RS 122. Ketenangan yang Hanya Dimiliki Orang Jujur

Ada satu hadis pendek namun dalam yang diwariskan oleh Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ta'ala 'anhuma, cucu kesayangan Rasulullah ﷺ. Beliau berkata, "Aku menghafal sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ," lalu beliau menyampaikan,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Karena sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan kedustaan adalah keragu-raguan." 

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan dinyatakan shahih.

Kalimat pendek ini menyimpan dua pelajaran besar sekaligus: cara berpikir yang benar ketika dihadapkan pada keraguan, dan rahasia mengapa kejujuran selalu melahirkan ketenangan jiwa. Namun sebelum masuk ke kandungan hadisnya, ada baiknya kita mengenal lebih dekat sosok yang meriwayatkannya.

Cucu Kesayangan yang Menjadi Teladan Kematangan

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala 'anhuma lahir di Kota Madinah, sebagian riwayat menyebut bulan Sya'ban, sebagian lain menyebut pertengahan Ramadan tahun ketiga hijriah. Ketika beliau lahir, Rasulullah ﷺ datang dan meminta, "Perlihatkan cucuku." Beliau lalu bertanya nama apa yang telah diberikan kepada bayi tersebut. Ali radhiyallahu 'anhu menjawab bahwa ia hendak menamainya Harb, yang berarti perang. Namun Rasulullah ﷺ berkata, "Bukan, namanya Hasan." Riwayat ini disebutkan oleh Imam Ahmad dengan sanad hasan. Rasulullah ﷺ sendiri yang mengakikahkan cucunya ini.

Al-Hasan tumbuh menjadi sosok yang cerdas, matang sebelum waktunya, dan sangat mencintai kebaikan. Kefasihannya luar biasa; ia dikenal sebagai salah satu komunikator terbaik yang pernah dimiliki umat ini, mampu berbicara pada level tertinggi secara spontan tanpa persiapan teks. Wajahnya pun sangat menyerupai Rasulullah ﷺ. Suatu hari, seusai shalat asar, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berjalan bersama Ali radhiyallahu 'anhu dan melihat Hasan kecil sedang bermain. Abu Bakar menggendongnya sambil berkata, "Anak ini mirip Nabi ﷺ, bukan mirip denganmu, wahai Ali." Ali radhiyallahu 'anhu hanya tertawa mendengarnya. Riwayat ini terdapat dalam Shahih Bukhari.

Kecintaan Rasulullah ﷺ kepada cucunya ini begitu mendalam. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya." Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengaku bahwa setelah mendengar doa tersebut, tidak ada seorang pun yang lebih ia cintai selain Al-Hasan. Dalam riwayat Tirmidzi, Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda penghuni surga.

Kematangan yang Menyatukan Umat

Puncak kematangan Al-Hasan radhiyallahu 'anhu terlihat ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu wafat pada tahun keempat puluh hijriah. Penduduk Irak membaiatnya sebagai khalifah. Namun setahun kemudian, di usianya yang baru sekitar tiga puluh delapan tahun, beliau memilih melepaskan hak kekhalifahan itu dan menyerahkannya kepada Muawiyah radhiyallahu 'anhu demi menyatukan kembali umat Islam yang saat itu terpecah. Tahun itu kemudian dikenal sebagai 'Amul Jama'ah, tahun persatuan. Keputusan ini sesungguhnya telah dinubuwatkan sendiri oleh kakeknya, Rasulullah ﷺ, yang pernah bersabda bahwa cucunya ini adalah seorang pemimpin sejati, dan semoga Allah mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melaluinya.

Bukan karena lemah atau tidak memiliki dukungan, Al-Hasan memilih mengalah demi menghindari pertumpahan darah di tengah umat. Ketika beliau wafat, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menangis dan berseru kepada orang-orang bahwa kekasih Rasulullah ﷺ telah berpulang. Dari sosok inilah kita mendapati hadis yang menjadi pokok pembahasan kita: pelajaran tentang keraguan dan tentang kejujuran.

Ketika Hati Ragu, Pilihlah yang Meyakinkan

Pelajaran pertama dari hadis ini adalah perhatian seorang muslim terhadap sunnah Rasulullah ﷺ. Al-Hasan radhiyallahu 'anhu dengan tegas menyatakan, "Aku menghafal hadis ini dari Rasulullah ﷺ," menunjukkan betapa besar perhatian para sahabat terhadap setiap sabda kekasih mereka. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda dalam riwayat Tirmidzi bahwa Allah akan memberikan cahaya kepada orang yang mendengar sebuah hadis, menjaganya, lalu menyampaikannya kepada orang lain.

Pelajaran kedua adalah kaidah bersikap yang sangat praktis: tinggalkan apa yang meragukan, pilih yang meyakinkan. Para ulama memberikan contoh dalam ibadah shalat. Ketika seseorang ragu apakah ia sedang berada di rakaat ketiga atau keempat, maka yang harus dipegang adalah bilangan yang lebih kecil dan lebih meyakinkan, yaitu rakaat ketiga, karena keraguan sesungguhnya tertuju pada bilangan yang lebih besar. Contoh yang sama berlaku ketika seseorang ragu dalam hitungan putaran tawaf, apakah sudah putaran kelima atau keenam; pilihlah lima, karena itulah bilangan yang diyakini.

Kaidah ini bukan sekadar berlaku dalam ibadah, melainkan menjadi prinsip hidup secara umum. Dalam ilmu ushul fikih, seseorang baru diperkenankan melangkah dan bertindak apabila telah sampai pada keyakinan atau setidaknya dugaan kuat, bukan sekadar kemungkinan fifty-fifty. Jika data dan indikator yang dimiliki belum meyakinkan, mengapa memaksakan diri melangkah di atas keraguan? Semakin lama seseorang berlarut dalam keraguan, semakin leluasa pula bisikan buruk bermain dalam hatinya. Maka begitu keraguan muncul, segeralah berpaling kepada apa yang diyakini, lalu lanjutkan kehidupan.

Nabi Ibrahim, Sosok Siddiq yang Tak Pernah Kehilangan Ketenangan

Inilah inti dari hadis yang dibawakan dalam bab kejujuran ini: kejujuran adalah ketenangan, sedangkan kedustaan adalah kegalauan dan ketidaktenangan. Orang yang jujur akan tetap tenang sekalipun difitnah atau diserang, sebab ia tidak memiliki sesuatu yang disembunyikan dan dikhawatirkan terbongkar. Sebaliknya, orang yang berdusta akan senantiasa gelisah, sebab kebohongannya berpotensi terbuka kapan saja.

Al-Qur'an memberikan teladan yang begitu indah tentang hal ini melalui kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Allah berfirman dalam (QS. Maryam: 41), mengabarkan bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah seorang yang shiddiq dan nabi. Gelar shiddiq ini tidak diberikan kepada sembarang orang, melainkan kepada mereka yang senantiasa konsisten berkata dan bersikap jujur hingga kejujuran itu menjadi pola hidupnya.

Dampak dari kejujuran itu tampak jelas ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam berdialog dengan ayahnya yang menyembah berhala. Dalam (QS. Maryam: 42-45), beliau memanggil ayahnya dengan sapaan yang sangat santun, "Ya abati," wahai ayahku, lalu menyampaikan dengan lembut bahwa telah datang kepadanya sebagian ilmu yang belum sampai kepada sang ayah, mengajaknya mengikuti jalan yang lurus. Beliau tidak pernah merendahkan ayahnya dengan mengatakan dirinya berilmu sementara sang ayah bodoh. Bahkan ketika mengingatkan bahaya menyembah setan, Nabi Ibrahim 'alaihissalam memilih menyalahkan setan yang durhaka, bukan menuduh ayahnya sebagai pendurhaka.

Namun respons sang ayah jauh dari lembut. Ia mengancam akan merajam Nabi Ibrahim 'alaihissalam jika tidak berhenti berbicara, bahkan menyuruhnya pergi meninggalkan rumah. Di titik inilah kejujuran dan ketenangan Nabi Ibrahim 'alaihissalam benar-benar diuji, dan beliau menjawab dengan kalimat yang tercatat abadi dalam (QS. Maryam: 47), "Salamun 'alaik," semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepadamu wahai ayahku. Beliau bahkan berjanji akan senantiasa memintakan ampun kepada Rabbnya untuk sang ayah. Tidak ada nada emosi, tidak ada balasan kasar atas ancaman yang diterimanya. Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa makna "Salamun 'alaik" di sini adalah jaminan dari Nabi Ibrahim 'alaihissalam bahwa ayahnya akan senantiasa selamat dari sikap dan tutur kata yang tidak nyaman darinya, apa pun yang sang ayah ucapkan kepadanya.

Jujur kepada Allah, Akar dari Segala Ketenangan

Kisah ini mengajarkan bahwa kejujuran sejati akan selalu melahirkan kesantunan dalam bertutur dan ketenangan dalam bersikap, bahkan di tengah tekanan dan provokasi sekalipun. Ketenangan semacam ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan buah dari kejujuran yang kokoh, terutama kejujuran kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seseorang boleh saja merasa tidak pernah berdusta kepada pasangan, anak, atau relasi bisnisnya, namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah, sudahkah ia jujur kepada Allah? Sebab siapa saja yang benar-benar jujur kepada Allah, niscaya kejujurannya kepada sesama manusia akan mengikuti dengan sendirinya, meskipun hal sebaliknya belum tentu berlaku.

Jika kehidupan sering diliputi kegalauan dan kegelisahan yang sulit dijelaskan sebabnya, boleh jadi itulah saatnya merenungi kembali sejauh mana kejujuran telah tertanam dalam hati, dalam ucapan, dan dalam setiap langkah yang diambil. Sebab pada akhirnya, ketenangan sejati hanya dijanjikan bagi mereka yang memilih jalan kejujuran, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ta'ala 'anhuma dan Nabi Ibrahim 'alaihissalam.

Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.

Sumber: 122. Kejujuran Adalah Ketenangan | Riyaadhushshaalihiin — Muhammad Nuzul Dzikri



Posting Komentar

0 Komentar