Ada tiga situasi dalam hidup di mana kebohongan justru dibolehkan oleh Rasulullah ﷺ, sementara di sisi lain kejujuran ditegaskan sebagai jalan menuju surga dan dusta sebagai jalan menuju neraka. Bagaimana kedua hal yang tampak bertolak belakang ini bisa berjalan bersamaan dalam syariat Islam? Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab yunma khairan bainannas (menukil perkataan baik untuk mendamaikan manusia), dilanjutkan dengan bab bahwa dusta itu tidak baik, bab sabar atas gangguan masyarakat, dan ditutup dengan bab kesabaran Allah terhadap gangguan hamba-Nya.
Tiga Kondisi yang Membolehkan Dusta
Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan hadis dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'ayth radhiyallahu 'anha—seorang sahabiyah yang menariknya adalah putri dari Uqbah bin Abi Mu'ayth, tokoh musyrik yang dahulu meletakkan kotoran unta di punggung Rasulullah ﷺ saat beliau sujud, dan kemudian tewas dalam Perang Badar setelah didoakan kebinasaan oleh Nabi ﷺ. Ustadz Firanda menyoroti keajaiban hidayah Allah: dari seorang ayah yang begitu memusuhi Islam, lahir seorang putri yang justru menjadi sahabiyah mulia. Ummu Kultsum meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan di antara manusia, lalu ia menyampaikan kebaikan atau menukil perkataan yang baik." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ummu Kultsum menambahkan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberikan keringanan berdusta kecuali pada tiga perkara: mendamaikan dua pihak yang bersengketa, pembicaraan suami kepada istrinya (dan sebaliknya), serta dusta dalam peperangan.
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa persatuan dan perdamaian menempati posisi yang sangat agung dalam Islam, sehingga segala hal yang merusaknya—sekalipun benar dan jujur, seperti ghibah dan namimah—menjadi haram. Sebaliknya, kebohongan yang justru mendatangkan perdamaian menjadi dibolehkan. Beliau memberikan contoh praktis: ketika dua pihak yang bertikai saling menjelekkan, seseorang boleh menyampaikan kata-kata baik yang sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh salah satu pihak, semata demi meluluhkan hati keduanya—dengan syarat pelakunya benar-benar pandai mengatur perkataan agar tidak ketahuan, karena jika terbongkar justru akan memperburuk keadaan.
Gombal yang Halal: Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
Ustadz Firanda menguraikan secara khusus poin kedua dan ketiga dari kebolehan dusta ini—pembicaraan antara suami istri. Beliau menjelaskan bahwa kalimat-kalimat penuh kasih seperti "kamu wanita tercantik di dunia" atau "aku sangat mencintaimu," meski mengandung unsur berlebihan, diperbolehkan karena tujuannya adalah menumbuhkan cinta kasih dalam rumah tangga. Ustadz Firanda mengutip kisah menarik di zaman Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ketika seorang suami memaksa istrinya bersumpah apakah benar-benar mencintainya, hingga sang istri terpaksa mengaku tidak—dan Umar menegur, mengingatkan bahwa tidak semua rumah tangga harus dibangun di atas cinta yang menggebu-gebu; banyak kemaslahatan lain yang perlu dipertimbangkan, seperti kesejahteraan anak-anak dan kehidupan sosial.
Beliau menekankan bahwa keharmonisan rumah tangga memiliki dampak sosial yang luar biasa besar—rumah tangga yang sehat melahirkan anak-anak yang sehat secara psikologis, sementara rumah tangga yang penuh pertikaian dapat berujung pada berbagai persoalan sosial seperti perselingkuhan maupun perpecahan antar keluarga besar. Karena itu, kata-kata pujian dan apresiasi kecil—meski mengandung sedikit "gombal"—dianjurkan selama tidak menyangkut hak-hak substansial pasangan, seperti pembagian nafkah atau hak mabit dalam poligami, yang tidak boleh dibohongi sama sekali.
Dusta: Jalan Menuju Kefajiran dan Neraka
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab la yashluhul kadzib (dusta itu tidak baik), menegaskan bahwa hukum asal berbohong adalah dosa. Dibawakan hadis dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan mengantarkan kepada surga. Seseorang senantiasa berusaha jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (shiddiq). Dan waspadalah kalian dari dusta, karena dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan kefajiran mengantarkan kepada neraka." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa kejujuran ternyata bukan sekadar sifat sederhana, melainkan pintu gerbang menuju berbagai kebajikan lain—keimanan yang kokoh, kemudahan berbuat ihsan kepada sesama, ketaatan dalam shalat dan zakat, penunaian janji, hingga kesabaran menghadapi ujian, sebagaimana disebutkan Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat tentang hakikat al-birr (kebajikan) dalam surah Al-Baqarah. Sebaliknya, dusta yang dibiarkan terus-menerus akan menyeret pelakunya kepada berbagai kemaksiatan lain, hingga akhirnya ia "distempel" Allah sebagai pendusta—sebuah kondisi di mana berbohong menjadi seringan bernapas baginya, tanpa beban sedikit pun.
Beliau menyoroti fenomena kontemporer di mana kepiawaian berdusta justru sering dipuji sebagai kecerdasan, terutama dalam dunia perdagangan dan politik—padahal Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang fajir kecuali yang bertakwa dan jujur dalam bersumpah. Ustadz Firanda mengingatkan bahwa siapa yang memiliki empat sifat—menjaga amanah, jujur berkata, berakhlak mulia, dan menjaga diri dari yang haram—tidak perlu khawatir dengan kerugian duniawi yang mungkin dialaminya karena kejujuran tersebut.
Larangan Berbohong Meski dalam Bercanda dan kepada Anak-anak
Al-Imam Bukhari membawakan atsar dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang menegaskan bahwa dusta tidak dibenarkan baik dalam keadaan serius maupun bercanda, dan seseorang tidak boleh berjanji kepada anaknya lalu tidak menepatinya. Ustadz Firanda mengaitkan hal ini dengan hadis Rasulullah ﷺ yang mendoakan kecelakaan bagi orang yang berbohong demi membuat orang lain tertawa, serta kisah Rasulullah ﷺ sendiri yang meski bercanda tentang "anak unta" kepada seorang sahabat yang meminta tunggangan, tetap menyampaikan sesuatu yang benar—karena setiap unta besar pun tetaplah anak dari induknya.
Bagian yang sangat mengena dari kajian ini adalah peringatan keras terhadap dusta kepada anak-anak. Ustadz Firanda mengutip hadis riwayat Imam Ahmad, ketika Rasulullah ﷺ menegur seorang ibu yang memanggil anaknya dengan janji memberi kurma namun tidak benar-benar memberikannya, "Seandainya kau tidak memberinya, maka kau akan dicatat sebagai suatu kedustaan." Beliau menegaskan bahwa janji-janji kosong kepada anak—sekecil apa pun—akan membentuk persepsi dalam benak mereka bahwa berbohong adalah hal yang wajar, sehingga orang tua secara tidak sadar telah "meletakkan batu pertama" kebiasaan dusta pada diri anaknya, sebuah dosa jariyah yang mungkin baru disadari bertahun-tahun kemudian.
Sabar Berinteraksi dengan Masyarakat Lebih Utama daripada Menyendiri
Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab tentang orang yang bersabar atas gangguan sesama, dengan hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seorang mukmin yang berinteraksi dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak berinteraksi dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa berinteraksi dengan masyarakat pasti membawa gesekan dan gangguan, namun kesabaran dalam menghadapinya jauh lebih dicintai Allah karena membawa manfaat perbaikan bagi masyarakat itu sendiri. Beliau memberi catatan penting: bagi mereka yang merasa tidak mampu menahan diri—mudah tersinggung, mudah marah, atau justru terseret dalam lingkungan yang buruk—lebih baik memilih 'uzlah (menjauh) selama tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban agama, daripada memaksakan diri berinteraksi namun akhirnya terjerumus atau justru mengganggu orang lain.
Kesabaran Allah terhadap Gangguan Makhluk-Nya
Kajian ditutup dengan hadis dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak ada seorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya melebihi kesabaran Allah 'azza wa jalla. Sungguh mereka mengatakan bahwa Allah memiliki anak, sementara Allah tetap memberikan mereka keselamatan dan rezeki." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa di antara ucapan paling buruk terhadap Allah adalah klaim bahwa Dia memiliki anak, karena hal ini membatalkan keesaan-Nya secara fundamental. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا لَّقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا
"Dan mereka berkata, 'Allah Yang Maha Pengasih telah mengambil (mempunyai) anak.' Sungguh, kamu telah membawa suatu perkara yang sangat mungkar, hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak." (QS. Maryam: 88-91)
Ustadz Firanda menegaskan bahwa semua makhluk—Jibril, Muhammad ﷺ, bahkan Isa 'alaihissalam sekalipun—datang menghadap Allah sebagai hamba, bukan sebagai anak. Beliau menutup kajian dengan pengingat penting tentang batasan toleransi beragama: memberi ucapan selamat kepada perayaan yang esensinya mengakui Isa sebagai anak Tuhan sama artinya dengan membenarkan kesyirikan tersebut. Toleransi yang benar, menurutnya, adalah setiap pihak menjaga identitas keyakinannya masing-masing sambil saling menghormati, bukan mencampuradukkan akidah. Beliau mengangkat teladan Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu yang, meski disiksa habis-habisan oleh tuannya untuk mengucapkan kalimat syirik, tetap teguh mengucapkan "Ahad, Ahad"—Allah Maha Esa.
Penutup
Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa kejujuran dan kebohongan bukanlah perkara hitam-putih yang kaku, melainkan harus dipahami dalam konteks tujuan dan dampaknya. Kebohongan yang mendamaikan hati dan mempererat cinta kasih dalam rumah tangga dibolehkan, namun kebohongan yang merugikan hak orang lain—apalagi kepada anak-anak yang sedang membentuk karakter—adalah dosa yang berpotensi mewariskan kebiasaan buruk lintas generasi. Sementara itu, kesabaran menghadapi gangguan masyarakat, sebagaimana kesabaran Allah subhanahu wa ta'ala yang tak tertandingi terhadap ejekan hamba-hamba-Nya, mengajarkan bahwa keteguhan dalam kebaikan dan akidah harus dipertahankan meski harus menghadapi berbagai ujian dan godaan sosial.
Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk menjadi pribadi yang jujur dalam segala keadaan, bijak menggunakan kata-kata untuk mendamaikan dan mempererat kasih sayang, serta teguh menjaga tauhid kita di tengah berbagai tantangan zaman. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
0 Komentar