Dua tema besar hadir dalam kajian Sesi 42 ini: tentang batas-batas bercanda dalam Islam, dan tentang kemuliaan memaafkan. Keduanya tampak berbeda, namun keduanya berbicara tentang hal yang sama — bagaimana seorang Muslim mengelola hubungannya dengan sesama: apakah ia mendatangkan kesenangan yang halal, atau kesenangan yang menzalimi; apakah ia membalas kesalahan orang lain, atau memilih jalan yang lebih mulia.
Bercanda: Boleh, tapi Ada Batasnya
Bab ke-121 membuka dengan hadis yang tegas dari Rasulullah ﷺ: "Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik bercanda maupun serius. Jika salah seorang dari kalian mengambil tongkat saudaranya, hendaknya ia kembalikan."
Larangan ini bukan berarti Islam melarang canda dan tawa. Justru sebaliknya — Islam mengakui bahwa manusia butuh momen-momen yang menyegarkan jiwa. Aktivitas serius yang terus-menerus tanpa jeda akan menimbulkan kebosanan dan kelelahan. Sesekali bercanda, sesekali bermain, adalah fitrah yang diakui oleh syariat.
Rasulullah ﷺ sendiri bercanda. Ketika suhaib Ar-Rumi radhiyallahu 'anhu datang menemuinya dengan mata sedang sakit lalu makan kurma, Nabi ﷺ tersenyum dan berkata: "Kau makan kurma sementara matamu sedang bermasalah?" Suhaib pun menjawab dengan cerdik: "Saya makan dari sebelah yang matanya tidak sakit." Nabi ﷺ tersenyum mendengarnya. Ada juga canda Nabi ﷺ kepada seorang nenek yang meminta didoakan masuk surga — beliau ﷺ berkata: "Surga tidak dimasuki oleh nenek-nenek." Nenek itu menangis, sampai Rasulullah ﷺ menjelaskan: karena di surga semua penghuni akan menjadi muda kembali. Dan canda kepada seorang sahabat yang meminta tunggangan — "Saya akan berikan kau anak unta" — karena setiap unta yang besar pun tetaplah anak unta dari induknya.
Semua candaan Nabi ﷺ ini punya tiga ciri: sesekali, bukan terus-menerus; jujur, tidak mengandung kedustaan; dan bertujuan menyenangkan hati orang lain, bukan menzalimi.
Dari sini, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. merumuskan candaan yang dilarang dalam empat kategori. Pertama, bercanda dengan menggibah — menceritakan aib orang lain untuk dijadikan bahan tertawa. Ini menggabungkan dua keharaman: gibah dan menzalimi kehormatan orang lain. Kedua, bercanda dengan mengejek dan merendahkan orang — sukhriyah — yang dilarang Allah dalam Al-Qur'an. Ketiga, bercanda dengan berdusta. Rasulullah ﷺ bersabda: "Celakalah, celakalah, celakalah orang yang membuat cerita dusta untuk membuat orang tertawa." Tiga kali kata celaka — karena ia menggabungkan dusta, memperbanyak tawa yang mematikan hati, dan mematikan hati orang lain juga. Keempat, bercanda dengan menakut-nakuti orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak halal bagi seorang Muslim menakut-nakuti saudaranya." Prank yang membuat orang gelisah, mengambil barang orang lain diam-diam sehingga pemiliknya panik mencari — ini termasuk dilarang.
Rasulullah ﷺ pun menegaskan lebih jauh: ia menjamin istana di pinggiran surga bagi yang meninggalkan perdebatan meskipun ia yang benar; istana di tengah surga bagi yang meninggalkan kedustaan meskipun bercanda; dan istana di bagian atas surga bagi yang memperbaiki akhlaknya.
Menunjukkan Kebaikan: Pahala Tanpa Batas
Bab ke-122 memuat hadis yang sangat memotivasi. Seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ meminta tunggangan untuk berjihad. Nabi ﷺ tidak punya. Ada orang ketiga yang menunjukkan: "Pergilah ke Si Fulan, dia mungkin punya." Orang itu pergi, mendapat tunggangan, dan melapor kepada Nabi ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya."
Yang menunjukkan itu tidak punya tunggangan sama sekali. Namun karena ia menjadi jembatan antara kebutuhan dan kemampuan, ia pun mendapat pahala. Ini membuka pintu yang sangat lebar: siapapun bisa berpartisipasi dalam kebaikan meski tidak punya kemampuan untuk melakukannya sendiri.
Orang yang menyebarkan pengumuman pengajian hingga sepuluh orang datang hadir — ia mendapat pahala dari kehadiran mereka semua. Panitia yang mempersiapkan acara dakwah, sponsor yang membiayai perjalanan seorang dai ke daerah terpencil — semuanya mendapat bagian dari pahala kebaikan yang terjadi, karena mereka menunjukkan atau memfasilitasi kebaikan itu.
Para ulama memang berselisih apakah pahala yang menunjukkan sama persis dengan yang melaksanakan, atau sekedar mendapat bagian darinya. Namun yang jelas, karunia Allah sangat luas dan hadis ini memotivasi kita untuk tidak pernah merasa tidak punya peran dalam kebaikan.
Dari hadis ini pula terbuka renungan tentang keagungan Nabi ﷺ: seluruh kebaikan yang dilakukan umat Islam sejak zaman sahabat hingga hari kiamat mengalirkan pahala kepada beliau ﷺ, karena beliaulah yang pertama menunjukkan dan mengajarkan semua kebaikan itu.
Memaafkan: Ibadah yang Paling Berat dan Paling Mulia
Bab tentang al-'afwu was-safhu 'aninnas — memaafkan dan berlapang dada dari kesalahan manusia — adalah puncak dari kajian ini. Imam Bukhari meriwayatkan kisah Rasulullah ﷺ menerima jamuan dari seorang wanita Yahudi yang telah menaruh racun dalam daging kambing. Beberapa sahabat yang memakannya meninggal seketika. Rasulullah ﷺ sendiri merasakan dampak racun itu — dan dampaknya tidak berhenti, terus terasa selama bertahun-tahun, hingga menjadi salah satu sebab wafatnya beliau ﷺ. Ketika para sahabat bertanya: "Tidakkah kita bunuh wanita ini?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Tidak."
Bayangkan: seseorang memberi racun yang dampaknya berkepanjangan selama bertahun-tahun, dan akhirnya menyebabkan kematian — dan ia dimaafkan. Itulah Rasulullah ﷺ.
Dan ingat Fathul Makkah: delapan tahun diusir, rumahnya diambil, sayembara membunuhnya dipasang, diserang dalam perang demi perang — ketika akhirnya beliau kembali dengan 10.000 pasukan, beliau ﷺ bertanya kepada penduduk Makkah: "Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan kepada kalian?" Mereka menjawab: "Kebaikan. Engkau adalah orang terbaik." Rasulullah ﷺ berkata: "Pergilah — kalian bebas."
Inilah puncak safhu — berlapang dada tanpa satu pun cercaan. Seperti ucapan Nabi Yusuf 'alaihissalam kepada saudara-saudaranya yang dulu melemparnya ke sumur dan menjualnya sebagai budak: "Tidak ada cercaan bagi kalian mulai hari ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian."
Para ulama membedakan antara 'afw dan safhu. 'Afw — memaafkan — berarti ia tidak membalas, ia merelakan. Ini yang dituntut syariat dan berpahala besar. Safhu — berlapang dada — lebih tinggi lagi: ia melupakan, seolah tidak pernah ada kesalahan, bahkan mendoakan kebaikan bagi yang bersalah. Ini yang dicontohkan Nabi Yusuf dan Rasulullah ﷺ.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan dalam Al-Qur'an, terkait kisah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang hampir berhenti membantu Mistah setelah Mistah ikut menuduh Aisyah: "Tidakkah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?" — isyarat yang sangat kuat: siapa yang memaafkan, ia dimaafkan. Siapa yang berlapang dada, Allah berlapang dada kepadanya.
Ini adalah aljazā' min jinsil 'amal — balasan sesuai dengan perbuatan. Semakin besar kapasitas memaafkan seseorang, semakin besar ampunan Allah kepadanya.
Ustadz Firanda menutup dengan refleksi yang sangat menyentuh: kita tidak sedang dizalimi oleh musuh yang ingin membunuh kita selama bertahun-tahun seperti yang dialami Nabi ﷺ. Yang sering kita persoalkan adalah perselisihan dengan suami atau istri, pertengkaran dengan kakak atau adik, gesekan dengan tetangga atau rekan kerja. Dibandingkan dengan apa yang Rasulullah ﷺ maafkan — betapa kecilnya yang kita perselisihkan. Namun justru itu yang sering kita bawa berlarut-larut, sampai bertahun-tahun, sampai menyakiti orang tua yang melihat anak-anaknya bertengkar, sampai menyiksa diri sendiri dengan hidup serumah namun bermusuhan.
Penutup
Dari batas-batas bercanda hingga kemuliaan memaafkan, kajian ini mengajak kita untuk melihat dua ujung yang sama: adab dalam kesenangan, dan adab dalam kesedihan. Bercanda boleh — asalkan jujur, sesekali, dan tidak menzalimi. Dizalimi boleh dibalas setimpal — tetapi memaafkan adalah pilihan yang jauh lebih indah dan jauh lebih besar pahalanya di sisi Allah.
Renungi teladan Rasulullah ﷺ: diracun, diusir, diperangi — dan ia memaafkan. Lalu lihat diri kita: pertengkaran kecil yang kita genggam bertahun-tahun. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala melembutkan hati kita, melapangkan dada kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mudah memaafkan sehingga mudah pula mendapat ampunan-Nya. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar