Kajian Sesi 43 membawa dua tema yang saling melengkapi: bagaimana kita menyikapi keterbatasan orang-orang di sekitar kita tanpa terus-menerus kecewa, dan bagaimana kita membangun hubungan yang hangat dengan siapa pun yang kita temui. Keduanya berakar pada satu pemahaman yang sama — bahwa adab yang mulia tidak lahir dari kekerasan hati, melainkan dari kelapangan jiwa yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala.
Ambillah yang Mudah dari Manusia
Imam Bukhari membuka kajian ini dengan atsar dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma yang berkhutbah di atas mimbar seraya membacakan firman Allah:
"Ambillah sikap memaafkan, perintahkan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang jahil." (QS. Al-A'raf: 199)
Abdullah bin Zubair kemudian bersumpah: "Demi Allah, tidaklah Allah memerintahkan ayat ini kecuali untuk mengambil yang mudah dari akhlak manusia." Dan beliau bertekad: "Demi Allah, aku akan mengambil sikap memaafkan dari manusia selama aku bersama mereka."
Ada dua penafsiran tentang makna "khudil 'afwa" di sini. Sebagian ahli tafsir memaknainya sebagai perintah kepada Nabi ﷺ untuk mengambil kelebihan harta kaum muslimin sebelum ada aturan zakat — kemudian dinasakh dengan turunnya kewajiban zakat. Namun Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma — dan Imam Bukhari setuju dengannya dengan menempatkan ayat ini dalam bab tentang memaafkan — memaknainya sebagai: terimalah apa yang mudah dilakukan oleh manusia, jangan paksa mereka melebihi kemampuan mereka.
Inilah yang disebut sebagian ulama sebagai ayat paling komprehensif tentang akhlak mulia. Karena siapa yang mengamalkannya akan hidup dengan hati yang lapang.
Kita sering kecewa kepada orang-orang di sekitar kita karena ekspektasi kita tidak terpenuhi. Kita berharap tetangga selalu ramah dan mengirim makanan, ternyata hanya mampu tersenyum — ya sudah, terima itu. Kita berharap pembantu bekerja sempurna, ternyata ada kekurangan di sana-sini — ya sudah, nasihati semampunya, sisanya maafkan. Kita berharap istri selalu nurut, atau suami selalu paham — ternyata tidak semua bisa dipenuhi setiap saat. Kalau kita terus-menerus memaksa orang beradaptasi dengan standar kita, kita akan selalu hidup dalam kekecewaan.
Bukan berarti kita tidak menasihati. Nasihati tetap berjalan. Tapi setelah dinasihati dan tidak bisa berubah, jangan dipaksa — sudahlah, maafkan. Dengan cara inilah kita bisa beradaptasi dengan masyarakat yang beragam kondisi dan kemampuannya, dan dengan cara ini pula hati kita bisa lebih tenteram.
Ajarkan, Mudahkan, dan Diam Ketika Marah
Hadis berikutnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma memuat tiga wasiat Rasulullah ﷺ yang sangat padat: "Ajarkan, mudahkan dan jangan persulit, dan jika salah seorang dari kalian marah hendaknya ia diam."
Pertama, ajarkan. Dakwah dan pengajaran harus terus berjalan. Tidak ada alasan untuk berhenti mengajari masyarakat tentang kebaikan — tentang Al-Qur'an, tentang adab, tentang hukum-hukum agama.
Kedua, mudahkan, jangan persulit. Ini bukan berarti menghalalkan yang haram atau mengaburkan yang wajib. Ini tentang metode dan tahapan. Orang yang baru mengenal Islam jangan langsung dibebani dengan topik yang berat. Pelan-pelan, sesuai dengan nalar dan kemampuan mereka. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan yang bisa mereka nalar. Apakah kau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" Rasulullah ﷺ pun pernah menegur seorang sahabat yang membaca Surah Al-Baqarah dalam salat Isya sehingga ada yang terpaksa meninggalkan jamaah — "Kamu membuat fitnah!" Apa yang disampaikan benar, namun cara dan waktunya tidak tepat.
Ketiga, diam ketika marah. Inilah yang paling sulit namun paling penting. Orang yang marah tidak bisa mengontrol perkataannya. Hakim yang memberi vonis dalam keadaan marah bisa berlaku tidak adil. Suami yang mencetuskan talak di puncak amarah sering menyesal setelahnya. Sebagian Salaf berkata: "Al-ghaḍabu awwaluhu junūnun wa ākhiruhu nadamun" — marah itu awalnya kegilaan, akhirnya penyesalan. Maka jika sedang marah, diam. Duduk kalau sedang berdiri, berbaring kalau masih bergejolak, sampai api kemarahan itu mereda.
Murah Bergaul: Akhlak yang Juga Merupakan Ibadah
Bab ke-124, al-inbisāṭu ilā al-nās — mudah bergaul dengan orang lain — membawa kita pada dimensi sosial dari akhlak mulia. Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang mukmin itu mudah untuk bergaul dan mudah untuk diajak bergaul. Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mudah bergaul dan tidak mudah diajak bergaul."
Ini bukan berarti mengikuti semua arus. Nabi ﷺ adalah teladan terbaik: beliau ﷺ hidup di tengah masyarakat Arab yang penuh dengan khamar, judi, zina, dan musik — namun tidak sedikit pun terbawa. Beliau ﷺ bergaul dengan semua orang, berjalan di pasar, menemui tamu tanpa protocol berlebihan, menyapa anak-anak di jalan, menemui orang miskin dan orang kaya dengan cara yang sama. Sampai seorang sahabat mengatakan bahwa tidak ada Bodyguard, tidak ada ring satu ring dua — siapa pun bisa menemui beliau ﷺ.
Imam Bukhari meriwayatkan dari seorang perawi yang mendengar langsung tentang sifat Nabi ﷺ dalam Taurat — yang ternyata selaras dengan sifat beliau dalam Al-Qur'an: tidak berkata kasar, tidak bersikap keras, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memberi maaf dan mengampuni. Allah berfirman:
"Maka dengan sebab rahmat Allah kepada engkau, jadilah engkau lembut kepada mereka. Seandainya engkau berkata kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan lari dari sisimu." (QS. Ali Imran: 159)
Artinya, kelembutan adalah tanda rahmat Allah kepada seseorang. Orang yang kasar dan kaku — bukan berarti ia lebih tegas atau lebih berwibawa. Justru itu tanda bahwa rahmat Allah kepada dirinya sedang berkurang.
Hadis dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu menambahkan dimensi lain: "Sesungguhnya jika kau selalu mengikuti keraguan dan kecurigaan terhadap manusia, kau akan merusak mereka." Muawiyah berkata: "Sejak aku mendengar sabda Nabi ini, aku tidak pernah bersikap curiga kepada orang lain sehingga bisa merusak mereka." Inilah yang membuat Muawiyah radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai salah satu khalifah yang paling dicintai rakyatnya — karena ia memimpin dengan kepercayaan, bukan dengan kecurigaan.
Pemimpin yang baik bukan yang turun ke lapangan untuk mengawasi setiap detail karena tidak percaya bawahannya. Pemimpin yang baik adalah yang membangun sistem kepercayaan, lalu menilai hasilnya. Kalau selalu curiga, hubungan menjadi rusak, kreativitas bawahan terhambat, dan kerja sama tidak bisa berjalan dengan baik.
Kajian ini ditutup dengan gambar yang sangat indah dari Rasulullah ﷺ bersama cucunya Hasan atau Husain: beliau memegang kedua tangan sang cucu, membiarkan kaki kecil itu berpijak di atas kakinya, dan berkata: "Ayo, panjat!" Sang cucu pun memanjat ke dada Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ lalu mencium mulutnya dan berdoa: "Ya Allah, cintailah dia — sungguh aku mencintainya."
Itulah al-inbisāṭ yang sesungguhnya: tidak hanya mudah bergaul dengan orang dewasa dan pemimpin, tetapi juga hangat dan lembut kepada anak-anak. Rasulullah ﷺ bahkan mempersingkat salatnya ketika mendengar tangis bayi di belakang — tidak tega membiarkan ibunya sedih mendengar tangisan anaknya.
Penutup
Dari ayat tentang mengambil yang mudah dari manusia, hingga teladan Nabi ﷺ yang memanjakan cucunya — semua ini berbicara tentang satu prinsip: adab yang mulia adalah yang membuat orang-orang di sekitar kita merasa nyaman, diterima, dan dihargai. Bukan adab yang membangun jarak, mempersulit akses, atau selalu mencurigai. Dan adab seperti itu hanya bisa tumbuh dari hati yang lapang, yang telah belajar menerima keterbatasan manusia dan memaafkan kekurangan mereka karena menyadari bahwa ia pun tidak sempurna di hadapan Allah.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mudah memaafkan, mudah bergaul, dan mudah memberikan ketenangan kepada orang-orang di sekitar kita. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar