Pendahuluan
Kita melanjutkan Bab Ma Jaa fi 'Ayshi Rasulillah ﷺ — bab tentang pola hidup Rasulullah ﷺ. Jika episode sebelumnya mengantarkan kita pada gambaran awal kesederhanaan beliau, maka kali ini kita diajak menyelami hadits-hadits yang lebih menyentak — tentang kelaparan yang mencapai titik di mana para sahabat makan dedaunan pohon, bibir mereka luka-luka, dan Nabi ﷺ sendiri menjalani hari-hari dengan hanya beberapa suap makanan yang disembunyikan di ketiak seorang sahabat.
Sa'd bin Abi Waqqas: Dituduh Tidak Bisa Shalat
Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang Nabi ﷺ jaminkan masuk surga secara langsung. Dialah yang menaklukkan Persia di Perang Qadisiyah. Dialah yang doanya dikabulkan Allah — sehingga dikenal sebagai mujabud dakwah.
Namun suatu ketika, penduduk Kufah mengadukan Sa'd kepada Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Tuduhan mereka: Sa'd tidak bisa shalat dengan benar. Umar pun mengganti Sa'd dengan Ammar bin Yasir.
Sa'd pun menjelaskan diri. Bukan karena sombong — melainkan membantah tuduhan yang batil. Ia mengungkap rentetan pengorbanannya:
"Aku adalah orang pertama yang menumpahkan darah musuh di jalan Allah — saat kaum musyrikin mengganggu kami yang sedang shalat sembunyi-sembunyi di Makkah, aku pukul kepala salah seorang dari mereka dengan tulang rahang unta, dan darah pun mengalir." Ini terjadi sebelum hijrah, sebelum jihad diwajibkan.
"Aku adalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah" — dalam salah satu sariyah (ekspedisi kecil) sebelum Perang Badar.
"Dan aku pernah berjihad bersama sekelompok kecil sahabat Nabi ﷺ — di mana kami tidak punya makanan kecuali daun-daun pohon dan hubala (tumbuhan berduri, makanan ternak) — hingga bibir kami luka-luka. Dan ketika kami buang hajat, kotorannya kering seperti kotoran kambing — karena tidak ada makanan lain yang kami makan."
Kemudian saat ini dituduh tidak bisa shalat.
Apa sebenarnya masalahnya? Umar kemudian mendapat penjelasan dari Sa'd sendiri: "Aku shalat persis seperti cara shalat Nabi ﷺ. Aku memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua rakaat terakhir." Umar langsung menjawab: "Itulah yang sudah kuduga tentang dirimu."
Orang-orang Kufah yang tidak berilmu tidak mengenal cara shalat yang benar. Ketika Sa'd mengikuti persis cara shalat Nabi ﷺ, mereka mengira ia salah. Kisah yang tragis sekaligus menggelitik — sunnah dianggap kesalahan, kebodohan dijadikan tuduhan.
Makan Daun Hingga Bibir Luka: Pengorbanan yang Sulit Dibayangkan
Detail yang Sa'd ceritakan tentang kondisi fisik mereka sangat menggambarkan betapa ekstremnya penderitaan itu: bibir mereka luka-luka (taqarrat asadahum) karena memaksa memakan tumbuhan yang tidak layak untuk manusia — keras, berduri, kasar. Dan ketika buang hajat, kotoran mereka seperti kotoran kambing atau unta yang kering — tidak ada serat lembut, tidak ada campuran makanan lain, murni dedaunan kering yang berubah menjadi gumpalan kering tak bercampur.
Ini bukan kondisi sehari dua hari. Mereka berada dalam kondisi tersebut sampai tubuh mereka menunjukkan perubahan nyata dari dalam.
Hadits dari Utbah bin Ghazwan radhiyallahu 'anhu memperkuat ini. Meski riwayat yang memuat detail peristiwa sekitar kota Basrah berstatus dhaif, namun pernyataan intinya terkonfirmasi dalam Shahih Muslim (no. 2967):
"Sungguh aku masih ingat kondisi kami — aku adalah yang ketujuh dari tujuh orang bersama Rasulullah ﷺ. Kami tidak punya makanan kecuali daun-daun pohon, hingga bibir kami luka-luka."
Utbah kemudian berkata tentang nasib mereka setelahnya: "Ketujuh orang itu sekarang semuanya menjadi amir (pemimpin/gubernur)." Dari tujuh orang yang makan dedaunan bersama, tujuh-tujuhnya kemudian Allah angkat menjadi pemimpin umat. Bukan untuk berfoya-foya, melainkan untuk memikul amanah yang besar. Dan Utbah pun menambahkan dengan nada peringatan: "Kalian akan mendapati amir-amir setelah kami — yang tidak seperti kami."
Satu Bulan Hanya Sesuap dari Ketiak Bilal
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: Nabi ﷺ bersabda:
"Sungguh aku pernah diancam dan ditakut-takuti di jalan Allah — ketika tidak ada seorang pun yang ditakuti selain aku. Dan aku pernah diganggu di jalan Allah — ketika tidak ada seorang pun yang diganggu selain aku. Pernah 30 hari dan 30 malam berlalu — di mana aku dan Bilal tidak punya apa pun yang bisa dimakan oleh makhluk yang memiliki hati (manusia atau hewan) — kecuali sedikit makanan yang Bilal sembunyikan di bawah ketiaknya."
Bayangkan: 30 hari dan malam tanpa makanan yang layak, selain beberapa suap kecil yang Bilal radhiyallahu 'anhu sembunyikan di ketiak — begitu sedikitnya hingga bisa disembunyikan di sana. Dan dari situlah Nabi ﷺ makan.
Ini bukan cerita kelaparan biasa. Ini adalah kondisi yang terjadi di awal Islam di Makkah, ketika penganiayaan terhadap kaum muslimin mencapai puncaknya, ketika setiap sahabat hidup dalam tekanan dan pengawasan.
Roti dan Daging Tidak Pernah Berkumpul dalam Satu Waktu
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu pula: Nabi ﷺ tidak pernah makan siang dan makan malam di mana keduanya menghadirkan roti sekaligus daging — kecuali ketika ada tamu.
Artinya: pada hari-hari biasa, bisa jadi makan siang hanya roti tanpa daging, makan malam hanya kurma. Atau siang ada daging, malam tidak. Namun roti dan daging bersama dalam satu waktu makan adalah sesuatu yang hanya terjadi saat Nabi ﷺ kedatangan tamu yang perlu dimuliakan.
Ini bukan kemiskinan yang memaksa. Ini adalah pilihan hidup yang sadar dari seorang Nabi yang bisa meminta gunung dijadikan emas baginya, namun memilih untuk tidak melakukannya.
Ditambah lagi dengan yang sudah kita ketahui sebelumnya: selama dua atau tiga bulan berturut-turut tidak ada api yang dinyalakan di rumah Nabi ﷺ — tidak ada masakan, tidak ada roti yang dipanggang, tidak ada minuman panas. Yang ada hanya kurma dan air putih (al-aswadan), sesekali susu dari unta atau kambing tetangga yang dipinjam.
Abdurrahman bin Auf yang Menangis di Hadapan Makanan
Ada satu hadits — meski sanadnya lemah, namun maknanya dikuatkan oleh riwayat yang shahih — yang menggambarkan sebuah momen yang sangat mengharukan.
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang dijamin surga, suatu hari mengajak teman-temannya pulang ke rumahnya. Setelah mandi dan keluar, dihidangkanlah nampan berisi roti dan daging yang baik. Abdurrahman bin Auf pun menangis.
Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: "Rasulullah ﷺ telah wafat — tanpa pernah kenyang memakan roti gandum yang halus. Aku tidak melihat bahwa kami diakhirkan kematian kami ini untuk sesuatu yang lebih baik bagi kami."
Ia melihat kenikmatan yang ada di hadapannya, membandingkannya dengan kehidupan Nabi ﷺ yang tidak pernah mencicipinya, dan merasa khawatir bahwa kesenangan dunia ini mengurangi jatah kebahagiaan akhirat mereka.
Kisah serupa yang lebih shahih: ketika Abdurrahman bin Auf sedang berbuka puasa dan dihidangkan makanan, ia teringat Mus'ab bin Umayr radhiyallahu 'anhu — pemuda kaya Makkah yang ketika masuk Islam kehilangan semua kemewahan. Ketika Mus'ab syahid, ia hanya meninggalkan sehelai kain yang terlalu pendek: jika digunakan menutup kepala, kaki terlihat; jika menutup kaki, kepala terlihat. Mengingat itu, Abdurrahman bin Auf menangis dan tidak jadi berbuka.
Pelajaran: Hisab, Si Miskin yang Masuk Surga Lebih Dahulu
Dari seluruh hadits dalam bab ini, ada dua sisi pelajaran yang sangat penting:
Untuk yang sedang susah: ingatlah bahwa Nabi ﷺ — manusia paling mulia yang diciptakan Allah — pernah makan dedaunan hingga bibirnya luka, pernah mengikat perutnya dengan batu di Perang Khandaq, pernah 30 malam hanya makan beberapa suap dari makanan yang disembunyikan di ketiak Bilal. Dan beliau tidak pernah mengeluh. Beliau tidak pernah meminta kepada Allah untuk diringankan makanan atau diperbaiki kondisinya. Beliau menjalani dengan sabar. Jika kita sedang susah, kesulitan kita tidak ada artinya dibanding kesulitan beliau.
Untuk yang sedang nyaman dan berkecukupan: Nabi ﷺ bersabda bahwa orang-orang fakir dari umatnya masuk surga 500 tahun sebelum orang-orang kaya. Mengapa? Karena hisab (perhitungan amal) berlangsung lama untuk orang yang banyak hartanya. Dari mana hartanya, ke mana dibelanjakannya, bagaimana interaksinya — semua dihitung satu per satu.
Bahkan digambarkan dalam hadits: kaum Muhajirin yang miskin, yang tidak punya apa-apa selain pedang untuk berjihad, akan masuk surga dan beristirahat di sana selama 40 tahun sebelum orang-orang lain diperbolehkan masuk. Mereka ditanya oleh penjaga surga: "Sudah selesai hisab kalian?" Jawab mereka: "Apa yang mau dihisab dari kami? Kami tidak punya apa-apa — hanya pedang yang kami gunakan untuk berjihad."
Ini bukan larangan untuk menikmati yang halal. Allah sendiri berfirman mengingatkan: "Siapa yang berani mengharamkan kenikmatan yang Allah berikan?" Yang halal boleh dinikmati. Namun peringatan ini mengajak kita untuk memperbanyak sedekah, menggunakannya di jalan Allah, agar harta kita tidak menjadi beban panjang di hari hisab.
Kesimpulan
Bab tentang kehidupan Nabi ﷺ ini selesai dengan gambaran yang sangat kontras dengan dunia kita: seorang manusia paling mulia yang bisa mendapatkan apapun dengan sekali memohon kepada Allah — namun memilih untuk makan dedaunan, mengikat perut dengan batu, dan tidur di atas tikar anyaman yang meninggalkan bekas di kulitnya.
Dan di ujung bab ini, kita menemukan paradoks yang indah: tujuh orang yang makan dedaunan bersama Nabi ﷺ itu kemudian semuanya menjadi pemimpin. Kesulitan tidak membunuh mereka — ia justru membesarkan mereka.
Barangkali itulah yang perlu kita ajarkan kepada generasi berikutnya: bahwa hidup tidak selalu nyaman, bahwa kesulitan adalah bagian dari takdir yang Allah rancang dengan bijak, dan bahwa orang-orang paling mulia dalam sejarah pun pernah berada di titik paling susah dari kehidupan manusia.
Wallahu ta'ala a'lam.
Artikel ini adalah bagian dari seri Syarah Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah, disarikan dan diadaptasi dari kajian Ustadz Firanda Andirja dengan referensi syarah Prof. Dr. Hasan bin Abdul Hamid Al-Bukhari atas Mukhtasar Asy-Syamail karya Imam Al-Albani rahimahullah.
Sumber video: Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiah #20: Kesederhanaan & Kesulitan Kehidupan Nabi & Keluarganya (Bagian 2)
0 Komentar