AM 56. Memuji dengan Aman, Melempar Tanah, dan Agama yang Mudah

Sesi 56 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Jika sebelumnya kita telah belajar betapa berbahayanya pujian yang berlebihan, apakah itu berarti memuji orang lain harus dihindari sama sekali? Ternyata tidak sesederhana itu. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab man asna 'ala shahibihi in kana aminan bihi—bab tentang bolehnya memuji seseorang jika kita yakin ia aman dari bahaya pujian tersebut, dilanjutkan dengan bab tentang melempar tanah ke wajah para penjilat, dan ditutup dengan kisah penuh hikmah tentang agama yang mudah.

Ketika Memuji Diperbolehkan

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan mengingatkan kembali bahaya pujian yang telah dibahas sebelumnya—bagaimana Rasulullah ï·º menegur keras seseorang yang memuji berlebihan dengan sabda, "Kalian telah memenggal leher saudara kalian." Namun Ustadz Firanda menjelaskan bahwa larangan ini bukan bersifat mutlak. Jika orang yang dipuji diketahui aman dari fitnah pujian—tidak akan menjadi sombong atau ujub karenanya—maka memuji diperbolehkan, terlebih jika ada kemaslahatan di baliknya.

Beliau menceritakan kisah menarik tentang Syekh Utsaimin rahimahullah yang justru menegur keras moderator yang memujinya sebagai al-'Allamah (orang yang sangat alim) di hadapan para mahasiswa, dengan berkata tegas, "Diam!" Ustadz Firanda menegaskan bahwa inilah teladan ulama besar yang meski aman dari bahaya pujian, tetap tidak menyukai disanjung secara berlebihan di muka umum.

Sebaliknya, Rasulullah ï·º sendiri pernah memuji Abu Bakar radhiyallahu 'anhu secara langsung di hadapan para sahabat, "Tidak pernah bermanfaat kepadaku harta seperti manfaatnya harta Abu Bakar," hingga membuat Abu Bakar menangis haru. Rasulullah ï·º juga membela Abu Bakar dengan tegas ketika terjadi perselisihan dengan Umar, mengingatkan para sahabat akan jasa besarnya sebagai orang pertama yang beriman. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa pujian semacam ini diperbolehkan karena Rasulullah ï·º mengetahui betul bahwa Abu Bakar tidak akan terfitnah olehnya.

Ustadz Firanda menguraikan beberapa maslahat yang membolehkan pujian: pertama, untuk menepis kekhawatiran yang tidak pada tempatnya, sebagaimana Khadijah radhiyallahu 'anha memuji Rasulullah ï·º ketika beliau ketakutan sepulang dari Gua Hira, mengingatkan bahwa seseorang yang gemar bersilaturahmi, jujur, dan menolong sesama tidak akan dihinakan Allah; kedua, untuk memotivasi seseorang yang kurang percaya diri padahal memiliki kemampuan; dan ketiga, untuk memperkenalkan kemuliaan seseorang kepada masyarakat yang belum mengenalnya, sebagaimana Rasulullah ï·º memuji sederet sahabat dengan menyebut nama mereka satu per satu: "Sebaik-baik lelaki adalah Abu Bakar... sebaik-baik lelaki adalah Umar... sebaik-baik lelaki adalah Abu Ubaidah..." hingga Muadz bin Amr bin Jamuh, salah satu pembunuh Abu Jahal yang kisah keberaniannya luar biasa—rela ditebas tangannya oleh Ikrimah bin Abi Jahal namun tetap melanjutkan pertempuran hingga menarik lepas tangannya sendiri yang masih tergantung oleh kulit.

Ustadz Firanda juga membawakan kisah Aisyah radhiyallahu 'anha tentang dua tamu yang berbeda: seorang yang dikenal buruk akhlaknya disambut Rasulullah ï·º dengan senyum ramah, sementara seorang yang dikenal baik justru disambut biasa saja. Ketika Aisyah bertanya keheranan, Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa orang yang paling buruk di sisi Allah adalah yang dijauhi karena lisannya yang kotor—sehingga sikap ramah kepada orang pertama adalah bentuk al-mudarat (basa-basi demi kemaslahatan), bukan al-mudahanah (mengorbankan prinsip agama demi menyenangkan orang). Ustadz Firanda menjelaskan perbedaan krusial keduanya: mudarat diperbolehkan selama tidak mengorbankan kebenaran—seperti menunda pembahasan suatu isu demi menjaga suasana dakwah—sementara mudahanah, seperti membenarkan sesuatu yang batil demi mengambil hati seseorang, sama sekali tidak diperbolehkan, sebagaimana ditunjukkan Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang tetap teguh menyatakan kebenaran tentang Nabi Isa 'alaihissalam di hadapan Raja Najasyi, meski nyawanya taruhannya.

Melempar Tanah kepada Para Penjilat

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab yuhtsa fi wujuhil maddahin—bab tentang melempar tanah ke wajah orang-orang yang gemar memuji secara berlebihan demi kepentingan pribadi. Ustadz Firanda menjelaskan bahwa yang dimaksud di sini bukan sekadar memuji sesekali, melainkan kebiasaan menjilat demi mendapatkan keuntungan duniawi.

Diriwayatkan bahwa ketika seseorang memuji berlebihan seorang amir (gubernur), sahabat Al-Miqdad bin Aswad radhiyallahu 'anhu langsung mengambil tanah dan melemparkannya ke wajah orang tersebut, seraya berkata, "Rasulullah ï·º telah memerintahkan kami untuk melempar tanah di wajah orang yang suka memuji-muji." Kisah serupa juga dipraktikkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

Ustadz Firanda memaparkan lima pendapat ulama mengenai makna hadis ini, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari: pertama, makna literal—benar-benar dilemparkan tanah; kedua, sebagai kiasan bahwa si penjilat tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya; ketiga, sebagai isyarat agar mulutnya "dipenuhi tanah" karena telah merusak orang lain dengan pujiannya; keempat, ditujukan kepada orang yang dipuji sebagai pengingat bahwa ia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah; kelima, memberikan apa yang diinginkan si penjilat sebagai bentuk penghinaan. Ustadz Firanda cenderung memilih makna literal karena telah dipraktikkan langsung oleh para sahabat, sekaligus mengandung pesan mendalam tentang bahaya pujian yang dapat merusak jiwa seseorang.

Kisah Mihjan: Jangan Puji Orang yang Tidak Aman dari Pujian

Kajian ditutup dengan kisah panjang dan mendalam dari sahabat Mihjan Al-Aslami radhiyallahu 'anhu. Suatu hari, sahabat Buraidah bercanda menanyakan kepadanya apakah ia shalat selama seperti seorang bernama Sabkah yang dikenal shalatnya sangat panjang—sebuah sindiran halus karena Rasulullah ï·º tidak pernah memanjangkan shalat berjamaah seperti itu. Mihjan tidak menjawab langsung, melainkan menceritakan sebuah pengalamannya bersama Rasulullah ï·º.

Suatu ketika, Mihjan bersama Rasulullah ï·º mendaki Gunung Uhud, dan sepulangnya mereka mendapati seorang lelaki yang sedang shalat dengan rukuk dan sujud yang sangat lama. Mihjan pun memujinya kepada Rasulullah ï·º. Namun Rasulullah ï·º justru bersabda, "Jangan kau puji dia, jangan sampai ia mendengar pujianmu, sehingga kau membinasakannya."

Ustadz Firanda menegaskan bahwa inilah inti pelajaran dari kisah ini: jika seseorang diketahui mudah terpengaruh oleh pujian—sedikit dipuji langsung merasa besar kepala—maka jangan pernah memujinya, karena hal itu justru bisa menjadi sebab kebinasaannya. Kemudian Rasulullah ï·º menutup kisah ini dengan sebuah pesan penting yang diulang hingga tiga kali: "Sesungguhnya sebaik-baik agama kalian adalah yang paling mudah."

Agama yang Mudah, Bukan yang Dicari-cari Susahnya

Ustadz Firanda menguraikan makna mendalam dari sabda ini dengan membedakan dua jenis kesulitan dalam beribadah. Pertama, kesulitan yang memang melekat dan tidak bisa dihindari dari suatu ibadah—seperti menahan kantuk untuk shalat malam, menahan lapar saat berpuasa, atau berdesakan saat tawaf di musim ramai. Kesulitan semacam ini berpahala, sebagaimana sabda Rasulullah ï·º, "Pahalamu sesuai dengan kadar keletihanmu."

Kedua, kesulitan yang justru dicari-cari dan tidak diajarkan dalam syariat—seperti seseorang yang bernazar shalat semalam suntuk tanpa tidur, atau yang sengaja tidak menikah demi ibadah, atau yang berpuasa tanpa pernah berbuka. Rasulullah ï·º menyebut perilaku seperti ini sebagai "benci terhadap sunnahku", karena seolah menganggap ajaran Nabi ï·º belum cukup sempurna sehingga perlu ditambah-tambahi dengan kesulitan yang tidak berdasar. Ustadz Firanda memberikan contoh kontemporer: memperpanjang doa di Safa dan Marwah hingga berjam-jam tanpa dasar sunnah, sengaja berjalan kaki jauh padahal ada kendaraan yang tersedia, atau shalat dua rakaat setelah sa'i yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah ï·º—semua ini, menurut beliau, adalah bentuk memodifikasi agama karena merasa metode Rasulullah ï·º "kurang sempurna", padahal justru inilah yang termasuk bid'ah yang menyelisihi sunnah.

Penutup

Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan keseimbangan yang indah dalam bersikap: memuji boleh dilakukan selama ada kemaslahatan dan orang yang dipuji aman dari fitnahnya, namun pujian yang berlebihan dan tanpa pertimbangan dapat menjadi sebab kebinasaan seseorang—bahkan Rasulullah ï·º sendiri mengajarkan para sahabat untuk "melempar tanah" sebagai simbol peringatan keras terhadap kebiasaan menjilat. Sementara itu, kisah Mihjan dan pesan tentang agama yang mudah mengingatkan kita bahwa Islam tidak pernah memerintahkan kesulitan yang dicari-cari, melainkan kesungguhan dalam menjalankan apa yang telah diajarkan Rasulullah ï·º tanpa perlu menambah atau menguranginya demi kesan kesalehan yang semu.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk bijak dalam memuji dan menerima pujian, menjaga diri dari kesombongan dan ujub, serta memahami bahwa keindahan agama Islam justru terletak pada kemudahannya, bukan pada beban yang kita ciptakan sendiri. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar