Pendahuluan: Perintah Bertobat bagi Semua
Topik ini penting bagi semua orang: bukan hanya orang awam, tetapi juga mereka yang rajin beribadah, para dai, dan para ulama. Allah memerintahkan seluruh orang beriman untuk bertobat:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Allah juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (nasuha)" (QS. At-Tahrim: 8). Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah menegaskan bahwa kata "seluruhnya" dalam ayat itu mencakup siapa pun: orang biasa, orang saleh, bahkan dai. Para ulama mengatakan, tobat adalah tugas seumur hidup.
Mengapa demikian? Karena manusia diciptakan dengan potensi melanggar. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, "Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah di waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian" (HR. Muslim, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu). Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).
Mengapa Allah menciptakan manusia dengan potensi dosa, berbeda dengan malaikat yang selalu taat? Di antara hikmahnya, Allah mencintai ibadah tobat. Dalam tobat tampak kehinaan seorang hamba di hadapan Rabbnya, pengakuan akan kelemahannya menghadapi ujian, dan lunturnya kesombongan. Nabi ﷺ bersabda, "Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang berdosa, lalu mereka beristigfar kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka" (HR. Muslim, dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu). Ini bukan anjuran berdosa, tetapi penjelasan bahwa tobat adalah ibadah yang dicintai-Nya. Beliau juga bersabda bahwa kita tidak akan mampu istiqamah sepenuhnya (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dari Tsauban radhiyallahu 'anhu). Solusinya adalah tobat.
Tiga Pendorong agar Kita Senantiasa Bertobat
Di zaman ini, sarana terjerumus dalam dosa semakin banyak. Ustadz Firanda menyebut tiga hal yang seharusnya selalu mendorong kita bertobat.
1. Maksiat yang kita lakukan
Contoh yang sering dianggap sepele adalah mengumbar pandangan. Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (QS. An-Nur: 30-31). Lalu Allah menutup rangkaian ayat itu dengan perintah bertobat (QS. An-Nur: 31). Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah dalil bahwa orang yang mengumbar pandangan wajib bertobat, karena ayat itu dibuka dengan perintah menundukkan pandangan dan ditutup dengan perintah bertobat. Mengumbar pandangan mungkin dosa kecil, tetapi Allah tetap memerintahkan tobat.
Di era media sosial dan berita daring, hampir semua orang melihat hal yang haram, misalnya pembawa acara yang auratnya terlihat. Karena terbiasa, dosa itu dianggap biasa, bahkan tidak lagi diistigfari. Belum lagi dosa pendengaran dan lisan: ghibah dan komentar. Masing-masing kita mengetahui dosa-dosanya sendiri.
2. Tidak mampu beribadah sebagaimana mestinya
Kita diperintahkan salat, berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada istri, menaati suami, dan mendidik anak, tetapi banyak yang tidak kita tunaikan dengan baik. Pikiran kita melayang saat salat. Karena itu kita disunnahkan beristigfar tiga kali setelah salat (HR. Muslim, dari Tsauban radhiyallahu 'anhu). Karena dalam majelis kita bisa saja membicarakan hal yang tidak patut, kita diajarkan doa penutup majelis: "Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik" (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud). Ustadz Firanda mengajak para suami dan istri untuk jujur menilai: apakah hak masing-masing sudah ditunaikan, atau masih sering meninggikan suara dan menuntut?
3. Tidak mampu mensyukuri nikmat
"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)" (QS. At-Takatsur: 8). Karena itulah, ketika keluar dari toilet kita mengucapkan "Ghufranaka" (Aku memohon ampunan-Mu) (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Di antara penjelasan para ulama, kita memohon ampun karena tidak mampu bersyukur atas nikmat Allah yang telah mengeluarkan kotoran dari tubuh kita. Seandainya tertahan, kita menderita.
Dengan tiga hal ini di benak kita, istigfar bukan ritual kosong, tetapi pengakuan jujur bahwa kita punya banyak kekurangan yang akan menyulitkan kita jika dihisab. Rasulullah ﷺ bersabda, "Beruntunglah orang yang mendapati dalam catatan amalnya banyak istigfar" (HR. Ibnu Majah, dari 'Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu).
Keutamaan Tobat
1. Allah mencintai orang yang bertobat
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)
Semakin sering seseorang bertobat, semakin Allah mencintainya. Karena itu jangan malas membasahi lisan dengan "Rabbighfir li wa tub 'alayya" (Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah tobatku) atau "Astaghfirullah wa atubu ilaih". Rasulullah ﷺ yang telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang pun, sebagaimana para sahabat mendengar, mengucapkan istigfar hingga seratus kali dalam satu majelis (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma).
Waktu yang paling tepat untuk beristigfar adalah waktu sahur. Allah memuji orang-orang yang beristigfar di waktu sahur (QS. Adz-Dzariyat: 18), dan Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir seraya berfirman, "Adakah yang memohon ampun, maka Aku mengampuninya?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Setelah salat malam, luangkan lima atau sepuluh menit untuk beristigfar.
Ustadz Firanda menyebut penjelasan sebagian ahli tafsir tentang kisah putra-putra Ya'qub yang memohon agar ayah mereka memintakan ampun atas dosa mereka terhadap Yusuf. Ya'qub menjawab, "Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku" (QS. Yusuf: 98), dan menurut sebagian ahli tafsir, beliau menundanya hingga waktu sahur, waktu paling mustajab.
2. Allah sangat gembira dengan tobat hamba-Nya
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada seorang musafir di padang pasir yang kehilangan untanya beserta bekal makanan dan minumannya. Ia pasrah menanti kematian di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba untanya kembali lengkap dengan bekalnya. Ia memegang tali kekangnya dan berseru, karena terlalu gembira, "Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Rabb-Mu" (HR. Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). Ia salah ucap karena kegembiraannya yang luar biasa. Dan kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya lebih besar daripada itu.
Allah juga lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu). Ustadz Firanda mengajak kita membayangkan seorang anak yang lama pergi, lalu pulang menangis mengetuk pintu. Orang tua pasti menerimanya dengan gembira. Allah lebih penyayang lagi. Betapa sering kita melihat ibu yang sulit memaafkan anaknya yang bersalah parah. Allah tidak demikian. Seorang anak mungkin menyusun kata-kata dan membawa hadiah untuk meminta maaf kepada orang tuanya. Kepada Allah, cukup salat malam dan menangis.
3. Allah memuji orang-orang yang bertobat
Allah menyebut mereka di antara sifat orang beriman: "(Mereka itu) orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah)..." (QS. At-Taubah: 112). Dalam surah At-Tahrim, Allah menyebut istri-istri Nabi ﷺ yang kelak akan diganti dengan perempuan yang salehah, antara lain yang bertobat dan beribadah (QS. At-Tahrim: 5).
4. Tobat menghapus dosa seolah-olah tidak pernah berdosa
Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa" (HR. Ibnu Majah, dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Sebanyak apa pun dosanya menjadi seolah nol. Ini yang paling menjengkelkan iblis. Ia telah bersusah payah puluhan tahun menggoda seseorang, lalu seluruh jerih payahnya sia-sia ketika hamba itu bertobat dan tobatnya diterima.
Kesimpulan
Tobat adalah ibadah seumur hidup yang diperintahkan kepada semua orang beriman. Kita punya tiga alasan kuat untuk selalu bertobat: maksiat yang kita lakukan, ibadah yang tidak sempurna, dan nikmat yang tidak sepenuhnya kita syukuri. Sebagai balasannya, Allah mencintai orang yang bertobat, gembira dengan tobatnya, memujinya, dan menghapus dosanya.
Karena itu jangan pernah ragu dan bosan membasahi lisan dengan istigfar, terutama di waktu sahur. Semua kita berdosa, hanya saja ada yang menyadarinya dan ada yang lupa karena banyaknya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertobat dan mensucikan diri. Amin ya Rabbal 'alamin.
Artikel ini disusun dari kajian "Taubat" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah. Tonton kajian lengkapnya di YouTube.
0 Komentar