AM 52. Harta yang Baik, Kesehatan, Keamanan, dan Jiwa yang Tenang

Sesi 52 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita renungkan: benarkah harta yang banyak selalu menjadi kebaikan? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu. Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa harta baru bisa disebut "baik" jika berada di tangan orang yang baik pula. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab al-malush shalih lil mar'is shalih (harta yang baik untuk orang yang saleh), dilanjutkan dengan bab tentang kenikmatan rasa aman dan sehat, serta ditutup dengan bab tentang jiwa yang tenang—tiga tema yang saling terjalin dalam menuntun seorang muslim menuju kebahagiaan sejati.

Harta yang Baik Hanya di Tangan Orang yang Saleh

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan kisah Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu yang baru beberapa bulan memeluk Islam. Rasulullah ï·º mengutus seseorang untuk memanggilnya, menyuruhnya membawa senjata dan perlengkapan perang, lalu menyampaikan bahwa beliau akan mengangkatnya menjadi pemimpin sebuah pasukan, dengan janji kemenangan dan bagian harta rampasan perang (ghanimah). Namun Amr bin Ash menjawab dengan tulus, "Aku masuk Islam bukan karena mengharapkan harta, aku masuk Islam karena mencintai Islam dan ingin bersama Rasulullah ï·º." Rasulullah ï·º pun bersabda:

"Sebaik-baik harta yang baik adalah bila dimiliki oleh seorang yang saleh." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan latar belakang menakjubkan dari kisah ini. Amr bin Ash dahulu adalah juru bicara Abu Jahal yang paling membenci Nabi ï·º, bahkan ia yang diutus untuk memprovokasi Raja Najasyi agar mengusir kaum muslimin yang berhijrah ke Habasyah. Namun setelah masuk Islam, kecintaannya kepada Rasulullah ï·º berbalik menjadi begitu mendalam, hingga ia mengaku tak sanggup menatap wajah Nabi ï·º terlalu lama karena rasa hormatnya yang luar biasa. Rasulullah ï·º pun memuliakannya dengan mempercayakan kepemimpinan pasukan perang meski para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar turut berada dalam pasukan tersebut—sebuah pengakuan atas kecerdasan dan potensi besar yang dimiliki Amr bin Ash, yang kelak menjadi penakluk Mesir.

Ustadz Firanda menegaskan bahwa harta dikatakan baik hanya jika memenuhi dua syarat: diperoleh dengan cara yang halal, dan digunakan sesuai tuntunan syariat. Rasulullah ï·º bersabda bahwa kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sebelum ditanya tentang empat perkara, dua di antaranya adalah hartanya—dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan. Hanya orang yang berilmu dan saleh yang mampu menjawab kedua pertanyaan ini dengan baik, karena tanpa ilmu, seseorang tidak akan mampu membedakan mana rezeki yang halal dan bagaimana cara membelanjakannya dengan tepat.

Ustadz Firanda mengingatkan kisah para sahabat miskin yang cemburu kepada sahabat-sahabat kaya karena mampu bersedekah dengan harta mereka, sementara yang miskin hanya bisa bersedekah dengan tasbih, tahlil, dan takbir. Ketika para sahabat kaya pun ikut mengamalkan zikir yang sama, Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki—sebuah isyarat bahwa harta yang dimiliki orang saleh menjadi sarana pahala berlipat ganda yang tidak dimiliki oleh yang lain. Beliau menegaskan bahwa dakwah membutuhkan dua pilar penting: ilmu dan harta, sebagaimana Allah mentakdirkan Rasulullah ï·º dipertemukan dengan Khadijah radhiyallahu 'anha yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang menggunakan kekayaannya untuk membebaskan budak-budak muslim seperti Bilal.

Tiga Pandangan Sahabat tentang Menikmati Harta

Ustadz Firanda kemudian memaparkan tiga sikap berbeda di kalangan para sahabat dalam menyikapi harta. Pandangan pertama, yang dianut mayoritas sahabat, menyatakan bahwa setelah zakat wajib ditunaikan, seseorang boleh menikmati sisa hartanya pada perkara-perkara yang mubah tanpa masalah.

Pandangan kedua, yang dianut Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhuma, memandang bahwa kesenangan dunia yang berlebihan dapat mengurangi jatah kenikmatan di akhirat. Diriwayatkan bahwa Umar pernah menegur seorang sahabat yang hendak membeli daging untuk istrinya, mengingatkan bahwa keinginan yang selalu dituruti bisa jadi termasuk kenikmatan yang "disegerakan" di dunia, sehingga mengurangi bagian di akhirat. Demikian pula Abdurrahman bin Auf yang menangis mengingat sahabatnya, Mush'ab bin Umair, yang wafat dalam kemiskinan hanya meninggalkan sehelai kain sebagai kafan, sementara ia sendiri hidup dalam kelapangan—ia khawatir dunia yang dinikmatinya justru mengurangi pahalanya di akhirat.

Pandangan ketiga, yang paling ketat, dianut oleh Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, yang berpendapat bahwa harta tidak boleh dinikmati kecuali untuk kebutuhan mendesak, selebihnya harus dikembalikan ke Baitul Mal, berdasarkan pemahaman beliau terhadap ayat tentang bahaya menimbun emas dan perak tanpa diinfakkan di jalan Allah.

Ustadz Firanda menyampaikan bahwa beliau lebih condong kepada pandangan mayoritas sahabat—boleh menikmati harta setelah menunaikan kewajiban zakat—namun tetap mengingatkan agar tidak berlebihan dalam berfoya-foya, karena setiap harta akan dipertanggungjawabkan kelak. Beliau mengingatkan agar tidak semua keinginan harus dituruti hanya karena memiliki uang, sebagaimana kisah seorang yang terus-menerus merombak rumahnya tanpa merasa puas—sebuah pemborosan waktu dan harta yang sia-sia.

Tiga Kenikmatan yang Setara dengan Memiliki Seluruh Dunia

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab man ashbaha aminan fi sirbihi (siapa yang di pagi hari merasa aman di lingkungannya). Rasulullah ï·º bersabda:

"Siapa yang di pagi hari merasa aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah didatangkan kepadanya secara keseluruhan." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa tiga kenikmatan ini—keamanan, kesehatan, dan kecukupan makanan—seringkali kita rasakan namun jarang kita syukuri secara sadar. Beliau menekankan bahwa keamanan menempati urutan tertinggi, karena tanpa rasa aman, kekayaan dan kesehatan sekalipun menjadi tidak berarti. Seseorang yang hidup di negeri yang tidak aman tidak akan bisa beribadah, berdagang, atau beraktivitas dengan tenang.

Beliau mengaitkan hadis ini dengan doa zikir pagi dan petang yang mengandung permohonan keamanan, keselamatan pendengaran, penglihatan, dan jasad, serta ampunan atas urusan agama, dunia, keluarga, dan harta. Ustadz Firanda mengingatkan agar doa-doa ini dibaca dengan penghayatan, bukan sekadar hafalan yang terlantun tanpa kesadaran, karena Rasulullah ï·º sendiri mengajarkan agar berdoa dalam keadaan yakin akan dikabulkan, sebab Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.

Ustadz Firanda memberikan perumpamaan menarik: kesehatan itu ibarat mahkota yang dikenakan seseorang, namun hanya bisa dilihat keindahannya oleh orang yang sedang sakit. Demikian pula rasa aman, yang baru terasa nilainya ketika melihat penderitaan saudara-saudara di negeri yang dilanda konflik. Beliau juga mengingatkan agar tidak terlalu jauh memikirkan kekhawatiran masa depan hingga melupakan syukur atas apa yang telah tersedia hari ini, karena kekhawatiran berlebihan justru dapat memicu gangguan kesehatan seperti darah tinggi dan penyakit lainnya.

Jiwa yang Tenang: Nikmat Tersendiri di Luar Harta dan Kesehatan

Al-Imam Bukhari melanjutkan dengan bab thibun nafs (jiwa yang baik). Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah ï·º keluar menemui para sahabat dengan wajah yang berseri-seri, tampak baru selesai mandi. Para sahabat menduga beliau baru saja menggauli istrinya. Ketika ditanya, Rasulullah ï·º menjawab dengan penuh syukur, kemudian menyebutkan bahwa kekayaan tidak mengapa selama disertai ketakwaan, dan kesehatan bagi orang yang bertakwa lebih baik daripada kekayaan.

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ketenangan jiwa merupakan salah satu sebab kebahagiaan dalam rumah tangga—termasuk melalui penunaian hak suami istri satu sama lain. Beliau mengingatkan pentingnya seorang istri menyambut ajakan suaminya dengan baik, karena hasrat manusia berbeda dengan rasa lapar yang bisa ditunda; jika tidak tersalurkan dengan baik dalam rumah tangga, dikhawatirkan dapat membuka celah kepada godaan di luar pernikahan. Sebaliknya, Rasulullah ï·º juga mengingatkan bahwa kekayaan tanpa ketakwaan sangat berbahaya, sebagaimana firman Allah bahwa manusia cenderung melampaui batas ketika merasa dirinya telah berkecukupan.

Ustadz Firanda menegaskan bahwa jiwa yang tenang adalah anugerah tersendiri yang tidak disyaratkan harus disertai kekayaan maupun kesehatan fisik. Betapa banyak orang yang memiliki rumah besar dan kendaraan mewah, namun tidak merasakan kebahagiaan sejati, bahkan sampai mencari pelarian pada hal-hal yang merusak. Sebaliknya, ketenangan sejati hanya bisa diraih dengan kedekatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sebagaimana ditegaskan dalam hadis sebelumnya bahwa dosa adalah sesuatu yang mengganjal hati dan membuat pelakunya merasa jauh dari Allah—dan jarak dari Allah inilah sumber utama kegelisahan yang sesungguhnya.

Ketenangan Jiwa Melahirkan Akhlak yang Mulia

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang menggambarkan Rasulullah ï·º sebagai manusia paling baik akhlaknya, paling dermawan, dan paling pemberani. Suatu malam, penduduk Madinah terbangun karena mendengar suara mengerikan, dan mereka bergegas menuju sumber suara tersebut—ternyata Rasulullah ï·º telah lebih dahulu berada di sana, menunggangi kuda milik Abu Thalhah yang dikenal lambat, namun entah bagaimana menjadi sangat cepat ketika ditunggangi beliau. Rasulullah ï·º pun menenangkan mereka, "Tidak perlu khawatir, tidak perlu takut."

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bagaimana ketenangan jiwa berbuah pada keberanian dan kedermawanan. Orang yang gelisah cenderung sulit bermurah hati atau bersikap tenang menghadapi bahaya, sementara jiwa yang tenteram melahirkan sikap yang lapang terhadap sesama.

Senyum dan Berbagi: Wujud Sederhana dari Jiwa yang Tenang

Kajian ditutup dengan hadis dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Setiap kebaikan adalah sedekah, dan di antara kebaikan adalah engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri, serta engkau menuangkan air dari timbamu ke dalam timba temanmu." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa senyum yang tulus adalah cerminan hati yang nyaman, dan seseorang yang hatinya gelisah akan sulit untuk tersenyum dengan tulus kepada orang lain. Kemudahan membantu sesama pun lahir dari kebahagiaan batin yang sama—karena orang yang pikirannya kalut dengan urusan pribadi akan sulit memperhatikan kebutuhan orang di sekitarnya. Maka, upaya menjauhi maksiat dan mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya soal keselamatan akhirat semata, melainkan juga jalan menuju ketenangan jiwa yang berbuah pada kebaikan-kebaikan kecil dalam interaksi sehari-hari.

Penutup

Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak semata pada banyaknya harta, melainkan pada bagaimana harta itu diperoleh dan digunakan oleh orang yang saleh, pada rasa syukur atas kesehatan dan keamanan yang seringkali terlupakan, serta pada ketenangan jiwa yang hanya bisa diraih melalui kedekatan dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Rasulullah ï·º, sebagai teladan sempurna, menunjukkan bahwa ketenangan batin melahirkan akhlak mulia, kedermawanan, dan keberanian—sebuah bukti bahwa kekayaan sejati sesungguhnya berawal dari kekayaan hati.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk mensyukuri nikmat keamanan, kesehatan, dan rezeki yang ada di hadapan kita hari ini, menggunakan harta yang Allah titipkan untuk kebaikan dan akhirat, serta meraih ketenangan jiwa dengan menjauhi maksiat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar