Syamail Al-Muhammadiyah #17: Bumi yang Terlipat — Cara Berjalan dan Duduk Nabi ﷺ

Seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah — Kajian Ustadz Firanda Andirja

Pendahuluan

Kita kini memasuki tiga bab yang saling berkaitan: cara berjalan Nabi ﷺ (misyah), kebiasaan beliau menutup kepala (taqonnu'), dan cara duduk beliau (jilsah). Ketiga bab ini membawa kita lebih dekat kepada gambaran fisik keseharian Nabi ﷺ — bukan hanya bagaimana rupa beliau, tetapi bagaimana beliau bergerak, bersikap, dan menghabiskan waktu bersama para sahabatnya.


Cara Berjalan Nabi ﷺ: Bumi yang Terlipat

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menggambarkan pengalamannya berjalan bersama Nabi ﷺ:

"Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah ﷺ — seolah-olah matahari mengalir di wajah beliau. Dan saya tidak pernah melihat seorang pun yang berjalan lebih cepat dari beliau — seolah-olah bumi dilipat untuk beliau. Kami terengah-engah berusaha berjalan bersama beliau, sementara beliau tidak peduli sedikit pun."

Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi, namun sanadnya dhaif karena ada perawi bernama Ibnu Lahiah yang dinilai lemah oleh Imam Albani rahimahullah.

Namun ada hadits lain dari Imam Ahmad yang saling menguatkan. Abu Hurairah menceritakan: "Suatu hari aku berjalan bersama Nabi ﷺ dalam iring-iringan jenazah. Setiap kali aku berjalan, beliau selalu mendahului. Maka aku berlari kecil — barulah aku bisa mendahului beliau. Aku pun berpaling kepada orang di sampingku dan berkata: 'Demi Allah, demi Khalil Ibrahim — sungguh bumi dilipat untuk beliau!'"

Meskipun hadits-hadits ini sanadnya lemah, maknanya dikuatkan oleh riwayat-riwayat shahih sebelumnya yang menggambarkan cara jalan Nabi ﷺ: "Masya taqqa" — kaki diangkat dengan sempurna; "Ka'annama yanhabbu min sanadin" — seolah turun dari tempat yang miring, tubuh sedikit condong ke depan, penuh semangat.

Jadi gambaran yang terbangun adalah:

  • Berjalan cepat namun tidak terburu-buru atau tergopoh-gopoh
  • Langkah tegap, kaki diangkat bersih bukan diseret
  • Energik seperti orang yang punya tujuan dan serius
  • Bukan gaya berjalan sombong yang berlenggak-lenggok
  • Bukan gaya berjalan lembut dan gemulai

Ini pun konsisten dengan firman Allah tentang ibadurrahman yang berjalan dengan hauna (rendah hati), dan nasihat Luqman kepada putranya untuk berjalan secara seimbang — tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Nabi ﷺ berjalan dengan cara yang seimbang namun tetap bersemangat.


Menutup Kepala: Qina' untuk Keperluan Khusus

Bab taqonnu' membahas kebiasaan Nabi ﷺ menggunakan qina' — kain yang dikenakan menutupi kepala. Berbeda dari sorban yang dililitkan, qina' adalah kain yang sekadar diletakkan di atas kepala.

Ada hadits dari Anas bin Malik yang menyebut bahwa Nabi ﷺ sering menggunakan qina', sering menyisir jenggotnya, dan bajunya seperti baju penjual minyak — karena seringnya beliau memakai minyak rambut. Namun hadits ini dinilai dhaif dan bahkan munkar (bermasalah secara matan) oleh para ulama hadits.

Mengapa bermasalah? Karena bagian "bajunya seperti baju penjual minyak" bertentangan dengan riwayat-riwayat shahih yang menunjukkan Nabi ﷺ sangat memperhatikan kebersihan pakaiannya — bahkan pernah menegur sahabat yang berpakaian kotor. Memang beliau sering memakai minyak di rambut, namun itu tidak berarti minyaknya meluber membasahi pakaian. Justru qina' digunakan agar minyak tidak mengotori songkok.

Adapun riwayat shahih tentang qina' terdapat dalam Shahih Bukhari. Aisyah radhiyallahu 'anha bercerita: saat mereka sedang duduk di rumah Abu Bakar di tengah hari, seseorang berkata: "Rasulullah ﷺ datang, mengenakan qina' (kain penutup kepala)!"

Ini terjadi dalam momen yang sangat spesifik: persiapan hijrah ke Madinah. Nabi ﷺ datang dengan menutup wajah dan kepalanya — agar tidak dikenali oleh penduduk Makkah yang mungkin mengawasinya. Beliau ingin bertemu Abu Bakar secara diam-diam untuk merencanakan keberangkatan.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan: "Rasulullah ﷺ melakukannya pada saat itu karena ada keperluan — bukan kebiasaan rutinnya." Keseharian beliau adalah menggunakan sorban (imamah), bukan qina'.


Tiga Cara Duduk Nabi ﷺ di Masjid

Bab ini menampilkan tiga gaya duduk yang pernah dilihat para sahabat dari Nabi ﷺ — semuanya di masjid, karena itulah tempat mereka paling banyak melihat aktivitas beliau.

Gaya Pertama: Al-Qurfusha

Dari Qilah binti Makhramah radhiyallahu 'anha (hadits dhaif): ia melihat Nabi ﷺ duduk di masjid dalam posisi al-qurfusha. Saking khusyuknya tampilan Nabi ﷺ dalam posisi duduk ini, Qilah merasa takut oleh wibawa beliau.

Apa itu al-qurfusha? Para ulama memiliki dua penafsiran:

Pertama — duduk dengan mengangkat kedua betis, lalu menempelkan paha ke perut, dan menahan dengan kedua tangan yang melingkari kedua kaki. Ini serupa dengan posisi "memeluk lutut" yang kita kenal sehari-hari.

Kedua — duduk dengan bersandar pada kedua lutut yang didekatkan ke perut, lalu meletakkan kedua tangan di ketiak. Posisi ini lebih menggambarkan seseorang yang sedang merenung dan fokus sepenuhnya kepada Allah — terputus dari hiruk-pikuk dunia.

Posisi pertama lebih sering disebut oleh para ulama sebagai tafsiran utama. Posisi seperti ini sangat cocok untuk duduk lama dalam kekhusyukan.

Ada konsep yang berkaitan: ihtiba. Ini adalah posisi yang sama dengan al-qurfusha, namun menggunakan kain (sarung atau sorban) untuk mengikat betis ke tubuh — sehingga tangan bebas. Para ulama memakruhkan ihtiba dengan kain pada hari Jumat saat mendengar khotbah, karena dapat membuat mengantuk atau berpotensi membatalkan wudu.

Gaya Kedua: Bersandar Sambil Meletakkan Kaki

Dari Abbad bin Tamim, dari pamannya radhiyallahu 'anhu — hadits ini shahih — ia melihat Nabi ﷺ mustalqiyan di masjid (bersandar/berbaring), dengan salah satu kaki diletakkan di atas kaki yang lain.

Ada dua variasi posisi ini: kedua kaki dijulurkan lalu satu di atas yang lain, atau kaki ditekuk dengan satu lutut disilangkan di atas yang lain.

Posisi ini — bersandar di masjid dengan kaki ditumpuk — tampaknya bertentangan dengan hadits Jabir radhiyallahu 'anhu dalam Shahih Muslim yang menyebutkan Nabi ﷺ melarang seseorang meletakkan satu kaki di atas kaki yang lain saat bersandar.

Bagaimana mengkompromikannya? Para ulama menjelaskan: larangan itu berkaitan dengan risiko terbukanya aurat. Orang Arab zaman itu banyak yang memakai izar (sarung) tanpa celana dalam. Posisi kaki dinaikkan bisa membuat sarung tersingkap dan aurat terlihat. Jika seseorang memakai celana panjang, atau memakai sarung yang cukup lebar sehingga aurat terjaga — boleh.

Ini pun dikuatkan oleh riwayat Shahih Bukhari dari Sa'id bin Musayyib: bahwa Umar dan Utsman radhiyallahu 'anhuma keduanya biasa istalqa (berbaring/bersandar) di masjid.

Gaya Ketiga: Ihtiba dengan Tangan

Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu: ketika duduk di masjid, Nabi ﷺ sering melakukan ihtiba dengan tangannya — yaitu posisi al-qurfusha (mengangkat betis dan menahan dengan tangan). Ini adalah posisi duduk yang nyaman untuk waktu lama, tanpa memerlukan sandaran tembok.


Masjid: Pusat Kehidupan Nabi ﷺ

Bahwa kita mengetahui begitu banyak detail tentang cara duduk Nabi ﷺ — itu sendiri mengisyaratkan sesuatu yang penting: Nabi ﷺ sangat banyak menghabiskan waktu di masjid. Para sahabat melihat beliau di sana dalam berbagai kondisi: duduk berbincang, berbaring istirahat, mengajar, berkonsultasi, memutuskan perkara.

Aisyah radhiyallahu 'anha menggambarkan dengan sangat indah: "Ketika Rasulullah ﷺ sedang di rumah bersama kami, beliau membantu pekerjaan rumah tangga. Namun ketika azan dikumandangkan, beliau langsung pergi ke masjid — seolah-olah tidak mengenal kami."

Dari masjid, Nabi ﷺ menjalankan hampir seluruh fungsi kepemimpinannya: mengajar Al-Qur'an, memberi khotbah, menyelesaikan sengketa, merencanakan peperangan, bermusyawarah tentang urusan umat. Masjid bukan hanya tempat shalat — ia adalah pusat peradaban Islam.

Dan ini mengingatkan kita pada hadits tentang tujuh golongan yang Allah naungi pada Hari Kiamat. Salah satunya: seorang yang hatinya tergantung di masjid — yang selalu rindu pergi ke sana, yang tidak merasa asing dan gelisah di dalamnya, yang merasa nyaman dan tentram ketika berada di masjid.

Ada satu peringatan yang penting dalam konteks ini: masjid bukan tempat untuk kepentingan duniawi. Bukan untuk berjualan, bukan untuk iklan produk, bukan untuk kepentingan politik yang memecah belah umat. Ketika Nabi ﷺ pertama kali tiba di Quba dan kemudian di Madinah, hal pertama yang beliau bangun adalah masjid — sebelum rumahnya sendiri. Ini menunjukkan masjid adalah fondasi, bukan aksesori.

Fungsinya jelas: untuk berzikir kepada Allah, untuk shalat, untuk membaca Al-Qur'an. Kegiatan-kegiatan yang mendukung kemaslahatan umat Islam — seperti pengajaran, kajian, musyawarah — juga boleh dilakukan di masjid. Namun mengubah masjid menjadi arena jual-beli, propaganda politik, atau pertengkaran sesama Muslim adalah pengkhianatan terhadap fungsinya yang mulia.


Kesimpulan

Dari tiga bab ini, tersusun gambaran yang sangat manusiawi tentang Nabi ﷺ dalam kesehariannya: berjalan cepat dan gagah seperti orang yang punya tujuan, sesekali menutup kepala untuk keperluan tertentu, dan duduk di masjid dengan berbagai posisi yang santai dan alami.

Beliau adalah manusia biasa yang duduk dan bersandar — namun setiap gerakannya penuh makna. Cara berjalannya mengajarkan semangat dan keseriusan. Cara duduknya mengajarkan ketawadhu'an. Dan waktu yang beliau habiskan di masjid mengajarkan kita: di manakah seharusnya hati seorang mukmin tertambat?

Wallahu ta'ala a'lam.


Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.

Sumber video: Kitab Asy-Syamail #17: Cara Jalan Atau Duduk Nabi ﷺ



Posting Komentar

0 Komentar