Pendahuluan
Dua bab yang kita bahas pada episode ini saling melengkapi: Bab Ma Jaa fi Tukaa'ti Rasulillah ﷺ — tentang apa yang digunakan Nabi ﷺ sebagai sandaran, dan Bab Ma Jaa fi Ittika'i Rasulillah ﷺ — tentang bagaimana cara Nabi ﷺ bersandar, termasuk kepada seseorang. Keduanya mengajarkan kita bahwa bahkan kegiatan sesederhana "bersandar" pun mengandung pelajaran tentang kemanusiaan, ketawadhu'an, dan sunnah Nabi ﷺ yang bisa kita teladani.
Bersandar: Tanda Kemanusiaan dan Ketawadhu'an
Fakta bahwa Nabi ﷺ pernah bersandar mengajarkan kita dua hal sekaligus.
Pertama, Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang terkadang lelah. Beliau bukan malaikat yang Allah firmankan: "La yafturun" — tidak pernah merasa lelah dan tidak pernah bosan. Malaikat bertasbih siang dan malam tanpa kelelahan. Nabi ﷺ adalah manusia — ada saatnya beliau berbaring sejenak setelah shalat malam untuk memulihkan tenaga sebelum shalat Subuh.
Kedua, bersandar di tengah para sahabat tanpa kursi khusus dan tanpa pengaturan tempat duduk yang "terhormat" menunjukkan tawadu' Nabi ﷺ yang luar biasa. Beliau tidak butuh formalitas untuk menunjukkan kewibawaannya.
Suatu ketika, seorang lelaki datang menemui Nabi ﷺ dan tubuhnya gemetar dari rasa takut dan segan yang berlebihan. Nabi ﷺ menenangkannya dengan kalimat yang sangat mengena:
"Hawn 'alayk! Fa-lastu bi-malik. Innama ana ibnu imra'atin kanat ta'kulul qadida bi-Makkah." "Santailah! Aku bukan raja. Aku hanyalah anak dari seorang perempuan yang tinggal di Makkah dan memakan dendeng."
Seolah beliau berkata: saya manusia biasa seperti kamu, yang besar dari keluarga yang juga makan-makan sederhana. Itulah Nabi Muhammad ﷺ.
Hadits tentang Bantal: Sandaran yang Wajar
Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu bercerita: "Aku melihat Rasulullah ﷺ bersandar di atas sebuah bantal (wisadah) di sebelah kirinya."
Para ulama menegaskan: ini bukan berarti bersandar di sebelah kiri adalah sunnah. Nabi ﷺ kebetulan sedang bersandar ke kiri saat itu. Riwayat lain hanya menyebut beliau bersandar di atas bantal tanpa menyebut arah. Ini adalah kegiatan yang mubah — boleh ke kiri, boleh ke kanan, tergantung kenyamanan.
Pelajarannya: menggunakan bantal atau sandaran ketika duduk adalah sesuatu yang wajar dan boleh. Di majelis tamu, menyediakan bantal agar tamu bisa bersandar sambil berbincang adalah bentuk memuliakan tamu — sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ.
Bersandar Sambil Memberi Nasihat: Tiga Dosa Terbesar
Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu — beliau adalah mantan budak yang memerdekakan diri dengan turun dari benteng menggunakan bakrah (alat penarik air di sumur) saat pengepungan Thaif, lalu bergabung dengan kaum muslimin.
Dalam sebuah majelis, Nabi ﷺ bertanya dalam posisi bersandar: "Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?" Para sahabat menjawab: "Tentu, ya Rasulullah."
Nabi ﷺ menyebutkan:
- Pertama: Al-isyrk billah — menyekutukan Allah
- Kedua: Uququl walidayn — durhaka kepada kedua orang tua
Kemudian — dan ini yang mengesankan — Nabi ﷺ yang tadinya bersandar tiba-tiba duduk tegak ketika hendak menyebutkan dosa ketiga. Perubahan postur itu sendiri sudah menandakan keseriusan yang meningkat.
Beliau lalu berulang kali mengingatkan: "Ala wa syahadatuz zur! Ala wa qawluz zur!" — "Ingatlah, persaksian palsu! Ingatlah, perkataan palsu!" — berulang-ulang hingga para sahabat berharap beliau berhenti, merasa kasihan melihat betapa intensnya peringatan itu.
Mengapa dosa ketiga ini ditekankan begitu keras? Para ulama menjelaskan: syirik dan durhaka kepada orang tua adalah dosa yang orang Muslim yang baik pada umumnya tidak melakukannya. Tapi saksi palsu dan perkataan palsu — ini terjadi setiap hari, di pengadilan, dalam kehidupan sosial. Dampaknya bisa menghalalkan darah seseorang, merampas harta orang, menjatuhkan kehormatan seseorang. Dan banyak yang tidak menyadari betapa beratnya dosa ini.
Dari sisi bab ini: bersandar saat menyampaikan nasihat diperbolehkan, dan mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak adalah cara efektif untuk menunjukkan penekanan dan keseriusan dalam suatu poin penting.
Aturan Penting: Jangan Makan Sambil Bersandar
Dari Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu: Nabi ﷺ bersabda, "Adapun aku, aku tidak makan sambil bersandar (muttakiyan)."
Ini adalah prinsip yang sering kita abaikan: makan sambil bersandar adalah sesuatu yang Nabi ﷺ hindari dan ajarkan untuk dihindari. Hadits lain menyebutkan Nabi ﷺ tidak pernah terlihat makan dalam kondisi bersandar.
Apa yang dimaksud dengan "bersandar" (ittika') dalam konteks makan? Para ulama menyebutkan empat bentuk:
Pertama — bersandar ke samping kanan atau kiri (pada bantal, sandaran, atau lengan kursi) sambil makan.
Kedua — duduk bersila di atas sesuatu yang tinggi seperti kasur atau permadani, layaknya para raja yang makan dengan cara memperlihatkan kemewahan dan keangkuhan.
Ketiga — menyangga badan dengan tangan sambil makan, khususnya tangan kiri — ini memiliki larangan khusus yang oleh Ibnu Hajar disebut sebagai larangan yang sangat keras, yang bisa sampai ke derajat haram.
Keempat — bersandar ke belakang pada dinding atau sandaran sambil makan.
Mengapa ini tidak dianjurkan? Ibnu al-Qayyim rahimahullah menjelaskan beberapa sebab: bersandar dapat menghalangi makanan turun dengan sempurna ke lambung, perut tidak dalam posisi optimal menerima makanan, dan cara duduk seperti raja-raja menghilangkan sifat ubudiyyah — kerendahtanganan seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
Para ulama umumnya berpendapat hukumnya makruh — kecuali untuk kasus tangan kiri menyangga tubuh saat makan yang beberapa ulama anggap sampai ke haram.
Cara Duduk Nabi ﷺ Saat Makan: Di Atas Dua Lutut
Lalu bagaimana cara makan yang dianjurkan? Ada hadits dengan sanad hasan (dinyatakan shahih oleh Imam Albani rahimahullah) dari Ibnu Busr:
Nabi ﷺ diberi hadiah seekor kambing. Beliau pun duduk di atas dua lututnya (jalasat 'ala rukbatayhi) untuk menyantapnya. Seorang Arab melihat dan bertanya dengan heran: "Duduk apa ini?"
Nabi ﷺ menjawab:
"Innallaha ja'alani 'abdan kariman wa lam yaj'alni jabbaran 'anidan." "Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku seorang hamba yang mulia — dan tidak menjadikanku sebagai orang yang sombong dan keras kepala."
Duduk di atas dua lutut saat makan mungkin terasa tidak biasa bagi kita, tapi cara ini secara alami membatasi jumlah makanan yang masuk — perut tidak bisa mengembang terlalu besar dalam posisi ini. Ini juga mencerminkan kerendahtanganan seorang hamba.
Para ulama juga menyebutkan cara makan yang dianjurkan lainnya: duduk dengan kaki kiri rata di lantai sementara lutut kanan ditegakkan. Kedua cara ini mencerminkan tawadu' dan mencegah makan secara berlebihan.
Kesimpulan praktis: ketika makan dan minum, berusahalah duduk dengan posisi yang tidak mengesankan keangkuhan — hindari bersandar ke samping, hindari menyangga dengan tangan kiri. Dan jika bisa, duduk dalam posisi seperti Nabi ﷺ di atas dua lutut atau dengan kaki kiri diturunkan.
Bertelekan kepada Sahabat: Saat Sakit, Nabi ﷺ Berjalan Menuju Masjid
Bab kedua membahas bersandarnya Nabi ﷺ kepada seseorang. Ada hadits dari Fadl bin Abbas radhiyallahu 'anhu (sepupu Nabi ﷺ) — meski sanadnya dhaif — yang mengisahkan bahwa ia mengunjungi Nabi ﷺ yang sedang sakit. Nabi ﷺ mengenakan sorban kuning dan memintanya mengencangkan ikatan sorban. Kemudian Nabi ﷺ meletakkan tangannya di pundak Fadl dan berjalan bersama menuju masjid.
Kisah ini dikuatkan oleh hadits shahih yang telah kita bahas sebelumnya: Nabi ﷺ yang sakit keluar dari rumah dengan bersandar kepada Usama bin Zaid radhiyallahu 'anhu, mengenakan kain tebal yang dililit di tubuhnya, lalu mengimami para sahabat shalat.
Bayangkan: dalam kondisi sakit berat yang menguras tenaga, Nabi ﷺ tetap berusaha hadir memimpin shalat berjamaah. Bukan dengan berdiri sendiri tegak, melainkan dengan bertelekan pada pundak seorang sahabat yang dicintainya. Dan bagi Usama bin Zaid — dipilih sebagai tumpuan oleh manusia paling mulia di alam semesta — itu adalah kemuliaan yang tak ternilai.
Satu catatan penting: ini bukan berarti sunnah membawa tongkat kemana-mana. Nabi ﷺ tidak terbiasa menggunakan tongkat saat sehat. Beliau berjalan tegak dan cepat sebagaimana telah kita pelajari. Bertelekan kepada orang atau menggunakan tongkat adalah untuk kondisi yang memang memerlukannya — sakit, tua, atau ada kebutuhan nyata.
Pengantar: Pola Hidup Nabi ﷺ yang Sangat Sederhana
Episode ini diakhiri dengan pengantar singkat untuk bab berikutnya: Bab Ma Jaa fi 'Ayshi Rasulillah ﷺ — bab tentang pola hidup Nabi ﷺ. Dan gambaran awal yang diberikan sudah sangat menggetarkan.
Rumah Nabi ﷺ terbuat dari pelepah kurma. Tinggi atapnya hanya sekitar 2 meter — bisa disentuh dengan tangan terentang. Area hunian (untuk tidur dan keperluan pribadi) hanya sekitar 4 x 6 meter — dan di situlah semua perabotan, perlengkapan masak, dan aktivitas keseharian terjadi. Begitu sempitnya sampai Nabi ﷺ ketika shalat malam harus menyentuh kaki Aisyah agar mendapat ruang untuk bersujud.
Tikar Nabi ﷺ terbuat dari anyaman serabut kurma — hingga sering meninggalkan bekas anyaman di kulit beliau. Kasurnya dari kulit yang diisi lif (serabut kurma yang kasar). Bantalnya pun sama — bukan kapas yang lembut. Ketika seorang wanita menghadiahkan kasur yang lebih baik, Nabi ﷺ mengembalikannya: "Kalau aku mau, Allah bisa mengubah gunung menjadi emas bagiku."
Selama berbulan-bulan, tidak ada api yang dinyalakan di rumah Nabi ﷺ — tidak ada masakan, tidak ada minuman panas. Aisyah radhiyallahu 'anha pernah bercerita: tiga bulan berlalu — bulan demi bulan — tanpa tungku menyala di rumah Nabi ﷺ. Yang mereka makan hanyalah kurma dan air putih, sesekali mendapat pinjaman susu dari tetangga yang memiliki unta atau kambing.
Ada satu saat ketika Nabi ﷺ kedatangan tamu. Beliau memeriksa semua rumah istri-istrinya — sembilan rumah — mencari makanan untuk dijamu. Jawabannya dari setiap istri: "Tidak ada apa-apa kecuali air putih."
Dan semua itu bukan karena Nabi ﷺ tidak mampu. Beliau mendapat hak atas seperlima rampasan perang. Beliau bisa hidup mewah. Tapi beliau memilih tidak. Karena dunia bukan orientasinya.
"Kalau dunia senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah, tentu Allah tidak akan memberikan seteguk pun kepada orang kafir."
Inilah yang akan kita selami lebih dalam di episode berikutnya — sebuah potret kesederhanaan yang bukan kelemahan, melainkan pilihan sadar dari manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di bumi ini.
Kesimpulan
Dari bab bersandar, tersimpan beberapa pelajaran sederhana namun bermakna: bersandar adalah hal yang wajar dan dibolehkan — kecuali saat makan dan minum, di mana kita dianjurkan untuk duduk dengan posisi yang mencerminkan tawadu' kepada Allah. Bahkan cara kita duduk saat makan adalah cermin dari bagaimana kita memandang diri kita di hadapan Sang Pencipta: apakah kita lebih mirip raja yang penuh kemewahan, atau hamba yang penuh syukur?
Dan dari sekilas gambaran tentang pola hidup Nabi ﷺ — kita diingatkan kembali: betapa jauh kita dari teladan beliau, dan betapa banyak yang perlu kita renungkan tentang prioritas dunia versus akhirat.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiah #18: Cara Bersandar Nabi ﷺ
0 Komentar