Syamail Al-Muhammadiyah #11: Gamis, Doa Berpakaian, dan Hibarah — Teladan Nabi ﷺ dalam Berpakaian

Seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah — Kajian Ustadz Firanda Andirja

Pendahuluan

Kita melanjutkan bab pakaian (libas) Nabi ﷺ yang ternyata menyimpan banyak pelajaran — bukan hanya tentang jenis pakaian yang beliau kenakan, melainkan tentang filosofi berpakaian seorang muslim: rapi tanpa berlebihan, indah tanpa sombong, dan selalu menghadirkan rasa syukur dalam setiap kali mengenakan pakaian.


Pakaian Favorit Nabi ﷺ: Gamis yang Proporsional

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa pakaian yang paling disukai Rasulullah ﷺ adalah qamis — yang dalam bahasa kita dikenal sebagai gamis atau jubah. Inilah pakaian khas yang disukai oleh orang-orang Arab pada masa itu, dan beliau memakainya secara konsisten.

Qamis memiliki dua model: ada yang panjang menjuntai hingga dekat mata kaki, ada pula yang setengah badan — lalu dilengkapi sarung di bawahnya. Nabi ﷺ juga memakai rida' (kain yang diselempangkan di atas) berpasangan dengan izar (kain yang melilit di bawah) — kombinasi dua lembar kain yang mirip dengan pakaian ihram.

Dari Asma binti Yazid radhiyallahu 'anha, kita mendapat detail yang sangat praktis: panjang lengan qamis Nabi ﷺ sampai di pergelangan tangan (rusuk al-kaffayn) — tidak melebihi. Ini bukan sekadar gaya: lengan yang terlalu panjang merepotkan aktivitas. Beliau menjaga proporsionalitas baju secara keseluruhan. Sarungnya di atas mata kaki. Lengannya tidak melampaui pergelangan. Semuanya fungsional — cukup untuk menutup, tidak berlebihan sampai menyulitkan gerak.

Untuk wanita, tentu berbeda — mereka memang dianjurkan menutup lebih, termasuk tangan.


Saat Kancing Terbuka: Bukan Sunnah, tapi Situasi

Muawiyah bin Qurah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan pengalaman ayahnya: ia datang bersama sekelompok orang dari kabilah Muzainah untuk berbai'at kepada Nabi ﷺ. Saat itu, kancing kerah gamis Nabi ﷺ dalam keadaan terbuka. Ia memasukkan tangannya ke dalam kerah (jaib) gamis Nabi — dan jari-jarinya menyentuh khatam an-nubuwwah, cap kenabian di antara dua belikat beliau.

Cerita ini sempat melahirkan kesimpulan di kalangan sebagian orang: sunnah memakai gamis dengan kancing terbuka. Namun para ulama mengoreksi pemahaman ini. Kancing itu dibuat untuk dikancingkan. Kondisi kancing terbuka pada saat itu bisa jadi karena Nabi ﷺ sedang merasa gerah, atau memang sengaja agar sahabat itu bisa menyentuh tanda kenabiannya — sebagaimana Salman al-Farisi pernah diperkenankan melihatnya. Tidak ada riwayat yang menunjukkan Nabi ﷺ secara umum dan rutin membiarkan kancing terbukarata. Maka ini adalah situasi khusus, bukan sunnah yang berlaku umum.


Salat Terakhir Nabi ﷺ: Di Balik Kain Bergaris

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan sebuah momen yang sangat mengharukan. Suatu hari, Nabi ﷺ keluar dalam keadaan sakit — dipapah oleh Usama bin Zaid radhiyallahu 'anhuma. Beliau mengenakan kain qitri — bukan dipakai seperti biasa, melainkan dililitkan dan diselempangkan di atas pundaknya. Dalam kondisi itulah beliau mengimami para sahabat shalat.

Qitri adalah kain bergaris-garis, dinisbahkan ke qitar dari Yaman atau ke Bahrain — kain katun tebal dengan garis merah, hitam, dan putih. Ini menunjukkan bahwa pakaian Nabi ﷺ tidak selalu polos — terkadang bercorak dan bergaris.

Namun yang paling mengesankan bukan soal kainnya. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Tirmidzi, disebutkan bahwa salat yang Nabi ﷺ imami dalam kondisi sakit berat itu — dipapah dua orang, dengan kain yang hanya dililkan di tubuhnya — adalah salat terakhir yang beliau imami sebelum wafat. Dalam sakit terakhirnya, dengan tubuh yang hampir tak mampu berdiri, Nabi ﷺ masih memaksakan diri keluar untuk shalat berjamaah. Dan dalam salat itu, beliau duduk — karena tidak lagi sanggup berdiri.

Usama bin Zaid radhiyallahu 'anhu yang memapah beliau adalah sosok yang sangat dicintai Nabi ﷺ — dijuluki "hibbu hibbi Rasulillah", yang dicintai oleh orang yang dicintai Rasulullah. Ayahnya, Zaid bin Harithah, adalah anak angkat Nabi ﷺ yang paling beliau kasihi. Kedekatan inilah yang membuatnya dipilih untuk memapah Nabi ﷺ di momen paling berat dalam hidup beliau.


Doa Berpakaian: Sunnah yang Jarang Dipraktikkan

Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: setiap kali Nabi ﷺ memakai pakaian baru, beliau melakukan dua hal. Pertama, menyebut nama jenis pakaian tersebut — "ini gamis," "ini sorban," "ini sarung," "ini selendang." Kedua, beliau berdoa:

"Allahumma lakal hamdu kama kasautanihi. As'aluka khairahu wa khayra ma suni'a lahu. Wa a'udhu bika min sharrihi wa sharri ma suni'a lahu."

"Ya Allah, segala puji bagi-Mu sebagaimana Engkau telah memakaiku ini. Aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang tujuan dibuatnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan yang tujuan dibuatnya."

Kita sering ingat doa makan dan minum. Tapi doa berpakaian? Jarang sekali. Padahal nikmat pakaian tidak kalah besar — bahkan dalam beberapa hal, lebih istimewa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi: "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang kecuali yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri." Nikmat makan kita rasakan dua atau tiga kali sehari sehingga kita lebih mudah menyadarinya. Nikmat pakaian kita rasakan sepanjang hari — namun justru karena itu, kita sering tidak menyadarinya lagi.

Di zaman sahabat, ada seorang lelaki yang menawarkan diri untuk menikahi seorang wanita. Rasulullah ﷺ bertanya: apa maharmu? Jawabnya: "Izari" — sarungku. Nabi ﷺ bertanya lagi: "Apakah kamu punya sarung lain?" Jawabnya: tidak ada. Satu-satunya sarung yang ia miliki adalah yang sedang ia pakai. Begitulah keadaan sebagian sahabat — pakaian bisa dihitung dengan jari.

Ada sebuah kisah yang sangat menggetarkan hati tentang betapa berharganya pakaian sebagai penutup. Imam Ahmad rahimahullah, ketika sedang dicambuk dan disiksa di hadapan khalayak ramai, sesekali mengangkat pandangannya ke atas. Setelah siksaan selesai, seseorang bertanya: "Saya melihat Anda melihat ke atas — apa yang Anda lakukan saat itu?" Imam Ahmad menjawab: "Saya berdoa kepada Allah agar Ia tidak membuka auratku." Di tengah rasa sakit yang luar biasa, yang ia khawatirkan adalah: apakah bajunya akan sobek dan auratnya akan terlihat di depan banyak orang.

Itulah nilai pakaian. Itulah mengapa kita perlu berdoa ketika mengenakannya.

Makna doa pakaian baru:

  • "Kebaikan pakaian ini" — agar tahan lama, tidak cepat rusak
  • "Kebaikan yang tujuan dibuatnya" — agar tujuan mulianya terpenuhi: menutup aurat dan berhias
  • "Keburukan pakaian ini" — agar tidak menimbulkan kesombongan, tidak menjadi syuhrah
  • "Keburukan yang tujuan dibuatnya" — agar tidak dipakai untuk hal yang dilarang, seperti pamer atau membuatnya lupa bersyukur

Doa tambahan untuk pakaian baru — dari hadits Umar radhiyallahu 'anhu yang dihasankan oleh Tirmidzi:

"Alhamdulillahilladzi kasani hadza wa razaqanihi min ghayri hawlin minni wala quwwah."

"Segala puji bagi Allah yang telah memakaiku ini dan memberiku rezeki ini tanpa daya dan upaya dariku."

Dan jika setelah berdoa ini kemudian kita menyedekahkan pakaian lama kita, maka Allah akan menjaga dan menutup aib kita di dunia maupun setelah kematian.

Doa untuk setiap kali berpakaian (bukan hanya pakaian baru):

"Alhamdulillahilladhi kasani ma uwari bihi aurati wa atajammalu bihi fi hayati."

"Segala puji bagi Allah yang telah memakaiku sesuatu yang dengannya aku bisa menutup auratku dan aku bisa berhias dalam kehidupanku."

Siapa yang terbiasa mengucapkan ini setiap kali mengenakan pakaian — meskipun bukan pakaian baru — akan diampuni dosa-dosanya. Ini serupa dengan doa makan dan minum yang dianjurkan untuk setiap kali kita makan.


Hibarah: Pakaian yang Paling Dicintai Nabi ﷺ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: pakaian yang paling dicintai Rasulullah ﷺ adalah hibarah.

Apa itu hibarah? Ia adalah kain yang indah, terbuat dari katun berkualitas terbaik dari Yaman, dengan motif bergaris — ada garis merah dan hitam di dalamnya. Sebagian ulama menyebut bahwa hibarah adalah kain terbaik yang dibuat dari kapas.

Kata hibarah sendiri berasal dari tahbir, yang bermakna memperindah dan membuat sesuatu tampak lebih indah. Kata ini muncul dalam Al-Qur'an ketika menggambarkan para penghuni surga: "fahum fi rawdatin yuhbarun""mereka berada dalam kesenangan surga yang memperindah mereka" (QS. Ar-Rum: 15).

Ada kisah yang indah yang menghubungkan makna ini. Suatu malam, Nabi ﷺ mendengar Abu Musa al-Asy'ari membaca Al-Qur'an dari kejauhan. Keesokan harinya, Nabi ﷺ berkata kepada Abu Musa: "Sungguh kau telah diberi suara indah dari keluarga Nabi Dawud." Abu Musa menjawab: "Jika aku tahu engkau sedang mendengarkan, aku akan membaguskannya lebih lagi — aku akan membacanya dengan tahbiran." — dengan penuh keindahan.

Hibarah, tahbir, yuhbarun — semua dari akar kata yang sama: keindahan yang muncul dan memikat.

Para ulama menyebutkan beberapa alasan mengapa Nabi ﷺ menyukai hibarah: pertama, karena kain ini memang indah dan menghadirkan keindahan pada pemakainya. Kedua, karena ia tidak mudah kotor. Dan mungkin karena alasan lainnya yang Allah lebih tahu.

Ibn Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa memakai hibarah saat shalat hukumnya makruh — karena motifnya yang mencolok berpotensi mengganggu konsentrasi. Namun ini adalah pembahasan fikih yang masih perlu dikaji lebih jauh.


Putih dan Bergaris: Dua Warna Kesukaan Nabi ﷺ

Dari hadits-hadits lain, kita tahu bahwa Nabi ﷺ juga sangat menyukai dan menganjurkan pakaian putih. Beliau bersabda: "Pakailah pakaian berwarna putih."

Bagaimana mengkompromikan ini dengan hadits hibarah yang bergaris-garis merah dan hitam? Ibn al-Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang elegan: "Dua warna yang paling disukai oleh Nabi ﷺ adalah putih dan hibar (motif bergaris)."

Keduanya saling melengkapi: putih untuk kesederhanaan dan kesucian, hibarah bergaris untuk keindahan dan keanggunan. Nabi ﷺ memakai apa yang tersedia, sesuai situasi. Inilah teladan berpakaian yang tidak memaksakan satu gaya semata — tetapi mengenakan yang tersedia dengan rasa syukur, dalam batas-batas yang diizinkan.


Kesimpulan

Dari seluruh hadits dalam bab pakaian Nabi ﷺ ini, tersimpul sebuah gambaran yang sangat utuh: seorang yang memakai apa yang tersedia dengan penuh syukur, menjaga proporsionalitas (tidak terlalu panjang, tidak melebihi batas), menyukai yang indah tanpa berlebihan, dan selalu mengawali setiap sesi berpakaian dengan doa dan pengakuan atas nikmat Allah.

Doa berpakaian mungkin adalah sunnah yang paling mudah untuk mulai diamalkan hari ini. Tidak membutuhkan waktu lama, tidak membutuhkan alat apapun — hanya kesadaran bahwa setiap helai kain yang kita kenakan adalah karunia Allah yang layak dibalas dengan pujian kepada-Nya.

Wallahu ta'ala a'lam.


Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.

Sumber video: Kitab As-Syamail Al-Muhammadiah #11: Teladan Nabi Dalam Berpakaian



Posting Komentar

0 Komentar