Ada sebuah hadis yang sering kita dengar namun mungkin belum sepenuhnya kita resapi: cabang keimanan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Bukan cabang yang biasa-biasa saja — melainkan yang paling rendah, yang paling mudah, yang tidak membutuhkan harta atau tenaga besar. Dan ternyata, amalan paling rendah ini bisa menjadi sebab seseorang masuk surga. Inilah yang menjadi inti Sesi 40, yang membahas bab tentang menghilangkan gangguan, berkata-kata baik, mencari nafkah dengan niat yang benar, dan kisah panjang yang menggambarkan adab para sahabat dalam bermuamalah satu sama lain.
Amalan Paling Rendah yang Bisa Membuka Pintu Surga
Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu 'anhu datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya: "Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku amalan yang bisa memasukkan aku ke dalam surga." Jawaban Nabi ﷺ: "Hilangkan gangguan dari jalan yang dilalui orang-orang."
Ini mengejutkan. Seorang sahabat bertanya tentang amalan yang mengantarkan ke surga, dan Rasulullah ﷺ menjawab dengan sesuatu yang tampak begitu sederhana. Namun inilah yang membuat kita harus merenungkan kembali cara kita memandang amal saleh.
Imam Bukhari meriwayatkan hadis lain yang melengkapi gambaran ini: seorang Muslim berjalan di suatu jalan, melihat duri di hadapannya, dan berkata dalam hati: "Aku akan menyingkirkan duri ini agar tidak mengganggu seorang Muslim pun." Yang dia pikirkan bukan dirinya sendiri — ia memikirkan orang-orang lain yang akan melewati jalan itu. Maka Allah mengampuni dosa-dosanya.
Rasulullah ﷺ juga memperlihatkan kepada para sahabat amal-amal umatnya. Di antara amal terbaik yang Nabi ﷺ temukan adalah seseorang yang menghilangkan gangguan dari jalan. Dan di antara keburukan yang beliau temukan adalah seseorang yang meludah atau membuang ingus di dalam masjid lalu tidak menguburnya — membiarkan kotoran itu mengganggu orang yang salat berikutnya.
Dari sini Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. mengajak kita memilah tiga golongan manusia ketika berhadapan dengan gangguan di jalan. Pertama, yang meletakkan gangguan: parkir sembarangan di badan jalan, membuang sampah di trotoar, membangun di luar batas pagar hingga menyempitkan jalan umum — ini adalah dosa, bentuk kezaliman kepada orang banyak. Kedua, yang membiarkan gangguan: melihat hambatan di jalan namun cuek dan berlalu begitu saja, tidak merasa itu urusannya — golongan ini tidak berdosa, tetapi juga tidak mendapat pahala. Ketiga, yang menghilangkan gangguan — dan inilah yang terbaik. Dan di antara mereka yang menghilangkan gangguan pun masih ada perbedaan: yang melakukannya agar dirinya selamat, dan yang melakukannya karena tidak ingin seorang Muslim pun terganggu. Yang kedua jauh lebih tinggi pahalanya, karena yang berbeda adalah isi hatinya.
Ini mengingatkan kita bahwa Allah subhanahu wa ta'ala sangat detail dalam memberi pahala. Dua orang salat di sebelahan — mungkin pahalanya seperti jarak langit dan bumi. Dua orang menghilangkan gangguan dari jalan — pahalanya bisa sangat berbeda tergantung niat yang tersembunyi di hati masing-masing.
Ada pula dimensi yang lebih luas dari "menghilangkan gangguan dari jalan": menyingkirkan gangguan dari jalan menuju Allah. Syubhat-syubhat yang menyesatkan, bid'ah-bid'ah yang mengaburkan agama, khurafat yang membelokkan manusia dari tauhid yang benar — semua itu adalah gangguan di jalan menuju Allah. Orang yang dengan ilmunya membersihkan kerancuan-kerancuan itu dari benak kaum muslimin, yang meluruskan pemahaman yang menyimpang, yang memudahkan orang untuk mengenal Allah dengan benar — ia sedang melakukan amalan yang sama, dalam versi yang paling tinggi dan paling berdampak.
Berkata Baik: Sedekah yang Tidak Memerlukan Harta
Bab berikutnya tentang Qaulul Ma'ruf — berkata-kata yang baik — melengkapi tema besar kajian ini. Rasulullah ﷺ bersabda: "Kullu ma'rufin shadaqah" — setiap kebaikan adalah sedekah. Dan di antara kebaikan itu, berkata baik adalah sedekah yang bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun, tanpa modal apapun.
Rasulullah ﷺ memberi teladan yang sangat indah dalam hal ini. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ memiliki sesuatu atau diberi sesuatu, beliau sering berkata: "Bawakan ini ke rumah si Fulanah — karena ia dulu adalah teman Khadijah." Sudah bertahun-tahun Khadijah radhiyallahu 'anha wafat, namun Rasulullah ﷺ tetap mengingat teman-temannya dan berbuat baik kepada mereka.
Ini bukan hanya tentang kesetiaan kepada Khadijah yang luar biasa itu — ini juga tentang bagaimana kata-kata baik dan perintah berbuat baik adalah sedekah. Ketika Rasulullah ﷺ berkata "bawakan ini ke rumah si Fulanah", beliau sedang menyebarkan kebaikan melalui kata-kata. Demikian pula ketika kita berkata kepada anak: "Ayo, antar makanan ini ke tetangga sebelah", atau kepada istri: "Sayang, ada janda di sebelah yang kelihatannya kesusahan, mungkin bisa kita bantu" — semua kata-kata itu adalah sedekah.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata yang baik atau diam." Ini standar yang tinggi namun sangat jelas: sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri apakah ucapan ini baik. Jika ya, ucapkan. Jika ragu, diam lebih aman. Dan jika ada yang lebih baik dari apa yang ingin diucapkan, ucapkan yang lebih baik itu — karena Allah berfirman: "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku untuk mengucapkan yang terbaik."
Mencari Nafkah sebagai Ibadah
Imam Bukhari kemudian membawakan kisah yang tampak sederhana namun sarat makna tentang Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu yang ditemui di kebun sayurnya, sedang membawa keranjang berisi sayur di bahunya untuk dibawa pulang ke rumah. Inilah yang dijadikan judul bab: pergi ke kebun, memetik sayur, membawanya pulang untuk keluarga.
Mengapa ini masuk dalam bab tentang kebaikan? Karena setiap langkah menuju rezeki yang halal, setiap tetes keringat yang dikeluarkan untuk menafkahi keluarga, bernilai sedekah di sisi Allah — asalkan disertai niat karena Allah. Kaidah mengatakan: "Lā ajra illā bil ihtisāb" — tidak ada pahala kecuali dengan niat mengharap ridha Allah. Kalau hanya bekerja tanpa niat karena Allah, maka itu hanya urusan duniawi semata. Namun ketika seorang suami berangkat ke kebun dengan hati yang berdoa: "Ya Allah, ini aku lakukan untuk menafkahi keluargaku karena-Mu" — maka setiap langkahnya, setiap kerjanya, bernilai ibadah.
Kisah Salman, Hudzaifah, dan Adab Para Sahabat
Kisah panjang yang melibatkan Salman Al-Farisi, Hudzaifah Ibnul Yaman, dan Abu Qurrah Al-Kindi radhiyallahu 'anhum ini menyimpan banyak pelajaran tentang adab bermuamalah di antara para sahabat.
Bermula dari Abu Qurrah yang pernah menawarkan saudarinya kepada Salman, namun Salman menolak. Kemudian Salman menikahi budak perempuannya yang sudah ia merdekakan. Abu Qurrah tidak menyimpan dendam atas penolakan itu — dan ketika ia mendengar ada perselisihan antara Salman dan Hudzaifah, ia justru datang untuk mendamaikan keduanya. Itulah kemuliaan hati: penolakan tidak dijadikan alasan untuk membiarkan orang yang pernah menolak larut dalam masalah.
Inti perselisihan: Hudzaifah meriwayatkan hadis-hadis Nabi ﷺ yang diucapkan dalam kondisi marah kepada suatu kaum. Salman khawatir periwayatan itu tanpa konteks bisa menimbulkan salah paham. Ketika Salman ditanya tentang hadis-hadis Hudzaifah, ia menjawab dengan hormat: "Hudzaifah lebih paham tentang apa yang ia sampaikan." Ia tidak mendustakan Hudzaifah, tidak pula membenarkan secara penuh tanpa penjelasan konteks — ia menjaga diri sambil menghormati saudaranya.
Sayangnya, perantara yang menyampaikan perkataan Salman kepada Hudzaifah tidak mengutipnya dengan tepat. Ia berkata: "Salman tidak membenarkan kamu dan tidak mendustakanmu" — diksi yang berbeda, yang membuka ruang penafsiran yang kurang tepat. Pelajarannya: menukilkan perkataan orang lain harus dengan diksi yang sama persis, bukan dengan parafrase yang bisa mengubah makna.
Ketika Hudzaifah mendengar laporan itu, ia langsung datang kepada Salman untuk mengklarifikasi — tidak langsung berburuk sangka, tidak langsung marah. Keduanya berbicara langsung, dan Salman akhirnya menutup dengan ancaman: "Jangan lanjutkan ini atau aku laporkan kepada Umar." Dan sebutan nama Umar saja sudah cukup untuk menghentikan perselisihan.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda yang relevan dengan konteks ini: bahwa jika beliau dalam keadaan marah melaknat atau mencela seseorang yang tidak berhak mendapat laknat dan celaan itu, maka "Ya Allah, jadikanlah itu sebagai doa kebaikan untuknya." Ini yang menjadi rujukan Salman dalam menjelaskan hadis-hadis Hudzaifah tentang ucapan Nabi ﷺ dalam keadaan marah.
Penutup
Dari amalan paling sederhana — menyingkirkan duri dari jalan — hingga adab berkata-kata yang penuh pertimbangan, dari mencari nafkah dengan niat ibadah hingga adab para sahabat dalam menyelesaikan perselisihan: semuanya berbicara tentang satu prinsip besar yang terus diulang dalam seri kajian ini.
Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan, dan tidak ada keburukan yang terlalu kecil untuk ditinggalkan. Yang membuat amalan itu besar atau kecil bukan ukuran fisiknya, melainkan keikhlasan yang menyertai dan kesadaran bahwa Allah subhanahu wa ta'ala Maha Melihat setiap detailnya — termasuk niat yang tersembunyi di kedalaman hati kita.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tidak pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, yang menjaga lisan dari keburukan, yang mencari nafkah dengan niat yang benar, dan yang bermuamalah dengan sesama dengan adab yang memuliakan diri dan orang lain. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar