Alhamdulillah — rapat hari kedua selesai lebih awal dari jadwal.
Setelah makan siang, tuan rumah sudah menyiapkan sightseeing tour bagi kami yang tidak terlibat dalam Steering Committee Meeting. Dan cuaca hari itu seolah ikut bersekongkol: cerah, meski tetap dingin. Sempurna untuk jalan-jalan.Tur Dimulai dari Collegium Budapest
Tepat pukul dua siang, kami berkumpul di depan Collegium Budapest. Tour guide langsung membuka dengan fakta yang mengejutkan: gedung tempat kami rapat selama dua hari ini dibangun pada tahun 1873, merupakan salah satu bangunan bersejarah di Budapest, dan terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Preservation Site.
Selama ini saya menggunakannya sebagai ruang rapat biasa. Ternyata saya rapat di dalam warisan dunia.
berkumpul sebelum memulai tour
Fisherman's Bastion: Gratis di Musim Dingin
Dari Collegium, kami berjalan sekitar 50 meter menuju Fisherman's Bastion — benteng bergaya neo-gotik yang berdiri tepat di belakang Hotel Hilton. Di musim dingin, masuk ke sini gratis. Katanya di musim panas harus membayar, karena itulah saat puncak kunjungan wisatawan ke Budapest.
Dan begitu berdiri di sana, saya langsung paham kenapa tempat ini begitu diminati. Pemandangannya luar biasa — hamparan Sungai Danube berkilau di bawah sana, deret bangunan tua di sisi timur kota membentuk cakrawala yang seperti lukisan, dan Gedung Parlemen di seberang sungai terlihat dengan sangat jelas, megah dan simetris.
di fisherman's bastion
Matthias Church dan Seni Merawat Warisan
Dari Fisherman's Bastion, kami bergeser ke Matthias Church — gereja neo-gotik besar yang berdiri tepat di samping kiri Hotel Hilton. Dibangun pertama kali oleh Raja Béla IV sekitar tahun 1225, dibangun ulang pada 1896, dan namanya terinspirasi dari Matthias Corvinus, salah satu raja Hongaria paling terkenal di era Renaisans.
Beberapa bagian eksterior gereja tampak sedang direnovasi. Tour guide menjelaskan sesuatu yang menarik: renovasi bangunan bersejarah di Budapest tidak diizinkan mengubah struktur atau bentuk aslinya — paling jauh hanya mengganti cat atau atap. Itulah mengapa setelah berabad-abad, wajah kota ini masih terasa sangat autentik.
Gereja Matthias
Royal Palace dan Kantor Presiden yang Tidak Terjaga
Dari gereja, kami menyusuri jalan menuju Royal Palace — kompleks istana raja Hongaria yang dibangun sejak abad ke-15, kini berfungsi sebagai museum nasional dengan koleksi sejarah terbanyak di negeri ini.
Di sampingnya berdiri Istana Alexander — kediaman perdana menteri di era kerajaan, yang kini menjadi Kantor Presiden Hongaria. Yang membuat saya nyaris tidak percaya: tidak ada penjagaan ketat sama sekali. Gedung itu berdiri terbuka, ramai dilewati turis, tanpa pagar tinggi atau petugas bersenjata yang mencolok.
Bayangkan kalau di Indonesia.
Royal Palace tampak belakang
Royal Palace tampak depan
Petualangan Mandiri: Dari Royal Palace ke Chain Bridge
Tur resmi berakhir di Royal Palace — tapi jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Masih terlalu sayang untuk langsung kembali ke hotel.
Saya mengajak Pak Ahmad MD dari Malaysia untuk melanjutkan eksplorasi sendiri. Dari Royal Palace, kami memandang ke bawah bukit sambil merancang rute: turun ke Chain Bridge, lalu ke Gedung Parlemen, dan terakhir ke Basilica. Ketiganya terlihat jelas dari tempat kami berdiri.
Kami memilih jalan kaki — menolak tawaran bus dan funicular (semacam lift jadul yang menghubungkan bukit dengan kota di bawahnya). Jalan kaki memberi kebebasan untuk berhenti kapan saja dan mengambil gambar dari sudut yang kami inginkan.
Chain Bridge: Simbol Dua Kota yang Bersatu
Setelah menuruni ratusan anak tangga selama sekitar sepuluh menit, kami tiba di Chain Bridge — atau dalam bahasa setempat disebut Széchenyi LánchÃd.
Jembatan ini bukan sekadar jembatan. Dibangun antara 1839–1849, ia adalah jembatan pertama yang menghubungkan Buda dan Pest — dan menjadi simbol penyatuan dua kota itu menjadi Budapest pada 1873. Panjangnya 380 meter, dengan desain klasik yang tetap memukau hingga hari ini.
Di ujung sisi Buda terdapat terowongan yang membelah bukit — jalan pintas yang menghubungkan kedua wilayah tanpa harus mendaki. Di ujung sisi Pest berdiri Istana Gresham yang megah, dibangun tahun 1907 dan kini menjadi hotel Four Seasons. Jembatan ini pernah hancur di tahun 1940-an ketika Budapest dilanda perang, lalu dibangun kembali persis seperti aslinya.
funicular
Gedung Parlemen: Megah dari Sudut Manapun
Dari Chain Bridge, kami berjalan sekitar 15 menit menyusuri tepian Sungai Danube menuju Gedung Parlemen — bangunan termegah di Hongaria yang memakan waktu pembangunan 19 tahun (1885–1904).
Ukurannya tidak main-main: 268 × 118 meter, dengan kubah setinggi 96 meter dan total luas 17.775 meter persegi. Di depannya berdiri dua patung pahlawan nasional: patung berkuda Pangeran Ferenc Rákóczi II karya Janos Pasztor (1937), dan patung Lajos Kossuth, tokoh revolusi rakyat Hongaria 1848–1849.
Sayangnya, ada larangan untuk melintas di depan gedung. Kami hanya bisa menikmatinya dari sisi samping dan belakang. Tapi tidak apa-apa — setiap pagi sarapan di Hilton, kami sudah dimanjakan oleh pemandangan sisi depannya yang menghadap langsung ke sungai.Gedung Parlemen saya ambil dari Fisherman's Bastion
Gelap Pukul Empat dan Sebuah Tantangan
Dari Gedung Parlemen, kami berencana mampir ke St. Stephen's Basilica — gereja terbesar di Budapest dengan luas 4.000 meter persegi, dibangun sejak 1851. Tapi musim dingin punya aturan sendiri: pukul empat sore lebih sedikit, langit sudah gelap sempurna.
Kami hanya sempat mengambil beberapa foto dari luar, lalu memutuskan untuk kembali ke hotel.
Gerja Basilika
Di dekat Basilica ada halte bus 16 dan 16A yang langsung menuju hotel. Tapi Pak Ahmad menolak menunggu bus — ia mengajak kembali berjalan kaki, menyeberangi Chain Bridge dan mendaki kembali ratusan anak tangga ke Castle Area di atas bukit.
Saya sempat ragu. Terbayang betapa lelahnya mendaki tangga itu setelah seharian berjalan. Tapi melihat Pak Ahmad — yang usianya mungkin sudah di atas empat puluhan — dengan santai mengajukan tantangan itu, saya tidak bisa mundur. Masa saya yang belum genap 30 tahun kalah duluan?
Tantangan diterima.
Budapest di Malam Hari: Tidak Ada Kata Menyesal
Dan keputusan itu ternyata adalah keputusan terbaik hari itu.
Dalam gelap malam yang dingin, Chain Bridge dan Royal Palace tampil dalam wajah yang sama sekali berbeda — keduanya bermandikan cahaya lampu yang hangat, memantul di permukaan Sungai Danube yang gelap. Indahnya sungguh berbeda dari siang hari.
Saya turun ke tepi sungai, mencari sudut terbaik, dan mengabadikan pemandangan itu sebisa saya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan — rasa beruntung yang tulus, karena tidak banyak orang yang mendapat kesempatan melihat ini secara langsung, bahkan sekalipun seumur hidup.
Mendaki tangga kembali ke Castle Area memang menguras tenaga. Napas ngos-ngosan, betis terasa keram. Tapi begitu tiba di atas dan memandang ke bawah — Chain Bridge, Gedung Parlemen, dan Basilica semuanya bersinar dalam pencahayaan malam yang sempurna — semua rasa lelah itu langsung terbayar lunas.
Royal Palace tampak dari bawah, tepi sungai
Chain bridge yang cantik di malam hari
Penutup Malam yang Tidak Terduga
Kami mampir ke minimarket sebelum kembali ke hotel — untuk nyetok air minum. Pelajaran berharga dari hari pertama: air mineral di kamar hotel bukan gratis, melainkan dibanderol 1.900 forint per botol. Saya sudah kadung minum sebotol di hari pertama dengan asumsi itu fasilitas hotel. Hiks.
Pukul enam tepat saya tiba di kamar. Berendam air panas di bathtub sudah terbayang sejak tadi. Setelah mandi dan salat, seharusnya saya langsung istirahat.
Tapi entah dari mana datangnya energi itu — malam itu saya justru kembali keluar.
Budapest rupanya belum selesai bercerita.
Chain Bridge dan Basilika tampak dari Royal Palace saat malam
3 Komentar
Ehhmmm....I think you've found the right working unit - Public Relation...Reading your Chapter 4, I noticed that you are absolutely right working in your existing working unit he he..But please assist B'Selli in SEA EU NET...tuch..
BalasHapuswah posting yang menarik jadi iseng bukanya mengikuti detail perjalan nya... !!Lanjutkan :-)
BalasHapusole2 na mana?
BalasHapus