December 25, 2011

Pendayagunaan Hasil Litbang Iptek di Masyarakat Tanah Laut

Upaya memberdayakan masyarakat melalui Program Diseminasi Teknologi Spesifik Lokasi (Speklok) oleh Kementerian Riset dan Teknologi di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan dimulai sejak bulan Maret 2011 melalui identifikasi kebutuhan masyarakat setempat. Program Speklok sendiri berusaha untuk menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia Iptek dengan kebutuhan pengguna. Pada identifikasi awal tersebut, diperoleh beberapa gambaran prioritas kebutuhan teknologi masyarakat Kabupaten Tanah Laut, yaitu kebutuhan pelatihan dan pengolahan pakan ternak khususnya pakan sapi, kebutuhan pembuatan dan pelatihan pupuk organik dari kotoran sapi, tandan kosong sawit dan sekam padi, serta kebutuhan pelatihan dan pembuatan biogas permanen.

Hal tersebut disampaikan Momon Sadiyatmo, Asdep Iptek Masyarakat saat memaparkan tentang program Speklok di Pusat Pelatihan dan Diseminasi Teknologi Peternakan dan Pertanian Terpadu (P2DTP2T) Sungai Riam, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, pada pada hari Ahad, 25 Desember 2011. Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Menristek, Gusti Muhammad Hatta, tersebut, Momon juga memaparkan bahwa identifikasi tersebut telah ditindaklanjuti dengan penyelenggaraan diseminasi teknologi berbasis Biogas Elektrik pada bulan Juni 2011 di P2DTP2T Pelaihari, yang kemudian menjadi salah satu lokus perakitan dan penempatan Digester Biogas Elektrik untuk tahun 2011.

Selain mendengarkan pemaparan tentang program Speklok, pada kesempatan tersebut Menristek juga mendengarkan pemaparan dari Kepala BATAN, Hudi Hastowo tentang Kegiatan Pengembangan Varietas Padi Sawah Unggul Hasil Litbang Iptek Nuklir yang merupakan kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Kerjasama yang sudah terjalin sejak tahun 2001 tersebut dalam bentuk penangkaran benih padi (Woyla, Cilosari, Atomita IV dan Kahayan, Mira 1 dan Bestari), teknologi pemupukan hayati azolla, uji daya hasil galur-galur mutan dan berbagai jenis kegiatan lainnya.  Secara umum, digambarkan bagwa dari sisi potensi hasil, beberapa varietas terutama Mira 1 dan Bestari rata-rata lebih tinggi dari padi unggul yang ada di Kalimantan Selatan, misalnya padi Cilosari dengan potensi hasil sebanyak 5,2 t/ha, padi Atomitha IV dengan potensi hasil sebanyak 5,7 t/ha, dan padi Mira I dengan potensi hasil sebanyak 5,8 t/ha (aluvial tanpa pupuk).

Menristek dalam sambutannya menanggapi hasil positif dari pemaparan tersebut menyambut gembira sinergi yang dilakukan Kementerian Ristek, BATAN, Universitas Lambung Mangkurat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui P2DTP2T dalam mendayagunakan hasil litbang Iptek di Masyarakat. “Capaian ini relevan dengan program kami, yaitu Sistem Inovasi Daerah, yang di dalamnya kita ingin mempertemukan antara aspek kelembagaan, sumber daya dan jaringan”, Ujar Menristek.

Dalam kegiatan tersebut, Menristek juga menyempatkan berdialog dengan para petani dan peternak binaan P2DTP2T, sekaligus meninjau proses pengolahan pupuk organik berbasis kotoran dan fasilitas Biogas Elektrik yang dibuat oleh Ristek. Kunjungan Kerja Menristek ke Kabupaten Tanah Laut pada hari itu diakhiri dengan temu wicara bersama petani andalan dan pelaku usaha di Badan Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Terpadu (BP3T) Balitbangda Kalsel di Kecamatan Tambang Ulang. (munawir)

December 24, 2011

Menristek Tinjau Pabrik Biodiesel di Kota Baru

Menristek mengawali rangkaian Kunjungan kerjanya ke Kalimantan Selatan dengan berkunjung ke Pabrik Biodiesel di Serongga, Kecamatan Kelumpang Hilir, Kabupaten Kota Baru pada hari Sabtu, 24 Desember 2011. Pabrik Biodiesel yang dibangun pada tahun 2008 oleh Kementerian Riset dan Teknologi tersebut merupakan implementasi dari Inpres No. 1 tahun 2006 tentang Diversifikasi Energi Nasional, sebagai langkah antisipasi pemerintah terhadap berkurangnya sumber energi dari migas dan fosil. Berbeda dengan pabrik biofuel berbahan baku tanaman jarak  di Ogan Komerin Ulu, Sumatera Selatan, pabrik Biodiesel di Kota Baru ini menggunakan bahan baku CPO (Crude Palm Oil), karena di sekitar pabrik terhampar luas kebun kelapa sawit milik warga Serongga, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan bahan baku untuk produksi biodiesel.

Dalam sambutannya, Menristek, Gusti Muhammad Hatta menyampaikan maksud kunjungannya ke di Serongga adalah untuk meninjau langsung kondisi pabrik tersebut. Menristek berharap pabrik dengan kapasitas produksi 6 ton per hari tersebut dapat kembali beroperasi dengan normal, sehingga diperlukan sinergi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat setempat dan juga sektor swasta yang berada di sekitar lokasi pabrik. “Saya datang ke sini ingin melihat langsung kondisi pabrik biodiesel ini. Selanjutnya mari kita pikirkan bersama agar pabrik ini dapat beroperasi dengan baik”, Ujar Menristek.

Bupati Kota Baru, Irhamni Rijani dalam sambutannya menyampaikan harapan agar ke depannya, Kementerian Riset dan Teknologi dapat memberikan fasilitasi teknologi dengan memanfaatkan potensi yang ada di daerah tersebut, untuk menjadi solusi atas permasalahan riil yang ada di masyarakat. Bupati Kota Baru mengemukakan potensi angin yang cukup besar di daerahnya yang dapat dijadikan sumber energi pembangkit listrik untuk mengatasi krisis listrik yang melanda warga Kota Baru. Menanggapi hal tersebut, Menristek menyampaikan dukungan atas upaya mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil melalui diversifikasi sumber energi, khususnya energi terbarukan seperti energi angin. Menristek juga mengemukakan bahwa di Indonesia terdapat banyak potensi energi yang dapat dimanfaatkan, misalnya energi panas bumi, dimana sekitar empat puluh persen cadangan panas bumi dunia terdapat di Indonesia. Menristek bahkan menyampaikan tentang potensi arus bawah laut sebagai sumber energi yang akan diresmikan penggunaanya bulan Januari mendatang di Propinsi  Nusa Tenggara Barat.

Dalam kunjungan kerjanya ke Kota Baru tersebut, Menristek didampingi Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional, Hudi Hastowo; Staf Ahli Menristek bidang Kesehatan dan Obat yang juga menjabat Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek ad interim, Amin Soebandrio; Staf Khusus Menteri, Gusti Nurpansyah dan Shidki Wahab; Asdep Jaringan Pusat dan Daerah, Hotmatua Daulay; serta Asdep Iptek Masyarakat; Momon Sadiyatmo. Pada kesempatan yang sama, Menristek beserta rombongan juga menyaksikan penyerahan bantuan berupa pembangunan ruang kelas SMPN 1 dan SDN Langadai dari PT. Smart Tbk, kepada  Bupati Kota Baru sebagai bagian dari program Community Development dan Corporate Social Responsibilty perusahaan tersebut di bidang pendidikan. (munawir)

October 8, 2011

Kuliah (lagi)

Alhamdulillah, ada kesempatan untuk ngisi blog lagi, setelah berbulan-bulan blog ini dicuekin. Banyak kabar yang tidak sempat terbagi melalui blog ini. Salah satunya tentang kepergian Abba untuk selama-lamanya kembali ke rahmatullah, seminggu sebelum bulan Ramadhan 1432 H silam. Hari itu Ahad, 24 Juli 2011, Abba meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit, setelah sebelumnya terjatuh akibat serangan jantung sesaat setelah bertanding tenis lapangan di halaman kantornya di Kendari. Kematian almarhum terasa sangat mendadak bagi keluarga, karena bahkan di pagi harinya, almarhum masih sempat membuka turnamen tenis antar warga pengadilan. Berita mengenai meninggalnya abba bisa diakses di SINI.

Kabar berikutnya adalah... saya kuliah lagi... setelah 6 tahun sibuk cari nafkah, alhamdulillah dapat beasiswa dari kantor untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, jurusan Administrasi Kebijakan Publik. Sejak sebulan lalu kuliahnya di malam hari karena kelas eksekutif. Kepala rasanya mau pecah karena para dosen ga henti-hentinya memberi tugas. Sementara kerjaan di kantor, bukannya berkurang malah makin numpuk.

Karena kuliahnya rata-rata mulai ba'da maghrib, kelarnya sekitar jam 9 malam. Pulang jam segitu ga sempat lagi ngejar kereta jam 21.15 dan harus nunggu kereta jam 23.15. Saya memutuskan tiap hari bawa kendaraan ke kantor dan ke kampus, namun lama-lama tekor juga karena sehari bisa keluar puluhan ribu untuk bensin, tol dan parkir. belum lagi letih minta ampun harus nyetir bolak-balik Jakarta - Serpong yang bisa ditempuh sekitar 2 jam kalau macet.

Tapi insya Allah ga lama lagi akan pindah kontrakan ke belakang kantor, biar tiap hari ga telat ngantor, pulang dari kuliah juga bisa cepet serta bisa hemat tenaga dan waktu. Saya hitung-hitung biaya kontrakan sih kurang lebih sama dengan biaya transpor sebulan. Namun itu tadi, setidaknya ga terlalu capek bolak-balik nyetir ke Serpong dan bisa cepet sampai di rumah selepas kuliah.

April 1, 2011

Ristek Sinergikan Sosialisasi PLTN

Kebijakan pemerintah untuk menyeimbangkan proporsi penggunaan energi fosil dan non fosil adalah strategi yang tepat untuk mengantisipasi semakin berkurangnya cadangan energi fosil. Cadangan energi fosil yang tersisa ke depannya tidak mampu mengatasi lonjakan kebutuhan energi dalam negeri sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk. Pemerintah dalam Inpres Nomor 1 tahun 2010, tentang Percepatan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 telah menetapkan rencana aksi berupa Pengembangan Energi Alternatif diluar panas bumi. Kementerian Riset dan Teknologi bersama BATAN sebagai penanggung jawab rencana aksi tersbut diberi tugas melaksanakan sosialisasi pengembangan energi nuklir (PLTN) untuk mencapai pemahaman masyarakat yang utuh. Oleh karena itu, sosialisasi tentang PLTN di kedua lembaga tersebut perlu sinergi dan koordinasi yang baik.

Hal tersebut disampaikan Syamsa Ardisasmita, Deputi Menristek bidang Jaringan Iptek di hadapan para peserta Rapat Koordinasi Tim Sosialisasi PLTN yang berlangsung pada hari Jumat, 1 April 2010 di Kementerian Ristek. Syamsa juga menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sosialisasi PLTN tersebut tidak hanya terbatas pada tercapainya output dan outcome saja, namun yang paling penting adalah terbangunnya kesiapan masyarakat untuk menerima PLTN sebagai sumber energi yang bersih, terbarukan dan dapat dijaga keamanannya. "Masyarakat harus diyakinkan bahwa aspek keselamatan, pengawasan, dan tersedianya SDM nuklir yang handal merupakan prioritas pembangunan iptek nuklir", ujar Syamsa.

Pada kesempatan tersebut, Syamsa menyampaikan hasil jajak pendapat yang dilakukan BATAN pada semester pertama tahun 2010 tentang penerimaan masyarakat terhadap PLTN. Jajak Pendapat tersebut dilakukan pada 3000 responden yang tersebar di 22 kabupaten/kota dari 7 propinsi di Jawa, Madura dan Bali, dengan hasil 59,6 persen responden setuju dengan pembangunan PLTN. Syamsa meyakini, dengan melakukan sosialisasi yang terpadu dan sinergis, semakin banyak masyarakat yang mendukung PLTN sebagai salah satu solusi masalah energi di dalam negeri.

Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir BATAN, Taswanda Taryo yang juga hadir pada rapat tersebut, menyambut gembira upaya Kementerian Ristek mensinergikan pihak-pihak terkait dalam menyosialisasikan PLTN. Taswanda juga menyampaikan bahwa selama ini BATAN telah pro-aktif melakukan sosialisasi PLTN dengan beberapa metode seperti media campaign, community development, stakeholder involvement dan melakukan jajak pendapat. "Kita berharap dengan sosialisasi yang efektif, masyarakat yang mendukung PLTN mencapai 65 persen pada tahun ini" ujar Taswanda.

Agus R. Hoetman, Staf Ahli Menristek bidang Energi dan Material Maju, menyarankan agar sosialisasi tentang PLTN dipersiapkan dengan matang mulai dari target, metode hingga tahapan yang akan dijalankan. Agus yang juga merupakan anggota Dewan Energi Nasional memprediksikan bahwa pada tahun 2030 supplai energi konvensional sudah tidak mampu mengimbangi tingginya demand dari masyarakat. Oleh karena itu, menurut Agus, PLTN harus segera terwujud untuk mengantisipasi krisis energi di masa mendatang. Apalagi Pembangunan PLTN di Indonesia merupakan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, sehingga seluruh komponen bangsa sepatutnya mendukung rencana tersebut untuk mewujudkan kemandirian bangsa di bidang energi. (munawir)

February 8, 2011

Cerita Dari Pesawat

Sama dengan postingan sebelumnya, tulisan ini saya buat di dalam pesawat Lion Air JT 0783 rute Ujungpandang-Jakarta yg berangkat pukul 19.50 WITA. Malam ini saya terbang kembali ke Jakarta setelah 5 hari menghabiskan waktu bersama anak-anak dan istri tercinta di Makassar.

Cerita ini berawal dari hari Senin yang lalu, 31 Januari 2011. Pagi itu badanku emang rasanya sudah lemes, tapi dikuat-kuatin untuk tetap ngantor. Di dalam KRL, walaupun makin lemes tapi tetep semangat pengen kerja. Pas nyampe kantor baru deh terasa lemes beneran dan pucat. Bos saya Ibu Anny akhirnya minta drivernya mas Budi untuk antar saya balik ke Serpong, untuk cek up di Balkes Puspiptek kemudian pulang ke rumah untuk Istirahat.

Sesampainya di Balkes Puspiptek, saya langsung diperiksa oleh Dr. Esti. Setelah diperiksa, ketahuan kalo tensiku ngedrop sampe 90/60. Dr. Esti ngasih 6 macam obat plus nyuruh istirahat selama 3 hari. Saya nanya apa istirahatnya boleh sambil duduk-duduk depan komputer, Dr.Esti bilang harus bedrest dan kepala harus dibebaskan dari pikiran kerjaan.

Saya pun diantar Budi kembali ke rumah, namun sebelumnya mampir dulu ke Pondok Asinan Muncul untuk beli makan siang. Maklum di rumah lagi sendirian, jadi bakalan repot ama urusan makanan nih. Untungnya Pondok Asinan Muncul punya layanan pesan antar. Jadi setiap jam makan, saya tinggal angkat telepon dan ga nyampe 20 menit kemudian, makanan datang. Acara-acara STAR WORLD TV lagi bagus-bagusnya jadi istirahat di rumah ga bete-bete amat. Cuman tetap aja kepikiran pasti di kantor lebih rame kalo ngumpul ama teman-teman.

Hari pertama istirahat, badan lagi demam tinggi, kepala pusing, tidur pun rasanya antara sadar dan tidak. Baru deh malamnya perasaan agak mendingan setelah keringat keluar. Keesokan harinya (Selasa) badan udah terasa mulai fit kembali. Siangnya saya bahkan sempat keluar ngeliat petugas PLN benerin sambungan listrik ke rumah yg lagi rusak. Malamnya lebih OK lg, saya ngelanggar pesan Dr. Esti untuk ga nongkrong di depan komputer. Dengan asyiknya saya ngutak ngatik presentasi yg rencananya akan saya bawakan keesokan harinya pada rapat kerja Biro Hukum Humas di Pondok Layung Anyer.

Rabu, setelah Sholat Shubuh, saya langsung mandi.. Badan rasanya fresh, walau emang sih terasa masih lemes dikit. Tapi udah kepikiran hari ini bakal seru ngumpul lagi ama anak-anak Humas di acara raker. Dengan hati riang gembira saya pun packing pakaian yg akan saya bawa pergi raker di Anyer. Bu Anny dan mas Budi lagi-lagi berbaik hati menjemput di rumah untuk bareng menuju kantor. Tepat pukul 08.00 saya sampe di kantor dan langsung beraktivitas seperti biasa. Beberapa teman, di antaranya Mba Yenni bilang kalo wajahku masih terlihat pucat, cuman saya nguat2in diri, paling entar juga sehat...

Tapi ternyata dugaan mba Yenni bener, begitu saya keluar dari Lift di Lantai 7, tiba-tiba pandanganku langsung gelap, kaki langsung lemas dan badan menggigil.. Spontan saya teriak minta tolong ama Tyas yg waktu itu bareng naik ke Lantai 7. Untungnya di situ ada sofa jadi jatuhnya masih enak, ga langsung ke lantai... Kebayang deh badanku yg seberat 84 KG ngehantam lantai.. Hehehehe... Dalam kondisi setengah sadar, mulutku terus istighfar, sambil minta air ke Tyas... Saya juga minta Tyas manggil orang-orang di lantai 7 untuk bawa saya ke RS. Karena blum pernah ngalamin kejadian kek gini, asli saya panik banget... Hehehehe...

Amir dan Nisa, rekan di Asdep PRI dulu, dengan sigap ngantar ke RS Jakarta dengan taxi. Saya udah pasrah aja deh, yg penting pengen cepat-cepat sampe UGD. Di dalam taxi, saya makin panik karena tanganku makin pucat dan dingin serta rasanya pengen pingsan lagi. Alhamdulillah dalam waktu kurang 20 menit sampe juga di RS Jakarta yg letaknya di samping Univ. Atmajaya.

Dokter yg jaga di UGD langsung memeriksa tensi dan darah saya. Kata dokter tensi saya saat itu 100/80 dan GDS saya bagus, jadi kemungkinan lemes karena hipoglikemi langsung gugur. Dokter minta saya nunggu hasil cek darah (widal) sekitar sejam, bisa jadi lemes karena tipes lagi. Selama nunggu hasil cek darah, pikiranku udah melayang kemana-mana. Teringat tiga tahun lalu, ketika Uqi masih bayi, saya sempat kena tipes dan harus dirawat di RS. Agung. Karena Uqi masih berusia sebulan, ga mungkin rasanya minta Thia datang ke Jakarta untuk ngejagain saya di RS. Sekarang pun kondisinya nyaris sama, kalau saya harus rawat inap di RS ini karena tipes, rasanya impossible minta Thia datang ke Jakarta, krn Lana di Makassar baru berusia 3 minggu dan terlalu rentan untuk dibawa ke sini. Saya pasrah saja, mungkin memang sudah nasib saya harus dirawat di RS hanya dijaga oleh suster-suster.. Ehehehehe...

RS jakarta

Tak lama kemudian dokter datang membawa hasil lab darah dan mengabarkan kalau saya negatif tipes, dan hasil lab darah menunjukkan tidak ada yang salah dengan tubuhku. Dokter berasumsi saya (nyaris) pingsan karena tensi saya yang kurang stabil mengakibatkan kurangnya supplai darah ke kepala sehingga tubuh langsung lemes. Dokter menyarankan rawat inap agar kepala saya bisa diobservasi lebih lanjut sehingga penyebab pasti kejadian di lantai 7 tadi bisa diketahui secara medis.

Pikiranku pun campur aduk, dokter yang sepertinya melihat wajah bengongku akhirnya memberi waktu saya untuk mikir-mikir. Ya iyalah saya kudu mikir, RS Jakarta ini ga nerima peserta ASKES, dan sedihnya lg asuransi Manulife-ku sudah expired. Jadi saya ga bisa kalkulasi kira2 berapa biaya yang harus keluar kalau saya harus rawat inap. Apalagi udah kepikiran bakal sendirian ga ada yg ngejagain selama dirawat.. Ah ga mau terulang kisah pahit tiga tahun yang lalu... Saya juga mikir, kalau saya dirawat di rumah sama aja boong. Di rumah juga sendirian dan saya khawatir kalo tiba-tiba lemes lagi dan ga ada yg nolongin... Akhirnya kepikiran untuk pulang kembali ke Makassar... saya ceritakan kondisinya ke dokter sekaligus minta pendapat. Dokter bilang kondisi tubuh saya cukup aman untuk berangkat ke Makassar, namun beliau tetap menyarankan begitu tiba di Makassar saya sebaiknya rawat inap di RS. Atau bedrest di rumah namun langsung ke RS kalau badan terasa lemes lagi... DEAL... Pak Dokter ngasih resep dan surat keterangan untuk istirahat. Pak dokter juga berpesan agar saya selalu Think Positively. Bener juga sih, kadang-kadang sugesti pada diri sendiri cukup berpengaruh ke kondisi tubuh. Saya yakin kondisi psikis saya yg terobati dengan bertemu anak istri nantinya bisa berpengaruh positif pada kondisi fisik saya.

Bersama teman-teman HUMAS yg nyusul ke rumah sakit, saya balik ke kantor untuk sholat dan ngambil tas lalu kemudian langsung diantar lagi ke bandara. Sayangnya pesawat pukul 16.00 dan 18.15 menuju Makassar sudah full seat, sehingga mau tidak mau saya harus menunggu pesawat yg akan berangkat pukul 20.20.. Syukurlah menunggu waktu boarding tidak membosankan karena saya bertemu dan ngobrol dengan Daeng Nuntung, rekan sesama Blogger Makassar, yg juga menjabat ketua Ikatan Sarjana Kelautan Unhas.

Dalam obrolan bersama Daeng Nuntung, beliau berpesan tentang pentingnya menjaga kesehatan, apalagi kita punya anak yang masih kecil-kecil. Betul juga pesan Daeng Nuntung! Tidak ada di antara kita yang menyangka Almarhum Adjie Massaid bakal kembali ke sisi-Nya dalam usia yang masih relatif muda karena serangan jantung, meninggalkan tiga anak yg masih kecil-kecil. Memang maut adalah rahasia Allah, tapi menjaga kesehatan mutlak merupakan ikhtiar.

Ngomongin masalah jantung, saya mo mohon doa dari teman-teman. Hari Ahad kemaren, putri kecilku Lana melakukan Echocardiography, karena kata umminya si Lana sering menahan nafas setelah nyusu. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada Patent Foramen Ovale (PFO) di jantung Lana sekitar 2,8 mm. PFO tersebut lazim pada janin namun secara alami menutup pada saat bayi lahir. Menurut dokter Burhan, lahirnya Lana secara prematur bisa jadi pemicu PFO yg blum menutup tersebut. Tiga bulan dari sekarang Lana akan di echo lagi, dan mudah-mudahan kondisinya sudah membaik. Walaupun PFO ini lazim terjadi, bahkan menurut referensi terdapat pada 1 dari 5 kelahiran, tapi tetep aja sebagai orang tua saya khawatir dengan kondisi Lana. Mohon doa teman-teman agar Lana diberi yang terbaik dari Allah SWT. Amin...

lana
Lana lagi Echocardiography

January 20, 2011

Rapat Kerja Setmenristek : Menuju Reformasi Birokrasi 2011


Reformasi birokrasi  merupakan salah satu konsep utama bagi perbaikan kondisi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pengalaman sejumlah negera menunjukkan bahwa reformasi birokrasi merupakan langkah yang menentukan dalam pencapaian kemajuan negara tersebut. Melalui Reformasi Birokrasi, dilakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang tidak hanya efektif dan efisien tetapi juga mampu menjadi tulang punggung dalam kehidupan bangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pelaksanaan Reformasi Birokrasi secara optimal telah ditetapkan sebagai salah satu indikator keberhasilan Sekretariat Menteri Kementerian Ristek pada tahun 2011.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Kementerian Ristek (Sesmen), Mulyanto saat membuka Rapat Kerja Kementerian Riset dan Teknologi yang berlangsung di Rumah Jambuluwuk Ciawi pada hari Rabu, 19 Januari 2010. Lebih lanjut Sesmen menyampaikan bahwa berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi UKMP3 secara internal di Kementerian Ristek, menunjukkan bahwa kinerja Sekretariat Kementerian Ristek pada tahun 2010 menunjukkan nilai yang cukup memuaskan. Sesmen berharap pada tahun ini Ristek dapat mempertahanan prestasi laporan keuangannya dengan Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan meningkatkan prestasi dengan masuknya Ristek pada 10 besar Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) agar Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Ristek segera terwujud.

Pada raker yang berlangsung selama dua hari tersebut, masing-masing kepala Biro dan Inspektorat menyampaikan presentasi. Kepala Biro Umum, Mujianto memaparkan tentang program unggulan Biro Umum, diantaranya  Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian, Pengelolaan Aset, Layanan Pengadaan Secara Elektronik, Pelayanan Satu Pintu, Sistem Manajemen Persuratan, Sistem Manajemen Arsip, serta target Mempertahankan Opini Wajar Tanpa Pengecualian Untuk Laporan Keuangan. Sedangkan Kepala Biro Perencanaan, Farid Binaruno memaparkan target Biro Perencanaan pada tahun 2011 diantaranya pencapaian LAKIP dengan kategori baik dan penyempurnaan peraturan tentang Dewan Riset Nasional (DRN). Sementara itu Anny Sulaswatty selaku Kepala Biro Hukum dan Humas memaparkan berbagai rencana kegiatan yang berkaitan dengan layanan hukum, layanan perizinan penelitian asing, layanan data dan informasi, humas serta keprotokolan pada tahun 2011.

Selain pemaparan tentang program kerja, sasaran dan target yang akan dicapai pada tahun 2011, Sesmen juga meminta masing-masing unit kerja menyampaikan dukungan yang diperlukan dari unit kerja lain agar semua unit kerja tersebut bersinergi. “Raker ini merupakan ajang untuk konsolidasi konsepsional atau menyamakan pola pikir dan konsolidasi operasional atau menyamakan pola tindak”, ujar Mulyanto.

Kegiatan Raker tersebut dihadiri oleh para pejabat eselon II dan III di lingkungan Sekretariat Kementerian Ristek dan para Staf Khusus Menristek. (munawir)

January 16, 2011

Kuberi Dia Nama Lana Mahfuzah

Nama Lana Mahfuzah kuberikan kepada putriku yg lahir Selasa malam lalu. Sebelum lahir, istriku memang sudah berniat memberi nama "LANA" kepada putri kami, yang berasal dari bahasa Arab dan bermakna "Untuk Kami" atau "Kepunyaan Kami", sementara kata "MAHFUZAH" saya tambahkan di belakang nama Lana setelah putriku tersebut keluar dari inkubator tempatnya mendapatkan bantuan O2 selama dua hari pasca kelahirannya. Kata Mahfuzah juga berasal dari bahasa Arab yg berarti "Yang Terjaga" atau "Yang Terpelihara", sengaja kupilih nama tersebut sebagai tanda syukur kepada Allah yg telah menjaga buah hatiku tersebut dari Sianosis yg dideritanya begitu lahir. Saya cek di Google dengan keyword "Lana Mahfuzah", alhamdulillah blum ada yg mematenkan nama itu... Hehehe...

Lana lahir tepat pukul 22.06 Waktu Makassar, melalui proses Sectio Cesar dengan berat 2,8 KG dan panjang 46 CM. Sebenarnya tidak pernah kami niatkan operasi Cesar Lana jatuh pada tanggal cantik 11-1-2011, karena pada awalnya Lana diprediksi lahir pada awal bulan Februari. Namun karena hasil pemeriksaan dokter mengindikasikan Thia harus operasi Cesar lagi, maka dipilihlah tanggal 11 Januari sebagai waktu yg terbaik untuk operasi, dengan syarat berat badan Lana sudah ideal untuk keluar dari rahim sang bunda.

Namun ternyata bagi banyak orang tgl 11 Januari 2011 sangat bermakna, bukan hanya karena band GIGI punya hits yg berjudul sama, namun angka cantik 11-1-11 menggoda para orang tua untuk memilih angka tersebut sebagai tanggal kelahiran buah hati mereka, kalau ga bisa normal ya dipaksa keluar lewat Cesar.. Hehehe... Buktinya banyak wartawan yg berkunjung ke rumah sakit mencari orang tua yang sengaja memilih tanggal 11-1-11 untuk operasi Cesar. Saya pun kebagian diwawancarain Koran Tempo dan Trans TV. Kata pak Dokter beritanya tayang di Reportase Pagi sehari kemudian.. Wuahhh... saya ga sempat nonton...

Dengan beberapa pertimbangan, kami memutuskan agar Lana dilahirkan di Makassar, sama seperti kakaknya, Syauqi. Namun kali ini kami memilih RSIA Khadijah I yang letaknya di Jalan Kartini Makassar, tepat di sisi selatan Lapangan Karebosi. Rumah Sakit Bersalin milik Muhammadiyah ini termasuk yg pertama di Makassar. Ketiga kakak saya, juga istri saya, lahir di rumah sakit ini. Sebagai peserta ASKES, saya berhak mendapat layanan di Kelas I dan sampai Lana keluar dari RS, saya hanya membayar sekitar 250 ribu rupiah untuk selisih obat dan susu formula yg tidak ditanggung ASKES.

Selama di RS, Lana tidak bisa ikutan umminya ke kamar karena harus mendapatkan bantuan O2 di inkubator. Pada hari Kamis malam saya berkonsultasi dengan Prof. Syarifuddin, dokter spesialis anak yg kemudian mengabarkan bahwa kondisi Lana semakin membaik. Sianosis yg dideritanya kemungkinan disebabkan adanya cairan pada organ pernapasan, namun seiring berjalan waktu, cairan tersebut dapat diserap oleh tubuh Lana. Alhamdulillah hari Jumat pagi, Lana sudah bisa kembali ke kamar dan mendapatkan ASI dari umminya. Jumat sore Lana dan Umminya pun diperbolehkan meninggalkan RS.

Kalau dulu Syauqi diaqiqah pada hari ke-14, maka kini Lana diaqiqah pada hari ke-5. Afdolnya aqiqah diadakan pada hari ke-7 atau selasa besok, namun karena malam ini saya harus pulang ke Jakarta maka siang tadi aqiqah pun dilangsungkan. Alhamdulillah mama dan abba dari Kendari pun bisa hadir karena kebetulan datang menghadiri nikahan kak Lia (HI 96/IMMIM 895) yg diadakan kemarin siang.