AM 53. Menolong Sesama, Doa untuk Akhlak Mulia, dan Bahaya Lisan yang Berlebihan

Sesi 53 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Berapa banyak dari kita yang pernah bertanya kepada diri sendiri, "Amal apa yang paling utama yang bisa aku lakukan?" Pertanyaan semacam ini justru sering diajukan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ, karena mereka menyadari betapa terbatasnya umur, harta, dan kesempatan yang dimiliki. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab ma yajibu min 'aunil malhuf (kewajiban membantu orang yang sedang membutuhkan), dilanjutkan dengan bab doa memohon akhlak yang baik, dan ditutup dengan peringatan penting tentang bahaya lisan yang berlebihan dalam mencela.

Skala Prioritas Amal: Iman, Jihad, dan Membantu Sesama

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis di mana seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Amal apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya." Ustadz Firanda menjelaskan bahwa iman di sini merupakan amalan hati yang bisa dikuatkan melalui pembelajaran akidah—mengenal dalil-dalil keesaan Allah, nama-nama-Nya yang indah (asma'ul husna), dan sifat-sifat-Nya. Ini menegaskan bahwa amal bukan sekadar perbuatan fisik, melainkan juga mencakup penguatan keyakinan melalui ilmu.

Ketika ditanya lebih lanjut tentang budak mana yang paling utama untuk dimerdekakan, Rasulullah ﷺ menjawab yang paling mahal dan paling disukai pemiliknya. Namun ketika sahabat tersebut mengaku tidak mampu melakukan hal-hal besar tersebut, Rasulullah ﷺ memberikan alternatif yang lebih terjangkau: membantu orang yang terlantar (al-akhraq), orang yang bekerja namun penghasilannya tidak mencukupi, atau mengarahkan orang yang tidak tahu cara mengatur dirinya sendiri.

Ustadz Firanda menekankan poin penting di sini: pekerja yang penghasilannya tidak mencukupi seringkali justru terlupakan untuk dibantu, karena dianggap sudah memiliki penghasilan, padahal kenyataannya tidak cukup—seperti penjual es di musim hujan yang dagangannya sepi pembeli. Beliau mengingatkan bahwa bantuan tidak selalu berbentuk uang; bisa berupa tenaga, arahan, atau bahkan sekadar kata-kata yang menghibur. Ketika sahabat tersebut mengaku benar-benar tidak mampu melakukan apa pun, Rasulullah ﷺ memberikan solusi paling sederhana: "Tahanlah dirimu dari mengganggu orang lain, karena sesungguhnya itu adalah sedekah bagi dirimu sendiri."

Bekerja dengan Niat Bersedekah adalah Jihad

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan hadis serupa: Rasulullah ﷺ bersabda bahwa wajib bagi setiap muslim untuk bersedekah. Ketika ditanya bagaimana jika tidak memiliki harta, beliau menjawab, "Hendaknya ia bekerja untuk dirinya sendiri, kemudian bersedekah." Ustadz Firanda menjelaskan bahwa ini menjadi dalil besarnya pahala seseorang yang bekerja dengan niat agar bisa bersedekah kepada keluarga, kerabat, atau siapa saja yang membutuhkan.

Beliau mengaitkan hal ini dengan hadis lain tentang seorang pemuda kuat yang dikagumi para sahabat karena fisiknya, di mana Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa jika pemuda itu bekerja untuk menafkahi kedua orang tuanya yang sudah tua, atau menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, atau bahkan sekadar menjaga kehormatan dirinya agar tidak meminta-minta, maka semua itu termasuk fi sabilillah—di jalan Allah. Ustadz Firanda menegaskan bahwa mencari rezeki yang halal adalah bentuk jihad, sebagaimana disebutkan Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat di akhir surah Al-Muzzammil yang menggandengkan antara mencari rezeki dan berjihad di jalan Allah. Namun jika niatnya hanya untuk pamer kekayaan, maka itu justru menjadi jalan setan.

Ustadz Firanda juga memberikan nasihat penting bagi para pengusaha: membuka lapangan pekerjaan dengan niat membantu sesama muslim adalah amal yang luar biasa besar pahalanya, terlebih jika mempekerjakan ribuan orang—karena setiap kepala keluarga yang terbantu membawa keberkahan bagi keluarganya masing-masing.

Doa: Sarana Utama Meraih Akhlak Mulia

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab tentang doa memohon akhlak yang baik. Ustadz Firanda menegaskan bahwa untuk memperbaiki akhlak, seseorang membutuhkan dua hal: ikhtiar (usaha) dan doa—namun doa adalah sarana yang paling utama. Beliau mengutip perkataan Rasulullah ﷺ, "Siapa yang berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya penyabar," dan "Siapa yang berusaha merasa cukup, Allah akan mencukupkannya." Tabi'in Thawus rahimahullah bahkan menyebutkan bahwa akhlak adalah anugerah—jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menganugerahkan kepadanya akhlak yang mulia.

Al-Imam Bukhari membawakan sebuah hadis (yang secara sanad lemah namun maknanya benar) di mana Rasulullah ﷺ berdoa:

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesehatan, harga diri, amanah, akhlak yang baik, dan rida terhadap takdir."

Ustadz Firanda kemudian menyebutkan beberapa doa shahih lain yang senada, di antaranya:

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي

"Ya Allah, Engkau telah menciptakan rupaku dengan sempurna, maka perindahlah akhlakku."

Serta doa dalam hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: "Allahummahdini li ahsanil akhlaqi, la yahdi li ahsaniha illa anta, washrif 'anni sayyi'aha, la yashrifu 'anni sayyi'aha illa anta"—Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang bisa menunjukkan kepadanya kecuali Engkau, dan jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang bisa menjauhkan aku darinya kecuali Engkau.

Ustadz Firanda mengingatkan pentingnya mendoakan keluarga—istri, suami, dan anak-anak—agar dianugerahi akhlak yang baik, apalagi jika mereka sudah dinasihati namun sulit berubah. Beliau membagikan kisah pribadi seorang murid Syekh Abdurrazzaq yang sejak kecil diajarkan ayahnya untuk menghafal doa memohon akhlak baik, dan terbukti tumbuh menjadi pribadi yang sangat mulia akhlaknya—sebuah bukti nyata dari kekuatan doa yang diwariskan sejak dini.

Akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat terkenal ketika Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab dengan singkat namun mendalam: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kesimpulan ini mengajarkan sebuah metode praktis: setiap kali seseorang membaca ayat Al-Qur'an tentang akhlak mulia—seperti sifat-sifat 'Ibadurrahman dalam surah Al-Furqan yang berjalan dengan rendah hati dan tidak membalas orang bodoh dengan kekasaran—maka itulah gambaran akhlak Rasulullah ﷺ yang sesungguhnya, dan itulah yang harus diteladani oleh setiap muslim.

Larangan Melaknat dan Berkata Keji

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan riwayat dari Salim bin Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, yang menceritakan bahwa ayahnya, Abdullah bin Umar, tidak pernah mendengar sekalipun perkataan laknat keluar dari mulutnya terhadap makhluk apa pun, kecuali satu kali kepada budaknya sendiri karena kemarahan—dan setelah itu, sebagai bentuk penebusan, ia langsung memerdekakan budak tersebut. Alasannya, sebagaimana disampaikan Ibnu Umar, karena Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak pantas bagi seorang mukmin untuk suka melaknat.

Ustadz Firanda menekankan bahwa kebiasaan mencela ini seringkali menular dari orang tua kepada anak-anaknya—jika orang tua gemar mencaci maki, anak pun akan meniru gaya bicara tersebut. Beliau juga membawakan hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Allah tidak menyukai orang yang berkata keji, apalagi yang sengaja mencari-cari kata-kata yang menyakitkan hati orang lain—termasuk julukan-julukan merendahkan yang kini marak di media sosial. Rasulullah ﷺ juga tidak menyukai orang yang gemar berteriak-teriak dan membuat kegaduhan di pasar.

Bahkan kepada Orang yang Menghina, Rasulullah ﷺ Tetap Mengingatkan Kelembutan

Sebuah kisah yang sangat berkesan dibawakan dalam riwayat ini: ketika sekelompok Yahudi mendatangi Rasulullah ﷺ dengan ucapan salam yang diplesetkan menjadi doa kematian ("as-saamu 'alaikum", bukan "as-salamu 'alaikum"), Rasulullah ﷺ hanya menjawab dengan tenang, "Wa 'alaikum" (dan bagi kalian juga). Namun Aisyah radhiyallahu 'anha, yang mendengar penghinaan tersebut, langsung membalas dengan kata-kata keras, bahkan menyebut mereka sebagai keturunan babi dan kera.

Meski seluruh perkataan Aisyah secara substansi benar—karena orang-orang Yahudi tersebut memang layak dicela dan sebagian dari umat terdahulu memang pernah dikutuk menjadi kera dan babi—Rasulullah ﷺ tetap menegurnya dengan lembut: "Pelan-pelan wahai Aisyah, bersikaplah lembut dan jauhi kata-kata kasar serta berlebihan." Ustadz Firanda menjadikan kisah ini sebagai renungan mendalam: jika Rasulullah ﷺ saja menegur istrinya karena membalas penghinaan orang kafir dengan kata-kata kasar—padahal Aisyah membelanya, bukan diri sendiri—maka betapa ironisnya jika sesama muslim, yang sama-sama shalat dan berpuasa, justru saling melontarkan hinaan dan julukan merendahkan tanpa ada rasa segan.

Al-Imam Bukhari juga membawakan atsar dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa siapa yang gemar melaknat orang lain, ia sendiri akan dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta'ala—meski sanad riwayat ini terdapat perawi yang tidak dikenal kredibilitasnya.

Penutup

Kajian pada sesi ini mengajarkan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak selalu membutuhkan harta besar—cukup dengan menahan diri dari mengganggu orang lain pun sudah bernilai sedekah di sisi Allah. Bekerja dengan niat membantu keluarga dan sesama menjadikan pencarian rezeki setara dengan jihad di jalan Allah. Sementara itu, doa memohon akhlak yang baik menjadi sarana utama bagi siapa saja yang ingin memperbaiki dirinya maupun keluarganya, dan teladan Rasulullah ﷺ dalam menahan lisan—bahkan ketika dihina sekalipun—mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak sejati diuji justru pada saat-saat tersulit, bukan pada saat semuanya berjalan lancar.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menjadi pribadi yang ringan membantu sesama, rajin berdoa memohon akhlak yang mulia bagi diri dan keluarga kita, serta menjaga lisan dari kata-kata keji dan laknat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar