November 25, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 4)

Alhamdulillah meeting hari kedua selesai lebih cepat. Setelah makan siang, tuan rumah telah menyiapkan sightseeing tour buat kami yang tidak terlibat dalam Steering Committee Meeting. Tidak seperti biasanya, cuaca saat itu cukup cerah walaupun tetep dingin, sangat sempurna untuk jalan-jalan. Tujuan kami hanya beberapa lokasi di sekitar istana, beberapa lokasi wisata tersebut bahkan bersebelahan dengan hotel dan tempat meeting.
Photobucket
berkumpul sebelum memulai tour

Pukul dua siang tepat kami berkumpul di depan Collegium Budapest, tempat kami meeting. Tour guide kami pertama kali menjelaskan bahwa gedung yang kami gunakan untuk meeting tersebut dibangun tahun 1873, merupakan salah satu gedung bersejarah di Budapest dan termasuk UNESCO a World Heritage Preservation Site. Dari situ kami melanjutkan perjalanan ke Fisherman’s Bastion yang berjarak sekitar 50 meter dari Collegium Budapest. Fisherman’s bastion ini persis di belakang hotel Hilton tempatku menginap. Masuk ke Fisherman’s bastion di musim dingin gratis, tapi kalo musim panas katanya harus bayar, karena puncak turis datang ke Budapest saat musim panas.

Photobucket
di fisherman's bastion

Fisherman’s bastion yang didirikan awal abad 19 ini merupakan salah satu landmark di Budapest. Dari sini kita bisa melihat pemandangan indah ke Sungai Danube dan hamparan gedung-gedung tua di bagian timur kota Budapest. Gedung Parlemen yang terletak di seberang Sungai Danube terlihat sangat jelas dari tempat ini. Dari Fisherman’s Bastion kami pindah ke Matthias Church yang letaknya di samping kiri Hotel Hilton. Gereja Neo-Ghotic Coronation yang cukup besar ini pertama kali dibangun oleh Raja Bela IV pada abad pertengahan (sekitar tahun 1225) dan dibangun kembali pada tahun 1896. Nama gereja ini terinspirasi dari Matthias Corvinus, seorang raja Hungaria di zaman Renaisans yang cukup terkenal. Saat ini beberapa bagian luar gereja nampak sedang direnovasi. Menurut sang tour guide, renovasi yang dilakukan terhadap bangunan-bangunan tua di Budapest tidak boleh merubah struktur atau bentuk yang asli, paling cuma menggati  cat atau ganti atap saja,  jadi masih terjaga keasliannya...

Photobucket
Gereja Matthias

Dari Gereja Mathhias, kami menyusuri jalan menuju Royal Palace, pemandangan tidak kalah indahnya. Royal Palace yang dibangun abad ke-15 silam awalnya merupakan Istana Raja Hongaria, namun saat ini sudah beralih fungsi menjadi museum nasional yang menyimpan koleksi peninggalan sejarah terbanyak di Hongaria. Di samping Royal Palace terdapat Istana Alexander yang pada zaman kerajaan menjadi tempat tinggal perdana menteri Hongaria. Gedung yang dibangun pada awal tahun 1800 tersebut saat ini menjadi Kantor Presiden Hongaria. Nyaris ga percaya kalo tuh kantornya presiden, karena saya tidak melihat ada penjagaan ketat sama sekali.

Photobucket
Royal Palace tampak belakang

Photobucket
Royal Palace tampak depan
Sayangnya Royal Palace merupakan tempat berakhirnya tour hari itu. Karena jam baru menunjukkan pukul 3 sore, saya mengajak pak Ahmad MD dari Malaysia tuk berpetualang sendiri... gayung bersambut, pak Ahmad juga tertarik untuk menjelejahi kota yang very beautiful ini. Dari Royal Palace kami memandang ke bawah bukit sambil menentukan rute jalan kaki yang akan kami tempuh. Kami memutuskan akan jalan turun ke Chain Bridge, lalu ke Gedung Parlemen dan terakhir ke Basilica. Ketiga lokasi wisata tersebut dapat terlihat jelas dari Royal Palace.

Photobucket
Chain Bridge dan Basilica tampak dari Royal Palace

Kami pun menyusuri anak tangga menuruni bukit menuju Chain Bridge atau orang di sini menyebutnya Szechenyi Lanchid. Sebenarnya dari area istana menuju Chain Bridge dan sebaliknya ada angkutan bus. Atau bisa juga naik funicular, semacam lift jadul. Tapi sepertinya lebih asyik jalan kaki karena setiap saat bisa mampir mengambil gambar dari angle yang kita mau.

Photobucket
funicular

Setelah jalan menuruni bukit sekitar 10 menit, akhirnya sampai juga di Chain Bridge. Jembatan ini merupakan jembatan pertama di Budapest yang dibangun pada tahun 1839-1849 dan menjadi simbol penggabungan kota Buda dan Pest menjadi Budapest pada tahun 1885. Jembatan bergaya klasik ini panjangnya 380 meter. Di ujung jembatan di wilayah Buda ada terowongan yang membelah bukit dan menghubungkan wilayah Buda dan Pest, jadi ga musti ikutan naik ke bukit. Sedangkan di ujung jembatan wilayah Pest ada Istana Gresham yang dibangun pada tahun 1907 dan saat ini berfungsi sebagai hotel Four Season. Jembatan ini pernah hancur pada tahun 1940-an saat kota Budapest dilanda perang.

Dari Chain Bridge berjalan sekitar 15 menit menuju Gedung Parlemen yang letaknya di tepi sungai Danube. Gedung Parlemen yang dibangun selama 19 tahun (1855-1904) merupakan bangunan termegah di Hongaria. Bangunan yang bergaya Ghotic tersrebut berukuran 268x118 meter dengan kubah setinggi 96 meter dan luas seluruhnya 17.775 m2. Gedung Parlemen merupakan pusat aktivitas pemerintahan Hongaria, dimana terdapat kantor Perdana Menteri dan ruang-ruang untuk sidang Parlemen Hongaria. Lapangan di depan gedung Parlemen dihias oleh dua patung pahlawan Hongaria yaitu patung berkuda Pangeran Ferenc Rakoczi II (1676-1735) yang dibuat oleh arsitek Janos Pasztor pada tahun 1937 dan patung Lajos Kossuth, tokoh revolusi rakyat Hongaria tahun 1848-1849. Sayangnya ada larangan untuk melintas di depan gedung parlemen, sehingga saya dan pak Ahmad hanya bisa menikmati gedung Parlemen dari sisi samping dan belakangnya saja. Namun tak mengapa, toh setiap pagi kami sarapan di Hilton selalu disuguhi pemandangan sisi depan gedung parlemen yang sangat eksotis ini...

Photobucket
Gedung Parlemen saya ambil dari Fisherman's Bastion

Dari Gedung Parlemen, kami balik arah kembali ke Chain Bridge namun akan mampir terlebih dahulu ke St.Stephen Basilica, gereja terbesar di Budapest. Gereja tersebut luasnya 4000 meter persegi dan dibangun pada tahun 1851. Namun karena sudah gelap walaupun baru jam 4 sore lewat, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. kami hanya mengambil beberapa gambar dari depan Basilica dan tidak jadi mengitari gereja megah tersebut.

Photobucket
Gerja Basilika

Dari dekat Basilica sebenarnya ada halte bus 16 dan 16A yang menuju ke Hotel. Namun sepertinya pak Ahmad tidak senang menunggu bus yang tak kunjung tiba. Dia mengajak untuk kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Dia bilang masih ‘boleh’ jalan kaki.. maksudnya dia masih kuat. Terbayang bakal capek banget jalan menyeberang Chain Bridge dan kembali menaiki ratusan anak tangga ke Castle area di mana hotel Hilton berada. Namun saya gengsi dong, masa pak Ahmad yang usianya mungkin sudah 40-an masih kuat, saya 30 aja belum udah nyerah.. akhirnya saya terima tantangan pak Ahmad.

Ternyata keputusan pak Ahmad untuk berjalan kaki sangat tepat, karena kami masih bisa mampir menikmati indahnya pemandangan Chain Bridge dan Royal Castle di malam hari. Keduanya tampak semakin cantik karena bermandikan cahaya lampu. Saya turun ke tepi sungai di sisi kanan dan kiri Chain Bridge mengambil sudut gambar yang terbaik. Saya merasa beruntung... tidak banyak fotografer yang memiliki kesempatan mengabadikan langsung pemandangan indah ini walaupun sekali dalam hidupnya.

Photobucket
Royal Palace tampak dari bawah, tepi sungai

Photobucket
Chain bridge yang cantik di malam hari

Begitu tiba di Royal Castle, napas ngos-ngosan dan kaki rasanya keram setelah 10 menit menapaki tangga menyusuri bukit. Tapi semuanya terbayar ketika saya memandang kembali ke bawah... tampak di kejauhan Chain Bridge, Gedung Parlemen dan Basilica yang tadi kudatangi. Semuanya indah dengan pencahayaan yang sempurna di gelap malam kota Budapest.

Photobucket
Chain Bridge dan Basilika tampak dari Royal Palace saat malam

Dengan sisa tenaga yang ada saya dan pak Ahmad kembali ke Hotel Hilton, namun sebelumnya mampir dulu ke mini market untuk nyetok air minum. Ternyata air mineral yang ada di kamar bukan gratisan tapi harus ditebus dengan harga 1900 forint. Hiks, hari pertama saya sempat minum sebotol... kirain gratis...

Pukul 6 tepat saya tiba di hotel, sudah terbayang nikmatnya berendam air panas di bathtub. Selepas mandi dan sholat, bukannya istirahat.. saya malah semangat untuk jalan lagi... hehehehe... dan akhirnya, malam itu petualanganku di kota Budapest pun berlanjut... (to be continued)

November 23, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 3)

Sepertinya tubuh ini belum bisa beradaptasi dengan waktu Budapest. Sudah dua malam berturut-turut, saya selalu terbangun pukul dua pagi. Saya coba untuk kembali tidur tapi mata ga bisa merem lagi. Saya pun memilih bangun untuk mandi lalu berbagi cerita lagi di blog ini.

Cuaca di Budapest kurang bersahabat kali ini, dinginnya minta ampun, hujan gerimis pula. Rekan saya Tanfer dari Turki memperkirakan hari Rabu akan turun salju, namun Renata dari Polandia menampik dengan alasan, cuaca saat ini terlalu hangat untuk turun salju. Entah siapa yang benar, tapi di dalam hati saya berharap turun salju dong. Udah tiga kali musim dingin saya jumpai di Eropa tapi sekalipun belum pernah ngerasain ketiban salju dari langit, hehehe.

Aktivitas kemarin cukup padat, setelah sarapan selesai, kami berkumpul lagi di Collegium Budapest untuk memulai General Assembly Meeting yang sudah menjadi agenda rutin tahunan di konsorsium SEA-EU-NET. Yang menarik dari pertemuan kali ini, ada beberapa rekan yang baru bergabung dengan tim kami, mereka berasal dari Euresearch Switzerland, STI Thailand, NTU Singapura, DOST Filipina, NAST Laos dan AIT yang berbasis di Thailand. Ada juga wajah-wajah baru namun dari institusi yang sudah lama bergabung dengan konsorsium, seperti Rapela Zaman dari The Royal Society UK. Dia menggantikan Natalie Day dan Laura Dawson yang sepertinya sedang mengerjakan project lain. Saya sempat salah tebak. Dari wajahnya saya menebak Ms. Rapela Zaman ini berasal dari India dan beragama Hindu, tapi ternyata dia keturunan Bangladesh, dan seorang Muslimah. Selama makan siang, saya bersama Rapela menghabiskan waktu mengobrol tentang kondisi Islam di negara masing-masing. Hal ini sering saya lakukan bila bertemu sesama muslim dari negara lain.

Suasana Rapat
Suasana meeting hari pertama

Satu hal yang bikin bete selama di Eropa adalah makanan. Saya harus cukup selektif memilih makanan yang disajikan. Untungnya ada rekan dari Malaysia dan Turki yang sama-sama concern dengan halal tidaknya makanan yang kita santap. Sebelum mengambil makanan biasanya kami saling bertanya satu sama lain, apakah makanan itu aman atau tidak. Bila salah satu di antara kami mengambil satu jenis makanan, maka yang lain akan ikutan. Ikutan ngambil dan ikutan yakin bahwa makanan tersebut halal. Tapi tidak semuanya pilihan kami aman. Nyatanya pada malam pertama kami tiba di sini, kami merasa aman dengan hanya mengambil salad. Untungnya beberapa detik sebelum kali mulai menyantap salad itu, rekan kami dari Hongaria yang menjadi tuan rumah segera memberi tahu bahwa dalam salad itu ada potongan-potongan kecil daging babi... OMG...

Makanya, saat sarapan kemarin pagi saya puas-puasin makan telur rebus, roti, scramble egg, aneka kue, buah-buahan, sereal, dan lain-lainya yang menurutku aman. Pokoknya breakfast like a king... takutnya lunch dan dinner di tempat meeting nanti tidak banyak pilihan makanan, makanya saya nyetok pas sarapan... hehehehe.. tapi ternyata tuan rumah sudah mengantisipasi kejadian kemaren malam dan menyediakan menu vegetarian buat kami yang muslim, alhamdulillah akhirnya lunch and dinner like a king lagi nih...

mcd
Ini bukan museum bro... ini McD... hehehehe

Selepas dinner tadi malam, pengennya sih jalan-jalan di sekitar hotel, namun hujan masih turun. Akhirnya kuputuskan untuk pulang dan langsung tidur walaupun jam masih menunjukkan pukul 19 lewat 10 menit. Begitu sampai di hotel, telepon di kamar berdering dan langsung saya angkat. Saya sempat bingung karena lawan bicara saya ngomong pake bahasa Indonesia dan logatnya tidak asing di telinga. Setelah memastikan saya adalah Munawir Razak, beliau memperkenalkan diri sebagai Anis Kadir. Saya langsung teringat dengan cerita pak Joko, bahwa ada pegawai KBRI Hongaria yang juga berasal dari Makassar dan pernah kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo bernama Anis Kadir. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau Anis Kadir yang dimaksud pak Joko adalah senior saya di Pesantren IMMIM. Kanda Anis Kadir alumni tahun 1989, sehingga saya tidak sempat bertemu di kampus dan jarang ada moment seperti reuni yang mempertemukan kami karena setelah selesai kuliah di Kairo, beliau langsung merantau ke Budapest ini sudah lebih dari 16 tahun. Beliau langsung mengenali saya sebagai adik alumni dari IMMIM begitu melihat nama saya di berkas perjalanan dinas yang disampaikan pak Joko. Kata Kanda Anis Kadir, beliau tidak asing dengan nama saya karena pernah mampir di blog ini. Hehehehe....

Benar kata ustaz Taufan, walaupun belum pernah bertemu, namun bila sama-sama pernah mondok di Pesantren IMMIM, rasanya kami sudah kenal lama. Insya Allah sebelum saya pulang ke tanah air saya akan bertemu dengan Kanda Anis Kadir. Bertemu dengan senior di Indonesia saja senangnya bukan main, apalagi bisa bertemu dengan senior di belahan lain bumi Allah ini... subhanallah... (to be continued)

November 22, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 2)

Ahirnya setelah hampir tiga jam transit di Schipol Amsterdam, pesawat KLM dengan nomor penerbangan KL 1975 bertolak menuju Bandara Ferihegy Budapest. Perjalanan dari Amsterdam ke Budapest kurang lebih sama seperti dari Jakarta ke Makassar. Pemandangan dari atas pesawat ternyata sangat memukau. ketika pesawat baru take-off, di darat nampak ratusan kincir angin berjajar rapi. Pemandangan di atas awan tidak kalah cantiknya. Hamparan awan putih bersih yang menggumpal bagai kapas berpadu dengan birunya langit.

Tepat pukul 12 siang, pesawat pun mendarat dengan mulus di Budapest. Di pintu keluar sudah menunggu
Pak Joko dari KBRI Hongaria yang akan mengantar saya ke hotel. Sepanjang perjalanan selama 30 menit Pak Joko bercerita banyak tentang kota Budapest. Kondisi jalanan di kota Budapest mirip-mirip sama di Serpong deh, banyak tambalan aspal di sana sini, kata pak Joko jalanan yang bagus nan mulus adanya di highway yang menghubungkan antara negara-negara Schengen.

Saya menginap di Hotel Hilton karena sangat dekat dengan kantor Collegium Budapest yang menjadi lokasi konferensi. Hotel Hilton lokasinya sangat strategis karena berada di lingkungan Castle Area yang merupakan wilayah sekeliling istana raja dengan berbagai peninggalan bangunan tua seperti Gereja St. Matyas yang dibangun oleh Raja Bela IV pada tahun 1225, Benteng Nelayan (Fisherman Bastion), Maria Magdalena Tower dan tentu saja istana raja alias Royal Palace. Royal Palace adalah komplek bangunan istana raja Hongaria yang mulai dibangun sejak abad ke-15 dan selesai dibangun dengan kondisi saat ini pada tahun 1910. Saat ini istana tersebut merupakan national gallery yang memiliki koleksi peninggalan sejarah terbanyak di Hongaria. Di samping kanan Royal Palace terdapat istana Alexander yang pada jaman kerajaan menjadi tempat tinggal perdana menteri Hongaria. Gedung yang dibangun pada tahun 1803-1806 tersebut saat ini menjadi Kantor Presiden Hongaria. Ga kebayang kalo di Indonesia kantor presiden seperti ini, ramai dikunjungi turis-turis... pasti Paspampresnya sibuk minta ampun, hehehe...

Royal Palace
Royal Palace, Budapest

Satu lagi yang menarik dari kawasan ini adalah lokasinya yang terletak di atas bukit. Dari Hotel Hilton, dengan jelas kita bisa melihat Gedung Parlemen (Orszaghaz) yang terletak di seberang sungai, begitu juga dengan St. Stephen’s Basilica yang merupakan gereja terbesar di Budapest dengan luar sekitar 4000 meter persegi dan dibangun pada tahun 1851. Pemandangan yang tak kalah menarik dari atas sini adalah Chain Bridge yang merupakan jembatan pertama di Budapest pada tahun 1839-1849. Jembatan nan eksotis ini menjadi simbol penggabungan kota Buda dan Pest menjadi Budapest pada tahun 1885.

Bridge
Chain Bridge dan St. Stephen’s Basilica dilihat dari jalan menuju Hotel Hilton

Baru nyampai tapi keknya udah banyak tau ya... hehe thanks to Pak Joko yang udah share banyak hal tentang Budapest. Pak Joko dengan baik hatinya pula menawarkan bantuan untuk mengantar cari makanan , tentu saja makanan yang halal. Ternyata ga susah nyari restoran kebab Turki,  alhamdulillah... Turki ternyata pernah menjajah Hongaria lebih dari 150 tahun, tapi ga keliatan lagi sisa-sisa peninggalan Kerajaan Turki di sini. 

Karena pelayan restoran Turki tersebut tidak mengerti bahasa Inggris, Pak Joko memesan makanan dalam bahasa Hongaria. Hehe ternyata pak Joko udah lama tinggal di sini, istrinya asli orang Hongaria,dan anaknya pun sudah menjadi warga negara Hongaria. 

Sesampainya kembali di hotel, jam sudah menunjukkan pukul 15.00, ngantuk banget rasanya, efek jetlag. Saya berusaha untuk tidak tidur, takut kebablasan, karena pukul 18.00 saya sudah harus ikut pertemuan dengan teman-teman dari SEA-EU-NET. Saya pun memutuskan untuk jalan-jalan motret suasana di sekitar hotel setelah mandi dan beres-beres di kamar terlebih dahulu. Namun rencana itu urung saya lakukan karena Pukul 16.00 ternyata di luar sudah gelap, ternyata matahari cepat tenggelam di musim dingin...

Akhirnya kuputuskan untuk tinggal di kamar dan internetan. sayangnya internet tidak gratis di Hilton. Padahal dah bayar 80 euro per malam tapi kudu bayar lagi untuk internet, untuk 30 menit tarifnya 1.350 forint, sejam tarifnya 3.100 forint, 24 jam tarifnya 7.800 forint dan untuk seminggu musti bayar 19.500 forint. Forint itu mata uang Hongaria yang kalo dikonversi ke rupiah kita kita 1 forint = 50 rupiah. Ternyata Hongaria belum mengadopsi mata uang tunggal Euro. Jadi transaksi di toko, restoran, bus, tram semuanya pakai forint. Tidak banyak tempat seperti Hotel Hilton yang menerima Euro.

Pukul 18.00 saya turun ke lobby, ternyata teman-teman saya sudah pada ngumpul duluan, ada Tanfer dan Elif dari Turki, ada Christoph, Gerold dan Margot dari Jerman, Ahmad dari Malaysia, Simon dari Kanada, dan Alex dari Austria. Dari hotel kami jalan ke Collegium Budapest yang lokasinya cuman 100 dari hotel. Disana kami disambut rekan kami Mr. Bela, ex diplomat Hungaria yang menjadi tuan rumah acara tahun ini. Senang bisa bertemu dengan mereka sekali setahun, memperluas wawasan dengan diskusi tentang kondisi di negara masing-masing. Untungnya kuliah dulu sempat belajar tentang Eropa, jadi masih nyambung dengan obrolan teman-teman. Hehehe... (to be continued)

November 21, 2010

Catatan Perjalanan Budapest (Bagian 1)

Alhamdulillah pesawat KLM yang kutumpangi mendarat dengan selamat pagi ini di Bandara Schipol Amsterdam. Udara dingin dengan suhu sekitar 5 derajat celsius sudah mulai terasa ketika keluar dari pesawat menuju ruang tunggu. Karena sedang musim dingin, walaupun sudah pagi matahari belum juga menyapa. Empat kali ke sini, baru sekali ngerasain musim panas.

Perjalanan ke Eropa ditempuh sekira 13-15 jam. Untungnya program in flight entertainment di bisa mengusir rasa jenuh di udara. Tadi saya sempat nonton tiga film dan beberapa program TV on demand, sisa waktu saya habiskan dengan tidur, mengobrol dan berdoa, sempat ga bisa tidur juga tadi karena pesawat mengalami banyak turbulensi di atas wilayah India dan Laut Bengal selama kurang lebih dua jam.

Begitu tiba di Schipol, antrian panjang untuk pemeriksaan imigrasi menunggu. Dari imigrasi mesti jalan jauh lagi ke gate C10 tempatku menunggu pesawat KLM lainnya yang akan mengantarku ke Budapest. Untungya di sisi kanan dan kiri banyak toko dutyfree dengan aneka macam jualan yang menarik. Tiga jam transit di Schipol tidak terasa karena sibuk menjelajahi toko dutyfree ini. lumayan buat cuci mata, ga mesti belanja kan.

Berbeda dengan waktu transit di Kuala Lumpur tadi, di Schipol agak susah nyari akses internet gratisan. Banyak channel wifi yang saya coba namun beberapa harus bayar dan beberapa lagi gagal connect. Untuk mengontak Thia di Makassar, saya coba nelpon walau roaming. Untuk ngobrol 1 menit 16 detik aja, pulsa udah kesedot 48 ribu rupiah. Ga lama kemudian saya menerima telepon dari Jakarta, selama 2 menit 11 detik, pulsaku kesedot lagi 61500 rupiah. bangkrut deh... 

November 11, 2010

Menristek Dampingi Presiden Austria Selama Kunjungan Kenegaraan Di Indonesia.

Presiden Republik Austria, Y.M. Heinz Fischer,  melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada tanggal 9-10 November 2010. Selain membawa Ibu Negara Austria dan beberapa angggota kabinetnya, Presiden Fischer juga membawa sekitar 50 orang pengusaha Austria. Selama kunjungannya tersebut, Presiden Austria didampingi oleh Menristek Suharna Surapranata yang bertindak sebagai Minister in-attendance.

Pada hari pertama kunjungan, Setelah upacara penyambutan kenegaraan di Istana Negara, Presiden Austria dan Menristek melakukan peninjauan ke Istana Bogor.  Pada kesempatan tersebut, Presiden Austria beserta rombongan turut berkunjung melihat ratusan koleksi anggrek di Taman Anggrek, Kebun Raya Bogor.

Pada hari kedua kunjungannya di Indonesia, Presiden Austria berkesempatan mengunjungi Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang letaknya bersebelahan. Di Masjid Istiqlal, Presiden Austria yang disambut Imam Masjid Ali Mustafa Yaqub, bahkan diberi kesempatan untuk menabuh bedug yang terletak di pelataran masjid. Dari masjid Istiqlal, Presiden Austria kemudian melanjutkan perjalanan menuju lokasi pembangunan gedung Kedutaan Besar Austria yang baru di Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat.

Sementara itu, di kesempatan yang terpisah, Ibu Negara Austria Margit Fischer didampingi ibu Menristek, Elidiah Widyawati mengunjungi pameran tekstil di Wisma Negara. Pada kunjungan tersebut Ibu Negara Ani Yudhoyono memperkenalkan berbagai jenis koleksi kain dan kerajinan dari seluruh pelosok nusantara kepada Ibu Negara Austria.                  

Rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Austria tersebut, ditutup dengan Indonesia-Austria Economic Forum yang dihadiri lebih dari 200 orang pengusaha dari Indonesia dan Austria. Secara spesifik, Presiden Austria menyampaikan tawaran kerjasama untuk membangun pembangkit listrik tenaga air atau hydropower di Indonesia. "Energi alternatif salah satunya hydropower adalah keunggulan Austria dan kami menawarkan kerjasama di bidang ini dengan Indonesia," ujar Heinz.

Selain kerjasama di bidang hydropower tersebut, Austria juga menawarkan beberapa kerjasama di bidang transportasi perkeretaapian, pengembangan rumah sakit dan pelayanan kesehatan, pengolahan air limbah serta penyediaan sistem komunikasi dan informasi di bidang perhubungan udara. (munawir)

October 22, 2010

Habibie : Perlu dilakukan Revitalisasi Peran Puspiptek

Revitalisasi Puspiptek menjadi perhatian Mantan Menristek yang juga Presiden RI ke-3, B.J. Habibie saat tampil sebagai pembicara kunci pada  Pertemuan Ilmiah Nasional Akedemi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dengan tema “Indonesia inovatif menghadapi tantangan abad 21” yang diadakan di Graha Widya Bhakti Puspiptek Serpong, pada Jumat 22 Oktober 2010. Dalam sambutannya, B.J.Habibie yang juga merupakan pendiri AIPI tersebut menekankan strategisnya peran Puspiptek dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air. "Puspiptek harus kembali digerakkan dan dijadikan pusat bagi para peneliti mengembangkan ilmu pengetahuannya dalam menciptakan berbagai produk penelitian untuk kemajuan bangsa Indonesia", Ujar Habibie.

Selain Habibie, pada Pertemuan Ilmiah Nasional yang akan berlangsung selama 2 hari tersebut, akan tampil pula 18 pakar yang sangat menguasai keilmuan dan berpengalaman dalam bidangnya, antara lain Emil Salim, A.A.Loedin, Achmad Syafii Maarif,  Saswinadi Sasmojo, Sahari Besari,  Bambang Hidayat, dan lain-lain. Para pakar tersebut akan membawakan pembahasan tentang enam program tematik yaitu strategi mengatasi pemanasan global, strategi peningkatan daya saing bangsa, strategi mencerdaskan kehidupan bangsa, strategi memajukan pendidikan sains dan humaniora, strategi menghadapi perubahan tatanan nilai, serta strategi membangun karakter dan budaya bangsa.

Dari pertemuan ilmiah ini, diharapkan adanya masukan yang signifikan bagi pemerintah dan masyarakat untuk kemudian ditindak lanjuti. Enam program tematik yang dibahas merupakan isu sentral dalam pembangunan Indonesia, sehingga dengan terselesaikannya keenam isu sentral tersebut, maka Indonesia akan mampu bersaing di percaturan dunia karena memiliki kemampuan inovasi.

Kegiatan ini merupakan puncak rangkaian peringatan ulang tahun AIPI yang ke-20, sekaligus sebagai upaya API untuk sosialisasi kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya. Selama 20 tahun ini para pemahaman pemangku kepentingan atau para pemimpin terhadap AIPI masih belum ideal dan mereka belum merasakan manfaat AIPI.

Selain Pertemuan Ilmiah Nasional tersebut, AIPI juga menyelenggarakan berbagai kegiatan lokakarya, di antaranya Lokakarya dengan tema ‘Forum Ilmuwan Muda’ yang diselenggarakan pada tanggal 13 Oktober 2010, lokakarya dengan tema ‘Enterpreneurship’ yang diselenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2010, dan  Lokakarya dengan tema ‘Perubahan cuaca’ yang akan diselenggarakan pada bulan November 2010 yad.

Hasil dari lokakarya dan Pertemuan Ilmiah Nasional tersebut, akan dipublikasi secara internasional dan akan disebarluaskan ke sejumlah Academy of Sciences di beberapa negara yang menjadi mitra AIPI. (munawir)

October 20, 2010

Menristek Buka ICMST 2010

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyelenggarakan International Conference on Materials Science and Technology (ICMST) 2010 yang digelar di Auditorium Graha Widya Bakti Puspiptek, Serpong pada hari Rabu, 20 Oktober 2010. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata tersebut merupakan forum ilmiah para peneliti, akademisi dan praktisi dalam mengkaji dan mendiskusikan perkembangan mutakhir di bidang iptek material.

Dalam sambutannya Menristek menekankan bahwa kehidupan masyarakat kita di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari produk berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi material. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 230 juta jiwa dan terus berkembang, kebutuhan terhadap barang seperti televisi, telepon genggam hingga kendaraan bermotor sangatlah besar. Barang-barang kebutuhan tersebut dibentuk dari material mulai dari material dasar seperti plastik, logam, dan keramik  hingga material maju yang memiliki fungsionalitas yang tinggi seperti logam campuran, polimer konduktif dan keramik komposit. Namun Menristek menyayangkan peluang pasar yang besar tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal oleh industri dalam negeri. “Hanya sedikit material yang yang menyusun komponen perangkat-perangkat tersebut yang diproduksi dari pabrik-pabrik yang ada di Indonesia”, ujar Menristek.

Menristek melanjutkan, tingginya permintaan pasar terhadap produk material tersebut merupakan tantangan bagi kita semua untuk mensinergikan proses produksi industri dalam negeri dengan aktivitas litbang agar sumber daya alam kita yang melimpah dapat diolah menjadi material yang dibutuhkan oleh industri. Menristek meyakini Indonesia memiliki SDM yang melimpah dan terbukti kapabilitasnya dalam litbang di bidang material. “Selama ini kita selalu mengekspor bahan baku yang mentah. Dengan terjadinya sinergi antara industri dan pelaku litbang, kita akan mampu mengekspor material yang telah jadi dan tentu saja memiliki nilai tambah yang lebih tinggi”, tegas Menristek.
Material sains dan teknologi merupakan ilmu multidisplin baik dari ilmu dasar kimia, fisika, biologi, farmasi maupun aplikasi di bidang teknologi kesehatan, industry, obat-obatan dan pertanian. Pada ajang ICMST 2010 ini, forum difokuskan untuk membahas nano-material, nano-teknologi, dan energi baru-terbarukan. Akan dibicarakan pula status terkini perkembangan neutron dunia, serta hasil riset yang ada. Pada bidang solid state ionics yaitu bidang baru dalam ilmu material yang mempelajari pergerakan ion dalam bahan, seperti litium dalam komponen baterai katoda, menjadi trend  yang mendunia. Pencarian material baru untuk baterai isi ulang masih terus dilakukan.  Kemajuan teknologi masa depan  baterai lapisan tipis, yang dapat dipasang langsung pada panel/chip (on board power source) adalah tantangan lain dibidang ini. Pemanfaatan teknik neutron untuk mengkaji litium ion baterai, sangatlah tepat, karena pergerakan ion litium yang merupakan atom ringan ini dapat dikaji dengan teknik ini.

Kegiatan ICMST 2010 tersebut dihadiri 60 peserta dari luar negeri yang merupakan pakar teknologi material dari Jepang, Singapura, Australia, India, Malaysia, Jerman, Vietnam dan Thailand. Adapun peserta dari dalam negeri yang jumlahnya lebih dari 100 orang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah. Dalam kegiatan ICMST ini, akan dipresentasikan 150 abstrak dan terdapat pula 100 publikasi ilmiah internasional yang akan diterbitkan, baik dalam bentuk jurnal ilmiah nasional, internasional, maupun prosiding ICMST.

Kegiatan ini ditutup dengan peresmian pembentukan Material Research Society (MRS) indonesia yang disaksikan oleh Prof. Chowdary, yang merupakan President International Union of Material Research Society. (munawir)

October 14, 2010

Kapal Yuanwang-5 dan Astronot China kunjungi Indonesia

Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita bersama Duta Besar China Untuk Indonesia Zhang Qi Yue dan Sekretaris Utama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Bambang Koesoemanto menyambut kedatangan Kapal Pemantau Satelit China Yuanwang-5 (Yuanwang-5 Space Tracking Ship) yang merapat di Jakarta International Container Terminal II, Tanjung Priok tepat pukul 09.00 pada hari Kamis, 14 Oktober 2010.  Kapal tersebut datang ke Indonesia dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-China. Sebelum berlabuh di Indonesia, Kapal Yuanwang-5 menyelesaikan misi mengukur pergerakan orbit satelit bulan.

Kapal Yuanwang-5 merupakan generasi ketiga kapal pelacak Satelit yang dimiliki pemerintah China. Beberapa sistem navigasi dan teknologi yang dimilikinya, antara lain radar cuaca Doppler, Unified S-Band, C-Band Unified Control System dan C-Band Pulse Radar Antena komunikasi satelit besar, antena Inmarsat-B, sistem GPS Upper Air Sounding, dan theodolit (instrumen optik yang terdiri dari teleskop yang dapat diputar).

Kapal tersebut memiliki dimensi panjang 222,2 meter, lebar 25,2 meter dan tinggi 40.85 meter dan melaut sejak September 2007. Kapal yang berbobot 25.000 ton tersebut akan berlabuh di Tanjung Priok hingga tanggal 23 Oktober 2010.  Selama berada di Jakarta, masyarakat diberikan kesempatan untuk menyaksikan Pameran Teknologi Antariksa bertemakan "Youth Space Mindedness" yang akan digelar tanggal 14 – 17 Oktober 2010.

“Kapal ini bernama Yuanwang-5, yang artinya melihat jauh, di dalamnya terdapat banyak perangkat penelitian ilmu pengetahuan yang sangat canggih, Kapal Yuanwang-5 akan berada di Indonesia selama sepuluh hari dan empat hari di antaranya akan dibuka untuk publik. Jadi masyarakat dapat melihat dan mempelajari bagaimana para awak mengoperasikan kapal dan tinggal di sana”, Ujar Dubes China, Zhang Qi Yue.

Bersamaan dengan kedatangan kapal Yuanwang-5 tersebut, Indonesia juga menerima kunjungan dua orang astronot China yang bernama Zhai Zigang dan Nie Haisheng. Keduanya merupakan figur ternama dalam kedirgantaraan China. Pada September 2008, Zhai menjadi astronaut pertama China yang berjalan di angkasa luar ketika ia menjadi awak pesawat angkasa luar Shenzhou 7. sedangkan Nie sudah lebih dulu terbang ke angkasa luar. Pada Oktober 2005, dengan kapal Shenzhou 6, Nie terbang mengelilingi bumi 76 kali.

Memanfaatkan kunjungan kapal Yuan Wang 5 dan astronot China tersebut, Kementerian Riset dan Teknologi akan menyelenggarakan serangkaian acara untuk menumbuhkan minat generasi muda Indonesia akan teknologi kedirgantaraan. Pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010, Menristek Suharna Surapranata akan membuka temu wicara Kapten Kapal Yuangwang 5, Chen Jin Chao beserta kedua astronot tersebut dengan 500 pelajar SMP-SMA se-Jabodetabek di Pusat Peragaan Iptek, Taman Mini Indonesia Indah. Setelah Temu Wicara tersebut, seluruh pelajar akan diajak untuk berkunjung  ke dalam Kapal Yuanwang-5 dan melihat teknologi yang ada di dalam Kapal tersebut. (munawir)

October 10, 2010

Wapres Canangkan Gerakan Nasional Olahraga Jalan Kaki

Sekitar 20 ribu warga Jakarta dan sekitarnya turut berpartisipasi pada peringatan Hari Jalan Kaki Sedunia yang berpusat di Bundaran HI, Jakarta Pusat pada hari Minggu, 10 Oktober 2010. Acara yang termasuk rangkaian Hari Olahraga Nasional tersebut diawali dengan Senam Pagi bersama dan dilanjutkan dengan berjalan kaki dengan rute Bundaran HI-Monas dan kembali finish di Bundaran HI.

Wapres Boediono yang hadir pada kegiatan tersebut menyambut baik inisiatif gerakan jalan kaki tersebut. Dalam sambutannya Boediono menekankan pentingnya berolah raga jalan kaki karena selain murah meriah, juga dapat menjaga kebugaran tubuh dan menjernihkan fikiran. ”Pada usia saya yang beranjak 67 tahun, saya tetap merasa sehat karena saya gemar berolahraga jalan kaki, dua hingga tiga kali dalam seminggu” Ujar Boediono.

Hadir pada kegiatan tersebut Menpora, Andi Alfian Mallarangeng; Gubernur DKI, Fauzi Bowo; Ketua FORMI, Hayono Isman dan beberapa Menteri KIB II. Dari Kementerian Riset tampak hadir Menristek Suharna Surapranata yang didampingi Deputi Bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita dan Deputi Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo,serta puluhan karyawan Kementerian Ristek lainnya.

Sebelum melepas para peserta olahraga jalan kaki, Wapres Boediono terlebih dahulu mencanangkan hari 10 Oktober 2010 sebagai Hari  Gerakan Nasional Olah Raga  Jalan Kaki. Selain di Jakarta, Gerakan Jalan Kaki Nasional kemarin juga berlangsung di beberapa kota-kota besar lainnya di Indonesia. (munawir)

September 28, 2010

Penilaian Tahap Akhir Program Insentif Ristek

Dalam rangka pembangunan iptek yang dikaitkan dengan pengembangan Sistem Inovasi Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) setiap tahun meluncurkan Program Insentif Riset. Program tersebut adalah instrumen kebijakan yang diluncurkan KRT untuk menjalankan misinya dalam memberikan kesempatan dan memotivasi institusi penelitian, pengembangan, dan penerapan, serta pelaku iptek dalam melakukan penelitian, mengatasi permasalahan yang secara sistematis menghambat pertumbuhan inovasi, dan mendorong adopsi hasil inovasi oleh pelaku bisnis/ industri, masyarakat dan pemerintah. Program tersebut dibagi atas empat bentuk yaitu Insentif Riset Dasar, Insentif Riset Terapan, Insentif Peningkatan Kapasistas Iptek Sistem Produksi dan Insentif Percepatan Difusi dan Pemanfaatan Iptek.

Pada hari Selasa, 28 September 2010, KRT dan DRN menyelenggarakan Penilaian Tahap Akhir Program Insentif Riset TA 2011 terhadap proposal riset baru yang telah lulus Desk Evaluation. Pada kegiatan yang bertempat di Graha Widya Bakti Puspiptek tersebut, para peneliti yang mengajukan proposal diberikan kesempatan untuk mempresentasikan rencana risetnya di depan tim penilai yang terdiri dari anggota DRN.

Seperti telah tertuang dalam RPJMN 2010-2014 dan ARN 2010-2014, aktivitas insentif riset diselenggarakan dalam tujuh bidang fokus. Pada kegiatan hari ini, jumlah proposal riset yang dinilai berdasarkan bidang fokus tersebut adalah : Ketahanan Pangan sebanyak 70 proposal, Teknologi Kesehatan dan Obat sebanyak 39 proposal, Energi sebanyak 43 proposal, Teknologi dan Manajemen Transportasi sebanyak 39 proposal, Teknologi Informasi dan Komunikasi sebanyak 38 proposal, Teknologi Pertahanan dan Keamanan sebanyak 42 proposal, serta Material Maju sebanyak 38 proposal. Selain itu terdapat pula proposal penelitian untuk dua Faktor Pendukung Keberhasilan yaitu Sains Dasar sebanyak 38 proposal dan Sosial  Kemanusiaan sebanyak 35 proposal. Jumlah proposal tersebut di atas tidak termasuk 165 proposal lanjutan yang telah dinilai pada bulan Agustus yang lalu.

Menurut Asdep Jaringan Penyedia, Sri Setiawati, proposal penelitian baru maupun lanjutan tersebut akan dipilih berdasarkan nilai yang terbaik dan jumlah proposal yang dibiayai akan disesuaikan dengan ketersediaan pagu anggaran Program Insentif Riset yang berjumlah 100 milyar rupiah. Sri Setiawati menambahkan, salah satu indikator penting dalam penilaian proposal riset tersebut adalah adanya keterkaitan dengan Produk Target. Produk Target adalah produk/layanan (berupa barang/jasa/sistem/prosedur) yang dicapai dalam rangka mendukung inovasi teknologi, berorientasi pada kebutuhan (demand driven), memperhatikan pengguna teknologi (masyarakat, industri dan pemerintah), bagaimana digunakan dan siapa pengguna, serta dengan pendekatan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, and Time-bound). “Proposal riset yang nantinya terpilih adalah yang mempunyai keluaran yang mendukung Produk Target tersebut”, Ujar Sri Setiawati. (mwr/humasristek)

September 27, 2010

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Penyelenggaraan Pekan Iptek Indonesia China 2011

Salah satu hasil dari Pertemuan Joint Committee  Iptek Indonesia-China ke-4 yang telah diselenggarakan pada 3 Agustus 2010 di Jogjakarta, adalah rencana penyelenggaraan China-Indonesia Science and Technology Week pada tahun 2011 mendatang. Dalam konsepnya, kegiatan ini merupakan ajang berkumpulanya para peneliti, ilmuwan, akademisi, sektor industri serta stakeholder iptek lainnya baik dari Indonesia maupun China.  Pada kegiatan yang akan dikemas dalam bentuk konferensi dan pameran tersebut, para stakeholder iptek dari kedua negara dapat berinteraksi serta bertukar informasi dan pengalaman dalam bidang pengembangan iptek dan inovasi.

Untuk menindaklanjuti rencana penyelenggaraan kegiatan S&T Week tersebut, Deputi Bidang Jaringan Iptek, Kementerian Ristek, Syamsa Ardisasmita bersama Direktur Jenderal Kerjasama Internasional Kementerian Iptek Republik Rakyat China, Jin Xiaoming menandatangani Implementing Agreement on 2011 China-Indonesia Science and Technology Week pada hari Senin, 27 September 2010, di Gedung II BPPT Lantai 24, Jakarta. Penandatanganan agreement tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata; Wakil Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, Li Xueyong; dan Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Zhang Qiyue.

Dalam sambutanya, Menristek menegaskan bahwa kegiatan S&T Week mempunyai nilai strategis, dimana kedua negara dapat saling berbagi dan belajar tentang potensi, kekuatan dan kebutuhan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Menristek, mengetahui kondisi iptek di negara mitra sangat penting sebagai dasar menentukan pengembangan kerjasama tersebut ke depan. “Kegiatan konferensi dan pameran tersebut akan memandu kita menentukan prioritas bidang kerjasama yang akan kita lakukan dengan China ke depan’, Ujar Menristek.

Sementara itu, Li Xueyong dalam sambutannya menyampaikan harapan yang senada dengan Menristek terkait penyelenggaraan China-Indonesia S&T Week tahun depan. Li juga menyampaikan rencana kunjungan dua orang astronout China ke Indonesia pada bulan 13-19 November mendatang. Menurut Li, dalam kunjungannya ke Indonesia, kedua astronot China tersebut akan melakukan beberapa kunjungan termasuk dialog interaktif dengan siswa siswi sekolah menengah tingkat pertama. “Saya berharap kunjungan kedua astronot China tersebut tidak hanya memperkuat kerjasama kedua negara di bidang teknologi angkasa luar, namun juga mempererat ikatan persahabatan antara warga kedua negara’, Ujar Li Xueyon.

Menristek menyambut gembira rencana kunjungan kedua astronot China tersebut dan berharap generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan kesempatas emas tersebut untuk belajar langsung dari kedua astronot China terkait pencapaian mereka yang fenomenal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sementara itu, Asdep Jaringan Iptek Internasional, Nada Marsudi menyampaikan bahwa kerjasama Indonesia-China di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah terjalin sejak tahun 2003 dan meliputi bidang pertanian, energi, ketahanan pangan dan obatt-obatan herbal. Melalui penyelenggaraan S&T week ini diharapkan bidang-bidang kerjasama yang lain dapat diidentifikasi dan diimpelementasikan di masa yang akan datang.  (munawir)

September 22, 2010

Menko Perekonomian Buka Gelar Teknologi Tepat Guna XII

Kebijakan arah dan prioritas pembangunan ekonomi yang dituangkan dalam RPJMN 2010-2014 ditujukan untuk  meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa serta memperkokoh fondasi perekonomian nasional. Salah satu sasaran yang ingin dicapai pemerintah adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam 2010-2014 rata-rata 6,6 – 6,8 persen pertahun dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkeadilan.  Untuk mencapai sasaran tersebut, maka kebijakan ekonomi serta  kebijakan ilmu pengetahuan dan teknologi harus terintegrasi dan selaras dengan upaya peningkatan daya saing nasional.

Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian, Hatta Radjasa, saat membacakan sambutan tertulis Presiden Republik Indonesia pada pembukaan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) XII di Jogja Expo Center, Jogjakarta pada Selasa, 22 September 2010. Hatta Radjasa pada kesempatan tersebut didampingi oleh Mendagri, Gamawan Fauzi dan Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tampak hadir pula sejumlah Gubernur dan Bupati/Walikota dari berbagai daerah di tanah air.

Gelar TTG merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan secara bergilir oleh pemerintah provinsi. Kegiatan ini selalu diselenggarakan dengan melaksanakan kegiatan pameran teknologi tepat guna, seminar serta temu bisnis. Gelar TTG XII kali ini bertemakan “Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat”. Hatta Radjasa menilai tema tersebut sangat tepat dan relevan dengan upaya besar pemerintah untuk meningkatkan peran teknologi sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Dengan tema itu saya mengajak semua untuk menyatukan langkah dan memantapkan koordinasi bagi peningkatan penguasaan dan pemanfaatan teknologi yang dapat mendukung tranformasi  perekonomian nasional menuju perekonomian yang maju dan berbasis pada keunggulan komptetitif” Ujar Hatta Radjasa.

Teknologi tepat guna adalah yang teknologi yang cocok dengan kebutuhan masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan. Biasanya dipakai sebagai istilah untuk teknologi yang tidak terlalu mahal, tidak perlu perawatan yang rumit, dan penggunaannya ditujukan bagi masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Menurut Hatta Radjasa, teknologi tepat guna adalah teknologi yang sesuai dengan modal, daya beli, keterampilan dan kapasitas rakyat Indonesia. Teknologi tepat guna sangat sesuai dengan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong yang mudah diperoleh di bebagai pelosok tanah air. Mengingat pentingnya manfaat teknologi tepat guna yang memiliki keunggulan kompetitif sesuai dengan kondisi lingkungan sosial, budaya dan ekonomi rakyat,  pemerintah akan mendorong Komite Inovasi Nasional untuk menjadikannya program unggulan. “Saya meminta KIN dapat membantu merumuskan dan mendorong berkembangnya teknologi yang unggul, mampu bersaing dan dapat diterapkan oleh masyarakat, utamaya yang bergerak di usaha skala mikro, kecil dan menengah.” Ujar Hatta Radjasa.

Hatta menambahkan, untuk saat ini dan kedepan pemberdayaan dan penggunaan Teknologi tepat guna harus difasilitasi sebagai proses difusi teknologi di kalangan masyarakat. Pengembangan Teknologi tepat guna secara produktif dapat mempercepat interaksi yang sinergis antara produsen teknologi dengan pengguna teknologi.  Interaksi seperti inilah yang ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya inovasi teknologi  sekaligus memfasilitasi tumbuhnya kewirausahaan teknologi atau technopreneuship.

Kegiatan Gelar TTG XII yang akan berlangsung pada tanggal 22-26 September 2010 diikuti oleh 386 stand dari pemerintah provinsi, kabupaten, kota, dunia usaha, lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Kementerian Riset dan Teknologi bersama BPPT, BATAN, BAKOSURTANAL dan LIPI yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut menggelar Panggung Inovasi yang selama kegiatan TTG XII akan menggelar talkshow dengan menghadirkan pakar dan narasumber yang terkait dengan Teknologi Tepat Guna.   (munawir)

September 21, 2010

Kementerian Ristek akan berpartisipasi pada IDAM Expo 2010

Kementerian Pertahanan setiap dua tahun sekali menyelenggarakan kegiatan pameran yang bersifat internasional yaitu Indo Defence Expo dan Forum. Untuk Tahun 2010, penyelenggaraan Indo Defence 2010 agak berbeda dengan pelaksanaan dua kali sebelumnya.  Kali ini selain melibatkan peralatan darat juga peralatan laut dan udara. Dengan demikian Indo Defence 2010 dapat disebut Indo Defence, Indo Aerospace dan Indo Marine Expo (IDAM) 2010.

Dalam rangka mempersiapkan partisipasi stakeholder terkait riset dan iptek pada kegiatan IDAM 2010, Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan rapat koordinasi pada Selasa, 21 September 2010. Rapat yang dipimpin oleh Asisten Deputi Produktivitas Riset Iptek Strategis, Goenawan Wybisana dihadiri perwakilam dari Balitbang Kementerian Pertahanan, LPNK Ristek, perguruan tinggi dan industri strategis bidang hankam.

Menurut Gunawan Wybisena, Kementerian Riset dan Teknologi pada kegiatan IDAM 2010 akan menyerahkan secara simbolis 20 perangkat peralatan komunikasi untuk keperluan tempur yang diproduksi PT. LEN kepada Kementerian Pertahanan. Peralatan yang bernama Manpack Alkom FISCOR-100 tersebut beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 30 Mhz dengan 256 channel dengan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level pleton hingga batalion
.
Selain itu, pada IDAM 2010, Kementerian Riset dan Teknologi berencana untuk memamerkan roket RX-550 buatan LAPAN yang memiliki diameter 550 mm dan tinggi 18 meter di pintu gerbang Jakarta Internasional Expo, Kemayoran yang akan menjadi tempat pelaksanaan IDAM 2010 pada tanggal 10-13 November mendatang. Gunawan berharap kehadiran roket RX-550 pada pameran tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri kepada masyarakat.

Kementerian Pertahanan selaku penyelenggara menargetkan kegiatan IDAM 2010 ini akan diikuti peserta dari luar negeri yang berasal dari 38 negara dan  dalam negeri sebanyak sebanyak 550 perusahaan, dengan target  pengunjung sekitar 20.000 orang. (munawir)

September 19, 2010

Revitalisasi Kerjasama Iptek Indonesia-India

Indonesia dan India telah memiliki hubungan yang harmonis dan unik bahkan sejak zaman kuno. Terdapat banyak persamaan latar belakang kebudayaan di antara kedua negara. Sejak awal kemerdekaan pun, pemimpin kedua negara, Soekarno dan Jawaharal Nehru berkomitmen untuk menjaga hubungan baik yang dijalin kedua negara tersebut. Kedua negara juga memiliki peran yang penting dalam mendirikan Gerakan Non-Blok dan mendorong Kerjasama Selatan-Selatan.  Hubungan baik yang telah terjalin tersebut menjadi dukungan yang positif bagi India dan Indonesia untuk menjalin kerjasama efektif di bidang riset dan iptek.

Hal tersebut disampaikan Syamsa Ardisasmita, Deputi Menristek Bidang Jaringan Iptek, saat memberikan Sambutan pada The 2nd Meeting of Indonesia-India Joint Science and Technology Committee yang diselenggarakan di Hotel Ramayana, Bali pada tanggal 19 Oktober 2010.

Indonesia dan India memiliki pandangan yang sama terhadap strategisnya kerjasama di bidang riset dan Iptek. Nota Kesepahaman Kerjasama Iptek antara kedua negara telah ditandatangani pada tahun 2001 dan telah menghasilkan beberapa tindakan nyata, antara lain adalah  pengiriman 41 orang dari Indonesia untuk berpartisipasi dalam pelatihan ICT di TATA INFOTECH Bangalore, partisipasi enam orang ilmuwan dan pembuat kebijakan iptek pada ASEAN-India Teknologi S & T Teknologi Platform ke-12 pada tahun 2006, penelitian satelit kerjasama antara LAPAN dan ISRO; serta beberapa lokakarya ASEAN India di bidang Iptek Material.

Dalam sambutannya, Syamsa menegaskan pertemuan ini menjadi momen yang tepat untuk melakukan revitalisasi kerjasama yang terjalin selama ini. Syamsa berharap dari kerjasama bilateral ini, Indonesia dapat belajar dari kemajuan iptek yang telah dicapai India. “Dengan kerjasama ini kita dapat berbagi pengalaman dengan India  di bidang kesehatan dan kedokteran, teknologi informasi dan komunikasi serta desalinasi air laut”, Ujar Syamsa.

Salah satu bidang prioritas yang akan dikerjasamakan kedua negara adalah Teknologi Infomasi dan Komunikasi,  di antaranya adalah pengembangan perpustakaan digital, perangkat lunak open source, dan penerapan e-voting. Khusus untuk e-voting, pada tahun 2004 India telah terlebih dahulu menerapkan e-voting pada pemilihan parlemen dengan total peserta pemilu yang mencapi 290 juta orang dan menggunakan lebih dari 1 juta perangkat e-voting (EVM). Pada kesempatan tersebut, Syamsa menyampaikan bahwa dari aspek teknologi, Indonesia telah siap melaksanakan e-voting. Namun tantangan yang masih dihadapi pemerintah saat ini adalah meyakinkan seluruh pihak bahwa penerapan teknologi e-voting pada proses pemilu maupun pilkada adalah metode yang lebih efektif, efisien, terjaga kerasahasiannya dan hasilnya tetap kredibel.              

Pada pertemuan tersebut hadir pula dari Kementerian Ristek, Amin Soebandrio, Staf Ahli Menristek bidang Kesehatan dan Obat; Masrizal, Staf Ahli Menristek bidang Pertanian dan Pangan; Engkos Koswara, Staf Ahli Menristek bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi; serta Nada Marsudi, Asdep Jaringan Iptek Internasional. Dari LPNK turut hadir Bambang Prasetya, Deputi Bidang Ilmu Hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); Bambang Herunadi dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP); Andrari Grahitandaru dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); Andriani Agustina dan Erni Sri Sinta dari LAPAN; Moch. Riyadi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Irma S. Hapsari dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Sedangkan, delegasi dari India terdiri dari A.K. Sood, Direktur Kerjasama Internasional, Kementerian Iptek India; K.V. Prabu, Principal Scientist dari Indian Agriculture Research Institute; Vibha Tandon dari Universitas Delhi; R.K. Sharma dari Institute of Nuclear Medicine and Allied Sciences; serta Sugandh Rajaram dari Kedutaan Besar India di Jakarta.

Di akhir pertemuan, Syamsa Ardisasmita dan A.K, Sood menandatangani Minutes of Meeting yang di dalamnya menyepakati  untuk melakukan satu lokakarya setiap tahun mulai 2011-2013, untuk menunjuk Kementerian Ristek Indonesia dan Kementerian Iptek India sebagai focal point untuk mendorong komunikasi antar instansi terkait di kedua negara, serta untuk menyelesaikan draft Nota Kesepahaman yang baru di bidang Iptek yang rencananya akan ditandatangani saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke India pada awal tahun 2011. (munawir)

September 8, 2010

Kerjasama Riset Kelautan Indonesia-Amerika Serikat melalui Index Satal 2010

Kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat di bidang riset kelautan melalui Ekspedisi  Indonesia Exploration Sangihe Talaud (INDEX SATAL) 2010 berhasil menemukan sejumlah biota laut unik dan banyak sekali semburan hidrotermal di kedalaman perairan Sangihe Talaud. Berbagai biota laut yang ditemukan di sekitar gunung api bawah laut bernama Gunung Kawio di kedalaman 1.800 meter tersebut sangat unik karena mampu hidup dalam tekanan hingga 180 bar, di suhu panas 350 derajat Celcius serta dalam kondisi gelap tanpa sinar matahari.

Hal itu disampaikan Sugiarta W. Santosa, Ketua Tim Riset Indonesia Index Satal dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan saat menyampaikan presentasi hasil kegiatan Index Satal di depan tim Koordinasi Pemberian Izin Penelitian Asing di Kantor Kementerian Riset dan Teknologi, pada Rabu 7 September 2010.

Misi Index Satal 2010 merupakan misi riset bersama  antara  Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dari Indonesia dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dari Amerika Serikat. Misi Index Satal 2010 yang berlangsung selama 35 hari dari 6 Juli-9 Agustus 2010, memfokuskan riset dalam beberapa bidang yaitu pemetaan batimetri, celah hidrotermal, vulkanologi, geologi kelautan, habitat kelautan, oseonografi fisika dan biologi, hidrografi, flora dan fauna laut dalam, serta teknologi informasi kelautan.

Menurut Sugiarta, ada tiga hal yang mendasari Sangihe Talaud dipilih sebagai lokasi riset, yaitu pertama, wilayah tersebut unik secara tektonik yaitu double seduction dimana tidak banyak daerah di dunia yang mempunyai karakteristik seperti ini. Kedua, wilayah ini merupakan pertemuan dua jalur gunung api besar di dunia dan pertemuan jalur gempa wilayah timur dan pasifik. Ketiga, wilayah ini merupakan wilayah laut dalam yang belum banyak dieksplorasi potensinya.

Ekspedisi Index Satal melibatkan Kapal Riset Okeanos Explorer milik NOAA serta Baruna Jaya IV milik BPPT. Kapal Okeanos memiliki  kemampuan teknologi pemantauan laut dalam menggunakan ROV (remotely operated vehicle) bernama Hercules Little yang mampu menyelam hingga kedalaman 7000 meter dan dilengkapi dengan High Definition Camera yang mampu mengambil gambar yang hasilnya dapat dilihat langsung di Kantor BRKP di Jakarta Utara dan Kantor NOAA di Seatle.

Sedangkan kegiatan Kapal Baruna Jaya IV difokuskan pada pengambilan sampel biota, Bathymetric mapping sampai dengan kedalam 1500 meter, dan Mid-water and bottom trawling. Menurut Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam  BPPT, Ridwan Djamaluddin, ekspedisi bersama dua kapal riset merupakan yang pertama kali bagi BPPT. Kapal Baruna Jaya IV telah menyelesaikan tugas di ekspedisi ini dengan baik dan secara teknologi mampu mengimbangi kemampuan Oceanos Explorer. “Pada ekspedisi ini, Kapal Baruna Jaya IV bahkan mampu memberikan beberapa kontribusi yang tidak dapat dilakukan oleh Kapal Oceanos Explorer” Ujar Ridwan Djamaluddin.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral BPPT, Yusuf Surachman,  mengatakan keberhasilan ekspedisi Index Satal menemukan hydrothermal vent merupakan sebuah penemuan yang membanggakan. Pada umumnya, hydrothermal vents hanya terdapat di wilayah mid-ocean-ridge, namun expedisi ini ternyata mampu menemukan hydrothermal vents yang terdapat di Indonesia. “Sangat sulit untuk menemukan hydrothermal vents tanpa menggunakan peralatan yang canggih. Saya menganggap expedisi riset ini sukses karena mampu menemukan hal-hal yang baru” , Ujar Yusuf Surachman.

Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Iptek, Teguh Rahardjo yang memimpin rapat tersebut memberikan appresiasi atas keberhasilan tim ekspedisi Index Satal 2010. ”Semoga kerjasama ini dapat terus berjalan dan menghasilkan banyak hal yang bermanfaat bagi pengembangan riset dan iptek di Indonesia”, Ujar Teguh Rahardjo mengakhiri rapat tersebut.  (munawir)

September 3, 2010

Polri mengapresiasi Teknologi DNA Forensik Lembaga Eijkman

Di negara maju seperti Jepang dan Jerman, hasil pengembangan riset dasar membutuhkan waktu yang singkat untuk menjadi produk industri. Hal tersebut mengindikasikan bahwa riset dasar, semakin hari semakin dekat jaraknya dengan penerapan di masyarakat. Kondisi tersebut disebabkan adanya konsentrasi sumber daya manusia, infrastruktur, dan informasi pada lembaga-lembaga riset.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Menristek, Mulyanto saat memberikan sambutan pada acara Penyerahan Penghargaan Kapolri kepada Lembaga Eijkman pada hari Jumat, 3 September 2010 di Lembaga Eijkman. Penghargaan tersebut diberikan Kapolri sebagai wujud apresiasi atas kerjasama Lembaga Eijkman dalam membantu dan mendukung Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor), Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia, dalam identifikasi DNA kasus-kasus yang menjadi perhatian publik.

Mulyanto menambahkan bahwa Kementerian Riset dan Teknologi melalui berbagai program insentif riset, sedang dan akan terus mengarahkan riset dasar maupun terapan untuk bermuara pada difusi dan diseminasi, agar hasil riset dapat bekontribusi dalam penyelesaian masalah bangsa. “Keberhasilan Lembaga Eijkman dalam teknologi identifikasi DNA, membuktikan bahwa riset adalah sesuatu yang vital untuk dikembangkan ke depan, dan sekaligus menegaskan riset bukanlah menara gading”, Ujar Mulyanto.

Menurut Direktur Lembaga Eijkman, Sangkot Marzuki, Identifikasi DNA merupakan salah satu bentuk pengabdian Lembaga Eijkman kepada masyarakat untuk memberantas segala bentuk kejahatan dan merupakan bagian penting dari agenda utama pemerintah dalam menegakkan Indonesia yang lebih aman. Pengalaman bertahun-tahun dalam penelitian keanekaragaman genetik manusia Indonesia dan penyidikan DNA di Lembaga Eijkman, merupakan bukti keberhasilan aplikasi kemampuan teknologi biologi molekul yang lahir dari penelitian fundamental. “Ilmu Biologi Molekul yang dua puluh tahun lalu dianggap banyak orang sebagai suatu mimpi di awang-awang, sekarang telah terbukti sebagai teknologi garis depan untuk penanganan berbagai masalah nasional dalam keamanan, pertahanan dan kesehatan”, ujar Sangkot.

Sementara itu, Kepala Puslabfor Polri, Brigjen Polisi Budiono, yang hadir menyerahkan penghargaan tersebut mengemukakan bahwa kerjasama Polri dengan Lembaga Eijkman merupakan implementasi dari Grand Strategi Polti Tahap II Tahun 2010-2014 yang bertujuan untuk membangun kemitraan dan modernisasi kepolisian dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan, baik dalam operasional maupun pembinaan guna efektivitas dan efisisensi pelaksanaan tugas, menuju Polri yang proporsional, profesional, mandiri, dipercaya masyarakat dan humanis.

Sejak tahun 2004, Lembaga Eijkman telah memiliki kapasitas yang memenuhi standard internasional dalam mengidentifikasi DNA dan berbagai macam barang bukti DNA untuk membantu POLRI dalam pengungkapan kasus-kasus kriminal, identifikasi korban bencana massal, penyidikan orang hilang, uji paternitas dan maternitas serta pengembangan database populasi. Saat ini, Unit Identifikasi DNA Lembaga Eijkman telah didukung oleh tersedianya peralatan dan teknologi mutakhir serta dilengkapi dengan sistem manajemen DNA Database serta perangkat lunaknya untuk mencari dan mencocokkan profil DNA yang telah dianalisis.

Mengakhiri sambutannya, Sangkot Marzuki mengutarakan bahwa  kerjasama Polri dengan Lembaga Eijkman secara resmi didasari oleh Nota Kesepahaman  tentang Penelitian Pengembangan Iptek dan Pelayanan di Bidang DNA Forensik yang ditandatangani pada tanggal 2 Maret 2005. Namun kerjasama kedua institusi sudah berjalan baik dan produktif dalam memandafaatkan teknologi DNA forensik sebelum nota kesepahaman tersebut ditandatangani. Kerjasama tersebut dimulai dengan penanganan kasus bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia. Kerjasama dan sinergi yang solid antara kedua lembaga di lapangan dan laboratorium, mampu menuntaskan kasus yang rumit tersebut kurang dari dua minggu. “Penyelesaian kasus tersebut tanpa bantuan apapun dari luar negeri. Prestasi tersebut dikukuhkan dalam suatu makalah ilmiah bersama antara POLRI dengan Lembaga Eijkman dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional utama untuk ilmu forensik”, Ujar Sangkot. (munawir)

August 30, 2010

Safari Ramadhan Menristek ke Jawa Barat


Membangun perekonomian bangsa yang berbasis iptek tidak akan berjalan mulus bila hanya ditopang denan dengan kebijakan di bidang iptek itu sendiri. Pembangunan tersebut harus didukung pula dengan kebijakan di sektor lain seperti sektor ekonomi dan pendidikan. Untuk mensinergikan berbagai kebijakan lintas sektor tersebut, dibutuhkan sebuah sistem yang disebut Sistem Inovasi Nasional yang saat ini sedang dibangun oleh Kementerian Riset dan Teknologi bersama stakeholder terkait lainnya.

Hal tersebut disampaikan Menegristek Suharna Surapranata saat berdialog dengan puluhan tokoh pemuda dan masyarakat di Hotel Narapati Bandung pada Jumat, 27 Agustus 2010 dalam rangka kegiatan Safari Ramadhan Menristek ke Propinsi Jawa Barat. Turut hadir mendampingi Menristek dalam acara tersebut, Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, Freddy Zen; dan Staf Khusus Menteri Bidang Riset dan Kerjasama, Warsito P. Taruno.

Kegiatan Safari Ramadhan tersebut merupakan program tahunan dari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II (KIB II), dimana Menteri dapat menyosialisasikan program-program pemerintah dan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat secara langsung melalui kegiatan dialog dan silaturrahmi. Kegiatan ini dirangkaikan dengan kunjungan kerja ke Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, BATAN Bandung; Balai Teknologi Informasi LIPI Bandung; dan Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN Bandung. (munawir)

Kunjungan Kerja Menristek ke fasilitas LPNK di Bandung

Pembangunan ekonomi bangsa tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Pembangunan ekonomi berbasis inovasi yang diterapkan negara maju terbukti mampu meningkatkan perekonomian meskipun tidak ditunjang dengan sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena itu, sudah waktunya bagi Indonesia untuk merubah orientasi pembangunan yang selama ini berdasarkan keunggulan komparatif tersebut menjadi pembangunan berbasis keunggulan kompetitif.

Hal tersebut disampaikan Menegristek Suharna Surapranata ketika memberikan pengarahan di Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, BATAN. Kegiatan tersebut mengawali rangkaian kunjungan kerja Menristek  ke Bandung  dalam rangka Safari Ramadhan KIB II pada hari Jumat 27 Agustus 2010.

Menristek melanjutkan, proses transformasi pembangunan tersebut bukan hal yang mudah  dan membutuhkan agen perubah (agent of change) yang memiliki kredibilitas untuk merealisasikannya. Kredibilitas agent of change tersebut harus dibangun atas dasar integritas dan ditunjukkan dengan sikap konsisten terhadap moralitas, humanitas dan nasionalitas. “Mudah-mudahan dengan momen bulan Suci Ramadhan ini, kita mampu meningkatkan integritas kita sebagai agent of change”, Ujar Menristek.

Sementara itu, dalam kunjungannya ke Balai Teknologi Informasi LIPI Bandung, Menristek kembali menegaskan bahwa pembangunan ekonomi bangsa berbasis iptek dan inovasi barulah akan dianggap berhasil bila hasil-hasil riset yang ada sudah mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan yang ada di masyarakat. Strategi yang dijalankan Kementerian Riset dan Teknologi untuk meniadakan kesenjangan antara supply-push dan demand-driven adalah dengan membangun sinergi fungsional antar sektoral sehingga tumpang tindih riset dapat dieliminasi dan hasil riset yang ada relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Menegristek mengungkapkan, mengatasi tumpang tindih riset di antara lembaga penelitian adalah bagian dari kontrak kinerjanya dengan Presiden. Oleh karena itu, Menristek akan merealisasikan penyusunan regulasi yang jelas tentang ruang lingkup dan batasan riset yang dilakukan oleh masing-masing lembaga, mulai dari riset dasar hingga difusi hasil riset. Di sisi lain,  lembaga penelitian harus senantiasa melakukan komunikasi dan transparansi satu sama lain agar hasil riset bersinergi dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.

Menristek menutup rangkaian kunjungan kerjanya dengan memberikan pengarahan di   Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN Bandung. Pada kesempatan tersebut, Menristek menekankan pentingnya menjalin kemitraan yang strategis dengan pihak industri. Selain mensinergikan hasil penelitian dengan kebutuhan industri, lembaga penelitian harus mampu melakukan komunikasi yang efektif sehingga pihak industri dapat memberikan kontribusi yang besar khususnya menyediakan alternatif pendanaan kegiatan riset. "Apabila kita tidak mampu membangun komunikasi yang baik dengan industri, maka kita akan ditinggalkan oleh sektor industri", Ujar Menristek.

Di akhir kegiatan, Menristek mendengarkan presentasi terkait Pengembangan Sistem Informasi berbasis  Satelit dan Terestial untuk Peringatan Dini Bencana di Jawa Barat dan Pengembangan Sistem Energi Listrik HIBRID berbasis sistem inovasi Daerah di Bantul yang merupakan program bersama Kementerian Riset dan Teknlogi bersama LAPAN. (munawir)  

August 25, 2010

Buka Puasa Menristek dengan Anak Yatim Piatu

Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, mengadakan buka puasa bersama dengan lebih dari seratus anak yatim piatu di kediaman Menristek di bilangan Kuningan pada hari Rabu, 25 Agustus 2010. Anak-anak yatim piatu tersebut berasal dari Panti Asuhan Al-Farhan Yayasan Darussalam, Reni Jaya, Tangerang; anak yatim piatu binaan Masjid Jabal Annur, Tambun Bekasi; dan anak yatim piatu binaan masjid Al-Ikhlas Kampung Bali, Jakarta Pusat.

Dalam sambutannya, Menristek memaparkan bahwa kegiatan berbuka puasa dengan anak yatim piatu tersebut adalah wujud dari keinginan pemerintah untuk selalu dekat dan peduli dengan seluruh lapisan masyarakat, termasuk dengan para anak yatim piatu yang merupakan generasi bangsa yang akan melanjutkan pembangunan di masa yang akan datang.

Sementara itu, Adi Junjunan Mustafa, peneliti dari Bakosurtanal yang menyampaikan tausiyah pada kesempatan tersebut, menekankan pentingnya pendidikan terhadap anak yatim piatu. Adi Junjunan berpesan pada pengasuh panti asuhan yang turut hadir agar senantiasa memperhatikan aspek pendidikan anak yatim piatu tersebut agar kelak anak-anak tersebut dapat menjadi manusia yang berkualitas dan mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Adi Junjunan juga mengisahkan perjalanan hidup Muhammad SAW. yang walaupun sejak kecil sudah menjadi anak yatim piatu namun sangat sukses menjadi Nabi dan Rasul yang terakhir, sekaligus sebagai kepala pemerintahan dan panglima perang di kala itu. Di Akhir tausiyahnya Adi Junjunan mengajak seluruh hadirin yang hadir untuk senantiasa menyantuni anak yatim karena Rasulullah SAW. telah menjanjikan derajat yang tinggi di surga kelak bagi orang-orang yang menyantuni anak yatim. (munawir)

August 24, 2010

Pemerintah Seriusi Pembangunan Backbone Broadband


Perkembangan jaringan backbone broadband yang pesat mendapatkan perhatian yang besar dari pemerintah untuk dijadikan bagian infrasktruktur dasar untuk memacu perekonomian Indonesia. Perhatian tersebut diwujudkan dengan memasukkan rencana pembangunan broadband  ke dalam 0Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011. Dari total 500 trilliun anggaran pembangunan infrakstruktur untuk lima tahun ke depan, beberapa persen akan disisihkan untuk merealisasikan jaringan backbone broadband tersebut.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur & Pengembangan Wilayah, Menko Perekonomian, Luky Eko Wuryanto saat membuka Round Table Discussion Broadband Economy Indonesia, di Hotel Borobudur pada Selasa, 24 Agustus 2010. Pertemuan tersebut digelar Kantor Menko perekonomian untuk mendiskusikan berbagai aspek terkait pembangunan jaringan backbone broadband di Indonesia mulai dari regulasi, teknologi, aplikasi hingga aspek pendanaan.

Broadband merupakan sebuah istilah dalam internet yang merupakan koneksi internet transmisi data kecepatan tinggi. Teknologi broadband tersebut mampu mentransfer 512 kilobytes per second (Kbps) atau lebih, sekira 10 kali lebih cepat dari modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan data dengan kecepatan di kisaran 30-50 Kbps. Saat ini, jaringan akses broadband kabel Indonesia dimanfaatkan oleh 1,4 juta pelanggan, sementara jaringan akses broadband nirkabel dipakai kurang lebih 11 juta pelanggan. Survei McKinsey pada 2009 menyimpulkan setiap terjadi pertumbuhan penetrasi broadband sebesar 10% akan mendorong pertumbuhan GDP sebesar 0,6-0,7 persen. Selain itu, backbone broadband memberikan efisiensi bagi sektor-sektor yang termasuk sendi perekonomian, seperti listrik, kesehatan, transportasi, dan pendidikan sebesar 0,5 hingga 1,5 persen.

Menurut Luky, pembangunan infrastuktur jaringan broadband tersebut ke depan akan semakin ditingkatkan. “Broadband dan digitasi adalah solusi yang tepat bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Broadband adalah sebuah keniscayaan dan tidak dapat dihindari lagi”, ujar Luky.
Sementara itu, Staf Ahli Menristek bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, Engkos Koswara yang hadir dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa Kementerian Ristek sejak tahun 2008 telah melakukan serangkain uji coba Broadband Wireless Access nomadik dan mobile di kawasan Puspiptek Serpong. Engkos mengajak pula pihak-pihak terkait untuk bersama-sama memanfaatkan Kawasan Puspiptek Serpong sebagai laboratorium uji coba teknologi broadband tersebut.

Di akhir pembicaraannya, Engkos berharap pemerintah dapat memberikan akses yang luas kepada industri dalam negeri untuk membangun teknologi broadband tersebut. Engkos meyakini bahwa Industri dalam negeri tidak kalah bersaing dengan industri luar dalam teknologi broadband. Engkos memberi contoh PT. Xirka, perusahaan lokal yang bergerak dalam bidang pengembangan chipset BWA. “Dalam pengembangan teknologi broadband, kita jangan hanya berperan sebagai user, kita harus menjadi player”, tegas Engkos.

Diskusi tentang broadband tersebut dihadiri oleh sejumlah stakeholder teknologi Komunikasi dan Informasi yang berasal dari Kementerian, LPNK, Perguruan Tinggi, Operator Provider, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional, dan Masyarakat Telematika Indonesia. Tindak lanjut dari hasil pertemuan ini akan dilanjutkan dengan membentuk beberapa tim kecil yang akan lebih fokus  membahas beberapa isue yang berkembang seperti persoalan TKDN, teknologi, regulasi dan isu terkait lainnya. (munawir)

LIPI anugerahkan Sarwono Award pada Umar Anggara Jenie dan Mooryati Soedibyo

Puncak rangkaian acara peringatan Ulang Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) sejak tahun 2001 diisi oleh dua agenda penting, yaitu Penganugerahan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture. Kedua kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas jasa-jasa Prof.Dr.Sarwono Prawirohardjo (almarhum) sebagai Bapak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sekaligus Ketua pertama LIPI.

Hal tersebut disampaikan Kepala LIPI, Lukman Hakim pada acara Penganugerahan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo IX dan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture X di Widya Graha LIPI pada Senin, 23 Agustus 2010.

Menurut Lukman Hakim, penghargaan Sarwono Prawirohardjo yang juga populer dengan nama Sarwono Award tersebut adalah wujud perhatian LIPI sebagai lembaga keilmuan terbesar dan tertua di tanah air, terhadap prestasi ilmiah dan serta dedikasi yang telah dicapai oleh pada Ilmuwan Indonesia baik pada pentas nasional maupun internasional. “Kepada Ilmuwan seperti itulah dipandang pantas untuk diberikan penghargaan ilmiah tertinggi oleh Lembaga ini yaitu Penghargaan Sarwono Prawirohardjo”, Ujar Lukman Hakim.

Pada Ulang Tahun yang ke-43 ini, LIPI menganugerahkan Penghargaan Sarwono Prawirohardjo kepada Prof.Dr.Umar Anggara Jenie dan Dr. BRAy Mooryati Soedibyo. Prof. Umar Anggara Jenie adalah seorang Guru Besar Kimia Medisinal Organik di Universitas Gadjah Mada yang banyak berperan dalam mengembangkan kehidupan berilmu pengetahuan di Indonesia di bidang etika ilmiah, mendorong riset strategis, serta meningkatkan status pembinaan profesionalitas fungsional peneliti di tingkat nasional. Sedangkan Dr. BRAy Mooryati Soedibyo adalah sosok herbalis yang menduniakan Indonesia lewat jamu dan kosmetika asli buatan datu-datu nusantara. “Keduanya memberi kontribusi dan prestasi luar biasa pada bidangnya yang bermanfaat dalam pengembangan iptek, kebudayaan, kemanusiaan serta konsisten dalam forum kegiatan ilmiah dan profesi” Ujar Lukman Hakim.

Adapun Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture untuk tahun ini disajikan oleh Kuswata Kartawinata, PhD., seorang biolog terkemuka yang membawakan orasi berjudul “Dua Abad Mengungkap Kekayaan Flora dan Ekosistem di Indonesia”. Dalam oransinya, Kuswata mengungkapkan bahwa taksonomi sebagai ilmu yang mempelajari kekayaan flora dan ekosistem dapat dimanfaatkan sebagai landasan membuat prediksi. “Pola alami yang direfleksikan dalam taksonomi memungkiknan ilmuwan untuk meramalkan sifat-sifat organismen yang belum teramati”, jelas Kuswata.

Kuswata juga menuturkan bahwa tumbuhan, terutama sifat-sifat farmakognosinya, menyajikan nilai indikator bagi keanekaragaman hayati dan ekosistem. Namun, ketidakmampuan kita meramal tumbuhan mana yang dapat menyediakan senyawa kimia yang bermanfaat memaksa kita untuk melestarikan keanekaragaman hayati secara maksimum, “Oleh karena itu, strategi konservasi jangan terfokus kepada produk sekarang, tetapi hendaknya menerapkan perspektif luas yang melingkup semua spesies yang mungkin memiliki nilai pemanfaatan besar”, ujar Kuswata.

Karena perusakan habitat dan eksploitasi spesies yang berlebihan, Kuswata menandaskan bahwa Indonesia memiliki daftar spesies terancam punah terpanjang di Indonesia. Untuk itu, Kuswata menegaskan bahwa eskplorasi ekosistem hutan di masa depan sebaiknya dapat mengintegrasikan taksonomim etnobotani, ekologi dan farmakognosi. ”Pendekatan terpadu itu saya namakan pendekatan ekotaksofarmakognosi yang berdasarkan penelaahan dalam petak cuplikan vegetasi” tegas Kuswata di akhir orasinya. (munawir)

August 20, 2010

Menristek dan Memperin buka R&D Ritech Expo 2010

Usaha bangsa  Indonesia dalam percepatan pembangunan dan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dapat dilepaskan dari peran dan keterlibatan teknologi. Oleh karena itu Indonesia tidak cukup mengandalkan pertumbuhan ekonomi yang ditunjang keunggulan komparatif saja, namun perlu ditunjang pula oleh keunggulan kompetitif. Sebagai konsekuensinya, dominasi produk hasil industri yang selama ini berbasiskan sumber daya alam harus mulai dialihkan ke produk yang berbasiskan hasil inovasi.

Hal tersebut disampaikan Menristek, Suharna Surapranata dalam sambutannya pada Pembukaan R&D Ritech Expo 2010 yang diadakan di Jakarta Convention Center, pada Jumat 20 Agustus 2010. Turut hadir pada acara tersebut, Menteri Perindustrian, M.S. Hidayat, serta Kepala LPNK, perwakilan DPR dan duta besar negara sahabat.

Pada kesempatan tersebut, Menristek kembali menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga riset dengan sektor industri. Berdasarkan pemetaan riset sesuai dengan Agenda Riset Nasional, sejauh ini banyak hasil riset hanya sampai pada tahap riset dasar dan riset terapan saja. Sedangkan  untuk peningkatan kapasitas produksi dan percepatan difusi belum optimal karena lemahnya kolaborasi antara lembaga riset dan industri. Intermediasi antara keduanya perlu dibangun sehingga lembaga riset dapat menghasilkan produk yang diperlukan industri dan di sisi lain industri senantiasa mengkomunikasikan produk hasil riset yang mereka butuhkan. Bila kolaborasi keduanya ditunjang dengan komitmen pemerintah, maka tidak mustahil pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan dicapai. “Sinergi antar lembaga litbang, industri dan pemerintah atau yang biasa disebut dengan triple helix, bisa meningkatkan kemampuan kita untuk berkompetisi sehingga kita bisa menembus pasar dunia”, ujar Menristek.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan R&D Ritech Expo diselenggarakan untuk menjawab rendahnya penerapan teknologi yang dihasilkan oleh lembaga litbang nasional pada dunia industri. Menperin berharap kegaitan ini dapat menjadi pendorong bagi masyarakat luas untuk lebih meningkatkan kemampuan produksi industri mereka dan makin memanfaatkan serta menerapkan hasil litbang yang telah dihasilkan oleh lembaga litbang. “Semoga RD Ritech expo mampu membuka lebih luas wawasan kita tentang kemampuan teknologi dalam negeri sehingga mampu memberikan sumbangan yang lebih nyata dalam pembangunan ekonomi nasional”, ujar Menperin.

Pameran R&D Ritech Expo 2010

R&D – RITECH Expo 2010 diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi selama 3 hari mulai 20 Agustus 2010 hingga 22 Agustus 2010. Pameran yang bertemakan “Inovasi Teknologi Menuju Peningkatan Daya Saing Industri Berbasis Nanoteknologi” diikuti lebih dari 100 stand yang berasal dari lembaga litbang pemerintah, lembaga litbang industri, dan perguruan tinggi. Peserta pameran dibagi atas zona bidang fokus yaitu Zona Hankam 15 stand, teknologi informasi dan komunikasi 18 stand, material maju 17 stand, Kesehatan 12 stand, Energy 17 stand, Transportasi 11 stand dan Pangan 12 stand.

Selain pameran tematik nantoteknologi dan fokus litbang nasional, R&D Ritech Expo juga diisi dengan talkshow, karyawisata pelajar dan seminar yang merupakan tindak lanjut kerjasama Indonesia-Mesir di bidang pengembangan dan penerapan nanoteknologi. (munawir)

August 19, 2010

FGD Strategi Peningkatan Adopsi Teknologi Pangan

Teknologi belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan ketahanan pangan di Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dari menurunnya Total Factor Productivity (TFP) Indonesia untuk tanaman pangan pada periode tahun 1981-2001 dibandingkan dengan periode dua puluh tahun sebelumnya. Untuk dapat meningkatkan kontribusi teknologi ketahanan pangan, maka teknologi tersebut harus diadopsi dalam proses produksi pangan. Teknologi yang diadopsi tersebut harus pula selaras dengan kebutuhan dan persoalan nyata serta sepadan dengan kapasitas teknis, ekonomis dan sosio kultural para calon penggunanya.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Andrianto Handojo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Peningkatan Adopsi Teknologi Pangan” di Ruang Komisi I dan II, Gedung BPPT pada Kamis, 19 Agustus 2010. Kegiatan tersebut bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah strategis untuk adopsi teknologi pangan dalam negeri ditinjau dari sisi pengguna teknologi, penyedia teknologi maupun dari aspek intgrasi antara penyedia dan pengguna teknologi sehingga dapat mendorong peningkatan kontribusi teknologi terhadap ketahanan pangan nasional pada khususnya dan pembangunan perekonomian pada umumnya.

Andrianto menambahkan, hasil-hasil litbang pertanian dan pangan yang banyak ternyata tidak serta-merta meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan serta kesejahteraan petani. Diakui, proses pemanfaatan hasil riset memerlukan tahap-tahap pengenalan dan adopsi yang tidak sederhana. “Begitu banyak varietas padi yang dihasilkan oleh lembaga litbang, namun hanya beberapa saja yang sukses diadopsi dan dimanfaatkan oleh petani. Melihat kenyataaan seperti ini, tentu perlu dilakukan penelaahan secara lebih mendalam tentang faktor-faktor dan kondisi-kondisi yang menghalangi pemanfaatan hasil-hasil litbang pertanian dan pangan oleh pengguna,” Ujar Andrianto

Sementara itu Roedhy Poerwanto, Wakil Ketua Komtek Ketahanan Pangan DRN, dalam laporannya mengungkapkan bahwa hasil penelitian di bidang pertanian dan ketahanan pangan jumlahnya sangat besar. Untuk Program Insentif Riset yang dikelola Kementerian Riset dan Teknologi, jumlah proposal penelitian dalam bidang ketahanan merupakan yang terbesar dibandingkan bidang fokus yang lainnya. Begitu pula dengan dana insentif riset yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pertanian menunjukkan kondisi yang sama. Hasil riset yang banyak tersebut meliputi varietas baru dan unggul, teknik budidaya, hingga pengelolaan pasca panen. Namun di sisi lain, sejak beberapa dekade yang lalu tidak tampak perubahan yang signifikan dalam cara petani bercocok tanam. Hal ini disebabkan adanya gap antara hasil penelitian yang telah menjadi teknologi atau varietas dengan apa yang digunakan dan dimanfaatkan secara langsung oleh petani. “Di forum ini, kita bersama-sama akan mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan rendahnya adopsi teknologi di bidang ketahanan pangan untuk kita cari solusinya bersama-sama pula. Agar ke depan, riset-riset yang ada memang betul-betul dibutuhkan oleh para petani kita yang bisa memacu produksi pangan, dan mensejahterahkan masyarakat.” Ujar Roedhy.

Acara tersebut menampilkan pembicara, Rachmat Pambudi, Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia; Maulana W. Jumantara, GM Manufacturing Food PT. Unilever Indonesia; dan Anang Lastriyanto, Pengajar pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Acara dipandu oleh I Wayan Budiastra, Asisten  Deputi Kompetensi Kelembagaan, Kementerian Ristek.

Turut hadir dalam acara tersebut, Ketua Badan Standardisasi Nasional yang juga anggota Komtek Pertanian DRN, Bambang Setiadi; Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas, Teguh Rahardjo; Deputi Bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita; Deputi Bidang Pendayagunaan Iptek, Idwan Suhardi; Staf Ahli Menristek bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian, Masrizal dan Staf Ahli Menteri Bidang Kesehatan dan Obat, Amin Subandrio. (munawir)

August 17, 2010

Bangkitnya Industri Pertahanan Dalam Negeri

Krisis multi-dimensi pada tahun 1998 membawa dampak buruk kepada berbagai sektor termasuk industri pertahanan. Namun seiring berjalannya waktu, industri pertahanan sedikit demi sedikit kembali tumbuh berkembang seiring komitmen pemerintah untuk memprioritaskan pengembangan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsita) buatan dalam negeri . Pembangunan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) yang merupakan kapal perang terbesar dan pertama dibuat di Indonesia adalah bukti nyata kebangkitan Industri Pertahanan dalam negeri tersebut.

Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pada Launching Rencana Pembangunan Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (PKR) di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan,  pada Senin 16 Agustus 2010. Acara tersebut dihadiri Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata yang didampingi Oleh Deputi Menristek bdiang Relevansi dan Produktivitas, Teguh Rahardjo dan Staf Ahli Menteri bidang Teknologi Pertahanan Keamanan, Hari Purwanto. Turut hadir pula Panglima TNI, Djoko Suyanto; perwakilan Komisi I DPR dan  anggota Komite Kebijakan Industri  Pertahanan.

Menhan menambahkan, Kapal Perang Jenis PKR yang akan dibuat di Indonesia oleh PT. PAL dirancang dapat digunakan dalam beberapa misi operasi antara lain peperangan elektronika, peperangan anti udara, peperangan anti kapal selam, peperangan anti kapal permukaan dan bantuan tembakan kapal. Di samping itu kapal perang PKR tersebut dilengkapi dengan Rudal SAM, SSM dan Rudal Anti Kapal Selam. “Bahkan Kapal PKR ini dapat digunakan untuk Peace Keeping Operation ke luar negeri. Sebelumya kita pernah mengirim Kapal Perang sekelas Sigma yang dimensinya lebih kecil dari Kapal Perang PKR ke Libanon dan kapal tersebut sudah diakui sesuai dengan standard kapal perang NATO.

Selain untuk tugas tempur, Kapal PKR ini juga akan bertugas untuk menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Luasnya wilayah laut Indonesia membutuhkan tidak sedikit kapal perang yang canggih untuk menjaga kedaulatan. “Kapal PKR ini bila bertugas di Laut Cina Selatan atau di wilayah timur laut Indonesia, akan cukup untuk menjaga kedaulatan kita. Walaupun kita sudah memiliki banyak kapal perang yang besar, namun kapal PKR ini akan menjadi kapal yang paling modern dan canggih, sehingga akan menimbulkan efek gentar kepada siapapun yang  mencoba mengganggu kedaulatan kita”, Ujar Menhan.

Pembangunan Kapal PKR adalah wujud persembahan anak bangsa dalam memperingati 65 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. “Pembangunan Kapal Perang PKR adalah satu langkah perjalanan besar bagi industri pertahanan Indonesia”, Ujar Menhan mengkahiri sambutannya.

Spesifikasi Kapal Perang PKR

Spesifikasi dari kapal perang PKR tersebut antara lain memiliki panjang keseluruhan + 105 meter, luas + 14 meter, kedalaman + 8, 8 meter, kecepatan (max/cruiser/ekon) + 30/18/14 kn dengan kekuatan utama + 4x9.240 hp.

Kapal tersebut dilengkapi pula dengan perlengkapan radar untuk mendeteksi kapan selam dan pesawat udara, perlengkapan persenjataan di antaranya meriam kaliber 76 sampai 100 mm dan kaliber 20 sampai 30 mm, peluncur rudal ke udara dan senjata torpedo serta perlengkapan pendukung lainnya. Kapal ini juga dilengkapi dengan fasilitas helipad di deck kapal.

Berdasarkan perhitungan PT. PAL yang berbasis di Surabaya, dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk membuat kapal perang PKR yang pertama. Pembangunan kapal perang PKR ini akan menggunakan anggaran sebesar 170 juta euro dan menyerap sekitar 1500 tenaga kerja lokal. (munawir)

August 12, 2010

Pelantikan Staf Ahli Menristek

Kementerian Riset dan Teknologi telah melakukan restrukturisasi organisasi pada tahun 2010 sebagai bentuk implementasi dari Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden dan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara. Struktur organisasi yang baru tersebut juga diselaraskan dengan kebijakan Kementerian Riset dan Teknologi untuk menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penunjang peningkatan produktivitas guna terwujudnya Sistem Inovasi Nasional (SINas).

Pelantikan Pejabat Eselon I hingga IV sesuai dengan struktur baru tersebut sebelumnya telah dilaksanakan pada tanggal 14 dan 21 Juni 2010. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 102/M Tahun 2010, Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, kembali melantik 3 orang Staf Ahli Menteri pada Kamis, 12 Agustus 2010 di Ruang Komisi Utama, Gedung BPPT.

Pejabat yang dilantik adalah  Hari Purwanto sebagai Staf Ahli Menristek bidang Pertahanan dan Keamanan; Agus Roesyana Hoetman sebagai Staf Ahli Menristek bidang Energi dan Material Maju;  dan Masrizal sebagai Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian. Hadir sebagai saksi pada pelantikan tersebut, Sekretaris Menristek, Mulyanto dan Deputi Bidang Jaringan Iptek, Syamsa Ardisasmita.

Pada kesempatan yang sama, Menristek melantik pula tiga orang pejabat Eselon III, yaitu Choiruddin sebagai Kepala Bidang Perguruan Tinggi dan Lemlitbang, Asdep Sarana dan Prasarana Iptek; Ophirtus Sumule sebagai Kepala Bidang Perkembangan, Asdep Jaringan Pusat dan Daerah; serta Agus Setiadi Tamtanus sebagai Kepala Bidang Transfer, Asdep Iptek Indutri Strategis.
Turut hadir pada pelantikan tersebut, para Kepala LPNK Ristek dan pejabat Eselon I, dan II Kementerian Riset dan Teknologi beserta jajarannya. (munawir)