseorang tidak punya materi, maka ia bekerja dulu dengan niat agar bisa bersedekah — dan niat itu sendiri sudah bernilai. Jika tidak mampu membantu dengan tenaga, maka ia mengajak orang lain untuk berbuat baik. Jika tidak mampu berbuat semuanya, maka ia menahan dirinya dari mengganggu orang lain. Dan itu pun sedekah.

Inilah agama yang sempurna: tidak ada seorang pun yang tidak punya jalan untuk beramal. Tidak ada seorang pun yang tidak bisa bersedekah. Tidak ada satu pun pintu kebaikan yang benar-benar tertutup bagi seorang Muslim yang bersungguh-sungguh.

Penutup

Dari pertanyaan tentang amal terbaik, melalui berbagai tingkatan membantu sesama, hingga prinsip bahwa setiap kebaikan adalah sedekah — kajian ini mengajak kita untuk tidak menyia-nyiakan satu pun momen dalam hidup kita. Orang berilmu tahu mana amal yang paling utama dan mengejarnya. Orang yang tidak mampu berbuat banyak tahu bahwa sekadar menahan diri dari mengganggu orang lain pun sudah diberi nilai oleh Allah. Dan orang yang sering berbuat baik kepada sesama tidak hanya mendapat balasan berlipat di akhirat, tetapi juga diberi kesempatan mulia untuk memberi syafaat kepada orang-orang yang ia cintai.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita termasuk ahlul ma'ruf — orang-orang yang berbuat baik di dunia dan mendapat kebaikan di akhirat, yang diberi izin untuk memberi syafaat kepada orang-orang yang kita cintai di hari yang paling menentukan itu. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.




Posting Komentar

0 Komentar