AM 63. Sabar Menghadapi Gangguan dan Keutamaan Mendamaikan Sesama

Sesi 63 – Kajian Kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, bersama Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.

Ketika kita melakukan sesuatu karena Allah, lalu justru mendapat gangguan dan tuduhan yang menyakitkan, ke mana seharusnya kita mencari pembelaan? Rasulullah ï·º sendiri pernah mengalaminya—dituduh tidak adil dan tidak ikhlas dalam membagi harta, oleh orang-orang yang seharusnya paling mempercayainya. Pada sesi kali ini, kajian kitab Al-Adab Al-Mufrad membahas bab ash-shabru 'alal adza (sabar atas gangguan), dilanjutkan dengan bab keutamaan mendamaikan orang yang bersengketa, dan ditutup dengan bab tentang bahaya dusta ketika seseorang sedang dipercaya.

Nabi ï·º Dituduh Tidak Adil: Teladan Kesabaran dari Nabi Musa

Al-Imam Bukhari membuka bab ini dengan kisah dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Ketika Rasulullah ï·º membagikan harta ghanimah, seorang lelaki Anshar berkomentar di belakang, "Demi Allah, ini pembagian yang tidak dimaksudkan untuk mencari wajah Allah." Ibnu Mas'ud pun melaporkan perkataan ini kepada Rasulullah ï·º, yang membuat wajah beliau berubah karena marah—hingga Ibnu Mas'ud sendiri menyesal telah menyampaikannya. Namun Rasulullah ï·º kemudian bersabda:

"Sungguh Musa telah diganggu lebih dari ini, dan ia bersabar." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda mengutip nasihat indah dari Ibnu Taimiyah rahimahullah: jika seseorang melakukan sesuatu karena Allah—beramar makruf nahi mungkar—lalu ia diganggu karena perbuatan tersebut, maka wajib baginya bersabar dan tidak membalas, karena pahalanya telah menjadi tanggungan Allah. Sebagaimana para mujahid yang mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah tidak mencari balasan dari manusia, siapa pun yang mencari pahala di sisi Allah hendaknya tidak berharap balasan duniawi. Ustadz Firanda menegaskan bahwa gangguan adalah konsekuensi tak terelakkan dari perjuangan—sebagaimana pedagang harus siap menanggung risiko kerugian, demikian pula pendakwah harus siap menghadapi gangguan.

Beliau menguraikan secara mendalam ujian yang dialami Nabi Musa 'alaihissalam dari kaumnya, Bani Israil—mulai dari tuduhan memiliki penyakit di sekitar kemaluannya (yang kemudian dibuktikan kesalahannya oleh Allah melalui kisah batu yang membawa lari pakaiannya), hingga berbagai bentuk kedurhakaan lain seperti bosan dengan manna dan salwa, keengganan menyembelih sapi, dan ketakutan di tepi Laut Merah. Ustadz Firanda menegaskan bahwa meski Musa memiliki jasa besar dan kedudukan tinggi di sisi Allah—bahkan diajak bicara langsung dan dituliskan Taurat oleh tangan Allah sendiri—ia tetap bersabar menghadapi kedurhakaan kaumnya. Inilah yang diingat Rasulullah ï·º ketika beliau sendiri diuji dengan tuduhan serupa.

Ustadz Firanda juga menyoroti fakta menarik bahwa sahabat yang berkomentar tersebut sebenarnya tidak mendapat bagian ghanimah—sehingga protesnya kemungkinan besar bukan murni karena Allah, melainkan karena kekecewaan pribadi. Beliau mengingatkan bahwa banyak protes dan pertikaian di zaman ini pun sesungguhnya bermuara pada kepentingan duniawi yang dibungkus dengan jargon agama. Beliau menutup bagian ini dengan mengajak jamaah membandingkan ujian yang dihadapi dengan penderitaan saudara-saudara muslim di berbagai belahan dunia yang jauh lebih berat, sebagai pengingat untuk terus bersabar.

Mendamaikan Sesama: Amalan yang Lebih Utama dari Ibadah Sunnah

Al-Imam Bukhari kemudian membawakan bab ishlahu dzatil bain (mendamaikan yang bersengketa) dengan hadis yang diriwayatkan Ummu Darda dari suaminya Abu Darda radhiyallahu 'anhuma—sebuah contoh indah kerja sama suami istri dalam periwayatan ilmu. Rasulullah ï·º bersabda:

"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang derajatnya lebih afdal daripada shalat, puasa, dan sedekah (sunnah)? Yaitu mendamaikan yang bersengketa. Karena rusaknya hubungan (di antara sesama muslim) adalah al-haliqah—yang mencukur habis, bukan rambut, melainkan agama." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menegaskan bahwa persatuan adalah pokok utama Islam setelah tauhid, sehingga segala hal yang mengarah kepadanya disyariatkan—mulai dari shalat berjamaah, mengucap salam, hingga menjenguk orang sakit—sementara segala yang merusaknya dilarang, bahkan jika hal itu benar sekalipun, seperti ghibah dan namimah. Beliau menjelaskan mengapa mendamaikan bisa lebih utama dari ibadah sunnah: karena pertikaian yang dibiarkan dapat mengikis habis agama seseorang—orang yang bermusuhan cenderung mencari-cari aib lawannya, mendoakan keburukan baginya, bahkan bergembira atas musibah yang menimpanya.

Ustadz Firanda memberikan dua syarat penting bagi siapa yang ingin menjadi penengah: pertama, harus ikhlas karena Allah, bukan mencari pujian sebagai "sang pendamai"; kedua, harus benar-benar memahami duduk perkara dan dipercaya oleh kedua belah pihak, tanpa condong kepada salah satu pihak karena kedekatan pribadi. Beliau juga mengaitkan hal ini dengan firman Allah dalam surah Al-Anfal ayat 1, "Fattaqullaha wa ashlihu dzata bainikum"—bertakwalah dan damaikanlah perselisihan di antara kalian—yang mengisyaratkan bahwa hati yang sibuk dengan ketakwaan akan cenderung menghindari pertikaian, bukan terus memperpanjangnya.

Dusta yang Lebih Berbahaya: Ketika Kepercayaan Dikhianati

Kajian ditutup dengan bab tentang dusta yang dilakukan seseorang saat lawan bicaranya sedang mempercayainya sepenuhnya. Al-Imam Bukhari membawakan hadis dari Sufyan bin Usaid Al-Hadhrami radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ï·º bersabda:

"Sungguh besar pengkhianatannya, jika engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada saudaramu dan ia membenarkanmu, sementara engkau sesungguhnya sedang berdusta kepadanya." (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ustadz Firanda menjelaskan bahwa dusta jenis ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dusta biasa, karena pelakunya sengaja memanfaatkan situasi yang membuat lawan bicaranya yakin tidak akan dibohongi—seperti bersumpah dengan nama Allah, berbicara saat sedang berpuasa, berada di dalam masjid, atau memanfaatkan posisi sebagai orang yang dipercaya (seperti seorang dai). Beliau memberikan contoh nyata dari pengalamannya sendiri di Masjidil Haram, ketika seorang pencuri bersumpah dengan tegas bahwa ia tidak mungkin mencuri karena sedang berada di malam Idul Fitri di tempat suci—memanfaatkan kepercayaan orang lain terhadap kesucian tempat dan waktu tersebut. Ustadz Firanda menegaskan bahwa meski hadis ini memiliki sanad yang lemah, maknanya benar sejalan dengan kaidah bahwa dosa bertingkat-tingkat sesuai dengan dampak dan tingkat kepercayaan yang dikhianati.

Penutup

Rangkaian bab dalam sesi ini mengajarkan bahwa perjuangan di jalan Allah selalu diiringi ujian dan gangguan, namun teladan para nabi—khususnya kesabaran luar biasa Nabi Musa 'alaihissalam—menjadi pelipur lara bagi siapa saja yang merasa terzalimi karena kebaikan yang dilakukannya. Di sisi lain, mendamaikan sesama yang bersengketa ternyata menempati posisi yang begitu mulia hingga melampaui keutamaan ibadah sunnah, karena pertikaian yang dibiarkan dapat menggerus habis nilai keagamaan seseorang. Sementara itu, peringatan tentang dusta yang dilakukan saat dipercaya mengajarkan bahwa kejujuran harus dijaga lebih ketat justru pada momen-momen ketika orang lain paling rentan untuk tertipu oleh kita.

Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk bersabar menghadapi ujian dalam kebaikan, menjadi jembatan perdamaian bagi sesama yang bersengketa, serta menjaga kejujuran terutama di saat kepercayaan orang lain bertumpu penuh kepada kita. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.



Posting Komentar

0 Komentar