November 23, 2008

Catatan Perjalanan Paris (Bagian 2)

Dan petualanganku di kotanya om Napolen pun berlanjut. Setelah empat hari sibuk dengan berbagai meeting, akhirnya ada waktu untuk jalan-jalan lagi. Kali ini saya jalan ke Lafayette, sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Paris, terkenal karena mahalnya. Jepitan rambut yang plastik aja harganya 30 euro, kalo di KRL ekonomi Serpong-Tanah Abang aja sepuluh ribu dapet tiga. hehehe...

Dari Lafayette, jalan dikit ke Place de L'Opera dan lanjut naik Metro ke stasiun Chatelet Les Halles, disini lumayan rame karena menjadi tempat transit lebih dari 10 jalur Metro. Di basementnya ada mall yang harga barang-barangnya masih lumayan murahlah dibanding Lafayette. Dari mall ini saya naik Metro lagi ke arah stasiun Charles de Gaulle Etoile, yang letaknya dibawah Monumen Arc de Triomphe. Monumen yang termasuk salah satu landmark di Paris ini termasuk unik, karena ada dua belas avenue (jalan) yang bertemu di Monumen ini. Monumen ini selesai dibangun tahun 1835, oleh arsitek bernama Jean-Francois-Thérèse Chalgrin dan dilanjut oleh Jean-Armand Raymond karena Chalgrin meninggal sebelum Monumen ini selesai.  Desain dari monumen ini terinspirasi dari Arch of Constantine di Roma, Italia, tapi ukuran yang di paris ini dua kali lebih besar daripada yang di Roma.

Monumen ini terletak di ujung Avenue Des Champs Élysées, jalan yang sangat terkenal karena di sisi kanan kiri jalan pun penuh dengan pertokoan dengan brand yang sudah ga asing lagi, mulai dari Mont Blanc, Nike, Louis Vuitton, Peugeot, Renault, Toyota, Adidas, Apple, Disney, Yves Saint Lauren, Dior, Mont Blanc dan puluhan outlet dari brand terkenal lainnya. Saya menyusuri Avenue Des Champs Élysées ini dari sisi kiri menuju Place de La Concorde. Pedestrian yang nyaman dan luas membuat jarak yang jauh tidak begitu terasa.

Hari terakhir di Paris, tentu saja saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Yang pertama saya kunjungi adalah Musée du Louvre (Museum Louvre) yang letaknya di dalam Jardin Des Tuileries, di dalam nih museum banyak karya-karya terkenal seperti lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Museum ini mulai dibangun sejak tahun 1546, namun baru pada tahun 1793 dibuka untuk publik umum. Untuk masuk ke museum, melewati piramida dari kaca yang dibuat Mr. I.M.Pei, seorang arsitek dari Aeerika Seirikta yang lahir di China. Bangunan piramida kaca ini yang selesai dibuat tahun 1989 termasuk salah satu karya arsitektur abad 20 yang terkemuka.


Setelah dari Museum Louvre, sebenarnya pengen lanjut ke cathedral of Notre Dame. Tapi daripada jalan ke gereja, saya mending berkunjung ke Mosquee de Paris yang terletak di Rue Daubenton. Masjid ini merupakan yang terbesar dan tertua di Paris. Di sisi kiri depannya ada restoran muslim, jadi mampir dulu deh makan siang. Makan siang kelar, azan pun berkumandang menandakan waktu sholat Ashar telah tiba. Bahagia rasanya bisa menikmati Sholat berjamaah di .Jumlah orang yang solat berjamaah ashar di masjid ini lumayan banyak dan yang dateng tidak didominasi penduduk bertampang Timur Tengah, tapi banyak pula wajah-wajah asli Eropa. Dengar-dengar sih banyak orang Eropa yang masuk Islam belakangan ini, Perancis bahkan menjadi negara di Eropa yang penduduk muslimnya paling besar.



Dari masjid ini, saya kembali ke Avenue Des Champs Élysées, kali ini niatnya menyusuri pertokoan yang ada di sisi kanan jalan, saya lebih tertarik untuk mampir ke showroom automotif, ngeliat mobil konsep dari Peugeot dan Renault... dari Avenue Des Champs Élysées pengennya ngabisin jalan sampe ke Concorde, niatnya emang pengen naek kincir raksasa yang ada di situ, tapi kaki udah pegalnya minta ampun, so belok kanan ke Stasiun Metro Fraklin D. Roosevelt untuk selanjutnya kembali ke hotel.

November 22, 2008

Catatan Perjalanan Paris (Bagian 1)

Pukul enam pagi, pesawat Air France yang kutumpangi dari Jakarta akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Charles de Gaulle Paris. Di terminal 2E, saya dijemput oleh staff KBRI, untuk selanjutnya diantar ke hotel Holiday Inn di daerah Auteuil.

Karena hari Ahad, jalan dari bandara ke Kota Paris cukup lengang, ga nyampe sejam mobil yang jemput saya sudah tiba di daerah Auteuil, tapi ternyata ga gampang nemuin hotel Holiday Inn yang terletak di rue Gudin. Walaupun staff KBRI yang ngantar kita udah tinggal 30 tahun di Paris, tetap aja nyasar kemana-mana, untungnya ada seorang penduduk paris yang mau nunjukin lokasi hotel yang kita tuju.

Ternyata hotel Holiday Inn ini ga segede yang saya bayangkan, saya udah ngebayangin nih hotel segede Hotel Sari Pan Pacific di Jakarta. Walaupun hotelnya kecil. tapi room ratenya lumayan mahal, lebih mahal daripada hotel Bintang Lima di Jakarta, bayangin aja untuk semalam tarif kamarnya 120 euro (sekitar 1,7 juta rupiah), padahal fasilitasnya biasa-biasa aja. Harga itu bahkan belum termasuk breakfast yang diharge 15 Euro. Koneksi internet juga tidak gratis, untuk menggunakan wifi selama untuk seminggu aja musti membayar 88 euro.

Saya dapat kamar di lantai 6, dari balkon kamar Menara Eiffel bisa terlihat dengan jelas. Karena penasaran, saya pun memutuskan untuk menyusuri jalan-jalan di kota Paris dengan tujuan Menara Eiffel. Saya berjalan ke arah utara menyusuri Avenue de Versailles, di sisi kanan jalan terdapat pasar tradisional, jualannya macem-macem, mulai dari ikan, daging, sayur, buah, bunga, pakaian, dll.. pokoknya lumayan komplit, sepertinya pasar ini cuma buka hari Minggu saja. Dari situ saya belok ke kanan dan kemudian menyusuri tepi sungai Seine melalui Quai Louis. Pemandangan Sungai Sein tidak kalah indahnya. Sayangnya jalan-jalan di kota Paris terkesan kotor dengan menumpuknya daun-daun gugur dari pohon yang tertanam rapi di sisi kiri jalan.


Di tengah sungai, tepat di sisi jembatan Point de Grenelle, ada miniatur patung Liberty. Namanya juga miniatur, walaupun mirip cuman ukurannya ga segede yang di Amerika sana. Melangkah ke utara lagi di sebelah kiri ada bengunan gede banget, ternyata gedungnya Maison Radio France. dari sini saya menyusurin jalan gede Avenue du Pt Kennedy dan kemudian menyeberang sungai Seine melalui jembatan Point de Bir-Hakeem. dari jembatan ini, Menara Eiffel sudah bisa terlihat dengan utuh, yah kira-kira jaraknya 200 meteran lagi dehh.. kami mempercepat langkah, sudah tidak sabar lagi rasanya tiba di menara yang menjadi simbol kota Paris.

Setelah berjalan sekitar 3-4 KM, akhirnya saya pun tiba di Menara Eiffel dan langsung mengantri untuk naik ke puncaknya. Ada tiga tingkat yang bisa dikunjungi, dengan tarif yang berbeda. Saya memilih untuk naik ke tingkat paling atas dengan membayar 12 euro. Begitu tiba di puncak eiffel, rasanya dingin banget, cuaca di bawah aja yang 10 derajat celcius sudah menusuk ke tulang, apalagi kalo di atas menara yang tingginya 324 meter. Menara Eiffel ini didesain dan dibangun oleh seorang insinyur sipil Perancis bernama Alexandre-Gustave Eiffel pada tahun 1889. Selama 40 tahun, menara Eiffel menjadi konstruksi paling tertinggi sedunia, yang kemudian pada tahun 1930 dikalahkan oleh Chrysler Building di Newyork yang lebih tinggi 7 meter. Setiap tahunnya Menara Eiffel ini dikunjungi sekitar 6 juta turis.

Kembali ke hotel, saya sudah terlalu capek untuk berjalan, saya pun memutuskan untuk naek Metro dari stasiun Bir-Hakeem menuju Trocadero dan kemudian pindah ke Jalur 9 dan turun di stasiun Porte de Saint-Cloud yang letaknya pas di depan hotel. Eh jangan kirain Metro di sini sama dengan Metro Mini di Jakarta ya, Metro di sini tuh kereta bawah tanah. Jalur metro di Paris sangat rumit dan sudah ada sejak lama. Untuk naek metro pun tidak terlalu mahal,  saya beli tiket yang bisa dipakai sepuasnya selama seminggu hanya dengan 16 euro.

Seperti biasa, begitu pukul dua tengah malam, saya sudah terbangun dan rasanya susah untuk merem lagi gara-gara jetlag. Selisih waktu Paris dan Jakarta memang enam jam, artinya jam dua tengah malam disini sama dengan jam delapan pagi di Jakarta. Sepertinya enak banget berpuasa di Paris kalo lagi musim dingin seperti ini, subuhnya jam 6.15 dan ifthornya jam 17.07... hehehe...

September 9, 2008

Catatan Perjalanan Manila

Alhamdulillah dapat undangan dari rekan NSTDA Thailand, untuk menghadiri workshop di Manila sebagai rangkaian dari kegiatan ASEAN COST Meeting. Saya berangkat menuju Manila menggunakan Philippine Airlines, perjalanan memakan waktu sekitar 3,5 jam, yah kurang lebih lamanya sama kalo kita ke Ambon. Sesampainya di Terminal Kedaratangan, saya sempat bingung karena petugas dari KBRI Manila yang seharusnya menjemput saya belum datang. Untungnya petugas keamanan bandara ada yang berbaik hati memberikan uang logamnya untuk saya gunakan menelepon ke KBRI. Tak lama kemudian petugas KBRI datang menjemput sambil mengabarkan bahwa tadi mereka terlebih dahulu mengurus penjemputan beberapa orang pejabat dari Kementerian Budpar.


Saya menginap di Hotel Atrium yang terletak di selatan Manila, tepatnya di Gil Puyat ave, Pasai. Sayangnya kamar saya di lantai 23 terbatas pemandangannya ke arah selatan saja, padahal kota Manila sendiri ada di bagian utara hotel, dan Manila Bay ada di bagian Barat. Jadinya saya cuman harus puas melihat pesawat yang hilir mudik di bandara Aquino. Oh ya seperti Hotel Atrium di Jakarta, di bagian bawah hotel juga ada Mallnya, tapi kondisinya kurang terawat dan terkesan kumuh.

Karena keterbatasan waktu, saya tidak sempat keliling kota Manila, saya hanya mengunjungi Mall of Asia yang letaknya hanya beberapa KM dari hotel. Mall of Asia ini nampaknya menjadi ikon baru kota Manila. ukuran mall ini lumayan besar, saya kurang yakin apakah ada mall di Indonesia yang lebih besar dari mall ini. Ada beberapa hal menarik dari mall ini, pintu masuk mall untuk pria dan wanita dibedakan, dan masing-masing dijaga oleh seorang security pria dan wanita juga. sepertinya di Indonesia belum ada mall yang membedakan jalur masuk berdasarkan jenis kelamin. Selain itu dimana-mana terdapat tulisan "This facilities only for the erderly people and handicapped"... ya pengunjung yang sudah tua dan yang cacat sangat diistimewakan di mall ini, dimana-mana ada fasilitas khusus buat mereka mulai dari toilet khusus hingga jasa pengantaran oleh security dengan menggunakan mini car.


Saya pun mencoba naik kendaraan umum khas Manila yang eksotis, Jeepney... kendaraan ini umumnya colorful, penuh dengan asesoris-aseoris yang rame, plus sticker tulisan yang warna-warni pula. Di setiap sudut kota Manila pasti ada Jeepney, wajar sih, sepertiga dari jumlah kendaraan umum di Manila adalah Jeepney. Ongkos naik Jeepney ga mahal-mahal amat, sekitar 8 peso untuk jarak dekat hingga 15 peso untuk jarak yang jauh. Saya cuman mencoba naik Jeepney dari Mall of Asia ke arah Quiapo dan lanjut lagi ke arah Santa Cruz. Namun ga enaknya naik Jeepney, karena kita terpapar polusi karena jendelanya yang terbuka lebar dan tanpa kaca. Di Jakarta kalau kita naik angkot, biasanya turun baru bayar ongkos ke pak Supir.  Tapi kalo naik Jeepney, bayarnya pada saat kendaraan sedang berjalan, melalui jendela yang ada di belakang pak supir. karena ukuran Jeepney yang panjang, maka otomatis penumpang yang paling belakang menitipkan ongkos pada penumpang yang lebih dekat ke pak Supir, estafet gitu deh. Begitu pula dengan kembalian ongkosnya, dititipkan pak supir kepada penumpang yang berada paling depan dan kemudian dioper ke belakang...
Beberapa bagian kota Manila ada juga yang kumuhnya minta ampun, sampah berserakan, genangan air dimana-mana, yang bikin jijik adalah banyak anjing kotor yang berkeliaran di pinggir jalan. Bahkan di dekat hotel Atrium tempat saya nginap, banyak gelandangan yang seenaknya tidur di emperan-emperan toko. Ada satu perbedaan mencolok antara lalu-lintas di jakarta dan manila, bisa dibilang jumlah pengendara sepeda motor di Manila bisa dihitung dengan jari, tidak seperti di Jakarta yang dimana-mana motor berseliweran. Mungkin karena jumlah angkutan umum di Manila yang banyak dan juga murah, jadi pada milih naek angkot daripada naek motor.


Mayoritas penduduk manila beragama Katolik, so susah banget cari yang namanya makanan halal. Saya udah nyetok pop mie dari Jakarta, tapi di hotel ga ada water heater. KFC yang ada di seberang hotel jadi satu-satunya pilihan untuk mengganjal perut. Saya sempat bertemu dengan warga manila yang muslim. Beliau mengelola money changer di seberang hotel atrium. Kebetulan saya lagi flu dan tiba-tiba bersin trus refleks ngucapin hamdalah, dia langsung nanya... are u malaysian? saya jawab... i'm indonesian moslem... dan sambil tersenyum dia menjawab i'm filipino muslim... dari balik jeruji ruangannya yang seperti sel, dia mengulurkan tangan untuk bersalaman... hmmm indahnya ukhuwah islamiyah, walaupun beda bangsa, tapi kalo udah sama-sama islam... pasti rasanya seperti saudara..

Sedikit tips buat anda yang berniat berkunjung ke Manila, sebaiknya jangan menukar langsung uang rupiah anda ke mata uang filipina (peso). Sebaiknya ditukar dulu ke Dollar atau Euro, karena nilai tukar rupiah ke peso lemah banget. 1 peso sama dengan 263 rupiah. sedangkan 1 USD sama dengan 44 peso. kalau kurs sekarang 1 USD sama dengan 9250 rupiah maka bisa dapat selisih sekitar 2300 rupiah atau 8 peso.

March 11, 2008

Putra Pertamaku Lahir

Hari Senin minggu lalu, 3 Maret 2008, sekitar jam 1 siang, handphoneku berdering, ternyata ada panggilan masuk dari Thia.Sebelum saya menjawab panggilan itu, saya sudah menebak bahwa apa yang akan disampaikan Thia kali ini pasti tentang kehamilannya. Bener saja, dari seberang Thia bilang kalo dia sudah mengalami pecah ketuban dan sepertinya waktu melahirkan sudah tidak lama lagi. Ya Allah, terus terang saya belum siap untuk kembali ke Makassar hari itu, sebenarnya saya berharap si kecil lahir setelah tanggal 6 Maret, karena tanggal 5-6 Maret saya harus bantuin Ibu Selly tuk ngadain Joint Workshop tentang Geothermal dengan mitra dari Jerman. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, sepertinya hari itu saya harus segera kembali ke Makassar...

Setengah berlari saya ke depan kantor dan menyetop taksi, langsung menuju ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan penting lainnya trus langsung go show ke bandara Sukarno Hatta. Selama di perjalanan, barulah saya menghubungi bagian ticketing Lion Air dan memesan tiket ke Makassar untuk penerbangan pukul 16.05, alhamdulillah masih ada seat, saya tiba di bandara beberapa saat sebelum boarding. Karena ada perbedaan waktu sejam antara Makassar dan Jakarta, maka saya tiba di Makassar pukul 19.00 lewat dikit. Setelah nyampe rumah, saya dan Kak Bashar langsung meluncur ke RSB Pertiwi di Jalan Sudirman MakassarThia sudah ada di ruangan bersalin, saya pun disodorin lembar persetujuan operasi oleh suster di sana, ternyata Thia harus dioperasi cesar, karena posisi bayinya masih sungsang dan air ketubannya sudah mulai habisThia pun masuk ke ruang operasi tepat pukul 12 malam, dan bayinya pun lahir sekitar 15 menit kemudian. Karena proses kelahiran dengan Cesar, sepertinya sulit untuk meminta agar bayinya langsung nyusu ke ibunya (Inisiasi Menyusui Dini), karena kondisi istri saya masih lemah dan harus masuk ICU.

Perasaan saya bahagia banget melihat si kecil yang selama ini dinanti kini ada di depan mata, saya pun melantunkan azan di telinga kanannya, dan tak henti-hentinya bertasbih dan bertahmid karena baik Istriku dan si kecil alhamdulillah dalam keadaan selamat. Keesokan harinya, setelah kondisi Thia membaik, barulah diperbolehkan pindah ke kamar perawatan Anggrek IV, begitu pula si kecil. Setelah berembug dengan istri, saya pun sepakat tuk memberi nama pada si kecil yaitu Ahmad Syauqi Arrabbani, artinya kurang lebih gini...

Ahmad itu berarti terpuji, atau orang yang layak mendapatkan pujian, asal katanya adalah hamada, sama dengan asal kata Muhammad... Ahmad kebetulan juga nama kakek saya dari abba, yang telah meninggal jauh sebelum saya lahir.

Syauqi itu berarti rindu, kehangatan atau cinta, nih nama pilihan istri saya, katanya sih enak didengar, dan maknanya juga bagus...

Sedangkan Arrabbani itu berasal dari kata rabbun, dengan tambahan alif dan nun di belakangnya sebagai bentuk mubalaghah. saya kepikiran tuk memberi nama Arrabbani karena beberapa minggu yang lalu ustaz di tempat saya talaqqi menjelaskan surah Al-Imran ayat 79 yang didalamnya terdapat kata Rabbaniyyun ini... Dalam Lisanul Arab, Ar-Rabbani berarti hamba yang mempunyai pengetahuan tentang Tuhan, Sedangkan Imam al-Qurtubi dalam tafsir al Jami’liahkamil –Quran mengartikan Ar-Rabbani adalah penisbatan kepada ar Rabb, dimana dapat juga dikatakan seorang ulama ahli agama yang mengamalkan ilmunya dijalan Allah. Selain itu Abu Hamid al Ghazali mengatakan arti rabbani adalah orang yang dekat dengan Allah (Sumber : Blogna Mba Aina)


Kembali ke Syauqi nih... Alhamdulillah hari Jumat pagi, dokter sudah membolehkan Syauqi dan Thia pulang ke rumah, Syauqi juga udah bisa mengkonsumsi ASI walau proses adaptasinya lumayan bikin saya dan Thia stress banget karena hari pertama Syauqi udah terbiasa dengan susu formula S26. Namun Alhamdulillah setelah sampai di rumah, Syauqi sudah tidak mimi susu formula lagi. Minum ASI nya juga lumayan kuat, katanya sih kalo anak cowok emang gitu, kalo nangis juga teriaknya minta ampunnnn bikin orang serumah pada bangun, tidur saya ga bisa nyenyak gara-gara Syauqi kalo malam rewel karena haus... capee dehhh...

Harusnya aqiqahan senin kemaren tanggal 10 Maret, namun karena saya harus kembali ke Jakarta (banyak kerjaan numpuk), ortu juga dua-duanya sedang ke Bali, sehingga diundur insya Allah minggu depan, dibarengin dengan Aqiqah sepupunya Syauqi yang lahir tadi subuh (Selasa, 11 Maret 08). Emang jarak lahirnya ga jauh-jauh banget, tanggal nikah ortunya aja cuman beda sehari...

Ga pernah membayangkan di usia menjelang 25 tahun, saya sudah dikaruniai seorang putra, amanah dari Allah yang akan saya didik dan pelihara dengan nilai-nilai agama agar kelak mampu menjadi insan yang rabbani...

Mau liat video tangisan pertama Syauqi? klik di SINI
Foto-fotonya Syauqi bisa dilihat di SINI

February 28, 2008

Nak, Kamu Kapan Keluarnya?

Hari ini usia kehamilah Thia sudah 38 minggu lewat 3 hari, prediksi awal sih bayinya akan keluar tanggal 10 Maret nanti. Dokter kemudian memprediksi maju lagi ke tanggal 6 Maret, dan setelah USG terakhir diprediksi akan lahir pada akhir bulan Februari. 

Sekarang udah akhir Februari nih, tapi belum ada tanda-tanda dia mau lahir, mungkin masih betah kali ya di dalam perut umminya...

Photobucket

Pengennya sih besok aja lahirnya, biar ga rewel minta hadiah ulang tahun, karena 29 Februari datangnya 4 tahun sekali. Sementara Thia pengenya si kecil lahir tanggal 1 Maret, biar barengan ama hari kelahirannya... kalo ibu Selly (bosku) maunya si kecil lahir di atas tanggal 7 Maret, karena saya harus bantu beliau nyiapin workshop Geothermal tanggal 5-6 Maret nanti, jadi ke Makassarnya setelah workshop itu...

Tapi terserah Allah saja deh yang terbaiknya gimana, yang jelas si kecil lahir dengan selamat, begitu juga dengan ibunya. Masalahnya sampai hari ini posisi bayinya masih sungsang, kepalanya masih berada di atas. kemungkinan operasi Cesar kalo sampe detik terakhir blum muter ke bawah. tapi katanya ada juga sih kasus dimana yang keluar duluan tuh bukan kepalanya... whatever deh terserah Allah SWT. gimana baiknya.

January 20, 2008

Bonn, First Trip to Europe

Alhamdulillah, pukul 6 pagi lewat dikit, pesawat Lufthansa yang saya tumpangi tiba di Frankfurt. Perjalanan terasa cukup melelahkan, baru kali ini merasakan naik pesawat 14 jam non stop. Lumayan bete, karena di Lufthansa ga ada in-flight entertaninment untuk masing-masing penumpang, coba tau gini mending naik Singapore Airlines, yang acara tivinya asik-asik.

Di bandara Frankfurt sudah ditungguin Konsul Ekonomi KJRI Frankfurt, Bapak Bambang Priya Hutama. Cuaca dingin banget, maklum lagi winter, suhu cuman 7 derajat celcius, jaket tebalku ada di koper besar, males ngambilnya, sementara jaketku yang kecil ketinggalan di taksi waktu menuju bandara. Apes!

Saya, bersama Bu Selly dan Pak Donald Tambunan kemudian diantar ke Bonn dengan kendaraan KJRI Frankfurt. Selama perjalanan, saya blum bisa menikmati pemandangan karena walau udah pukul 8 pagi, tapi masih gelap seperti jam 5 subuh. Driver KJRI yang nganter kita ke Bonn katanya udah tinggal di Jerman sejak tahun 1983. walaupun udah tidak muda lagi, tuh bapak kuat ngebut juga, Frankfurt-Bonn yang jaraknya 160 KM lebih hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. itupun karena cuaca hujan. coba kalo ga hujan mungkin bisa lebih cepat lagi. karena saya duduk di samping tuh driver, saya sempet ngeliat speedometernya udah mentok di 180 KM per jam. tapi biarpun ngebut, tuh mobil VW minivan masih stabil larinya. mungkin karena kondisi jalan raya di Jerman yang mulus lus lussss....

Tiba di hotel Bristol, ternyata tuh Hotel tidak menyediakan air mineral gratis buat tamunya, harus di charge di minibar, untuk seperempat liter air mineral kudu membayar 3 euro atau sekitar 45 ribu rupiah. D ripada tekor gara-gara air putih aja, saya pun menyusuri jalan di sekitar hotel tuk nyari toko yang jualan air mineral. karena keasyikan liat pemandangan kota yang indah, jadi lupa ama hausnya, saya sampai jalan beberapa kilometer ga terasa. Banyak objek foto yang sangat menarik, sayangnya ga ada yang nemenin jalan jadi ga bisa narsis-narsisan. padahal pengen banget foto di bawah patungnya Bethooven yang jaraknya cuman 500 meter dari hotel.

Karena bingung nyari restoran muslim, akhirnya saya memutuskan tuk lunch di McD, makan chicken burger tuk ngeganjal perut sambil nunggu dinner yang bakal hosted oleh PT-DLR. tak lupa nyetok air mineral, sebotolnya 1,5 euro atau sekitar 20 ribu rupiah. deket McD, ternyata ada warnet juga, sejamnya 1 euro, yah lumayanlah buat ngeposting daripada harus di hotel membayar 40 euro untuk sejamnya.